Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 94

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 94

Kui Lin, yang telah mewarisi kepandaian ayahnya, tentu saja memiliki kekebalan *hoat-lek* yang luar biasa. Meski ia kesakitan dan jatuh bangun akibat tusukan Jari Penusuk Tulang yang dilancarkan Ceng Liong, gadis itu tidak terluka sedikit pun walau diserang seribu kali. Hal inilah yang membuat Ceng Liong jengkel. Sebenarnya, diam-diam ia sangat kagum pada Kui Lin; gadis yang cantik jelita, gagah perkasa, serta jauh lebih hebat dibandingkan Ciok Kim, putri mendiang Ciok Pang Yung yang telah tewas. Ceng Liong yang penasaran tiba-tiba merasa jatuh cinta.

Namun, Ceng Liong bertindak aneh. Ia tetap murah hati kepada gadis yang belum dapat ditaklukkannya itu, meskipun ia merasa tergila-gila. Padahal, sebagai lelaki, sudah selayaknya ia mengalah dan mundur.

Ceng Liong memperhebat serangannya. Ia telah menyiapkan tiga jarum di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang bendera. Begitu melihat kesempatan terbuka, ia membentak dan mengebutkan bendera, lalu melepas tiga jarum hitam ke arah tubuh lawan. Serangan curang itu disembunyikan di balik kibaran bendera.

"Nona, sekarang kau roboh!"

Kui Lin tersenyum mengejek. Ia tetap menjaga jarak sejauh setombak karena tidak khawatir Ceng Liong akan menyerangnya dengan *coan-kut-ci*. Namun, ketika ia mengelak dan jarum hitam menyambarnya dari bawah ke atas tanpa suara, Kui Lin menjerit kaget dan terjengkang. Ternyata gadis itu berhasil dicurangi. Tiga jarum itu menancap di tubuhnya saat ia lengah, menembus kekebalannya.

Begitu Kui Lin roboh, Ceng Liong tertawa gelak dan melompat maju. "Nona, kau sekarang kalah!"

Kui Lin mendelik penuh kemarahan. Ia belum sempat bangun ketika Ceng Liong menotok lehernya dengan gagang bendera karena kaget dan tidak menyangka pemuda itu akan menggunakan senjata gelap. Namun, Kui Hoa tidak membiarkan adiknya menjadi korban. Ia tiba-tiba berkelebat sambil membentak tinggi, "Orang she Ceng, kau manusia hina!"

*Plak!* Bendera Ceng Liong tertangkis. Pemuda itu berseru kaget, terguling-guling, dan jatuh terjengkang. Kui Hoa yang menyadari adiknya roboh karena serangan tiga jarum hitam, memekik dan menyerang Ceng Liong bertubi-tubi. Ceng Liong terkejut dan melompat bangun.

"Nona, kau hendak mengeroyokku setelah tenagaku diperas oleh adikmu? Kau tidak membiarkan aku beristirahat? Ah, kau curang dan tak tahu malu!"

"Keparat, kaulah yang tak tahu malu, orang she Ceng! Kau curang karena menyambit adikku dengan senjata gelap!"

Ceng Liong hanya menyeringai dan tertawa tanpa menjawab. Memang benar, kelelahan setelah bertanding dengan Kui Lin membuatnya terdesak saat diserang gadis baju hijau tersebut. Apalagi, ketika ia mulai kewalahan, Kui Lin yang sudah bangkit berdiri ikut menyerang dengan penuh amarah.

"Iblis Ceng Liong, aku akan membunuhmu kali ini!"

Ceng Liong terkesiap. Ia menjadi gugup karena dikeroyok. "Wah-wah, kalian tidak dapat bersikap ksatria, Nona! Kalian tega mengerubut aku seorang?"

Kui Hoa dan Kui Lin tidak menjawab; mereka sudah terlanjur geram. Akhirnya, dua kakak beradik itu membuat Ceng Liong benar-benar kewalahan. Ceng Liong terdesak hebat, mundur berkali-kali, dan mulai terkena pukulan. Pedang Kui Lin menyayat pundaknya hingga melukai daging, disusul tamparan Kui Hoa yang membuatnya terpelanting. Saat ia bangkit, pedang Kui Lin kembali mengenai paha kanannya.

*Brett.*

Ceng Liong meringis. Ia telah mengerahkan *sinkang* untuk melindungi kulitnya, namun karena harus membagi perhatian menghadapi dua serangan, fungsi kekebalan tubuhnya berkurang. Darah mulai mengucur. Ceng Liong menjadi bulan-bulanan kemarahan kedua gadis itu hingga terhuyung dengan baju robek-robek.

"Orang she Ceng, hayo kau minta ampun dan menyatakan tobat agar kami menghentikan serangan!" seru Kui Hoa.

Ceng Liong tertawa. Ia terus melompat ke sana kemari menghindari tusukan pedang Kui Lin yang tampak paling membencinya. "Aku tak biasa minta ampun pada orang lain, Nona, apalagi wanita. Kalau kalian ingin membunuhku, lakukanlah! Biarlah aku mampus di sini!"

"Kau keras kepala!"

"Ha-ha, kenapa mengomel? Hajar saja aku habis-habisan! Bunuh dan tusukkan pedang kalau kalian bisa!"

Kemarahan Kui Hoa dan adiknya memuncak. Mereka melompat hampir bersamaan; Kui Hoa melayangkan tamparan ke arah kepala, sementara Kui Lin menusukkan pedang ke arah dada. Dua serangan maut! Ceng Liong mencoba mengelak, namun kakinya sudah terlalu lelah dan gemetar. Pedang Kui Lin sudah menyentuh ujung bajunya.

Namun, Ceng Liong—yang dikagumi gurunya karena keberaniannya—menyambut dua serangan itu dengan mata tidak berkedip dan tertawa gelak. "Nona, sampaikan jenazahku pada ibuku di luar. Tapi jangan sombong, aku ingin mati dengan tawa gembira!"

Kui Lin dan kakaknya terbelalak, merasa pemuda itu sudah gila. Tepat saat pedang dan tamparan menyentuh tubuhnya, terdengar bentakan berat disusul bayangan seseorang yang menangkis dua serangan tersebut.

"Kui Hoa, Kui Lin, tak boleh kalian mencelakai tamu!"

*Plak! Dess!*

Kui Hoa dan Kui Lin terpelanting roboh, bahkan pedang Kui Lin terlepas. Saat mereka bangkit dan melihat sosok tersebut, keduanya tertegun. "Ayah..."

Ceng Liong terkejut melihat laki-laki tua yang gagah, berjenggot pendek, dengan pakaian bersih dan rapi. Tak lama kemudian, tiga bayangan lain—ibu dan gurunya—muncul.

"Liong-ji, apa yang kau lakukan?" seru ibunya dengan marah.

Mu Ba dan Mayat Hidup yang turut hadir memandang muridnya dengan kening berkerut. "Apa yang kau lakukan, Liong-ji? Kenapa kau ada di sini?"

Ceng Liong tertawa. "Aku main-main di sini, Suhu, dan kebetulan bertemu dengan Kui Hoa dan Kui Lin ketika ayahnya datang."

"Hm, kau bentrok dengan Ok-taijin?"

"Tidak, justru dia yang menolongku dari pedang puterinya, Suhu. Karena itu, aku harus berterima kasih." Ceng Liong menjura di depan laki-laki gagah tersebut. "Taijin, terima kasih atas pertolonganmu. Dua puterimu benar-benar hebat dan aku tak sanggup menandinginya!"

Laki-laki berjanggut pendek itu, Ok Kui Lun, tersenyum dan mengulaskan lengan. Ia menegur anak-anaknya, "Kui Hoa, Kui Lin, kenapa kalian menyerang pemuda ini? Apa yang terjadi?"

Kui Lin merocos, "Dia membuat onar di tempat ini, Ayah. Pemuda itu menyelinap masuk tanpa meminta izin!"

"Ya, dan dia mengganggu tiga orang penghuni kaputren, Ayah. Dia mengajak Puteri Kiok dan dua saudaranya untuk mandi bersama!" sambung Kui Hoa.

Pernyataan itu mengejutkan semua orang, termasuk Mayat Hidup yang sampai terbatuk-batuk. Ok Kui Lun memandang kaget ke arah Ceng Liong. "Betulkah itu, Liong-kongcu?"

Ceng Liong mengangguk sambil tertawa kecil. "Memang betul, Taijin. Tapi salahkah aku bila ingin mencari hiburan?"

Semua orang terbelalak melihat sikap pemuda itu yang bicara jujur dengan keberanian yang tidak tahu malu. Mu Ba tiba-tiba tertawa gelak hingga perutnya terguncang. "Liong-ji, hiburan yang ingin kaucari memang tidak salah. Tapi tempat yang kautuju salah! Kenapa mencari hiburan di wilayah kaputren?"

Namun, ibunya, Tok-sim Sian-li, tidak mampu menahan emosi. Ia berkelebat ke depan anaknya dan menampar Ceng Liong dengan muka merah padam.

"Liong-ji, kenapa kau membuat malu ibumu di tempat ini? Kau anak tak tahu aturan, kau bocah kurang ajar!"

*Plak-plak!*

Ceng Liong terpelanting dengan pipi panas. Ia kemudian melompat bangun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment