Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 95

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 95

Dia kembali mendapat tamparan dari ibunya yang marah hingga mulutnya pecah dan berdarah.

Namun, ketika Tok-sim Sian-li hendak menghajar anaknya lagi, tiba-tiba Mu Ba berkelebat menangkis sambil membentak, "Hujin, cukup. Ceng Liong telah mengakui perbuatannya dan tidak boleh terus dipukul!"

Tok-sim Sian-li mendelik, dadanya berombak. "Tapi anak itu berbuat di luar batas, Mu Ba. Dia membuat malu kita semua dengan perbuatannya di wilayah kaputren ini!"

"Benar, tapi Ceng Liong mengakuinya dengan jantan, Hujin. Dan untuk kegagahannya ini, kita harus memuji dan memaafkan kesalahannya!"

Tok-sim Sian-li masih ngotot. Namun, ketika dua orang itu berbantah-bantahan, tiba-tiba Ok Kui Lun, laki-laki yang gagah itu, melangkah maju. "Lie Hujin, dan kau Mu Ba, biarlah urusan ini tidak perlu diperpanjang lebar lagi. Aku mengagumi keberanian muridmu itu, di samping menyesalkan perbuatannya yang melanggar aturan. Tapi karena dia adalah murid kalian berdua, biarlah demi menghormati kalian, perbuatannya kumaafkan!"

"Tapi kalau Sri Baginda tahu, bukankah urusan bakal panjang, Taijin? Mana bisa dimaafkan begitu saja?" Tok-sim Sian-li terbelalak, gemas dan cemas memandang Ceng Liong.

Namun, Kui Lun yang tersenyum memandang semua orang mengulapkan lengannya. "Tidak perlu khawatir, aku yang menjamin urusan ini tidak akan terdengar Sri Baginda. Asal saja Liong-kongcu tidak mengulangi lagi perbuatannya di kaputren ini yang pengawasannya di bawah dua orang puteriku!"

"Oh, mereka yang menguasai daerah ini, Taijin?" Ceng Liong tiba-tiba bertanya, terbelalak memandang Kui Hoa dan Kui Lin yang cantik. Dua dara kembar yang gagah perkasa itu hampir saja membunuhnya dalam pertandingan yang mendebarkan tadi.

Ok Taijin yang menganggukkan kepala dengan tersenyum memandang Ceng Liong dengan sinar mata aneh. "Ya, dan kau berjanji untuk tidak mengganggu kaputren lagi, Kongcu?"

"Ah...!" Ceng Liong tiba-tiba tertawa. "Tentu saja aku berjanji untuk tidak mengganggu wilayah ini, Taijin. Tapi mohon diperkenankan untuk bersahabat dengan dua orang puterimu itu. Terutama adik Kui Lin yang gagah perkasa!"

"Cis!" Kui Lin tiba-tiba membentak marah. "Siapa sudi bersahabat denganmu, Ceng Liong? Kau mata keranjang, kau pemuda tak tahu malu!"

Ceng Liong menyeringai. Dia tidak tersinggung oleh makian ini, tetapi Ok Kui Lun yang tidak enak melihat sikap puterinya tiba-tiba membentak, "Kui Lin, Liong-kongcu adalah tamu. Tidak boleh kau bersikap begitu padanya!"

Kui Lin cemberut, memandang ayahnya dengan sikap tidak puas. Namun, Ceng Liong yang melihat kesempatan untuk berkenalan baik-baik segera melangkah maju dan menjura dengan sopan di depan dara cantik ini. "Lin-moi, maafkan. Aku memang pemuda mata keranjang. Tapi percayalah, asal kau mau bersahabat denganku, tentu semua sifat-sifatku yang buruk akan lenyap!"

Kui Lin mendengus. Ia tidak menggubris pemuda itu. Saat Ceng Liong menjura di depannya, tiba-tiba ia memutar tubuh dan berkelebat pergi. "Ayah, aku sedang sebal. Maafkan kalau aku tidak dapat memenuhi permintaanmu!"

Ceng Liong kaget. Dia melihat gadis itu pergi meninggalkannya dan kecewa karena Kui Lin tidak mau bersahabat dengannya. Tiba-tiba ia menyeringai memandang Kui Hoa. Namun, belum sempat dia "menggaet" gadis ini, Kui Hoa yang rupanya mencium maksud Ceng Liong sudah pula berkelebat pergi menyusul adiknya sambil berseru pada sang ayah, "Ayah, aku akan menyusul Kui Lin. Tolong tamu kita itu kautemani dulu!"

Ceng Liong kecewa bukan main. Dia terbelalak, merah mukanya. Namun, Ok Taijin yang mengerutkan kening melihat tingkah kedua anaknya sudah menepuk-nepuk pundak pemuda ini. "Liong-kongcu, mereka rupanya masih baru kepadamu. Harap dimaafkan, mereka masih anak-anak." Pembesar itu memandang tiga orang tamunya yang lain dan mempersilakan dengan ramah, "Mu Ba, dan kau Lie Hujin, mari kita keluar untuk melanjutkan pembicaraan kita. Biarlah Liong-kongcu ikut serta mengisi kekosongannya!"

Ceng Liong menggigit bibir. Dia kecewa dan mendongkol bukan main, tetapi karena yang bicara adalah Ok Taijin sendiri, ia pun mengangguk dan mengikuti semua orang keluar dari keputren. Meski berjalan di belakang, pikirannya selalu tertuju pada Kui Lin, gadis yang tiba-tiba tidak dapat dilupakannya itu. Ceng Liong yang untuk pertama kalinya jatuh cinta pada seorang dara akhirnya benar-benar gelisah hingga tidak tahu apa yang dibicarakan di meja perundingan antara guru-gurunya dan Ok Taijin.

Malam itu, setelah dua hari tinggal di kompleks istana, Ceng Liong tidak dapat tidur. Dia selalu teringat Kui Lin, gadis cantik yang gagah, putri Ok Taijin yang memiliki kepandaian tinggi. Ceng Liong yang berkali-kali naik turun dari pembaringannya tiba-tiba mendesis dan mengepalkan tinju. Dia membuka jendela untuk membuang hawa pengap di dalam kamar yang sebenarnya cukup besar itu.

Karena sudah dua hari tidak berhasil menjumpai Kui Lin, Ceng Liong menggebrak meja dengan marah. "Sialan, kenapa aku tidak tahu di mana gadis itu berada? Haruskah aku kembali ke kaputren untuk mencari gadis ini?"

Ceng Liong geram. Dia sudah dua hari mencari gadis itu tetapi tidak ketemu. Karena tidak kuat menahan kerinduan, ia bertekad kembali ke kaputren bukan untuk mengganggu putri-putri istana, melainkan mencari gadis yang membuatnya tergila-gila itu. Namun, belum sempat ia membulatkan tekad, mendadak gurunya muncul.

"Ha-ha, apa yang kaupikirkan, Liong-ji?" Ceng Liong terkejut melihat gurunya melompat masuk lewat jendela sambil tertawa.

Ceng Liong merasa mendapat jalan keluar dan menjadi girang. "Suhu, kau harus menolongku. Aku mendapat kerepotan!"

Mu Ba tertawa tergelak. "Kerepotan apalagi, anak setan? Apa yang mau kauminta dari gurumu?"

Ceng Liong tersenyum. "Tidak banyak, Suhu. Satu permintaan saja, yakni tolonglah aku untuk melepas rindu hati ini!"

"Weh! Rindu hati kepada siapa? Apa yang kau maksud?"

"Ah, tidak tahukah kau, Suhu? Atau kau pura-pura saja?"

Mu Ba terbahak. "Aku betul-betul tidak tahu apa yang kaubicarakan, Liong-ji. Sebaiknya kau bicara terus terang dan jangan berputar-putar!"

Maka Ceng Liong langsung bicara, "Aku ingin menemui putri Ok Taijin itu, Suhu. Gadis bernama Kui Lin yang membuatku tergila-gila itu."

"Ha-ha, kau selamanya tergila-gila melihat gadis cantik, Liong-ji. Masa untuk urusan perempuan saja kau meminta tolong gurumu?"

"Ah, ini serius, Suhu. Aku benar-benar jatuh cinta dan tergila-gila pada gadis itu!"

"Kalau begitu cari saja. Kenapa minta tolong gurumu?"

"Hm, sudah kucari, Suhu. Tapi dua hari ini tidak kutemukan juga. Kabarnya tidur di kaputren!"

"Hah? Kau tidak main-main?"

"Siapa main-main, Suhu? Aku sudah menyelidikinya karena itu aku gagal mencarinya ke sana ke mari."

Mu Ba terbelalak. Dia terkejut mendengar disebutnya nama kaputren itu. Namun, melihat muridnya tampak mengiba, ia bingung. "Bagaimana, Suhu? Kau dapat menolongku?"

"Hm, tentu dapat, Liong-ji. Tapi benar-benarkah kau jatuh cinta pada gadis itu? Bagaimanakah kalau sekadar main-main saja seperti biasanya?"

"Ah, ini serius, Suhu. Aku benar-benar jatuh cinta dan tergila-gila pada gadis itu!"

"Dan kau mau mengawininya?"

"Tentu, Suhu. Aku ingin gadis itu menjadi istriku!"

"Baiklah, kalau begitu kita menghadap ayahnya saja. Kita lamar gadis itu dan terang-terangan memintanya!"

Ceng Liong terkejut. "Ah, tapi...."

"Tapi kenapa?" Gurunya terbelalak. "Apa kau tidak setuju untuk meminta pada ayahnya dengan cara baik-baik?"

"Bukan begitu, Suhu. Tapi yang kumaksudkan adalah apakah gadis itu dapat menerima cintaku?"

"Hm, kalau begitu bagaimana baiknya?"

"Begini, Suhu. Kaubantulah aku untuk menemui gadis ini dulu. Aku ingin menyatakan cintaku, kalau dia dapat menerima, baru kita urus masalah perjodohan dengan ayahnya."

"Wah, kenapa berbelit-belit? Bukankah kau suka padanya? Bilang saja pada ayahnya dan gadis itu tentu tunduk padamu!"

"Tidak, aku menyangsikan hal ini, Suhu. Dan karena itulah aku melarangmu untuk menemui ayahnya dulu!"

"Kenapa begitu?"

"Hm..." Ceng Liong mengerutkan kening, menunjuk peristiwa dua hari lalu. "Kau tentu masih ingat ketika gadis itu membantah perintah ayahnya, bukan? Gadis itu tidak mau berkenalan baik-baik denganku ketika ayahnya menyuruh. Dia malah pergi dan menyatakan sebal. Kalau dia berani pada ayahnya, jangan-jangan Ok Taijin tidak dapat menolak pula kalau anak perempuannya itu menolak lamaran kita. Maka sebelum bicara pada orang tuanya, sebaiknya kupastikan dulu sikap anaknya!"

"Maksudmu?"

"Aku ingin menyatakan cintaku secara baik-baik, Suhu. Tapi kalau dia menolak, aku ingin memaksanya!"

"Heh?" Mu Ba terbelalak. "Kau mau main-main dengan gadis itu, Liong-ji? Kau mau menyulut api permusuhan?"

"Kalau kau membiarkan aku seorang diri melakukan ini, Suhu. Tapi kalau kau mau membantuku, tentu semuanya akan berjalan baik-baik!"

"Setan, kau sudah merencanakan sesuatu, Liong-ji?"

"Benar, dan satu-satunya orang yang amat kuharap adalah kau, Suhu. Tapi kalau kau tidak mau membantuku, biarlah aku menghadapi bahaya ini seorang diri. Paling-paling mampus di tangan Ok Taijin!"

"Tidak!" Mu Ba tiba-tiba menggereng. "Kau muridku satu-satunya, Liong-ji. Aku tidak akan membiarkan kau mampus menghadapi bahaya. Tapi apakah bahaya yang kaumaksud itu? Dan kenapa kalau aku yang membantu maka semuanya bisa berjalan baik-baik?"

Ceng Liong tersenyum. "Itu akan kuceritakan kalau kau siap membantuku, Suhu."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment