Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 96

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 96

"Tapi, berjanjikah kau untuk membantuku?"

"Tentu saja! Mana ada guru membiarkan muridnya celaka sendirian?"

"Baiklah, kalau begitu kuceritakan sekarang, Suhu. Dan terima kasih untuk janji bantuanmu ini!" Ceng Liong girang, berjingkrak di dalam kamar, lalu berbisik-bisik di telinga gurunya dengan sikap serius dan bersungguh-sungguh. Sang guru yang mendengarkan rencana muridnya itu tiba-tiba terbelalak dan tampak terkejut.

"Wah, begitu yang kau mau, Liong-ji?"

"Ya, satu-satunya jalan untuk mendapatkan gadis itu tanpa kegagalan, Suhu. Kau tentu menolongku, bukan?"

Mu Ba sejenak tertegun. Namun, begitu wajahnya pulih kembali dan menyeringai memandang Ceng Liong, raksasa itu tiba-tiba tertawa bergelak dan melompat keluar. "Baik, kita bergerak sekarang, anak setan. Tapi hati-hati dengan gerak-gerikmu!"

Ceng Liong mengangguk, lalu melompat ke jendela. Ia melihat gurunya lenyap ke arah barat, sementara ia menjejakkan kaki ke arah timur. Begitu dua bayangan ini berpisah, Ceng Liong dan gurunya sudah sama-sama melaksanakan tugas.

Tidak seperti biasanya, malam itu Kui Lin dan Kui Hoa tidur di kompleks kaputren. Sudah tiga hari ini mereka tidak mau tidur di rumah ayahnya. Alasan mereka adalah menjaga keselamatan putri-putri istana sejak Ceng Liong membuat onar. Kui Lin serta Kui Hoa yang malam itu beristirahat di kamarnya tampak bercakap-cakap dengan nada bersungut.

"Bagaimana kesanmu dengan pemuda Ceng itu, Lin-moi?" tanya Kui Hoa pada adiknya.

Kui Lin yang tampak geram langsung mengepalkan tinju dengan mata berapi-api. "Kesan apa lagi, Enci? Dia pemuda brengsek, cabul, dan tak tahu malu!"

"Dan kau tak mau kembali ke rumah Ayah untuk tidur di sana?"

"Tidak. Aku tak mau ke sana sebelum pemuda itu enyah, Cici. Aku sebal dan muak melihat tingkahnya!"

"Dan kau tahu apa yang dilakukan pemuda itu selama ini?"

"Ya, aku tahu. Ceng Liong mencari-cariku, tapi selalu tak berhasil."

"Dan dia tentu penasaran, Lin-moi. Aku khawatir kalau dia nekat mencari kita di sini, sebab di sinilah dia tahu tugas utama kita."

"Hm, kalau berani begitu, kita lapor saja pada Sri Baginda, Enci. Kita buka saja rahasianya beberapa hari yang lalu!"

"Tapi kali ini berbeda, Lin-moi. Dia datang bukan untuk mengganggu putri-putri istana, melainkan semata-mata ingin menemuimu! Bagaimana kalau terjadi demikian?"

"Aku akan melabraknya habis-habisan, Enci. Kalau perlu kubunuh dia dan habis perkara!"

"Hm, sekarang persoalannya tak semudah itu, Lin-moi. Kau tahu dia sedikit unggul dibanding kepandaianmu. Jari Penusuk Tulangnya hebat; kalau kita tak mempunyai ilmu kebal *Ho-un-co-g-ko*, tentu kita tak mampu melawannya!"

"Benar, tapi kalau kita berdua maju, betapapun kita dapat mengatasinya, Enci. Dan kalau kau mau membantu, tentu kita dapat membunuh pemuda itu!"

"Hm, sekarang tak mungkin, Lin-moi. Jelek-jelek pemuda itu adalah tamu Ayah. Kalau saja tiga hari yang lalu Ayah tak menangkis pukulan kita, tentu pemuda itu sudah tinggal namanya saja!"

"Ya, dan kita tak akan diganggunya lagi, Enci. Sungguh sayang kenapa Ayah menggagalkan serangan kita waktu itu!"

Kui Hoa menghela napas. "Lin-moi, tahukah kau kenapa Ayah mengundang orang-orang jahat itu? Bukankah Mu Ba dan Mayat Hidup dikenal sebagai datuk-datuk sesat yang keji? Dan Tok-sim Sian-li juga ikut bersama mereka. Aku merasa tak nyaman melihat orang-orang ini!"

"Ya, dan tingkah laku mereka telah diperlihatkan oleh pemuda brengsek itu, Enci. Aku khawatir dan heran kenapa Ayah bersahabat dengan orang-orang macam ini!"

"Dan ke mana Paman So-beng? Kenapa aku tak melihatnya pula tiga hari ini?"

Kui Lin tiba-tiba membelalakkan matanya. "Ya, aku merasa heran, setiap Ayah muncul, dia selalu menghilang, Enci. Kenapa berkali-kali terjadi seperti itu?"

"Hm, aku juga merasa ada sesuatu yang tak beres antara Ayah dan So-beng itu, Lin-moi. Apakah kau juga merasa seperti apa yang kurasakan?"

"Ya, dan aku mulai curiga pada laki-laki ini, Enci. Tapi yang mengherankan hatiku ialah sikapnya yang sama baik seperti Ayah! Benarkah dia adik seperguruan Ayah?"

"Hm, melihat ilmunya yang sealiran dengan kepandaian Ayah, tentu cerita itu betul, Lin-moi. Tapi kenapa dia selalu mengenakan kedok? Apakah wajahnya buruk?"

"Tak tahulah. Aku juga bingung melihat paman kita yang satu ini, Enci. Tapi karena dia baik kepada kita, maka sudah seharusnya kita berbaik pula kepadanya."

Dua kakak beradik itu terdiam sejenak. Mereka termenung, mengunyah pembicaraan yang baru saja mereka katakan. Namun, tiba-tiba telinga Kui Hoa bergerak. Ia berkelebat keluar dan membentak, "Siapa di situ?"

Sesosok bayangan tiba-tiba muncul. Dia adalah orang yang dipercakapkan terakhir kalinya oleh Kui Hoa dan Kui Lin: So-beng, si Iblis Penagih Jiwa. Kui Hoa yang terkejut melihat kedatangan laki-laki berpakaian merah ini segera berseru tertahan, "Oh! Kau, Paman?"

Laki-laki itu melompat masuk. "Kui Hoa, Kui Lin, kalian tak melihat sesuatu yang mencurigakan?"

Kui Lin ikut keluar. "Apa yang kau maksud, Paman? Kenapa kedatanganmu mengejutkan kami?"

"Ya, dan ke mana saja kau selama tiga hari ini, Paman? Kenapa tak kelihatan?" sambung Kui Hoa dengan wajah bingung.

So-beng tampak celingukan ke sana kemari. Namun, melihat Kui Lin dan Kui Hoa tidak kurang suatu apa pun, ia menarik napas lega dan tertawa. "Anak-anak, kalian tidak melihat sesuatu yang mencurigakan?"

Kui Hoa menggeleng. "Tidak. Tapi apa maksudmu, Paman? Kenapa datang dengan tiba-tiba begini? Dan ke mana kau selama tiga hari ini?"

"Hm, aku diutus Ayah kalian, Anak-anak. Keluar kota raja untuk menyelidiki perkumpulan Ho-han-hwe."

"Dan kenapa malam-malam begini ke tempat kami?"

"Maaf, sekilas kulihat sebuah bayangan melompat-lompat di wuwungan istana, Kui Hoa. Tapi ketika kukejar, tahu-tahu dia melayang turun dan menghilang!"

"Ah, dia dapat meloloskan diri dari tangkapanmu, Paman?"

"Ya, karena itu dapat kunilai bahwa orang ini berkepandaian tinggi!"

"Tapi siapa, Paman?"

"Aku tak tahu. Tapi tubuhnya tinggi besar, memakai mantol hingga mirip kelelawar raksasa!"

Kui Hoa dan adiknya terkejut. "Begitukah, Paman? Tapi di mana terakhir kalinya kau menemukan jejaknya?"

"Di luar kompleks kaputren. Karena itu aku kemari untuk menengok keadaan kalian."

"Hm..." Kui Lin tiba-tiba mengerutkan alisnya. "Apa bukan pengawal rahasia yang disiapkan Ayah, Paman? Bukankah Ayah banyak mengundang orang-orang pandai untuk membantu melindungi istana?"

"Kurasa tidak. Tapi akan kuselidiki kembali, Anak-anak." So-beng menggerakkan kakinya dan tiba-tiba berkelebat lenyap di luar kamar.

Kui Hoa terkejut. Kui Lin yang mengejar ke luar tiba-tiba berseru memanggil, "Paman, tunggu dulu! Apakah Ayah sudah tahu ini?"

Iblis Penagih Jiwa itu membalikkan tubuh. "Belum, tapi aku akan memberitahunya, Lin-ji. Dan jangan kalian keluar dari tempat ini sampai aku kembali lagi!" Laki-laki misterius itu segera melanjutkan gerakannya dan lenyap di luar taman.

Kini Kui Lin dan kakaknya tertegun. Kui Lin memandang encinya, namun sang enci menghela napas dan mengajaknya masuk. "Lin-moi, kita tunggu saja kedatangan Paman So-beng. Mari masuk!"

Kui Lin tak membantah. Mereka kini kembali ke dalam kamar. Namun, Kui Lin yang matanya berbinar tiba-tiba berbisik, "Enci, bukankah ini kesempatan bagus bagi kita? Bagaimana kalau kita menyelidiki kecurigaan kita itu?"

"Kecurigaan yang mana, Lin-moi?"

"Tentang paman kita itu, Enci. Tentang So-beng!"

"Maksudmu?"

"Sementara menunggu dia kembali, seorang di antara kita mencari Ayah, Enci. Dan kalau Ayah tak ada di tempat, maka kita tunggu Paman So-beng dan langsung saja bertanya terang-terangan kepadanya!"

"Hm, aku takut, Lin-moi. Aku khawatir Paman So-beng tersinggung dan marah kepada kita. Apalagi kalau Ayah dilapori!"

"Tapi kita tak akan diganggu lagi oleh tanda tanya, Enci. Setidak-tidaknya kita bersikap jujur dan menyatakan apa yang menjadi ganjalan kita!"

"Tidak, untuk saat ini tak perlu kita tahu, Lin-moi. Betapapun kalau benar di antara Ayah dan Paman So-beng ada sesuatu, tentu kelak kita tahu juga."

"Tapi aku semakin penasaran, Enci."

"Boleh jadi. Tapi kita harus mengendalikan diri, Lin-moi. Karena apa yang akan kita selidiki itu adalah orang-orang dekat kita sendiri. Kita harus berhati-hati!"

Kui Lin diam. Ia patuh pada omongan kakaknya dan bangkit berdiri. Tiba-tiba ia mengambil pakaian kakaknya di atas meja. "Enci, aku ingin mengenakan pakaianmu ini. Kupinjam sebentar!"

Kui Hoa memandang aneh. "Untuk apa, Lin-moi? Sudah larut malam, sebentar lagi kita akan tidur."

"Biarlah, aku tertarik oleh pakaian hijaumu ini, Enci. Entah kenapa malam ini aku ingin mengenakannya!"

Kui Hoa tertawa. "Kau lucu, Lin-moi. Kesukaanmu berbaju biru, kenapa tiba-tiba sekarang memilih hijau? Jangan-jangan Ayah sendiri sulit membedakan kita."

Kui Lin juga tertawa. "Aku hendak sedikit main-main, Enci. Ingin kulihat apakah Paman So-beng juga tak terkecoh kalau aku mengganti baju!"

Kui Lin yang sudah mengenakan baju encinya itu tiba-tiba tidak dapat dibedakan lagi dari kakaknya. Mereka memang saudara kembar. Baik wajah maupun tubuh keduanya benar-benar mirip. Sama-sama tinggi semampai dan cantik. Maka, begitu Kui Lin mengganti pakaian birunya dengan pakaian hijau milik encinya, dua gadis itu tidak dapat dibedakan lagi. Baik Kui Lin maupun Kui Hoa menjadi sama. Siapa kakak dan siapa adik tak bakal diketahui lagi, kecuali oleh orang dekat yang dapat membedakan mereka dari suara masing-masing yang sedikit berlainan; Kui Hoa memiliki suara yang merdu halus, sedangkan suara Kui Lin nyaring dan galak. Selebihnya, biar Ayah mereka sendiri pun tak bakal tahu yang mana Kui Hoa dan yang mana Kui Lin!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment