Chapter 97
Maka, begitu Kui Lin menggendong encinya, tiba-tiba gadis itu terkekeh.
"Bagaimana, Enci? Siapa yang lebih cantik di antara kita?" Kui Hoa tersenyum.
"Kita sama dan serupa, Lin-moi. Mana bisa orang lain membedakan?"
"Ya, dan kalau Paman So-beng ke mari, biarlah kita tak usah berbicara, Enci. Kita lihat bagaimana dia mengenali kita!"
Namun, Kui Hoa tertawa kecut. "Jangan. Betapapun, orang-orang yang dekat dengan kita mengenali kita dari suara kita, Lin-moi. Kalau kita kelewatan, tentu Paman So-beng akan marah. Jangan menggoda orang dengan keterlaluan!"
"Hi-hik, tapi dia tak pernah marah kepada kita, Enci. Paman So-beng selalu baik dan menyayangi kita."
"Benar, tapi kita tak boleh menyalahgunakan perasaan orang, Lin-moi. Betapapun, dia adalah adik seperguruan Ayah."
Kui Lin tertawa nakal. Dia tak bicara lagi, dan ketika kentongan dipukul dua kali tanda malam semakin larut, tiba-tiba bayangan merah berkelebat memasuki kamar.
"Bagaimana, anak-anak? Tak ada sesuatu apa pun di sini?" Itulah suara So-beng.
Kui Hoa sudah cepat berdiri menyambut, menggelengkan kepala, dan berkata tak ada apa-apa di situ. Tapi Kui Lin yang tersenyum di samping kakaknya dengan pakaian kembar membuat laki-laki ini tertegun.
"Eh, kenapa kalian mengenakan pakaian yang sama? Siapa yang Kui Lin?"
Kui Hoa tertawa, tapi Kui Lin yang nakal sengaja diam saja. "Kau tebak sendiri, Paman. Siapa kira-kira di antara kami yang bernama Kui Lin?"
Kui Hoa menjawab, geli melihat paman mereka kebingungan karena yang memperkenalkan suara hanya dia seorang. Baru setelah Kui Lin terkekeh tak tahan menggoda Iblis Penagih Jiwa itu, laki-laki ini tersenyum dan menyentil telinga gadis itu.
"Kui Lin, setan kau! Kenapa menggoda pamanmu seperti ini? Apa maksudmu?"
"Hi-hik, aku hanya ingin tahu bisakah kau membedakan kami dengan segala-galanya yang kembar ini, Paman. Tapi kalau kau dapat membedakan kami dari suara kami, memang aku harus menyerah!" Kui Lin tertawa, tak dapat menyembunyikan diri lagi karena sudah dikenal orang.
So-beng yang gemas memandangnya tiba-tiba memutar tubuh. "Anak-anak, tak ada yang mengganggu kalian, bukan?"
Kui Hoa menggeleng. "Tidak. Bagaimana dengan pencarianmu tadi, Paman? Ketemukah laki-laki itu?"
"Hm, aku mendapatkannya keluar melalui tembok sebelah barat, Lin-ji. Tapi ketika kukejar, dia menghilang di luar hutan dan tak kuketahui siapa adanya!"
"Jadi gagal, Paman?"
"Ya. Tapi kukira sekarang aman. Setidak-tidaknya, untuk malam ini tak ada sesuatu yang serius di kompleks istana karena dia telah pergi dan kutunggu tak kembali lagi. Entah apa maunya."
"Dan Ayah sudah kauberi tahu, Paman?"
"Sudah."
"Dan Ayah juga ikut keluar?"
"Tentu, tapi kami terlambat, Lin-ji. Aku dan ayahmu kehilangan jejak ketika bayangan itu memasuki hutan. Tapi besok kami akan menyelidiki lagi!"
So-beng menghindar pandangan, sedikit gugup oleh tatapan Kui Lin yang tajam, yang tiba-tiba merasa aneh akan suara pamannya yang sumbang. Namun, Iblis Penagih Jiwa yang sudah memutar tubuhnya itu tiba-tiba berkelebat keluar meninggalkan mereka.
"Kui Hoa, hari sudah hampir pagi. Kalian tidurlah dan beristirahatlah!"
Kui Hoa dan adiknya mengangguk. Mereka melihat orang itu lenyap di luar kamar, lalu menutup pintu dan menghela napas. Kedua kakak beradik itu lalu memadamkan lampu dan memasang lilin untuk sekadar menerangi kamar dengan suasana remang-remang.
"Lin-moi, benar apa yang dikata Paman So-beng. Kita istirahat dulu dan besok menemui Ayah."
"Hm..." Kui Lin melempar tubuhnya di atas pembaringan. "Tapi aku merasa tak enak, Enci. Entah kenapa tiba-tiba hatiku tak nyaman. Apakah kau juga merasakan perasaan gelisah?"
Kui Hoa mengerutkan kening. "Memang benar, Lin-moi. Tapi kukira hanya aku sendiri."
"Tidak, aku sudah gelisah sejak Paman So-beng menyatakan melihat bayangan seseorang, Enci. Apakah kau merasakan itu sejak saat yang sama?"
"Ya, tapi sudahlah. Mungkin hanya pengaruh sugesti kita terhadap Paman So-beng yang kita curigai itu." Kui Hoa yang juga sudah melempar tubuhnya di sisi Kui Lin tiba-tiba menguap dengan mata berat. "Lin-moi, aku mengantuk sekali. Kau juga mengantuk?"
"Hm, tentu, Enci. Tapi kenapa kurasa hawa demikian dingin menusuk tulang? Sudahkah jendela kaututup?"
"Aneh, aku juga merasa kedinginan, Lin-moi. Padahal jendela sudah kututup! Apa yang terjadi ini?"
Berbareng dengan itu, tiba-tiba dua kakak beradik itu mendengar desir angin lirih di lubang jendela. Kamar menjadi dingin hingga tubuh mereka menggigil. Kui Lin serta kakaknya terbelalak mendengar desir lirih yang mirip jengkerik mengibaskan bulu itu, mendadak kaget dengan muka berubah.
"Penyirepan....!"
Dua kakak beradik itu melompat bangun. Mereka diserang kantuk yang hebat dan pucat mukanya karena sadar seseorang menyerang mereka dengan pengaruh ilmu hitam. Baru saja mereka melompat dengan kaki terhuyung, jendela dicungkil orang dan sebuah bayangan tinggi besar melompat masuk.
"Hei, awas....!"
Tapi Kui Lin dan Kui Hoa terlambat. Mereka melihat bayangan itu telah menggerakkan jarinya menotok mereka. Karena mereka terhuyung diserang kantuk yang hebat hingga mata berat untuk dibuka, tahu-tahu keduanya sudah roboh tertotok dan terguling di atas lantai. Baik Kui Lin maupun kakaknya mengeluh pendek, dan begitu keduanya terguling, kakak beradik ini pingsan di dalam kamar dan tak tahu lagi apa yang terjadi!
Kini bayangan itu mengeluarkan suara aneh. Dia bergumam tidak jelas, terbelalak memandang korbannya yang pingsan itu. Gadis kembar yang segala-galanya tak dapat dibedakan lagi, sama dan serupa. Bingung memilih seorang di antaranya, tiba-tiba bayangan ini, yang bukan lain adalah Mu Ba, menyambar Kui Hoa yang disangka Kui Lin! Lalu, menggerendeng tidak jelas, Mu Ba sudah melompat keluar dan menghilang di luar tembok kaputren.
"Bagaimana, Suhu? Kau berhasil? Kenapa lama amat?" demikian Ceng Liong mencecar bertanya ketika gurunya datang. Mereka berada di dalam hutan, di sebuah kuil rusak yang tidak dipakai lagi, menegur gurunya itu dengan suara tidak puas.
Mu Ba yang sudah melempar tubuh Kui Hoa di lantai kuil tiba-tiba membentak muridnya itu dengan marah. "Keparat, enak saja kau memerintah gurumu, Liong-ji! Tidak tahukah kau bahwa keterlambatan ini karena adanya gangguan? So-beng melihat bayanganku. Karena itu, aku harus mengecohnya dulu dua jam lebih sebelum gadis ini kuambil!"
Ceng Liong terkejut. "Begitukah, Suhu? Tapi dia tak mengenalmu, bukan?"
"Tidak, karena aku menyembunyikan muka dengan mantel hitam. Tapi betapapun juga, kita harus berhati-hati dengan manusia yang satu ini, Liong-ji. Karena sekali terbongkar, tentu semuanya jadi berantakan. Salah-salah Ok-taijin sendiri menendang kita dari persekutuan ini!"
Ceng Liong tersenyum, lega sekarang. Dia melompat menghampiri Kui Hoa dan memeriksanya, siap melempar pujian. Tapi melihat bahwa gadis yang ditangkap gurunya itu bukan gadis berbaju biru melainkan gadis berbaju hijau, mendadak Ceng Liong berseru tertahan dan berubah mukanya.
"Ah, ini bukan Kui Lin, Suhu. Tapi Kui Hoa yang menjadi encinya!"
"Hm, dari mana kau tahu?"
"Pakaiannya ini, Suhu. Kui Lin mengenakan pakaian biru, bukan hijau!"
"Dan kalau mereka sama-sama mengenakan pakaian hijau?"
Ceng Liong terbelalak. "Apa maksudmu, Suhu?"
Mu Ba kini mendengus. "Aku tidak tahu apakah salah ambil atau tidak, Liong-ji. Tapi ketika aku ke sana, maka kulihat kedua-duanya mengenakan pakaian hijau. Aku tak tahu mana Kui Lin, mana Kui Hoa. Tapi kuharap saja gadis ini adalah Kui Lin."
Ceng Liong ternganga. Dia terkejut oleh cerita gurunya ini, tapi melihat baik Kui Lin maupun Kui Hoa benar-benar serupa dan mirip satu sama lain, tiba-tiba Ceng Liong tertawa bergelak. Dia tak memperdulikan lagi sekarang, dan tertawa dengan sinar mata keji, tiba-tiba Ceng Liong mengeluarkan sebotol arak dari balik sakunya.
"Suhu, aku akan menundukkan gadis ini sebelum dia sadar. Kuharap pernyataan cintaku nanti tak akan ditolak!"
"Hm, kau mau memberikan Arak Sorga itu?"
"Ya, sesuai maksudku, Suhu. Dan sekali dia telah kumiliki, maka selamanya pun gadis ini akan tunduk kepadaku, ha-ha!"
Ceng Liong membuka botol arak. Dia sudah gembira sekali memandang korbannya. Karena itulah maksudnya ketika berbisik-bisik dengan gurunya beberapa saat yang lalu, "menembak" gadis ini agar tak mengalami banyak kesulitan dalam menyalurkan hasrat cintanya—cinta berahi! Ceng Liong yang siap menuangkan arak di mulut Kui Hoa tidak peduli lagi apakah gadis itu Kui Hoa atau Kui Lin!
Tapi, Mu Ba tiba-tiba berseru, "Liong-ji, nanti dulu, aku tak mau melihat apa yang akan kaulakukan. Tapi kalau gadis ini sadar dan marah kepadamu, panggillah aku di luar. Hati-hatilah...!"
Mu Ba sudah berkelebat lenyap. Dia meninggalkan Ceng Liong yang menyeringai kegirangan, mengangguk, dan tertawa memandang korbannya. Begitu mendekatkan botol araknya ke mulut Kui Hoa, Ceng Liong sudah menuangkan isinya sambil terkekeh.
"Jangan khawatir, aku dapat menjaga diri, Suhu. Dan sekali gadis ini menjadi milikku, tentu hanya akulah yang dapat mengawininya dengan baik-baik, ha-ha!"
Ceng Liong menuangkan araknya dengan penuh keyakinan dan rasa percaya diri yang besar. Dia mencekoki Kui Hoa dengan arak perangsangnya itu—arak yang mampu membuat kuda jantan tergila-gila dan mabuk dalam nafsu berahi. Tak bakal sudah kalau belum melampiaskan semua nafsu berahi yang membakar tubuh!
Tapi, baru botol arak menempel di bibir Kui Hoa, tiba-tiba sebutir batu hitam menghantam pecah botol arak ini.
"Ceng Liong, kau manusia hina... prang!"
Ceng Liong terkejut. Dia melihat sesosok bayangan berkelebat memasuki ruangan itu, memecahkan botol araknya, dan langsung menampar punggungnya. Karena dia tak menyangka bahwa di tempat itu ada orang ketiga, maka Ceng Liong mengeluh ketika terlempar roboh.
"Bress....!"
Ceng Liong terguling-guling. Dia kaget bukan main oleh tamparan yang membuat dia sesak napas ini, dan ketika dia melompat bangun, maka dilihatnya seorang pemuda tampan dengan pakaian sederhana telah berdiri di depannya dengan mata bersinar-sinar.