Chapter 98
"Siapa kau?" Ceng Liong terkejut.
"Hm, aku orang yang sudah pernah kau kenal, Ceng Liong. Tapi melihat perbuatanmu yang hina hari ini, sungguh tak kusangka kalau kau demikian keji!"
Ceng Liong terbelalak. "Kau siapa?"
"Aku orang yang dulu pernah kaupatahkan lengannya, Ceng Liong. Kita bertemu sepuluh tahun yang lalu di Kuil Tee Kong Bio!"
"Ah, Bu-beng Siauw-cut...!" Ceng Liong tiba-tiba tersentak. Ia kaget dan heran memandang bekas musuhnya sewaktu kecil ini, pemuda yang kini ia kenal sebagai Bu-beng Siauw-cut, anak gelandangan itu.
Sambil tertawa bergelak dengan suara tinggi, Ceng Liong membentak, "Bu-beng Siauw-cut, apa maksudmu menggangguku di sini? Kau tidak jera setelah kupatahkan lenganmu itu? Kau minta kuhajar lagi?"
Bu-beng Siauw-cut, atau yang kini bernama Kun Houw, melangkah maju. Ia tersenyum mengejek mendengar kata-kata Ceng Liong. Dengan suara dingin, pemuda itu menjawab, "Ceng Liong, aku telah ganti nama sekarang. Aku bukan Bu-beng Siauw-cut, tapi Kun Houw. Dan kalau dulu aku berani melawanmu, maka sekarang pun aku tidak takut pada kecongkakanmu. Kenapa kau demikian hina hendak memperkosa gadis ini?"
Ceng Liong marah. "Dia calon istriku sendiri, Siauw-cut. Aku..."
"Hm, namaku Kun Houw, Ceng Liong. Aku telah membuang nama Siauw-cut itu sepuluh tahun yang lalu. Telingamu pekak tidak mendengar perkataan orang?" Kun Houw memotong, memandang Ceng Liong dengan sinar mata tajam dan marah.
Ceng Liong menghentakkan kakinya. "Kau bagiku tetap Bu-beng Siauw-cut, anak setan. Aku tak peduli kau ganti nama atau tidak. Aku tak mau menyebutmu Kun Houw!"
"Baiklah, kalau begitu kenapa kau tidak cepat-cepat membebaskan gadis ini? Kau tunggu aku membalas dan menghajar perbuatanmu yang hina dulu?"
Ceng Liong tertawa bergelak. "Siauw-cut, kau sombong sekali. Apakah yang kauandalkan hingga sekarang kau berani memerintahku? Tak tahu diri kau berani bersikap begitu kepadaku?"
"Hm, kau yang sombong, Ceng Liong. Kau memandang rendah diriku seperti sepuluh tahun yang lalu. Bagaimana kalau aku dapat menghajarmu?"
"Keparat!" Ceng Liong tiba-tiba menerjang. "Kau yang akan kurobohkan, bukannya aku yang roboh, Siauw-cut. Mampuslah dengan mulutmu yang besar itu!"
Dukk!
Kun Houw menangkis. Ia terang tak mau menerima mentah-mentah serangan ini, mengerahkan *sinkang* membentur lengan Ceng Liong. Begitu kedua lengan mereka bertemu, Ceng Liong berteriak kaget karena terpental ke belakang dan mencelat membentur tembok.
"Ah, kau ternyata memiliki sedikit kepandaian, Siauw-cut." Ceng Liong terbelalak, kaget tak menyangka bahwa lawannya ini memiliki *sinkang* demikian hebat, yang menggetarkan lengannya dan membuatnya terpental setombak.
Ceng Liong yang kurang percaya dan penasaran tiba-tiba mencoba lagi sambil menggeram. "Siauw-cut, terimalah kembali pukulan ini. Haitt...!"
Kun Houw tersenyum mengejek. Ia tahu Ceng Liong tak percaya pada kelihaiannya. Maklum, sepuluh tahun yang lalu ia sama sekali belum memiliki kepandaian silat dan menjadi bulan-bulanan lawannya ini. Maka, begitu Ceng Liong menyerangnya kembali dengan kedua lengan terlembang memukul leher dan dada kirinya, Kun Houw pun mengeluarkan ejekan dan tertawa dingin.
"Ceng Liong, kau jangan selalu memandang rendah orang lain. Aku bukan seperti bocah sepuluh tahun yang lalu!" Kun Houw yang juga menggerakkan kedua lengannya untuk menangkis pukulan lawan tiba-tiba membentak dan maju selangkah.
Duk-dukk!
Ceng Liong menjerit. Untuk pertama kalinya dia percaya benar; ia terlempar dan terguling-guling oleh tangkisan itu. Ia merasa sakit dan tulang lengannya seakan retak. Namun, Ceng Liong segera melompat bangun dengan marah, lalu mengerahkan *Tok-hiat-jiu*-nya. "Siauw-cut, jangan sombong. Aku masih dapat membunuhmu dengan ilmu-ilmuku yang lain...!"
"Hm, cobalah. Aku juga ingin menguji kepandaian yang kudapat, Ceng Liong. Dan sekali aku mampu merobohkanmu, jangan harap kau mendapat ampun!"
"Keparat! Aku tak akan minta ampun kepadamu, Siauw-cut. Karena sebelum aku roboh, kaulah yang akan kukirim ke dasar neraka. Haitt...!"
Ceng Liong menerjang dengan pukulan Darah Beracunnya. Ia melompat ke depan dan menjulurkan lengan kanannya yang berbau amis menghantam pelipis Kun Houw. Ketika Kun Houw melompat mundur dan mengerutkan kening mencium bau amis itu, Ceng Liong mengejar dengan tamparan tangan kirinya sambil membentak, "Siauw-cut, jangan lari kau...!"
Kun Houw mendengus. Ia bukannya lari seperti yang dikatakan Ceng Liong, melainkan berhati-hati menghadapi pukulan menjijikkan ini—serangan Darah Beracun yang sudah pernah didengarnya dari mendiang gurunya, si jago pedang, yang juga merupakan ayah angkatnya itu.
Melihat Ceng Liong mengejarnya dengan tamparan tangan kiri yang menyambar lehernya, tiba-tiba Kun Houw merendahkan tubuh dan mengangkat kaki menendang pinggang lawannya.
Dess!
Ceng Liong terputar. Pemuda itu berteriak marah, "Siauw-cut, terimalah pukulan *Tok-hiat-jiu*-ku kalau kau berani. Jangan menghindar dan melompat-lompat seperti pengecut!"
Muka Kun Houw memerah. Ia mulai gusar. Maka ketika Ceng Liong mengayun tubuh dan kembali menyerangnya dengan pukulan Darah Beracun yang tampak diagul-agulkan itu, pemuda ini menyambut dengan tertawa mengejek.
"Ceng Liong, jangan sombong dengan pukulan Darah Beracunmu itu. Aku tidak takut. Marilah kita coba...!"
Plak!
Lengan Kun Houw bertemu dengan lengan Ceng Liong. Murid *Tok-sim Sian-li* itu tertawa girang. Ceng Liong menggeleserkan lengannya, bermaksud memindah hawa beracun yang ada di permukaan kulit lengannya ke lengan Kun Houw. Lalu, begitu merayap turun bagai seekor ular, Ceng Liong membuka kelima jarinya dan mencengkeram muka lawan.
Kun Houw mendengus. Ia membentak dan mengikuti gerakan lawan. Begitu Ceng Liong mencengkeram mukanya dengan telapak terbuka, ia pun membuka kelima jarinya dan balas menangkap.
Crep!
Ceng Liong terbelalak. Ia melihat Kun Houw sudah menyambut cengkeramannya. Sepuluh jari saling bertaut dan melekat, masing-masing saling meremas dan mengerahkan tenaga. Namun, Ceng Liong yang tertegun melihat Kun Houw seakan tak terpengaruh uap beracun di tangannya, tiba-tiba menjerit ketika Kun Houw menekuk kelima jarinya dan mendorong balik pukulan *Tok-hiat-jiu*-nya!
"Aduh...!" Ceng Liong memekik. Ia membanting tubuh dan melepaskan diri dengan muka kaget bukan main.
Kun Houw yang selalu mengikuti gerakannya tiba-tiba membuat Ceng Liong berteriak. Kun Houw melancarkan *Jari Penusuk Tulang* dari samping dengan tangan kiri, mempergunakan jari telunjuk dan jari tengahnya untuk menyambar punggung pergelangan telapak tangan Ceng Liong.
Tak!
Kun Houw tergetar dan ganti terkejut. Ia melepaskan jari-jari lawan, terbelalak melihat Ceng Liong mempergunakan dua jarinya untuk melepaskan diri. Kun Houw menatap tajam dengan mata berapi, "Kau juga mahir *Coan-kut-ci* (Jari Penusuk Tulang), Ceng Liong?"
Ceng Liong bermandi keringat. Ia baru saja terlepas dari cengkeraman Kun Houw yang berbahaya, yang hampir mematahkan jari-jari tangannya. Melihat Kun Houw bertanya dengan tatapan yang tajam dan menusuk dingin, Ceng Liong menjadi gentar dan pucat. Ia melihat lawannya kini jauh berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu.
Kun Houw membentak lagi, "Kau juga mahir *Coan-kut-ci*, Ceng Liong? Kau juga menjadi murid iblis si Mayat Hidup itu?"
Ceng Liong sadar. Sekarang ia dapat menenangkan hati, teringat bahwa gurunya berada di luar. Ia mengusap peluh dan tertawa mengejek, lalu mencabut bendera iblisnya. "Ya, aku mempunyai tiga orang guru yang melatihku, Siauw-cut. Dan kalau kau gentar oleh *Coan-kut-ci*-ku, sebaiknya kau keluar saja baik-baik. Mayat Hidup memang guruku!"
"Hm, dan *Sin-thouw-hong* Mu Ba itu gurumu nomor berapa?"
"Nomor satu!"
"Bagus, kalau begitu aku dapat menyelesaikan tugasku di sini, Ceng Liong. Dan karena kau tak beda jauh dengan gurumu itu, biarlah kau kubereskan dulu!"
Mata Kun Houw berkilat. Ia membentak dan menyuruh Ceng Liong maju dengan bendera iblisnya—senjata yang tak dipandang sebelah mata oleh Kun Houw. Ceng Liong yang marah oleh sikap itu tiba-tiba melompat dan mengibaskan benderanya. "Siauw-cut, kau manusia sombong!"
Kun Houw mendengus. Ia sudah dapat mengukur kepandaian Ceng Liong setelah beberapa gebrakan tadi. Melihat bendera berkibar dan tangan kiri lawannya tiba-tiba menusuk dengan dua jari, Kun Houw segera memapak dan menendangkan kakinya.
Plak-dess!
Ceng Liong kembali terkejut. Ia tertolak mundur oleh tangkisan lawan yang hebat, yang mengeluarkan angin dahsyat. Namun, Ceng Liong yang penasaran dan marah melihat dirinya selalu terdesak, tiba-tiba melengking dan mengebutkan bendera bertubi-tubi. Lalu, sambil menjejakkan kedua kakinya, ia berkelebat lenyap mengerahkan *Cui-beng Gin-kang*, Ginkang Pengejar Roh!
"Siauw-cut, kau akan mampus di tanganku...!"
Kun Houw tersenyum dan tertawa dingin mendengar suara besar lawannya. Namun, melihat bendera menderu dan menyambar-nyambar bagai kipas besar menyelubungi dirinya, Kun Houw tiba-tiba mengerahkan ginkangnya pula dan berkelebat lenyap.
Ceng Liong terbelalak.