Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 99

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 99

Dia melihat bayangan Kun Houw lenyap, mengikuti gerakan bendera dan naik-turun bagai capung; cepat dan ringan sekali, tak kalah lincah dengan semua gerakannya.

Ceng Liong terkejut karena ternyata Kun Houw memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat hebat. Tiba-tiba, ia melihat Kun Houw mulai menggerakkan kedua lengannya dengan aneh. Pemuda itu bersikap ganjil, menggunakan lengan seperti pedang, kadang menusuk dan kadang membacok. Namun, setiap gerakan lengan yang selalu mengeluarkan desing tajam bagaikan pedang sungguhan itu benar-benar membuat Ceng Liong terkesiap. Apalagi ketika tangkisan gagang benderanya mengeluarkan suara "trang-trang" begitu bertemu dengan lengan Kun Houw, seolah lengan tersebut tidak lagi terbuat dari darah dan daging, melainkan sebatang logam yang kerasnya melebihi baja.

"Ah, kau menggunakan ilmu apa, Siauw-cut?" tanya Ceng Liong.

Kun Houw tidak menjawab. Ia terus menggerakkan lengannya seperti itu, membacok dan menusuk. Ketika bendera kembali menyambar dan Ceng Liong membentak marah, tiba-tiba Kun Houw berseru keras dan menangkis gagang bendera dengan lengan kanannya yang seperti pedang.

"Crak!"

Ceng Liong terkejut dan berteriak melihat gagang benderanya patah. Geram karena senjatanya dirusak, tiba-tiba lengan kiri Ceng Liong menyambar, menusukkan dua jarinya di balik kain bendera yang masih berkibar, menggunakan *Coan-kut-ci* dalam gebrakan cepat. Namun, Kun Houw yang rupanya ingin menyudahi pertandingan sekonyong-konyong melambungkan bagian perut yang ditusuk Ceng Liong. Begitu *Coan-kut-ci* bertemu dengan diri Kun Houw, tiba-tiba terdengar ledakan seperti balon pecah.

"Darr!"

Ceng Liong berseru tertahan. Ia mengira perut Kun Houw meletus karena tusukan jarinya. Namun, ketika Kun Houw tertawa dan memelintir kulit perutnya hingga jari Ceng Liong terperangkap dan terjepit, Ceng Liong menjerit kesakitan. Dua jarinya tertancap di perut Kun Houw dan tidak dapat dicabut. Saat Kun Houw menggerakkan lengan menampar kepalanya, Ceng Liong mengaduh dan terlempar roboh.

"Plakk!"

Ceng Liong terguling-guling. Ia merasa dihantam palu godam yang dahsyat hingga matanya berkunang-kunang. Namun, Ceng Liong yang melompat bangun dengan marah merogoh tiga jarum rahasianya. Lalu, mengerahkan *Sin-gan i-hun-to*-nya dan membentak bagaikan pekik seekor gorila, ia menghamburkan ketiga jarum tersebut.

"Siauw-cut, kau dikeroyok tiga ular berbisa!"

Kun Houw terkejut melihat Ceng Liong menggerakkan lengan, menyambarkan tiga sinar hitam yang tiba-tiba berubah bagai tiga ular terbang. Namun, Kun Houw menepukkan kedua lengannya dan mendesis, "Ceng Liong, barang mainanmu tak dapat menggigitku. Pergilah, dan rasakan sendiri!"

Ceng Liong terbelalak. Ia melihat ketiga "ularnya" itu membalik, terdorong oleh tepukan tangan Kun Houw. Sebelum ia sempat mengelak atau melompat ke belakang, ketiga jarum hitam yang disihirnya sebagai ular terbang itu menyambar dan mematuk dirinya sendiri.

"Cep, cep... aduh!"

Ceng Liong terpelanting. Untuk pertama kalinya, ia menjadi korban dari kecurangannya sendiri. Sementara ia terguling-guling, Kun Houw menusukkan jari pedangnya. "Ceng Liong, sekarang robohlah. Aku bosan main-main denganmu... sing!"

Ceng Liong terbelalak. Ia melihat sinar putih meluncur dari ujung lengan lawan, persis seperti pedang yang menikam dadanya, padahal Kun Houw berjarak lebih dari dua tombak. Saat Ceng Liong tidak sempat menghindar, ia menjerit memanggil gurunya, "Suhu, tolong!"

Sebuah bayangan berkelebat masuk. Ia adalah Mu Ba, raksasa tinggi besar itu. Melihat muridnya diserang jari pedang yang mengeluarkan sinar putih berkerdip, tiba-tiba raksasa ini membentak dan mengebutkan bajunya.

"Brett!"

Mu Ba mengerang kaget. Ia melihat bajunya robek tertusuk sinar yang masih terus meluncur dan mengeluarkan ledakan keras ketika membentur tembok. Mu Ba yang terhuyung selangkah melihat lawannya tergetar dan terbelalak memandangnya.

"Kau membantu muridmu, Mu Ba?"

Raksasa itu tertegun. Ia melihat seorang pemuda tampan berdiri di depannya; pemuda berpakaian sederhana, namun memiliki mata yang berkilat bagaikan mata naga. Naga muda yang sakti! Mu Ba melotot marah, heran sekaligus kaget bahwa lawan yang sangat muda ini memiliki *sinkang* yang mampu menandingi kekuatannya sendiri.

"Kau siapa, bocah? Kenapa datang-datang mengganggu muridku?"

Namun Ceng Liong berteriak mendahului, "Dia Siauw-cut, Suhu. *Bu-beng Siauw-cut* yang dulu pernah kuhajar di Kuil Tee-kong-bio itu!"

"Ah, kau yang bersama *Bu-tiong-kiam* Kun Seng itu?" Mu Ba tiba-tiba teringat. Ia kaget untuk kedua kalinya mendengar bahwa pemuda ini adalah Siauw-cut, bocah yang dulu bersama jago pedang Kun Seng di puncak Gua Naga; anak yang dulu pernah ditangkap dan dicekiknya. Saat menyadari Siauw-cut sekarang adalah pemuda tampan sebaya dengan muridnya, raksasa itu tertawa menyeramkan.

"Ha-ha, sungguh tak kuduga kau masih hidup, bocah! Bukankah kalian tertimbun reruntuhan bukit waktu itu? Dan di mana sekarang orang tua bangka itu?"

Mata Kun Houw bersinar tajam. "Suhu tewas akibat kecuranganmu, Mu Ba. Dan sekarang aku datang untuk menuntut balas!"

"Uwah, kau telah menjadi murid jago pedang itu? Kau menyebutnya Suhu?"

"Ya, dan beliau bukan saja guru bagiku, Mu Ba, tapi sekaligus juga ayah angkat dan orang tua bagiku. Aku sekarang bernama Kun Houw, bukan Siauw-cut!"

"Hm, kau bernama Kun Houw? Jadi kau mengenakan *she* dari gurumu yang telah mampus itu? Dan kau mau membalas dendam, bocah? Ha-ha, boleh anak baik, boleh saja kalau kau ingin membalas kematian gurumu. Tapi serahkan dulu Pedang Medali Naga yang tentu kau simpan!"

Mu Ba tertawa sambil bergerak, mengincar punggung Kun Houw dengan air liur menetes. Ia teringat peristiwa sepuluh tahun yang lalu saat perebutan Pedang Medali Naga yang gagal ia dapatkan. Mendengar pemuda ini menjadi murid Kun Seng, gairahnya bangkit untuk memiliki pedang keramat tersebut, pedang yang ia duga dibawa Kun Houw karena di balik punggung pemuda itu ia melihat sesuatu yang menonjol.

Kun Houw mendengus. Ia sudah berapi-api memandang lawannya, Mu Ba, yang dulu mencurangi gurunya hingga tewas di Gua Naga. Dengan penuh kemarahan, Kun Houw melompat setindak dan memasang kuda-kuda, "Mu Ba, Pedang Medali Naga memang ada di tanganku. Tapi jangan sombong, pedang ini pula yang akan mengirim nyawamu ke dasar neraka!"

"Hm, kau tak mau menyerahkannya baik-baik?"

"Kalau kau mampu melangkahi mayatku!"

"Bagus, kalau begitu robohlah, bocah. Aku ingin menerkammu sekarang. Ha-ha!"

Mu Ba menjulurkan lengannya, mencengkeram leher lawan dengan kecepatan luar biasa. Namun, Kun Houw memutar kakinya ke kiri, lalu membentak dan meluruskan lengannya untuk menangkis serangan raksasa tinggi besar itu.

"Dukk!"

Mu Ba terkejut. Ia terbelalak melihat tubuhnya terdorong mundur, sementara Kun Houw hanya tergetar, namun tetap kokoh berdiri. Dari rasa kaget serta terkesiap oleh gebrakan *sinkang* ini, Mu Ba tiba-tiba membentak dan menghambur maju.

"Bocah, dari mana kau mempelajari *sinkang* mukjizat ini? Kau memperoleh warisan dari gurumu pula?"

Kun Houw tidak menjawab. Ia memusatkan perhatian pada serangan kedua itu, menggerakkan lengan menangkis ulang. Ketika Mu Ba kembali terdorong mundur dengan gerengan aneh, raksasa itu memekik dan menyerudukkan kepalanya.

"Bocah, terima ilmu silatku, *Sin-thouw-liong-kun* (Silat Naga Kepala Sakti) ini... wuut-wuut!"

Mu Ba memutar serta menumbukkan kepalanya bagaikan kerbau liar, menerjang Kun Houw dengan kedua lengan yang bergerak naik-turun, dahsyat hingga mengeluarkan angin menderu yang membuat pakaian Kun Houw berkibar. Kun Houw yang terbelalak oleh serangan luar biasa ini tiba-tiba lengah ketika perutnya diseruduk Mu Ba.

"Dess!"

Kun Houw mencelat membentur tembok, jebol dindingnya dan terlempar keluar ruangan. Ia berseru tertahan karena kaget. Namun, Mu Ba yang sudah mengejarnya terbahak gila dengan muka beringas.

"Kau akan kucincang, bocah. Kau akan kuantar menyusul mendiang gurumu. Ha-ha...!"

Kun Houw melompat bangun. Ia tentu saja terkejut oleh serudukan yang luar biasa hebat tersebut, yang membuat isi perutnya seakan tercerai-berai, mual, dan ingin muntah. Namun, Kun Houw menarik kekuatan *sinkang*-nya, mengempiskan dada, lalu tiba-tiba menggerakkan lengan membacok kepala Mu Ba yang kembali menerjang dengan serudukannya yang mengerikan.

"Mu Ba, jangan sombong. Kau tak akan dapat membunuhku. Plak!"

Telapak tangan Kun Houw yang sudah "membelah" kepala lawannya tiba-tiba tertolak balik ketika menyentuh hawa mukjizat yang mengepul di ubun-ubun lawannya. Mu Ba tertawa terbahak-bahak melihat kekagetan lawannya, lalu mengerang dan menubruk kembali.

"Bocah, mampuslah!"

Wajah Kun Houw berubah. Ia meloncat ke kanan menghindari tubrukan maut itu. Mu Ba yang terus meluncur dengan kepala saktinya menghantam tembok kuil di belakang Kun Houw.

"Broll!"

Tembok itu jebol. Kun Houw melompat ke depan mendahului lawan. Ketika Mu Ba membalik dan menggereng marah, tiba-tiba tubuh Kun Houw berkelebat menghantam leher raksasa itu.

"Dess!"

Mu Ba tidak apa-apa. Raksasa itu hanya terhuyung, dan ketika Kun Houw terkejut oleh kekuatan lawannya, tiba-tiba Mu Ba tertawa bergelak dan menyambar lagi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment