Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 01

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 01

PENDEKAR RAMBUT EMAS

Karya: Batara

Pelukis: Yanes

Percetakan & Penerbit: CV GEMA

Alamat: Mertotusuman 761 Rt. 14 Rt III, Telepon No. 5801, Solo

Sumber Gambar: Awie Dermawan

Editor: Andy, Iskandar Effendi & Yons

Diunggah di Grup: Kolektor E-Book

DISCLAIMER:

Kolektor E-Book adalah sebuah wadah nirlaba bagi para pecinta Ebook untuk belajar, berdiskusi, berbagi pengetahuan dan pengalaman. Proses pemilihan buku yang dijadikan objek alih media diklasifikasikan berdasarkan kriteria kelangkaan, usia, maupun kondisi fisik. Sumber pustaka dan ketersediaan buku diperoleh dari kontribusi para donatur dalam bentuk citra objek buku yang bersangkutan, yang selanjutnya dikonversikan ke dalam bentuk teks dan dikompilasi dalam format digital sesuai kebutuhan. Tidak ada upaya untuk meraih keuntungan finansial dari buku-buku yang dialih mediakan dalam bentuk digital ini.

Salam pustaka!

Team Kolektor E-Book

"PENDEKAR RAMBUT EMAS"

Karya: Batara

Lalu lalang di depan mata sering berubah berganti rupa. Siapa dapat "menangkap" harganya, dialah manusia berguna ganda. (Diambil dari kitab Bu Beng Sian Su)

Kim-Mou-Eng (Pendekar Rambut Emas), sebenarnya tokoh yang tidak begitu menonjol di dunia persilatan. Tokoh ini hidup dalam pemerintahan Kaisar Yuan Ti, yakni ketika Dinasti Han berkuasa dalam abad terakhir sebelum Masehi. Pendekar yang kurang begitu dikenal karena sepak terjangnya memang tidak menyolok, lebih suka menyembunyikan diri dan berkelana secara diam-diam dari satu tempat ke tempat lainnya, menikmati keindahan alam dan benar-benar merupakan pengembara tulen.

Tapi ketika terjadi suatu peristiwa besar di ibu kota kerajaan, yakni yang saat itu berada di kota Chang-an (kini bernama Sian), tiba-tiba saja nama pendekar ini melejit dengan luar biasa mengejutkan. Saat itu Sri Baginda mengadakan semacam sayembara. Semalam beliau bermimpi bertemu seorang wanita cantik yang luar biasa parasnya, ayu dan elok bukan main. Tapi ketika Sri Baginda hendak memeluknya dan mencium wanita ini, mendadak si juwita lenyap. Sri Baginda terbangun, kecewa dan lama tertegun di tempat peraduannya.

Tapi ketika pagi menjelang tiba dan Sri Baginda buru-buru membersihkan diri dibantu dayang yang cantik-cantik namun tidak menggerakkan gairah beliau, akhirnya para menteri dipanggil menghadap. Mereka ditanya apa arti mimpi itu: jelek atau baik bagi keselamatan negara. Tapi karena menteri-menteri ini juga terjangkit penyakit ABS (Asal Bapak Senang), maka tentu saja mereka menyatakan bahwa arti mimpi itu adalah baik. Tentu tak berani berkata "buruk" karena hanya mencemaskan junjungan mereka belaka. Dan lagi, kalau buruk, buruk tentang apa?

Para peramal istana pun tak ada yang mampu mengartikan mimpi itu dengan jelas, apalagi mereka. Maka, daripada mengatakan yang macam-macam, lebih baik mengatakan yang baik-baik saja. Beres! Dan kaisar memang gembira. Ia gandrung wuyung (tergila-gila) pada bayangan wanita dalam mimpi itu. Bertanya adakah wanita cantik seperti yang terlihat dalam mimpinya itu. Dan ketika para menterinya bingung karena kaisar tak dapat menjelaskan bagaimana wujud wanita dalam mimpinya itu, akhirnya kaisar berkata, "Kalian cari saja seluruh wanita-wanita cantik dalam kerajaan kita. Kumpulkan dan bawa mereka ke mari!"

Wah, para menteri terkejut. Kerajaan mereka cukup luas, daerahnya meliputi batas Tembok Besar bersebelahan dengan bangsa Tartar di utara sana, meliputi gunung dan sungai-sungai yang mengalir deras membagi kota dan desa. Mana mungkin melakukan ini? Kalau toh melakukan itu dan memanggil wanita-wanita cantik yang dicari sampai ke pelosok-pelosok, tentu pekerjaan ini memakan waktu lama dan mungkin lima tahun belum selesai. Padahal Sri Baginda biasanya minta cepat, belum kalau ada gangguan ini-itu.

Maka penasihat kaisar yang bernama Kim Tai Jin lalu memberi usul. "Sri Baginda, ampunkan hamba. Hamba mempunyai cara lebih praktis untuk memenuhi permintaan paduka. Bagaimana kalau gambar wanita-wanita cantik itu saja yang dibawa ke mari? Tak perlu orangnya, Sri Baginda. Karena belum tentu mereka cocok seperti mimpi yang paduka lihat!"

Kaisar tertegun. "Gambarnya?"

"Ya, kita perintahkan seorang pelukis ulung, Sri Baginda. Biar pelukis ini yang melukis wajah wanita-wanita cantik yang ditemui itu untuk diberikan pada paduka. Kalau cocok, barulah wanita yang berkenan di hati paduka itu dipanggil menghadap!"

"Ah," kaisar tertawa, girang sekali. "Usulmu bagus, Tai Jin. Aku setuju kalau begitu! Siapa sekarang yang menjadi pelukisnya?"

Kim Tai Jin langsung menunjuk menteri Mao. "Kiranya Mao Tai Jin dapat melakukan tugas ini, Sri Baginda. Dia pandai dan hidup lukisannya!"

Kaisar tertawa bergelak, teringat menterinya yang pandai melukis ini. "Benar!" katanya menepuk kursi. "Sanggupkah kau memenuhi permintaanku, Tai Jin? Kau dapat membawa lukisan semua wanita-wanita cantik yang ada di seluruh kerajaan kita?"

Mao Tai Jin menjatuhkan diri berlutut. "Tentu, hamba akan mencobanya, Sri Baginda. Tapi hamba mohon waktu, harap paduka tak terburu-buru."

"Boleh, tapi berapa lama waktu yang kau minta, Tai Jin? Seminggu? Sebulan?"

Mao Tai Jin terkejut. "Terlalu pendek, Sri Baginda. Mungkin setahun menurut taksiran hamba!"

"Apa? Setahun?" Kaisar melotot. "Terlalu lama, Tai Jin. Aku tak dapat menahan rinduku sekian lama. Aku bisa mati kaku!"

Mao Tai Jin pucat. Sebenarnya, waktu yang dia berikan itu sudah termasuk pendek dibanding dengan mendatangkan wanita-wanita itu ke istana. Tapi melihat kaisar terbelalak kepadanya dan rupanya ingin menentukan waktu seminggu atau sebulan karena tak sabar menanti, akhirnya menteri ini membenturkan dahinya, sudah memutar otak dengan cepat dan berkata, "Baiklah, hamba akan menyelesaikannya dalam waktu satu bulan, Sri Baginda. Mohon doa restu paduka agar hamba dapat menyelesaikan tugas hamba dengan baik!"

Begitulah, kaisar telah mendapat janji. Mao Tai Jin langsung pulang dan membicarakan ini dengan pembantu-pembantunya, menyuruh mencari pelukis-pelukis lain karena tak mungkin baginya untuk bekerja sendirian. Hari itu juga langsung memukul canang memberi pengumuman bahwa di gedungnya ada lowongan pekerjaan, khusus untuk pelukis-pelukis yang tentu saja akan disaring kepandaiannya, siapa paling baik dialah yang membantu menteri ini.

Dan karena pelukis-pelukis kota raja memang banyak dan rata-rata mereka juga pandai, akhirnya dalam waktu singkat Mao Tai Jin mampu mengumpulkan seribu orang pelukis di gedungnya. Wah! Tapi Mao Tai Jin cukup selektif. Dia tidak menerima semuanya itu, disaring dan benar-benar dicari yang paling jempol. Dan karena dia sendiri memang ahli dalam bidang lukis-melukis dan tahu mana jelek mana baik, akhirnya dari seribu pelukis itu yang diterima hanya seratus orang saja. Yang lain disuruh pulang, diam-diam kecewa karena nasib baik pergi meninggalkan mereka, iri pada seratus rekan mereka yang beruntung.

Tapi Mao Tai Jin yang mata duitan kiranya menjadikan seratus pelukis yang sudah diterima ini sebagai sapi perahan. "Kalian beruntung kuterima," demikian katanya. "Tapi apa imbalan kalian kepadaku? Adakah yang dapat memberi uang terima kasih?"

Seratus pelukis itu tertegun. "Uang terima kasih apa, Tai Jin? Apa yang harus kami lakukan?"

"Bodoh!" Menteri Mao melotot pada mereka. "Ini proyek besar bagi kita semua, manusia-manusia dungu. Kenapa kalian tak mengerti budi kebaikanku? Kalian akan dapat banyak uang dari upah yang kalian terima. Ini rezeki yang harus dibagi rata. Kuminta kalian menyumbang dengan ikhlas masing-masing lima ribu tail perak!"

Para pelukis itu terkejut. "Lima ribu perak, Tai Jin?"

"Ya, lima ribu saja. Kalian sanggup, bukan?"

"Ah, kami tak punya, Tai Jin. Kami orang-orang miskin yang sebagian besar masih pengangguran. Sebaiknya kalau menyumbang tak perlu ditentukan jumlahnya!"

"Benar, dan itu baru ikhlas, Tai Jin. Kalau ditentukan jadinya bukan sumbangan ikhlas tapi sumbangan paksaan!"

"Keparat, kalian mau memberontak?"

Mao Tai Jin terkejut, marah melihat seratus calon pembantunya itu berteriak-teriak, memberi tanda dan sebentar saja belasan pengawalnya datang menghadap dengan golok dan pedang terhunus, tampak garang dan bengis memandang seratus pelukis itu. Dan ketika Mao Tai Jin menggebrak meja bangkit berdiri, akhirnya menteri ini berseru, "Yang tidak bisa, lebih baik pulang, aku akan mencari lainnya yang mampu!"

Seratus orang itu berbisik-bisik. Mereka sekarang melihat bahwa kiranya menteri ini tamak harta. Rupanya tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengeruk untung sebesar-besarnya, mumpung ada proyek! Dan seratus pelukis yang tiba-tiba terbagi dua itu mendadak menyibak ke kiri dan ke kanan. Yang kiri adalah yang tidak setuju, sedangkan yang kanan adalah kelompok yang berpikiran lebih "cerdik".

Mereka ini berpikir, kalau itu memang proyek besar dan wajar memberi uang semir, bukankah mereka dapat mencari gantinya pada korban yang diburu? Menjadi orang yang dicari atau dicinta kaisar adalah suatu keberuntungan yang tak habis disyukuri selama tujuh turunan. Kalau sekarang mereka menyumbang lima ribu tail perak padahal mereka bisa minta ganti pada keluarga wanita-wanita cantik yang akan mereka datangi, selaksa atau dua laksa tail, bukankah uang mereka akan kembali?

"Ah, ini jual beli jasa. Kalau mereka digenjot Mao Tai Jin, mereka dapat ganti 'menggenjot' keluarga wanita-wanita cantik itu. Ha-ha!" Kelompok di sebelah kanan ini tertawa. Mereka memang kritis, dapat mengerti "hukum dagang" yang terjadi saat itu. Bahwa seni adalah seni, sementara bisnis adalah bisnis. Masalah seni sudah dikotori bisnis tak jadi apa. Bukankah menteri Mao yang menyulut perhitungan untung rugi ini? Biarlah menteri itu pula yang memikul dosanya kalau kelak pintu keadilan menuntut mereka!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment