Chapter 02
Seratus pelukis yang "hidup" pikirannya ini memisahkan diri dengan rekan-rekan mereka yang lain yang tak mau memenuhi permintaan Menteri Mao. Mereka tak peduli disebut kotor atau curang. Persetan semuanya itu.
Dan ketika kelompok yang kiri pergi meninggalkan gedung Mao-taijin dan mengumpat pembesar itu yang mencari keuntungan dari kekuasaannya, maka kelompok sebelah kanan yang kira-kira berjumlah limapuluh orang itu menyanggupi permintaan Menteri Mao. Mereka membayar masing-masing limaribu tail perak, dan karena jumlah mereka ada limapuluhan orang, maka "uang terima kasih" yang diterima pembesar ini berjumlah duaratus limapuluh ribu tail perak.
Bukan main, hanya sekejap saja. Betapa gampangnya cari duit! Tapi itu urusan Mao-taijin. Pelukis yang diterima ini tak menggerutu. Mereka sendiri sudah punya akal bagaimana uang yang mereka sumbangkan itu akan kembali. Juga dengan sekejap mata, meniru "teknik" yang telah ditunjukkan Menteri Mao.
Dan begitu mereka digerakkan ke seluruh pelosok kerajaan untuk mencari wanita-wanita cantik dan melukis wajah mereka untuk diberikan pada Mao-taijin karena menteri ini masih akan menyeleksinya lagi, maka rakyat menjadi gempar dan ribut oleh kejadian ini. Banyak di antara mereka, yang tentu saja mempunyai anak-anak gadis cantik, segera mendaftar dan mencari pelukis-pelukis ini, mengharap anak mereka cocok seperti yang dicari kaisar.
Jadi malah terbalik, bukannya pelukis itu yang mencari mereka tapi justeru mereka yang mencari pelukis-pelukis ini. Siap membayar berapa saja. Merubung bagai laron, menyodorkan anak-anak perempuan mereka yang cantik. Dan karena permintaan lebih banyak dari penawaran, tiba-tiba saja "hukum dagang" kembali usil. Para pelukis itu pasang harga.
Mula-mula dinaikkan sedikit, tidak kentara. Tapi ketika anak-anak perempuan yang disodorkan semakin banyak dan mereka rata-rata ingin diambil kaisar dan hidup mewah di istana karena kabar burung itu telah hinggap dari satu mulut ke mulut lainnya, tiba-tiba saja "tarif" yang dipasang pelukis-pelukis ini membubung dengan cepat.
Mula-mula satu kepala diambil seratus tail. Lalu naik duaratus tail. Kemudian tigaratus, empatratus, tujuhratus, dan akhirnya per kepala seribu tail. Bukan main! Tapi para pendaftar tetap juga membludak, membuat pelukis-pelukis yang ketiban rejeki ini terbelalak.
Dan ketika mereka coba-coba menaikkan dan hasrat masih juga menggebu, maka sebagai klimaksnya dipasang tarif limaribu tail perak untuk satu kepala. Luar biasa, kembali sudah uang para pelukis-pelukis itu! Tapi keadaan mulai berubah. Keluarga wanita-wanita cantik yang tak begitu mampu mulai mundur. Tak kuat membayar.
Tinggal sekarang golongan hartawan atau bangsawan yang sanggup membayar. Tak begitu banyak dibanding rakyat biasa tapi sudah membuat pelukis-pelukis ini kekenyangan, menepuk-nepuk perut mereka yang gendut dan sering menyeringai. Maklum, penghasilan mereka hampir tak kalah dengan yang diterima Mao-taijin, yang tentu saja melotot dan mencak-mencak tapi tak bisa berbuat apa-apa melihat ulah pelukis-pelukis itu, yang cerdik bagai siluman!
Dan ketika ribuan wajah cantik selesai dilukis dan mereka siap menghadap Mao-taijin, maka saat itulah di kota Chi-cou terjadi hal mencengangkan. Bupati Chi-cou, yang bernama Wang Yang, suatu hari "turba" melihat rakyatnya. Bupati ini terkenal jujur dan baik, memiliki seorang anak perempuan yang luar biasa cantiknya bernama Cao Cun, seorang gadis jelita berambut panjang, pandai sastra dan main musik, termasuk menari dan menyanyi.
Halus budi pekertinya dan jujur seperti sang ayah. Tidak begitu cerdik tapi juga tidak begitu bodoh. Ai kyunya sedang-sedang saja, tidak "jongkok". Dan ketika Bupati Wang melihat rakyatnya di kecamatan Gong yang dipimpin bawahannya bernama Gong Si Tek, maka puterinya yang cantik ini ikut.
"Ayah, aku juga ingin melihat-lihat rakyatmu. Biarlah kulihat kemajuan mereka." Sang bupati heran. "Untuk apa? Bukankah kau biasa tinggal di rumah, Cun-ji? Ini bukan tamasya, ini pekerjaan dinas!" Cao Cun tertawa. "Aku tahu, tapi aku ingin penyegaran, ayah. Aku jemu tinggal di rumah melulu. Boleh, kan?" Sang ayah tersenyum. Kalau anaknya sudah bersikap manja begini, biasanya dia tak mungkin menolak lagi.
Betapapun puterinya itu amat disayang dan dicinta. Dan Cao Cun yang ikut ayahnya ke kecamatan Gong lalu disambut dan untuk pertama kali melihat penghormatan bawahan kepada atasan. Melihat camat Gong bersikap hormat dan menyambut mereka dengan baik, manis dan ramah bahkan setengah takut.
Maklum atasan datang secara mendadak, memeriksa dan menanya ini itu sebagaimana layaknya seorang bupati yang ingin melihat kemajuan daerahnya. Dan ketika sang bupati ingin melihat padi-padi rakyatnya yang menguning di sawah dan sebentar lagi akan panen, tiba-tiba seorang lelaki datang menghadap mereka.
"Wang-taijin, hamba So Lui Tai. Maaf hamba datang tanpa diundang, bolehkah hamba mengganggu sebentar?" Sang bupati terkejut, tapi tertawa lebar. "Ah, kau siapa? Petani di kecamatan inikah?" Camat Gong buru-buru maju, juga terkejut melihat laki-laki yang menghadap secara tiba-tiba ini.
"Ampun, dia bukan petani, taijin. Tapi pelukis, datang dari kota raja atas suruhan Mao-taijin..." Bupati Wang terbelalak. "Pelukis? Dari kota raja..." Dan Lui Tai, si pelukis itu, tersenyum lebar, menganggukkan kepalanya.
"Ya, hamba pelukis, taijin. Utusan Mao-taijin untuk mencari..." dia tertawa, menghentikan kata-katanya dan melirik Cao Cun, kagum melihat kecantikan gadis itu karena sesungguhnya belum pernah dia menjumpai wanita begini elok, tidak banyak pulasan tapi benar-benar cantik!
Dan Gong-taijin yang tiba-tiba tersenyum melangkah maju buru-buru menyambung, tergerak hatinya, "Lui Tai datang ke kecamatan ini untuk melukis gadis-gadis cantik, taijin. Kaisar menyuruh menteri Mao untuk menemukan gambar wanita jelita yang pernah diimpikannya itu!" "Ooh...!" bupati Wang tertawa, mendengar juga berita itu dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tapi tak mengerti maksud kedatangan pelukis itu karena bupati Wang memang polos, dia bertanya, "Dan maksudmu, mau apa kau menemui aku, Lui Tai?" Lui Tai tertegun. Dia melihat ketidakmengertian bupati ini, ketidakmengertian yang sungguh-sungguh.
Tak tahu bahwa memang bupati itu tak tertarik pada berita yang akhir-akhir ini gencar dari mulut ke mulut tentang wanita-wanita cantik yang diambil lukisannya itu. Siapa tahu mereka beruntung diambil kaisar! Tapi melihat bupati ini rupanya benar-benar tak mengerti, padahal dia sudah mengincar bupati ini untuk "diperas", tiba-tiba Lui Tai tersenyum lebar, menjura dengan penuh harap.
"Hamba ingin melukis puterimu, taijin. Siapa tahu dialah yang dicari sri baginda!" "Ooh ...!" sang bupati tiba-tiba kembali tertawa. "Kau mau mengambil gambar puteriku, Lui Tai? Ah, silahkan tanya pada yang bersangkutan. Mungkin puteriku tak keberatan!" Lui Tai tersenyum semakin lebar, menghadapi Cao Cun, merasa ada harapan.
"Bolehkah hamba melukis wajah paduka, siocia?" Cao Cun, seperti ayahnya yang jujur dan polos, mengangguk, tertawa kecil. "Aku sebenarnya tak tertarik untuk dilukis, Lui-twako. Tapi kalau iseng-iseng untuk menyenangkan hatimu, baiklah, aku tak keberatan." "Ah, tentu!" Lui Tai girang, merasa akan mendapat lagi limaribu tail perak.
"Paduka tentu yang dimaksud kaisar, siocia. Paduka cantik dan elok melebihi bidadari!" dan memuji-muji seperti biasa orang jual kecap, pelukis ini tak habis-habisnya mengumpak orang, meninabobok calon korbannya dengan sajian kata-kata membubung yang manis melebihi madu, menarik perhatian orang akan harapan dipilih kaisar.
Hidup mewah dan serba gemerlapan di istana. Pendeknya, memikat dan membujuk Cao Cun dan ayahnya akan tinggal di samping kaisar, sama sekali tidak atau belum mengeluarkan alat-alat gambarnya, pit dan tinta.
Dan Cao Cun yang tentu saja heran serta geli akhirnya menegur, "Lui-twako, kenapa tak segera melukis? Mana itu hasil kerjamu kalau ngobrol melulu?" "Ah, he-he..." pelukis ini mulai pasang aksi, siap untuk "menembak" tarif. "Hamba belum mendapat persetujuan ayah paduka untuk melukis dirimu, siocia. Maksudku, eh... ongkos untuk biaya melukis itu!" Cao Cun tertegun.
"Ongkos? Bukankah kau sendiri yang minta untuk melukis wajahku?" Lui Tai tertawa, menyeringai lebar. "Maksud hamba, eh... biaya tinta dan tenaga melukis mohon imbalannya, siocia. Hamba mohon agar paduka mengasihani hamba agar tidak bekerja secara sia-sia." "Hm..." Cao Cun tersenyum, akhirnya memandang ayahnya.
"Bagaimana, kau dapat memberi sekedar ganti rugi, ayah? Lui-twako ini aneh. Dia yang minta gambarku, justeru aku yang dimintai uang! Bukankah terbalik? Seharusnya aku yang minta ganti rugi kepadanya karena dia telah menahan waktuku!" Wang-taijin tertawa lebar.
"Sudahlah, aku dapat mengerti kalau Lui Tai ini minta ganti rugi ongkos mengerjakannya, Cun-ji. Rupanya di samping seniman, dia juga pedagang, ha-ha...!" dan Wang-taijin yang mengeluarkan sekeping perak seharga limapuluh tail lalu menyerahkannya pada Lui Tai yang tak buru-buru diterima, bahkan mundur, mengejutkan bupati ini.
"Ada apa, kurangkah ini, Lui Tai?" Lui Tai tak segan-segan mengangguk. "Ah, kalau begitu biar kutambah. Seratus tail jadinya!" dan Wang-taijin yang kembali tertawa mengeluarkan limapuluh tail hingga seratus tail dengan yang pertama lalu menyodorkannya pada sang pelukis.
Tapi Lui Tai justeru menunjukkan muka tidak senang! "Taijin, apa yang kau peroleh bakal jauh melebihi nilai uang itu. Kenapa kau tak dapat menghargai jasa orang?" Wang-taijin terkejut. "Apa maksudmu?" Lui Tai melirik tajam, berusaha memperingatkan bupati ini, "Anak gadismu akan dipilih kaisar, taijin. Itu berarti keberuntungan tiada tara seumur hidup. Masa untuk jasaku ini hanya kau beri seratus tail saja?" "Ah, jadi maumu bagaimana?