Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 03

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 03

Bukankah kau minta sekedar ganti ongkos dan tinta? "Tidak," pelukis ini berani mengejek. "Aku mempunyai tarif sendiri, taijin. Kalau kau suka, boleh berikan padaku lima ribu tail perak. Harga itu sudah pasti. Anakmu pasti akan diboyong ke istana!" Wang-taijin membelalakkan matanya. Sekarang dia tahu bahwa pelukis ini mau menjual jasa tapi sekaligus memukul bayarannya.

Perbuatan yang tentu saja membuat dia marah! Dan karena dia dan anak perempuannya sesungguhnya tak tertarik sama sekali oleh gembar-gembor di luar tentang berita dari istana itu, tiba-tiba bupati ini menghardik, "Lui Tai, kau pemeras busuk! Aku tak butuh lukisanmu itu. Biar kau tinggalkan puteriku dan tak perlu dibawa ke istana. Kami bukan pemabuk harta!" Lui Tai terkejut, tak menyangka jawaban bupati ini.

Dan ketika dia terbelalak dan heran bahwa pembesar ini benar-benar tak "kepincut" oleh harapan nikmat tinggal di istana, tiba-tiba bupati itu telah menyuruh orang-orangnya mengusir pelukis ini! Lui Tai langsung didorong, disuruh pergi dengan paksa. Dan karena Wangtaijin benar-benar marah dan pembesar itu menyambar puterinya, diajak pergi, akhirnya Lui Tai menjadi korban para pengawal bupati ini.

Mereka juga gemas, sudah mendengar praktek-praktek kotor yang sebenarnya adalah pemerasan ini. Atau setengah pemerasan karena pelukis-pelukis Maotaijin itu mengerjakan "aji mumpung". Mumpung ada kesempatan. Mumpung ada rejeki. Ada proyek. Dan Lui Tai yang seketika itu juga diusir akhirnya pergi menaruh dendam pada bupati ini! "Wang-taijin, awas kau. Aku akan membalas semua hinaanmu!"

Wang-taijin terkejut, kepala pengawalnya juga terkejut. "Kau mengancam, orang she So?" dan belum bupati ini memberi perintah, tahu-tahu kepala pengawalnya yang bernama Hok Gwan sudah menyambar dan langsung membanting pelukis ini. "Tikus busuk, kau pergilah...!" Lui Tai mengaduh. Dia bangkit berdiri tapi lagi-lagi didekati kepala pengawal yang marah ini, mendapat tendangan dan tamparan hingga tubuhnya kembali mencelat, kini jauh di luar pagar.

Tapi ketika Hok Gwan hendak menghajarnya lebih keras, tahu-tahu sang bupati berseru, "Hok Gwan, lepaskan dia. Biarkan dia pergi...!" Lui Tai terhuyung. Pipi dan mukanya bengap dipukul kepala pengawal itu, tapi sang pelukis yang rupanya berani ini berkata, "Orang she Hok, hati-hati kau. Kalian lupa bahwa aku adalah orangnya Mao-taijin. Awas kalian!" Wang-taijin tertegun. Sekarang dia ingat bahwa orang she So yang pemeras ini adalah pembantu menteri Mao.

Meskipun bukan atasannya langsung tapi jelas menteri itu jauh lebih tinggi tingkatannya dibanding dia. Maka melihat pelukis itu terhuyung-huyung meninggalkan mereka dan meninggalkan ancaman demikian, tiba-tiba bupati ini pucat. Tapi dia merasa benar. Pelukis itu memeras. Maka gemetar mengepal tinju akhirnya bupati ini melanjutkan pekerjaannya dengan pikiran tak enak, diketahui Cao Cun yang sejak tadi mengerutkan kening melihat kekurangajaran pelukis tadi.

Dan ketika mereka pulang dengan muka murung dan hati kesal, akhirnya ayah dan anak ini sama menarik napas dan entah kenapa tiba-tiba merasa berdebar akan datangnya sesuatu yang tidak baik. Malam itu, sehabis menyulam dan menyelesaikan pekerjaan tangannya, Cao Cun pergi tidur. Ayah dan ibunya masih bercakap-cakap di beranda tengah, membicarakan sedikit keributan siang tadi di kecamatan Gong.

Dan ketika malam semakin larut dan bupati Wang serta isterinya pergi tidur dengan perasaan penat, tiba-tiba anjing yang ada di depan rumah menggonggong. Wang-taijin terkejut. Dia mendengar anjing mereka itu menyalak seolah bertemu orang jahat, bahkan membaung membuat bulu tengkuk berdiri. Maka turun untuk melihat keadaan, tiba-tiba bupati ini membuka pintu kamarnya.

"Kau mau ke mana?" sang isteri terkejut, pucat mendengar suara-suara yang menyeramkan ini, ikut turun dan memegangi piyama suaminya. Tapi Wang-taijin yang berusaha menenangkan dengan senyum lebar tiba-tiba mendorong isterinya masuk. "Aku mau keluar sebentar, nio-nio. Kau tinggallah di dalam tak usah cemas!" "Tapi..." "Sudahlah, ada Hok Gwan, bukan? Aku mau menemui kepala pengawalku itu. Kau tidurlah kembali!"

Dan Wang-taijin yang sudah menutup pintu kamarnya menyuruh sang isteri masuk, akhirnya bergegas menuju ke luar. Dan kebetulan salak anjing tiba-tiba berhenti, bertemu dengan Hok Gwan di regol dalam. "Ada apa? Mana si kuning, Hok Gwan?" Hok Gwan mengerutkan keningnya. "Entahlah, tak ada apa-apa, taijin. Si kuning menyalak tanda ada sesuatu yang mencurigakan." "Tak mungkin," bupati ini membantah. "Mana si kuning?" Hok Gwan bersiul. Dia memanggil anjing itu dengan isyarat panjang, panggilan yang sudah biasa dilakukan oleh keluarga sang bupati yang memiliki anjing satu-satunya ini.

Dan ketika bayangan si kuning muncul dan anjing itu melompat dengan napas terengah-engah, langsung Wang-taijin menangkap lehernya. "Ada apa, kuning? Kau melihat orang jahat?" Anjing ini menggaruk-garukkan kakinya, mengibas ekor dan mendengus mengeluarkan suara aneh. Dan Wang-taijin yang tertegun melihat gerak-gerik anjingnya tiba-tiba berkata, "Benar, dia melihat sesuatu yang mencurigakan. Kau periksa rumah ini, Hok Gwan. Kerahkan anak buahmu meronda sekeliling!"

Tapi baru bupati ini selesai bicara, sekonyong-konyong dari dalam rumah terdengar dua jeritan panjang. "Ayah, tolong...!" "Suamiku, tolong...!" Wang-taijin dan pengawalnya terkejut. Mereka langsung memburu ke asal suara itu, Hok Gwan sudah berteriak memanggil sembilan anak buahnya yang menjaga di depan, bersepuluh dengan kepala pengawal itu sendiri.

Dan ketika mereka tiba di dalam dan jeritan serta teriakan Cao Cun dan ibunya ini melengking memecahkan keheningan malam, mendadak dua bayangan berkelebat memanggul dua wanita itu. "Ha-ha, kami pinjam sebentar anak isterimu, taijin. Tak perlu khawatir, dua hari lagi mereka akan kami kembalikan!" Wang-taijin terbelalak. Dia melihat dua laki-laki berkedok menculik isteri dan anak perempuannya itu, Cao Cun menjerit-jerit dan meronta di belakang punggung sang penculik, menangis dan mencakar ke sana sini, memanggil-manggil ayahnya.

Dan bupati Wang yang tentu saja tak tahan melihat semuanya itu dan marah bukan main, tiba-tiba berteriak menubruk lawan di sebelah kiri yang membawa puterinya. "Penculik hina, lepaskan anakku...!" Tapi laki-laki berkedok ini tertawa mengejek. Dia mengelit menghindar tubrukan bupati itu, lalu sementara Wang-taijin hampir terjelungup, tahu-tahu kakinya bergerak menendang perut bupati itu. "Ha-ha, kami melepaskannya kalau sudah ada tebusan, taijin. Sekarang pergi dan beristirahatlah di kamarmu...!"

Wang-taijin mencelat. Dia memang bupati yang lemah, tak pandai silat. Maka begitu luput dan ganti mendapat tendangan, tak ayal bupati ini terpekik dan terpelanting roboh. Tapi Wang-taijin bangkit berdiri, nekat dan kembali menubruk penculik ini. Dan Hok Gwan yang juga sudah mencabut senjatanya melawan penculik yang lain, akhirnya melihat kedatangan sembilan anak buahnya yang mendengar teriakan kepala pengawal ini, menerjang dan maju mengeroyok dengan tombak dan golok, mengeluarkan bentakan-bentakan marah karena melihat majikan mereka dirusuhi.

Dan begitu para pengawal ini menyerbu dan Wang-taijin disuruh minggir, akhirnya dua penculik itu dikerubut seorang lawan lima! "Ha-ha, kalian mau coba-coba menangkap kami, pengawal-pengawal busuk? Tak mungkin bisa, kalian bukan tandingan kami. Lihat...!" dan dua penculik itu yang tertawa mengejek menangkis tombak dan pedang, tiba-tiba dengan tangan kosong mematahkan senjata para pengawal itu, membuat para pengawal terkejut dan kaget membelalakkan mata.

Dan ketika dua penculik itu berkelebat menggerakkan kakinya, tahu-tahu Hok Gwan dan sembilan anak buahnya ini mencelat terlempar bagai disapu angin puyuh! "Ha-ha, bagaimana kecoa-kecoa busuk? Kalian masih tidak percaya?" Hok Gwan dan anak buahnya melompat bangun. Mereka terbanting tapi tidak terluka, gentar tapi juga marah kepada dua penjahat ini.

Dan melihat Wang-taijin berteriak-teriak agar mereka menangkap penjahat itu, terpaksa Hok Gwan dan anak buahnya kembali menyerang, nekat dan coba-coba mengulang. Tapi ketika lagi-lagi mereka terpelanting bergulingan dan tiga di antara mereka bahkan patah tulang, tiba-tiba dua penculik itu tertawa bergelak berkelebat keluar. "Wang-taijin, kami minta tebusan selaksa tail. Siapkan uang itu dan dua hari lagi kami kembali. Awas, kalau tidak terpaksa anak isterimu kubunuh. Ha-ha...!" Wang-taijin pucat.

Dia melihat Hok Gwan dan kawan-kawannya itu tak mampu menandingi penjahat yang lihai-lihai ini, tertegun. Tapi si kuning yang tiba-tiba menyalak dan mengejar penculik yang membawa Cao Cun, mendadak melompat menggigit kaki penjahat ini, mengaduh karena tak menyangka anjing itu bakal menyerang. Dan ketika penjahat itu berteriak menendang anjing ini, tiba-tiba si kuning sudah melompat dan menyerang lagi, menahan langkah si penjahat, kali ini menggigit pinggang dan "nggandul" di situ, menggeram tak mau melepaskan lawan hingga si penculik kelabakan, mengipat-ngipatkannya tapi tetap saja anjing itu menancapkan taringnya.

Tapi begitu penculik ini membentak marah dan mencabut sesuatu, tiba-tiba si kuning roboh menguik dengan kepala ditembus belati kecil. "Crep!" anjing itu tewas seketika. Dia sudah tak dapat bergerak lagi, ditendang dan mencelat bangkainya mengenai Wang-taijin. Dan dua penjahat yang kembali meneruskan larinya memanggul tawanannya itu, tiba-tiba memaki bupati Wang, "Wang-taijin, tuntutan kami naik menjadi duapuluh ribu tail. Anjingmu telah menyerang kami. Jahanam...!" Wang-taijin menangis.

Dia sekarang sadar dan berteriak-teriak mengejar dua penjahat itu, disusul Hok Gwan dan para pengawal lain dengan hati kebat-kebit, membuat malam yang sepi itu pecah oleh teriakan bupati ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment