Chapter 04
Ketika lawan mengejek dan hampir lenyap di luar rumah, mendadak sebuah bayangan muncul bagai iblis, menghadang dan langsung membentak, "Tikus-tikus, busuk apa yang kalian lakukan?" Dua penculik berkedok itu terkejut. Mereka tahu-tahu telah berhadapan dengan seorang laki-laki asing, gagah dengan rambut keemasan, berdiri tegak di depan mereka seolah benteng yang tak bergeming.
Tapi dua penjahat yang tertawa dan memandang rendah laki-laki di depan itu tiba-tiba mendorong dan ganti membentak, "Minggir...!" Tapi dua penculik ini terperanjat. Mereka telah menepuk pundak penghadang itu, mengira sekali cengkeram akan melempar laki-laki itu. Tapi ketika jari mereka lekat dan justeru pundak itu mengeluarkan tenaga yang luar biasa kuat menolak balik pukulan mereka mendadak dua orang ini berteriak kaget ketika mereka terbanting roboh.
"Hei, bress...!" Dua penculik itu jatuh bangun. Mereka tak mengerti bagaimana mereka roboh sendiri, tak melihat lawan menggerakkan kaki atau tangan tapi mereka sudah terguling-guling di atas tanah. Dan belum mereka sadar akan apa yang terjadi tahu-tahu dua tawanan mereka yang ditaruh di atas pundak sekonyong-konyong melejit dan lepas dari pelukan mereka, terbang ke arah laki-laki berambut emas itu.
"Heii...!" Tapi mereka tinggal melongo. Cao Cun dan ibunya sudah ditangkap laki-laki ini, yang ternyata seorang pemuda tampan dengan mata seperti bintang, asing tapi penuh wibawa dengan rambutnya yang aneh itu. Dan ketika Wang-taijin dan Hok Gwan serta yang lain-lain datang mendekat dan langsung menubruk anak dan isterinya itu maka bintang penolong yang tak dikenal ini sudah menghadapi dua penculik berkedok itu.
"Kalian siapa? Kenapa membuat onar?" Dua penjahat itu tertegun. Mereka kaget sekejap melihat lolosnya tawanan mereka, melihat Cao Cun dan ibunya sudah berpelukan dengan ayah mereka, menangis. Tapi membentak menerjang maju tiba-tiba dua penjahat ini menghantam pemuda berambut emas itu. "Keparat, kau tak perlu tanya siapa kami, bocah. Yang jelas sekarang enyah dan mampuslah... plak-dess!" Pemuda itu tak mengelak.
Dia tenang menerima dua pukulan ini, tersenyum mengejek dan sekilas bibirnya yang tipis menyungging tawa yang aneh. Tapi begitu pukulan tiba dan tepat mengenai tubuhnya tiba-tiba dua penjahat itu menjerit dan... terpelanting roboh dengan tangan bengkak-bengkak! "Aduh...!" keduanya kaget bukan main, melompat bangun dan terbelalak memandang lawan. Tapi penasaran dan menyerang kembali tiba-tiba mereka mempergunakan kaki untuk menendang, tak dapat menggunakan tangan lagi karena sudah melepuh seperti disengat tawon.
Tapi begitu kaki mengenai tubuh pemuda ini dan lawan diam tak membalas tiba-tiba mereka menjerit dan... kembali roboh terlempar, kaki salah urat dan melembung seperti balon! "Aduh...!" "Augh...!" Dua penculik itu bergulingan. Mereka berteriak dan mendesis-desis kesakitan, tak mampu bangun berdiri. Dan ketika mereka berkaok bagai ayam disembelih tahu-tahu pemuda berambut keemasan ini telah mencengkeram baju mereka. "Kalian masih bersikap sombong? Kalian minta dihajar lebih keras?" Dua penculik itu menggigil, mengeluarkan air mata saking sakit dan pedihnya rasa bengkak itu.
Dan ketika mereka mendesis dan gentar menghadapi lawan yang demikian lihai karena belum membalas sudah membuat mereka keok akhirnya keduanya menjatuhkan diri berlutut dengan muka gemetar. "Ampun... ampunkan kami, siauw-hiap. Kami hanya orang suruhan saja yang tidak bersalah...!" "Hm, siapa kalian?" "Kami... kami..." "Bret!" pemuda itu tiba-tiba sudah merenggut kedok yang dikenakan dua penjahat ini, melihat mereka adalah dua orang laki-laki bermuka codet. Dan Wang-taijin yang melihat siapa mereka tiba-tiba berseru, "Dua Musang Sakti...!" Dan dua penculik yang menggigil tak mampu bersuara tiba-tiba mengangguk dan mohon ampun pada bupati Wang itu.
"Ya, ampunkan kami, taijin... kami hanya orang suruhan belaka..." "Siapa yang menyuruh kalian?" "Lui Tai." "Pembantu Mao-taijin itu?" "Ya." "Ah!" dan bupati Wang yang tampak marah dan tiba-tiba merah mukanya mendadak melangkah maju. "Musang Sakti, kalian adalah orang-orang jahat yang diusir dari kota raja. Kenapa sekarang berkeliaran di daerahku membuat onar? Berani kalian menculik anak isteriku?" Dua musang itu pucat, memandang pemuda berambut emas yang ada di situ, gentar tak berani berkurang ajar pada bupati ini karena ada lawan yang jauh lebih kuat dibanding mereka.
Dan ketika bupati Wang marah-marah dan siap menangkap mereka tiba-tiba Cao Cun berseru memperingatkan ayahnya, "Ayah, yang menangkap mereka itu bukan dirimu. Sebaiknya serahkan hal itu pada in-kong ini!" Wang-taijin terkejut. Dia terbawa pada sikapnya sebagai pembesar, lupa bahwa pemuda berambut emas inilah yang menangkap dua musang jahat itu. Bahkan yang menolong keluarganya dari musibah besar. Maka terkejut dan sadar akan budi pertolongan pemuda ini tiba-tiba Wang-taijin menjatuhkan diri berlutut! "Siauw-hiap, maafkan kelancanganku. Aku hampir melupakan rasa terima kasihku yang besar!" dan ketika bupati itu menjatuhkan diri berlutut dengan air muka penuh haru dan gembira akhirnya berturut-turut Cao Cun dan ibunya juga mengikuti jejak sang ayah.
"Benar, kau telah menolong kami berdua, siauw-hiap. Sungguh tak terkira rasa syukur dan terima kasih kami!" "Dan aku juga menyatakan terima kasihku, in-kong. Entah apa jadinya kalau dua manusia jahat ini membawa diriku!" Cao Cun bicara, lembut dan halus dengan suaranya yang merdu, enak didengar. Dan ketika Hok Gwan dan teman-temannya juga berlutut di belakang pemuda itu sambil mengangguk-angguk maka terkejutlah pemuda ini membangunkan bupati itu. "Taijin, bangunlah. Aku kebetulan lewat di sini, tak perlu berterima kasih!" dan berturut-turut menyuruh Cao Cun dan ibunya bangun berdiri akhirnya pemuda ini menghadapi Dua Musang Sakti itu. "Musang busuk, hukuman apa yang kalian inginkan sekarang?" Dua musang itu terkejut. "Kami... kami minta hukuman seringan-ringannya, siauw-hiap... kami minta agar kau tidak membunuh kami!" "Hm, padahal kalian telah menculik dan memeras?" Dua orang itu gemetar. "Kami... kami hanya orang suruhan, siauw-hiap... kami..." dua musang itu tiba-tiba menghentikan kata-katanya, melihat leher mereka sudah dicekik hingga sulit bernapas.
Dan ketika mereka terbelalak dan pucat memandang lawan yang lihai ini pemuda berambut emas itu sudah memutuskan, "Kalian harus mengganti rugi duapuluh ribu tail perak pada Wang-taijin, seperti yang kalian minta tadi! Sanggup?" Dua orang ini terbelalak. Duapuluh ribu tail? Darimana mereka dapatkan itu? Tapi mereka yang tiba-tiba tersenyum mendadak menganggukkan kepalanya menyatakan setuju. Menyanggupi karena mereka dapat mencari nanti di tengah jalan, mencuri atau merampok orang-orang kaya! Tapi Wang-taijin yang terkejut mengenal watak dua musang ini sudah buru-buru berseru, "Siauw-hiap, jangan... tidak usah! Aku tak perlu dibayar seperti itu. Mereka nanti akan mencari uang dengan jalan merampok atau mencuri. Tidak usah saja!" dan Wang-taijin yang buru-buru mengulapkan lengannya mencegah pemuda itu memaksa dua musang ini memberi ganti rugi tiba-tiba berkata lagi dengan muka pucat, "Mereka tak punya uang sebanyak itu, siauw-hiap. Kalau kau memaksa mereka seperti itu maka mereka akan mencelakakan orang lain untuk mencari uang ini. Tidak, aku tak mau uang haram. Mereka bukan manusia baik-baik!" Sang pemuda tertegun. "Begitukah? Kalau begitu mereka sudah terlampau jahat? Hm, kalau begitu dihukum yang lainnya saja. Jari mereka harus dipotong!" dan pemuda berambut emas yang kini menghadapi dua musang itu membentak, "Musang-musang busuk, kalian potong jari-jari kalian untuk pengingat dosa-dosa kalian. Berani membantah?" Dua musang itu pucat. Mereka merasa hukuman pertama tadi ringan, jauh lebih ringan daripada memotong jari-jari sendiri.
Maka mendengar Wang-taijin mencegah dan kini pemuda yang amat lihai itu mengganti hukuman mereka dengan memotong jari tiba-tiba dua lakilaki bercodet itu mendelik. Mereka marah sekali pada bupati Wang ini, yang menjadi gara-gara. Tapi Cao Cun yang maju dan khawatir oleh pandangan dua musang itu tiba-tiba berkata lirih, "Siauw-hiap, lebih baik lepaskan saja mereka ini. Kau minta saja padanya agar bertobat dan tidak melakukan kejahatan lagi." Pemuda berambut emas itu heran. "Kenapa?" Cao Cun terisak. "Aku tak mau mereka mendendam pada ayah, siauw-hiap. Kalau kau tak ada di sini dan mereka kembali membuat kerusuhan maka kami sekeluarga tentu celaka." "Hm..." pemuda itu kini membalikkan tubuhnya menghadapi dua musang ini. "Kalian berani mendendam pada keluarga Wang-taijin? Kalian minta kubunuh agar tidak merupakan ancaman lagi?" "Tidak... tidak...!" dua musang itu terang kaget, pucat dan terkejut melihat mata yang seperti bintang itu tiba-tiba hidup, berkilat dan bersinarsinar memandang mereka.
Dan sebelum pemuda menakutkan ini menjatuhkan keputusan maut mendadak mereka sudah menjatuhkan diri berlutut. "Kami akan memenuhi permintaan Wang-siocia, siauw-hiap. Kami berjanji akan bertobat bila kami dilepaskan baik-baik. Kami tak akan mendendam pada Wang-taijin!" dan merintih serta mengiba-iba dua musang itu membentur-benturkan dahi mereka, berjanji tak akan melakukan kejahatan dan segala perbuatan buruk lagi. Dan ketika Cao Cun juga memohon agar pemuda itu tak membunuh atau menyakiti dua musang ini dan melepaskan saja mereka dengan baik-baik karena dua musang itu rupanya benar-benar sudah bertobat maka pemuda berambut emas ini tiba-tiba menendang dua laki-laki itu. "Baiklah, Wang-siocia mengampuni kalian, musang busuk. Kali ini kalian boleh pergi tapi awas kalau kalian melanggar janji, aku tak akan mengampuni kalian lagi. Enyahlah... dess!" dan dua musang itu yang mencelat sambil mengaduh akhirnya terbanting dan terguling-guling di luar rumah Wang-taijin, mengeluh tapi girang diampuni begitu mudah.