Chapter 05
Wang-taijin dan semua orang tertegun. Mereka melihat kehebatan pemuda itu, kelihaiannya yang luar biasa hingga tidak perlu membalas Dua Musang Sakti itu sudah keok. Melihat dua laki-laki bercodet itu terbirit-birit melarikan diri.
Tapi begitu mereka memutar tubuh memandang pemuda yang tadi berdiri tak jauh dari mereka mendadak Wang-taijin dan anak isterinya terkejut karena pemuda itu sudah tak ada lagi di dekat mereka!
"Hei, kemana dia?" Wang-taijin berseru kaget, disusul yang lain-lain karena Hok Gwan dan anak buahnya juga tak melihat kemana bintang penolong mereka itu pergi.
Lenyap begitu saja seperti iblis.
Dan Wang-taijin dan anak isterinya yang tentu saja ribut dan mencari ke sana ke mari sambil memanggil-manggil akhirnya kecewa karena tetap saja orang yang mereka cari itu tak kelihatan bayangannya.
Mereka tak tahu kemana pemuda aneh itu pergi, tak sempat mengajak masuk dan bercakap untuk menyatakan terima kasih.
Tapi Wang-taijin yang penasaran dan ingin kembali menemui pemuda gagah itu akhirnya memberi perintah pada Hok Gwan untuk mencari pemuda lihai ini keesokan harinya.
"Hok Gwan, kerahkan semua pengawal untuk mencari bintang penolong kita ini. Ajak dia ke mari memenuhi undanganku. Aku ada perlu penting dengannya. Sampaikan itu!" Hok Gwan mengangguk.
Dia tak tahu bahwa semalam Wang-taijin dan isterinya telah saling berbisik-bisik untuk mengambil pemuda itu sebagai mantu. Ingin menyerahkan Cao Cun agar menjadi isteri pemuda itu. Pemuda yang dan tentu dapat melindungi mereka dari ancaman bahaya. Pemuda yang menarik dan gagah!
Dan Hok Gwan yang tentu saja tak tahu pembicaraan yang bersifat pribadi ini sudah menyambut girang perintah majikannya itu. Dia menyebar anak buahnya, bahkan dia sendiri juga ikut terjun, mencari ke segenap kabupaten Chi-cou untuk menemukan pemuda gagah itu.
Pemuda yang membuat dia kagum dan terbelalak akan kelihaiannya. Merobohkan Dua Musang Sakti yang telah membuat dia dan sembilan anak buahnya keok. Padahal sama sekali tidak membalas.
Dan ketika Hok Gwan berputar-putar ke seluruh wilayah kabupaten mencari-cari pemuda ini akhirnya secara kebetulan dia menjumpai pemuda aneh itu duduk minum arak di sebuah kedai jauh di ujung perbatasan Chi-cou dengan kabupaten Pin!
"Ah...!" Hok Gwan girang bukan main, langsung turun dari kudanya dan menghampiri pemuda itu.
Dan ketika sang pemuda mengerutkan kening melihatnya heran buru-buru Hok Gwan memberi hormat di kaki meja, menjatuhkan diri berlutut.
"Siauw-hiap, hamba mendapat perintah Wang-taijin agar siauw-hiap sudi memenuhi undangannya ke kabupaten Chi-cou. Taijin ada urusan penting yang hendak dibicarakan berdua. Mohon siauw-hiap tak mengecewakan permintaan ini setelah susah payah aku mencari-carimu!" Pemuda itu tersenyum, sedikit saja tapi sudah membuat kepala pengawal ini bungah.
"Hm, ada apa Wang-taijin memintaku ke sana? Apakah musang-musang busuk itu mengganggu kalian lagi?" "Tidak, tidak...!" Hok Gwan menggelengkan kepalanya. "Wang-taijin hendak membicarakan sesuatu yang bersifat pribadi, siauw-hiap. Mungkin..." "Mungkin apa?" "Mungkin minta siauw-hiap menjadi pengawal pribadi di sana!" Pemuda itu tiba-tiba tak senang.
"Kalian hendak menyogokku dengan pangkat?" Hok Gwan terkejut. "Tidak, eh... maaf, itu baru dugaanku belaka, siauw-hiap. Itu baru kemungkinan yang kureka-reka sendiri saja!" "Hm, kalau begitu katakan pada majikanmu bahwa aku tak tertarik dengan pangkat dan kedudukan. Aku pengelana sejati yang tak ingin diikat dengan apapun!" Hok Gwan semakin terkejut melihat pemuda itu menghabiskan araknya dan tiba-tiba bangkit berdiri siap keluar dari kedai itu.
Dan ngeri bahwa pemuda ini pandai "menghilang" dan sekali lenyap tentu dia tak akan dapat menemuinya lagi tiba-tiba Hok Gwan menangis memeluk erat-erat kaki pemuda ini. "Siauw-hiap, ampunkan aku. Kau penuhilah permintaan Wang-taijin. Itu hanya dugaanku belaka yang tidak kupikir panjang lebar. Aku akan berlutut di sini sampai mati kalau kau menolak keinginan ini!" Pemuda itu terkejut. "Kau mau memaksa?" Hok Gwan menggigil. "Tidak, tapi... tapi penuhilah permintaan ini, siauw-hiap. Aku boleh memotong jariku sendiri kalau kata-kataku tadi kau anggap dosa!" Pemuda itu tiba-tiba tersenyum. "Bangunlah, aku akan memenuhi permintaanmu!" dan ketika Hok Gwan bangun dan berseru girang melepaskan pelukannya tiba-tiba pengawal ini telah menyambar kudanya untuk diberikan pada pemuda ini.
"Pakailah, aku akan berjalan kaki untuk menebus kelancanganku, siauw-hiap. Taijin tak sabar lagi menunggu dirimu di gedung kabupaten!" Pemuda itu tertawa. "Untuk apa? Kau mau berjalan kaki?" "Ya, penebus kelancanganku tadi, siauwhiap. Biarlah kau pakai kudaku dan aku akan berjalan pulang!" Pemuda itu tiba-tiba tertawa lepas, melihat kepolosan pengawal Wang-taijin ini.
Dan ketika Hok Gwan terheran dan terbelalak memandang kepadanya tiba-tiba pemuda itu berkelebat lenyap meninggalkan kedai. "Pengawal she Hok, kau pakai saja kudamu. Aku lebih cepat dengan kedua kakiku. Pulanglah, aku akan lebih dulu tiba di sana...!" dan ketika suara itu lenyap dan Hok Gwan sadar akan apa yang terjadi tiba-tiba pengawal ini berseru keras melompati kudanya, ingin membuktikan dan buru-buru mencongklang tunggangannya menuju ke kabupaten Chi-cou, mencambuk dan menendang-nendang kudanya agar secepat mungkin sampai di tempat tujuan.
Dan ketika sejam kemudian dia tiba di sana dengan keringat bercucuran dan napas terengah-engah saking gugup dan tegangnya mendadak pengawal ini melongo ketika melihat pemuda yang aneh itu benar telah bercakap-cakap dengan Wang-taijin! "Ah...!" pengawal ini tak habis pikir, disambut senyum dan ketawa majikannya yang melihat pengawalnya itu ngos-ngosan.
Heran dan tak habis mengerti bagaimana dia yang telah berlari cepat bersama kudanya itu masih kalah oleh pemuda asing ini, yang duduk enak dan sama sekali tidak berkeringat seperti dia yang "gembrobyos".
Dan ketika Wang-taijin terbahak dan menyuruh pengawalnya itu keluar karena pemuda lihai yang mereka undang sudah datang sejam yang lalu akhirnya kepala pengawal ini mengangguk dan ngeloyor keluar dengan muka terheran-heran.
Memang, pemuda itu telah datang jauh sebelum pengawal itu tiba. Sejam yang lalu ketika mereka bercakap-cakap di kedai arak, mempergunakan ginkangnya yang hebat dan sebentar saja telah bertemu dengan bupati Wang yang tentu saja girang dan gembira bukan main, mendengar cerita singkat tamunya itu akan pertemuannya dengan Hok Gwan.
Dan ketika mereka bercakap-cakap dan sejam kemudian kepala pengawal itu datang dan percakapan basa-basi telah selesai maka dengan muka berseri tapi juga agak tegang Wang-taijin lalu menuju pada pokok persoalan yang sebenarnya sudah disiapkan, persis ketika saat itu puterinya membawa minuman dan makanan kecil untuk tamu mereka yang dikagumi.
"Siauw-hiap, bolehkah kutanya sedikit persoalan pribadimu?" Sang pemuda teregun. "Kau mau bertanya apa, taijin?" dan ketika sang bupati tersenyum dan melihat pemuda itu melirik puterinya yang kembali ke belakang akhirnya pembesar ini menekan debaran jatungnya.
"Maaf, aku ingin bertanya apakah kau sudah beristeri atau belum, siauw-hiap. Bolehkah kutanya ini kalau tidak menyinggung hatimu?" Pemuda itu tiba-tiba tersenyum, mata bintangnya bergerak hidup. "Belum, aku masih bujang. Kenapakah?" "Hm," Wang-taijin mendapat harapan. "Dan siauw-hiap juga belum punya, eh... kekasih?" Sang pemuda tiba-tiba murung. "Taijin, ada maksud apa kau menanyai ini? Aku memiIiki masa kecil yang gelap. Pertanyaanmu membuat aku teringat pada luka yang lama!" "Ah, maaf!" Wang-taijin buru-buru menjura. "Aku tak tahu, siauw-hiap. Aku... aku..." dan Wang-taijin yang gugup melihat kemurungan tamunya tiba-tiba macet tak dapat melanjutkan!
Tapi pemuda berambut emas itu tersenyum pahit, menghela napas. "Apa yang kau inginkan, taijin?" Wang-taijin seret mengeluarkan kata-katanya. Tapi setelah melihat tamunya tersenyum dan dapat kembali bersikap biasa akhirnya bupati ini bicara juga, "Kami, eh aku ingin menyerahkan puteriku padamu, siauw-hiap. Kalau kau suka dan memang belum beristeri biarlah Cao Cun menjadi isterimu!" Pemuda ini terbelalak, rupanya kaget.
"Apa?" Dan Wang-taijin memberanikan hatinya dengan muka penuh harapan, "Aku ingin menyerahkan Cao Cun sebagai isterimu, siauwhiap. Kalau kau cocok dan suka padanya sungguh akan gembira dan besar sekali kebahagiaan kami sekeluarga!" Pemuda itu tertegun. Dia teringat puteri bupati Wang yang ayu dan elok itu, lembut dan memiliki wajah gemilang serta cantik dan jelita. Gadis yang agaknya mampu merobohkan setiap lelaki yang pertama kali memandangnya.
Tapi mengerutkan alis menggeleng kepala tiba-tiba pemuda ini bangkit berdiri. "Maaf," Wang-taijin terkejut. "Aku sedang pepat pikiran, taijin. Tak mungkin bagiku memikirkan jodoh dalam saat seperti ini!" dan ketika bupati itu terbelalak memandangnya pemuda inipun menjura. "Taijin, kukira cukup kita bercakap-cakap. Terima kasih untuk semua perhatian dan maksud baikmu." "Ah, kau mau ke mana, siauw-hiap?" Pemuda ini tersenyum getir. "Aku pengelana sejati, taijin. Aku ingin melanjutkan perjalananku ke mana aku suka." "Ah, dan... dan puteriku?" "Kenapa dengan puterimu?" "Tak cantikkah dia? Tak sukakah kau kepadanya?" Pemuda ini tiba-tiba menggigit bibir. "Taijin, puterimu halus dan cantik bagai bidadari. Siapa tak suka padanya? Aku bukan tidak suka, taijin. Tapi saat ini aku belum berhasrat untuk memperisteri seorang gadis!" Wang-taijin pucat, merasa gagal!
"Siauw-hiap, adakah seorang gadis yang telah menjatuhkan hatimu?" Pemuda itu memejamkan mata. "Perlukah kau ketahui?" Wang-taijin tertegun. Dia tiba-tiba merasa telah melancarkan pertanyaan di luar batas, urusan pribadi yang memang tak seharusnya dia ikut campur.