Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 06

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 06

Dan Wang-taijin, yang tidak menjawab karena merasa terpukul, tiba-tiba melihat pemuda aneh itu membuka matanya. "Taijin, aku tidak menolak maksud baikmu, tapi masalah itu biarlah kita bicarakan saja lain hari."

"Ah!" Wang-taijin tiba-tiba merasa mendapat harapan. "Kalau begitu kau mengabulkannya, siauw-hiap? Kau..." "Nanti dulu, jangan terburu-buru!" pemuda itu memotong. "Aku tak memberi janji mau atau tidak mau, taijin. Tapi masalah jodoh adalah masalah yang tidak gampang diselesaikan dengan cara begitu singkat. Hidup suami-isteri adalah hidup keterikatan. Aku tak mau gampang memberi janji kepada siapapun!" Dan sekali lagi menjura kepada bupati itu, tiba-tiba pemuda ini berkelebat keluar.

"Taijin, pembicaraan kita sudah cukup. Terima kasih atas semua kebaikanmu...!" dan ketika Wang-taijin terbelalak memandang ke depan, tahu-tahu pemuda berambut emas itu telah lenyap di luar halamannya. "Kim-mou-eng (Pendekar Rambut Emas)...!" Wang-taijin tiba-tiba berseru, memanggil begitu saja pemuda lihai itu dengan sebutan sekenanya. Tapi tak menyangka sebutannya mengena pada sasaran, mendadak pemuda yang tadi lenyap itu sekonyong-konyong muncul kembali di depannya seperti iblis.

Begitu saja membuat Wang-taijin mundur menubruk kursinya. "Bagaimana kau mengenal julukanku?" Wang-taijin geragapan. Dia bangun berdiri dengan muka kaget, membersihkan bajunya dan menarik kembali kursi yang roboh. Tapi melihat orang tak marah padanya dan bersikap wajar, tiba-tiba pembesar ini kagum bukan main. Kagum serta tertarik melihat pemuda ini demikian hebat. Dapat datang dan pergi seperti siluman! Maka tersenyum dan girang memutar akal, tiba-tiba bupati ini tertawa.

"Aku mengenal dan menyebutmu sembarang saja, siauw-hiap. Tapi kalau betul itu adalah julukanmu maka akan kupanggil dirimu Kim-mou-eng!" dan belum pemuda ini membalas dengan kata-kata, Wang-taijin sudah menjura penuh hormat. "Kim-mou-eng, bagaimana kalau begitu jika Cao Cun menjadi adikmu? Aku cukup puas kalau kau dapat menjadi kakaknya, Kim-moueng. Aku tak mengharap lebih di saat ini!" Kim-mou-eng tertegun.

"Kau mau mengikatku di sini?" "Tidak," Wang-taijin buru-buru menyela, cerdik melihat keadaan. "Aku tak mengikatmu kemana kau pergi, Kim-mou-eng. Tapi kalau kau mau tinggal beberapa hari di sini dan menganggap puteriku sebagai adikmu maka rasa terima kasih kami akan terbayar sedikit dengan kemurahanmu. Aku tak memaksa." Kim-mou-eng lagi-lagi tertegun. Dan sementara dia mengerutkan kening memandang bupati ini, tiba-tiba Cao Cun muncul.

"Ayah, kenapa tamu kita kau biarkan berdiri begitu? Apakah kau mengusirnya pergi?" Bupati Wang terkejut, tapi cepat girang memberi isyarat. "Tidak, justeru Kim-mou-eng mau tinggal beberapa hari di sini, Cun-ji. Kau rupanya beruntung akan dianggap sebagai adiknya. Hayo cepat beri hormat...!" dan Wang-taijin yang buru-buru mengedip memberi isyarat, tiba-tiba membuat Cao Cun terkejut tapi girang bukan main, merah tersipu.

Tapi begitu sang ayah sudah memegang pundaknya dan menyuruh Cao Cun berlutut di depan kaki Pendekar Rambut Emas ini, maka puteri bupati Wang itu sudah berkata, gemetar penuh gembira, "In-kong, kalau betul kau mau menganggap aku sebagai adikmu sungguh kegembiraan kami sekeluarga tak terkira besarnya. Aku Cao Cun mohon bimbinganmu!" dan Cao Cun yang menyentuh lutut Pendekar Rambut Emas akhirnya membuat pemuda lihai ini sadar dan gugup, tak dapat mengelak lagi karena Cao Cun sudah memberi hormat padanya.

Dan karena perbuatan ini telah "mengikatnya" dalam hubungan persaudaraan yang lebih akrab, akhirnya Kim-mou-eng tersipu dan buru-buru membangunkan puteri Wang-taijin itu. "Nona, bangunlah. Aku tak pantas sebenarnya menjadi kakakmu!" Cao Cun terkejut. "Kau memanggilku nona?" Wang-taijin tampil bicara, tertawa lebar. "Ha-ha, Kim-mou-eng masih canggung, Cun-ji. Kau sendiri tak memulainya menyebut twako (kakak)!" Cao Cun sadar. "Ah, benar, maaf twako... maaf, Kim-twako!" dan ketika Kim-mou-eng bingung dan tersipu melihat gadis itu berdiri di depannya, karena sang ayah selalu membantu, akhirnya Pendekar Rambut Emas tak berdaya mengelak lagi.

"Sudahlah, ayahmu pintar, Cun-moi. Aku benar-benar gugup menghadapi kalian." "Dan kau masih jadi mau pergi juga, Kim-mou-eng?" Pemuda ini tertegun. "Tidak, bukan? Nah, kalau begitu biar kusiapkan pesta kecil untuk kalian!" Wang-taijin tertawa, melanjutkan kata-katanya dan berhasil "menjebak" pemuda ini untuk tidak tergesa-gesa meninggalkan rumah mereka.

Dan ketika Wang-taijin gembira dan Kim-mou-eng telah menganggap Cao Cun sebagai adiknya, dan tentu saja tak enak meninggalkan bupati itu yang tidak bermaksud jahat, akhirnya pemuda aneh ini tinggal beberapa hari di gedung bupati itu. Mau tidak mau menyambut juga penghargaan bupati itu. Terang tak enak pergi begitu saja seperti orang tak punya aturan.

Dan begitu Kim-mou-eng tinggal bersama di gedung bupati Wang ini untuk beberapa hari, maka hubungan Cao Cun dan pemuda itu menjadi akrab. Ternyata Kim-mou-eng adalah keturunan bangsa Tar-tar. Hal itu baru diketahui Cao Cun dan ayah ibunya beberapa hari kemudian, yakni ketika mereka bercakap-cakap. Ketika hubungan Cao Cun dan pemuda yang aneh itu terjalin baik tanpa penuh prasangka.

Bahwa pemuda ini memiliki darah campuran antara suku Tar-tar dan bangsa Han, karena ayah pemuda itu adalah salah seorang kepala suku bangsa perantau itu, sementara ibunya adalah wanita Han (Tiongkok) yang dua-duanya telah meninggal dunia, jauh lima belas tahun yang lalu, ketika Kim-mou-eng masih kecil. Dan Cao Cun yang terharu mendengar kisah pemuda ini mendengar penuh perhatian ketika suatu hari mereka bercakap-cakap di taman.

"Aku seorang jaka-lola, Cun-moi. Luntang-lantung belasan tahun di tengah-tengah suku bangsa ayahku yang suka merantau. Ayah dan ibu telah lama meninggal, aku hidup sendiri di tengah-tengah suku bangsa yang keras itu," demikian mula-mula Kim-mou-eng bercerita, menarik napas dan tampak muram menceritakan masa kecilnya yang penuh kepahitan, jauh berbeda dengan puteri bupati Wang itu yang hidup cukup, senang, dan memiliki orang-orang tua yang masih hidup.

Dan Cao Cun yang melelehkan air mata memandang penuh harapan tiba-tiba terisak. "Jadi kau hidup sendiri, twako? Kau tak bersanak-kadang lagi?" "Hm, begitulah yang kualami selama bertahun-tahun, Cun-moi. Tapi kalau dibilang hidup sendiri sesungguhnya juga kurang tepat." "Maksudmu?" "Aku hidup di tengah-tengah keluarga besar suku bangsaku. Meskipun mereka bukan keluarga dalam pertalian darah tapi bagaimanapun juga aku termasuk seorang di antara mereka. Aku telah dianggap seorang warga di tengah-tengah suku bangsa Tar-tar yang besar!"

"Tapi kau hanya memiliki setengah ikatan darah, twako. Ibumu adalah orang Han seperti yang kau katakan sendiri!" "Ya, tapi selama ini aku dibesarkan di tengah-tengah mereka, Cun-moi. Jadi meskipun aku berdarah campuran tapi aku sendiri telah terbiasa oleh adat dan kebudayaan mereka. Aku merasa bahwa aku berdarah Tar-tar!" "Tapi bagaimanapun juga darah Han mengalir di tubuhmu, twako. Kau tak dapat menganggap dirimu penuh sebagai suku bangsa Tar-tar!" Cao Cun mengingatkan.

"Benar, dan akhir-akhir ini aku merasa rindu akan tanah kelahiran ibuku, Cun-moi. Karena itulah aku meninggalkan suku bangsaku di utara itu untuk merantau di Tionggoan. Tak kuduga..." pemuda ini menghentikan kata-katanya, tiba-tiba sedih dan menutupi mukanya dengan bibir digigit kuat-kuat.

Dan Cao Cun yang terkejut melihat pemuda itu basah kedua matanya tiba-tiba bertanya, cemas, "Ada apa, twako? Kau mendapat musuh?" "Benar," pemuda ini menghela napas berat. "Dan musuhku itu adalah suheng (kakak seperguruan laki-laki) dan sumoiku (adik seperguruan perempuan) sendiri!" Cao Cun terkejut. "Kau memiliki saudara-saudara seperguruan, twako? Siapa mereka?" Kim-mou-eng memejamkan mata.

"Mereka asli orang-orang Tar-tar, Cun-moi. Menyatakan tidak setuju dan marah sekali ketika aku menyatakan niatku untuk meninggalkan suku bangsaku merantau di tanah kelahiran ibuku!" Cao Cun tertegun. "Siapa suheng dan sumoimu itu? Dan, hm... cantikkah sumoimu itu?" Pemuda ini membuka matanya.

"Mereka orang-orang lihai, Cun-moi. Kami bertiga saudara seperguruan baru kali itu bertengkar!" "Dan sumoimu itu, cantikkah dia?" Cao Cun mengulang pertanyaannya, ingin tahu sekali. Siapakah namanya?" Pendekar muda ini sejenak tersenyum.

"Sumoiku itu cantik, Cun-moi. Namanya Salima. Tapi suhengku yang bernama Gurba itu amat keras hati dan jauh lebih berbahaya dibanding sumoiku. Ayah ibunya juga meninggal dibunuh orang-orang Han!" Cao Cun terkejut.

"Suhengmu juga lola?" "Ya, sumoiku juga lola, Cun-moi. Kami tiga bersaudara seperguruan sama-sama tak beribubapa lagi. Sama-sama sebatangkara!" "Tapi suhumu?" Kim-mou-eng mendadak tersenyum, hidup mata bintangnya itu.

"Kami tak mengenal suhu (guru) kami, Cun-moi. Kami belajar dari sebuah kitab yang ditinggalkan seseorang lewat suaranya!" Cao Cun membelalakkan mata.

"Apa, kau memiliki guru secara bayangan?" "Ya, guru kami itu memang merupakan guru bayangan, Cun-moi. Dia tak pernah menampakkan diri selain suaranya itu. Kami tak berhasil mengenal siapa dia tapi ilmu silat yang dia berikan benar-benar hebat dan luar biasa sekali!" Cao Cun tertegun.

Dia hampir tak berkedip memandang Pendekar Rambut Emas ini, dan ketika dia masih juga terbelalak memandang temannya, akhirnya Kim-mou-eng tertawa.

"Benar, aku tak berdusta padamu, Cun-moi. Guru kami itu memang orang yang aneh. Kami tak tahu siapa dia tapi kami mengenal betul suaranya." "Hm...!" Cao Cun merasa takjub.

"Dan kau juga tak tahu siapa nama gurumu itu, twako?" "Sedikit. Dia tak pernah menyebut namanya kecuali 'Sian-su' di atas kitabnya. Kami tak tahu siapa dia sebenarnya, tapi yang jelas guru bayangan kami ini orang yang hebat dan sakti sekali, juga bijaksana, mirip dewa!" Cao Cun kagum, bangkit rasa herannya yang besar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment