Chapter 07
Dan dengan kepandaianmu yang sudah seperti ini, kau masih juga tak berhasil mengetahui siapa gurumu itu, twako? Ya, aku tak berhasil. Dia pandai menghilang seperti asap, Cun-moi. Betapapun aku mengejar atau mencarinya, tetap saja aku tak berhasil. Bahkan dulu pernah kami bertiga mengepungnya, tapi tetap gagal, seolah guru bayangan kami itu amblas memasuki dasar bumi! Cao Cun mendesah penuh takjub.
Kalau bukan pemuda ini sendiri yang menceritakan, mungkin dia tak akan percaya. Maklum, Kim-moueng sendiri pandai menghilang seperti siluman. Jadi, kalau dia menceritakan betapa gurunya itu dapat menghilang melebihi Pendekar Rambut Emas ini sendiri, maka dapat dibayangkan betapa hebat dan luar biasanya guru bayangan pemuda itu. Agaknya dewa atau maha dewa yang sudah bukan berujud manusia lagi!
Dan Cao Cun, yang kagum dengan mata bersinar-sinar, akhirnya mendengarkan Kim-mou-eng melanjutkan ceritanya. Betapa pemuda itu bersama suheng dan sumoinya hidup di alam yang keras dan menempa mereka dengan keras pula, menjadikan mereka orang-orang muda yang cepat dewasa dan matang, memiliki kepandaian tinggi, dan menolong suku bangsa mereka dari gangguan suku-suku bangsa lain yang liar.
Dan karena mereka selalu mengalahkan musuh, dan musuh yang kalah akhirnya bergabung dengan mereka, maka suku bangsa Tar-tar berkembang pesat menjadi suku bangsa yang besar dan tangguh. Mereka akhirnya menyapu suku-suku bangsa lain yang liar di sekeliling mereka, yang sering mengganggu dan mengancam ternak mereka, karena mereka juga hidup dari memelihara ternak yang besar jumlahnya, puluhan ribu ekor.
Dan karena mereka juga merupakan bangsa yang keras, karena alam yang keras menempa mereka, maka akhirnya suku bangsa Tar-tar ini menjadi suku bangsa yang gagah berani dan ditakuti banyak lawan, terutama dengan adanya Kim-mou-eng dan dua saudara seperguruannya itu, Gurba dan Salima, yang masing-masing mendapat julukan sebagai Singa Daratan Tandus dan Dewi Bertangan Besi, nama yang amat ditakuti suku-suku bangsa lain karena keperkasaan mereka, kehebatan mereka.
Dan ketika beberapa tahun kemudian Kim-mou-eng dan dua saudara seperguruannya ini menundukkan banyak musuh, dan Tar-tar menjadi suku bangsa yang besar, akhirnya Gurba diangkat menjadi pemimpin di kalangan suku bangsa itu. Suhengku memang hebat, Cun-moi. Dia gagah dan tinggi besar, serta pandai memanah atau melempar lembing, seperti kebiasaan suku bangsa Tar-tar. Kulitnya hitam, tapi bengis terhadap musuh!
Cao Cun ngeri. Dan sumoimu? Sumoi berkulit hitam manis, Cun-moi. Dia juga gagah perkasa, dan banyak pemuda tergilagila padanya. Tapi dia tak menghiraukan mereka semua itu! Dan kecantikannya, samakah dengan orang-orang pedalaman, twako? Ah, tentu tidak. Dia wanita Tar-tar yang hidup di alam terbuka, tidak cantik, tapi manis luar biasa. Penuh daya tarik, dan cukup menggairahkan bagi gadis seusianya!
Hm! Cao Cun tiba-tiba cemburu. Dan kau tertarik padanya, twako? Kim-mou-eng mendadak tersenyum lebar. Aku tertarik padanya karena dia memiliki kepribadian yang teguh, Cun-moi. Tapi kalau tertarik dalam arti cinta, aku masih belum tahu! Kenapa begitu? Cao Cun mengerutkan kening, sedikit merah mukanya, karena pertanyaannya dapat "ditangkap" pemuda itu.
Dan Kim-mou-eng, yang tertawa, menepuk permukaan meja, tiba-tiba memandang puteri bupati Wang ini. Cun-moi, kau sendiri tahukah bagaimana yang disebut cinta itu? Cukupkah sekedar gerak-gerik dari perasaan ingin saling mendekati? Cao Cun terkejut. Maksudmu? Ya, jelas sekali. Apakah cinta itu? Adakah jawabannya yang tepat, bagaimanakah definisi cinta itu? Aku tak mau sembrono, Cun-moi. Aku ingin tahu lebih dulu bagaimana sebenarnya yang bernama cinta ini. Apakah sekedar dorongan nafsu atau perasaan!
Cao Cun tertegun. Aku tak mengerti. Aku juga tak mengerti! Kim-mou-eng tertawa. Karena itu aku ingin menyelidikinya dulu. Kalau aku menemukan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam kata "cinta" itu, barulah aku berani mengatakan apakah aku jatuh cinta pada seseorang atau tidak! Cao Cun tersipu, hm, gadis ini semburat merah. Jadi kalau begitu, kau tak tahu bagaimana sebenarnya perasaanmu terhadap sumoimu itu. Kau tak tahu kau mencintainya atau tidak?
Sebagai seorang adik seperguruan, tentu saja aku mencintainya. Tapi kalau dimaksudkan sebagai cinta seorang kekasih, memang dengan jujur kujawab belum tahu! Dan kau dapat memberikan bayangan wajahnya kepadaku, twako? Tentu, untuk apa? Untuk sekedar mengenalnya belaka. Siapa tahu dikemudian hari aku berjumpa dengan sumoimu itu! Cao Cun gugup, melihat mata temannya memandang berseri dengan senyum yang aneh, seakan tahu dia menyembunyikan sesuatu.
Dan ketika Kim-mou-eng mengeluarkan pit dan tinta, serta sehelai kertas untuk melukis, tiba-tiba puteri Wang-taijin ini tertegun. Kau mau menggambar, twako? Ya, melukis wajahnya. Bukankah kau ingin tahu wajah Salima? Cao Cun terbelalak. Kau cukup membayangkan-nya saja kepadaku! Tidak, kau tak akan puas hanya dengan bayangan ceritanya, Cun-moi. Aku akan melukis wajahnya agar kau dapat membuktikan benarkah kata-kataku tadi. Lihat!
Dan Kim-mou-eng, yang sudah tertawa, mencoret-coret kertas itu dengan wajah seorang gadis, tiba-tiba membuat Cao Cun terhenyak ketika sebentar saja pemuda itu menyelesaikan lukisannya. Menggambarkan seorang gadis dengan topi burung rajawali, cantik dan gagah. Atau lebih tepat, manis dan gagah, karena gadis itu memang lebih tepat disebut manis daripada cantik, anggun, dan tampak memiliki mata yang tajam bagai mata seekor harimau betina.
Seluruh kegagahan dan kepribadiannya yang kuat tampak menonjol di situ. Begitu pula lekuk dagunya yang keras, membayangkan kemauan dan kekerasan hati yang teguh. Manis dan memikat, namun gagah! Dan ketika lukisan itu selesai, dan Cao Cun bengong melihat Kim-mou-eng pandai melukis, hingga lukisan itu tampak hidup dan indah, tiba-tiba pemuda ini bangkit berdiri, menyimpan pit dan tintanya, tersenyum lebar.
Inilah Salima, Cun-moi. Manis dan gagah, bukan? Ya, Cao Cun mengangguk, sedikit gemetar. Dan kau... kau rupanya hafal benar akan segala garis-garis wajah sumoi-mu, twako. Kau dapat menggambarkan begitu hidup wajah sumoimu itu. Kalau begitu, kau mencintai sumoimu itu! Kim Mou-eng terkejut. Darimana kau tahu? Lihat, Cao Cun menggigil, menuding garis-garis dan lekuk yang gagah di dagu itu.
Kau dapat melukisnya begitu hidup, twako. Kau hapal benar wajah sumoimu itu. Kalau tak membayangkannya setiap saat, atau memperhatikannya demikian seksama, tentu tak mungkin kau dapat melukisnya seperti ini. Kau mencintainya! Pemuda itu tertegun. Salima memang sumoiku, Cun-moi. Sejak kecil kami memang berkumpul bersama. Tak ada alasan untuk mengatakan itu! Dan, belum Cao Cun membantah, tiba-tiba Kim-mou-eng memandang gadis itu, tertawa.
Lihat, aku juga dapat melukis wajahmu dengan garis dan lekuk yang sama, Cun-moi. Sekarang, buktikan, dan lihat baik-baik! Dan ketika kembali pemuda itu mengambil pit dan tinta dari saku bajunya, dan melukis wajah Cao Cun di kertas yang lain, akhirnya sebentar saja Cao Cun dibuat bengong, ketika wajahnya benar-benar dilukis pemuda aneh ini, persis dengan segala garis-garis mukanya, tajam dan jelas dengan lekuk di sana-sini, seperti wajah yang dia miliki, cantik dan lembut, dengan matanya yang bulat jernih itu, dengan rambut panjangnya yang tergerai penuh daya tarik di belakang punggung.
Dan ketika lukisan itu selesai, dan Cao Cun melihat bayangan wajahnya sendiri yang cantik gemilang di kertas putih itu, tiba-tiba Cao Cun kagum, dan berseru memuji. Hebat, kau benar-benar pelukis jempolan, twako. Lukisanmu hidup, dan mengagumkan sekali! Pemuda itu tertawa. Persis dengan aslinya? Ya. Kalau begitu, aku juga mencintaimu, seperti kau mengatakan aku mencintai sumoiku tadi?
Cao Cun tertegun. HA-HA! Kim-mou-eng akhirnya tertawa bergelak. Sekarang kau tak dapat menjawab pertanyaanku, Cun-moi. Bahwa cinta tak dapat dilihat berdasarkan ingatan wajah seseorang belaka! Bukankah kau melihat bahwa garis-garis wajahmu pun dapat kulukis dengan hidup di sini? Bagaimana jawabannya sekarang? Dan ketika gadis itu tertegun, tak dapat menjawab, tiba-tiba Kim-mou-eng berkelebat keluar, menyambar pit dan tintanya di atas meja.
Cun-moi, cinta adalah sesuatu yang luar biasa, dan aneh. Kau, dan aku sesungguhnya belum tahu benar tentang apakah cinta itu. Kita masih terlalu muda...! Dan ketika bayangan pemuda itu lenyap di belakang taman, akhirnya Cao Cun mendelong dengan pipi kemerah-merahan. Sehari itu, Cao Cun melamun sendiri. Dia teringat percakapan mereka, teringat kepandaian Kim-mou-eng, yang ternyata juga seorang jago lukis, disamping jago silat.
Hal yang membuat dia benar-benar kagum, dan jatuh hati. Merasa tertarik, dan jatuh cinta pada pemuda berdarah campuran itu. Pemuda yang tampan, dan hebat. Dan ketika sehari itu Kim-mou-eng tak keluar lagi menemui dirinya, mendadak Cao Cun gelisah, dan tak enak lagi duduk di taman. Hasrat yang kuat membuat dia ingin menemui pemuda itu. Duduk bercakap-cakap, dan berdekatan. Memandang, dan kembali memandang wajah yang gagah, dan tampan itu.
Semakin tampan, dan menarik dengan rambutnya yang aneh, kuning keemasan, bagai suri bulu ratu yang dia pelihara di taman itu. Bunga berserat halus, namun harum memabukkan. Tapi ketika ingat bahwa dia seorang gadis, dan tak pantas rupanya menemui pemuda itu, tiba-tiba Cao Cun tertegun. Ah, apa kata orang nanti? Apa kata ayah, dan ibunya, kalau dia mencari pemuda itu di kamarnya? Bukankah saru? Cao Cun tiba-tiba menggigil.
Dia sekarang teringat kata-kata Pendekar Rambut Emas tadi, bahwa cinta adalah sesuatu yang aneh. Sesuatu yang luar biasa. Bahwa cinta agaknya bukan sekedar dorongan nafsu, atau perasaan. Dan kalau sekarang dia didorong oleh nafsu, atau perasaannya itu menemui Kim-mou-eng, agaknya bukan lagi "cinta" yang ada di hatinya itu. Melainkan...