Chapter 08
Cao Cun tiba-tiba terisak. Dia menangis dan lari memasuki kamarnya, menyambar dua lukisan yang baru dikerjakan Kim-mou-eng. Dan ketika dia membanting tubuh di atas pembaringannya, maka yang dilakukan gadis itu adalah membanding-bandingkan dua lukisan itu dengan air mata bercucuran.
Aneh! Cao Cun tiba-tiba ingin mengetahui siapa yang lebih "cantik" di antara dua gambar itu. Dia ataukah Salima. Dan ketika dia melihat bahwa Salima juga memiliki wajah yang tak bisa dipandang "enteng" karena gadis Tar-tar itu memiliki kecantikannya yang khas dan daya tarik yang kuat, tiba-tiba Cao Cun mengguguk meremas-remas lukisan gadis Tar-tar ini, terngiang kata-kata Pendekar Rambut Emas tentang sumoinya itu.
" Dia tak dapat dibilang cantik, Cun-moi. Tapi manis luar biasa dengan daya tarik yang amat menggairahkan. Meskipun hitam tapi hitam manis!" Begitu kata-kata itu terngiang. Dan Cao Cun memang harus mengakui. Salima memang manis, juga gagah. Dan kalau manis itu "digabung" gagah maka Salima memang dapat menjatuhkan setiap lelaki dengan daya tariknya. Termasuk Kimmou-eng!
Cao Cun tiba-tiba menjerit. Dia mendadak merasa tertikam membayangkan Kim-mou-eng jatuh cinta pada sumoinya itu. Panas dan cemburu! Dan ketika sehari itu Cao Cun juga tak keluar dari kamarnya karena dihimpit perasaan duka, tiba-tiba gadis ini meremas-remas lukisan Salima hingga kumal dan robek-robek.
"Salima, kau gadis Tar-tar yang liar. Kau tak boleh menggoda Kim-mou-eng...!" Cao Cun mengguguk. Dia tiba-tiba menangis tanpa sebab lagi, tersedu-sedu, membanting-banting lukisan itu hingga pecah menjadi dua. Dan ketika Cao Cun mengeluh dan melempar lukisan ini di tepi pembaringannya, akhirnya gadis itu menutupi muka dengan bantal.
Sehari itu puteri Wang-taijin ini tampak pucat, lemah karena habis tenaganya untuk menangis. Tangis yang meledak begitu saja karena cemburu. Dibakar perasaan jelus membayangkan Salima menggoda Kim-mou-eng. Dan ketika Cao Cun terengah dan memejamkan mata kelelahan, akhirnya beberapa saat kemudian gadis ini tertidur.
Keesokan harinya, ketika Cao Cun termenung sendiri di bangku taman dan membawa lukisan Salima yang kumal dan robek menjadi dua, tiba-tiba Kim-mou-eng muncul. "Ada apa, kau baru menangis, Cun-moi?" Cao Cun terkejut, bangkit berdiri, dan cepat-cepat menyembunyikan lukisan Salima yang kumal-kumal itu.
Tapi Kim-mou-eng yang rupanya sudah melihat ini tiba-tiba bertanya, "Apa yang kau bawa itu, Cun-moi? Lukisan siapa?" Cao Cun gugup. "Lukisan... lukisan diriku!" "Hm, kenapa kumal? Kenapa kau remas-remas?" "Aku... aku..." Cao Cun merah mukanya, semakin gugup.
Dan ketika dia tak dapat menjawab dan Kim-mou-eng sudah bergerak cepat, tiba-tiba lukisan itu telah disambar pemuda ini, langsung dibeber. Dan begitu Kim-mou-eng tertegun dan melihat siapa yang ada di lukisan itu, mendadak pemuda ini mundur dan berseru kaget, "Ah, kau bohong!" Cao Cun mengguguk. Gadis ini mendadak terpukul, malu, dan jengah.
Dan ketika Kim-moueng memandangnya dengan mata terbelalak, tiba-tiba Cao Cun menangis tersedu-sedu dan memutar tubuhnya lari ke dalam, menyambar lukisan Salima yang dipegang Pendekar Rambut Emas itu. "Twako, maafkan aku...!" Kim-mou-eng terkejut. Dia melihat sesuatu yang "tidak beres" pada diri puteri Wang-taijin itu.
Tapi baru Cao Cun memutar tubuhnya, tiba-tiba sebuah bayangan meluncur turun menghadang di depan gadis ini, langsung Cao Cun yang tentu saja kaget karena gadis itu persis seperti lukisan yang dibuat Kim-mou-eng tiba-tiba mengaduh dan terbanting roboh ketika sebuah tamparan meledak di pipinya! "Gadis tak tahu malu, kau membujuk dan mengguna-gunai suhengku... plak!" Cao Cun menjerit kesakitan.
Dia terjengkang dan seketika itu juga bengkak pipinya, menangis, dan bangun berdiri dengan kaki terhuyung. Tapi ketika gadis di depan berkelebat dan kembali hendak menamparnya, tiba-tiba Kimmou-eng sudah membentak dan melompat maju. "Salima, tahan...!" Ternyata gadis itu benar Salima adanya, sumoi Kim-mou-eng, gadis Tar-tar yang manis dan gagah!
Dan Salima yang memandang suhengnya dengan mata berapi ganti membentak, "Apa yang kau mau, suheng? Inikah hasil perjalananmu di pedalaman Tionggoan?" Kim-mou-eng terkejut. "Salima..." "Suheng!" gadis itu kembali membentak, memotong cepat dengan seruan tinggi. "Inikah hasil perjalananmu meninggalkan keluarga besar Tar-tar? Kau berpacaran dengan seorang gadis lemah yang tiada guna? Twa-heng (kakak tertua) memanggilmu, suheng. Harap tak perlu banyak membantah lagi demi bendera Tar-tar!"
Salima tiba-tiba mengeluarkan bendera bergambar singa, mengebut, dan mengibarkannya di depan Kimmou-eng, bersikap agung bagai seorang ratu. Dan Kim-mou-eng yang terkejut melihat bendera ini tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut berseru tertahan. "Sumoi, darimana kau mencuri bendera ini?" Salima marah. "Twa-heng yang memberikannya kepadaku, suheng. Aku bukan mencuri tapi benar-benar mendapatkannya dengan resmi dan sah!"
Lalu, kembali mengebutkan bendera itu dua kali, gadis yang manis dan gagah ini membentak, "Suheng, demi nama Tar-tar yang jaya, kuminta kau ikut pulang keluar pedalaman. Tak perlu membantah!" Kim-mou-eng bangun berdiri dengan muka berubah. Cao Cun melihat betapa kakak angkatnya itu terkejut, gugup, dan marah. Tapi melihat Salima berdiri dan gagah angkuh dengan sikap seperti ratu yang penuh wibawa, tiba-tiba puteri Wang-taijin ini tergetar.
Melihat betapa keras dan gagahnya gadis Tar-tar ini. Anggun dan memiliki daya tarik besar. Tinggi semampai dengan mata harimaunya itu yang galak bersinar-sinar. Dingin tapi menarik! Dan ketika dia melihat Kim-mou-eng bentrok dengan pandang mata sumoinya yang tajam tapi keras, dan Kim-mou-eng tertegun memandang bendera di tangan Salima, tiba-tiba pemuda ini menghela napas tersenyum pahit, membungkuk agar bendera itu disimpan.
"Sumoi, aku akan pulang ke Tar-tar setelah kampung halaman ibuku kutengok. Harap bendera keramat itu kau simpan." Salima mendengus. "Twa-heng tak mengijinkan kau berlama-lama meninggalkan bangsa kita, suheng. Ini sudah bulan kedua kau meninggalkan kami!" "Tapi aku tak terikat pada batas waktu, sumoi. Aku juga belum menemukan kampung halaman ibuku." "Persetan itu semuanya. Kau harus pulang atau...tar-tar!" Salima meledakkan bendera, mengebutkannya di depan mata dengan sikap beringas, dingin, dan marah pada suhengnya itu.
Dan ketika sang suheng terbelalak kepadanya dan gusar memandang sumoinya ini, maka Salima melompat mundur dan berseru marah, "Atau kau akan kurobohkan, suheng. Kuseret dan menerima hukuman di tengah-tengah suku bangsa kita sebagai pemberontak!" Kim-mou-eng tak dapat menahan diri lagi. Dia merasa diancam dan diganggu oleh sumoinya ini, tapi melihat Cao Cun ada di situ dan rupanya tegang dan ketakutan melihat semuanya ini, tiba-tiba pemuda itu mengangguk.
"Baik, kau simpanlah bendera itu, sumoi. Aku turut perintahmu asal kau tak mengganggu gadis ini. Kau berjanji?" Salima menjengek. "Kau mendapat kekasih baru?" "Tutup mulutmu!" Kim-mou-eng membentak marah. "Dia puteri Wang-taijin, sumoi. Kami berhubungan sebagai kakak dan adik!" "Hm, begitukah? Baiklah, aku tak akan mengganggu padanya. Hayo sekarang kita berangkat!" Dan Salima yang menyimpan benderanya di balik punggung tiba-tiba melihat suhengnya itu melompat jauh melarikan diri.
"Cao Cun, selamat tinggal pada kalian sekeluarga. Aku tak dapat lagi tinggal lama-lama di sini... wutt!" Dan Kim-mou-eng yang lenyap di luar taman tiba-tiba dibentak sumoinya yang marah dan merasa tertipu. "Suheng, kembali kau...!" Namun Kim-mou-eng mengerahkan ginkangnya. Dia lenyap di luar taman, sebentar saja telah berkelebat seperti iblis keluar kota Chicou.
Dan ketika Salima mengejar dan membentak di belakang, maka tinggallah Cao Cun sendiri dengan mata terbelalak. "Kim-twako...!" Namun Kim-mou-eng tak mendengar seruannya. Pemuda aneh ini telah jauh di luar batas kota, melarikan diri dari sang sumoi yang mengganggu dan mengancamnya. Bukan takut tapi semata tak mau ribut-ribut dengan gadis itu. Apalagi di rumah Wang-taijin, ditonton Cao Cun yang kini membuktikan kekerasan hati Salima, gadis Tar-tar yang gagah tapi angkuh itu.
Dan ketika dua bayangan suheng dan sumoi itu lenyap saling berkejaran, maka Cao Cun mengguguk dan tiba-tiba meninggalkan tempat itu menuju kamarnya, lupa pada lukisan yang tertinggal di taman. Yakni lukisan dirinya dan Salima, tak menghiraukan semuanya itu. Dan ketika sesosok bayangan muncul berindap-indap dan terkekeh tanpa suara, akhirnya bayangan ini mengambil dua lukisan itu, menyimpannya baik-baik, dan pergi menyelinap dengan muka berseri, sebentar saja telah keluar dari taman itu seperti langkah seorang maling.
Dan ketika dia memasuki sebuah rumah di sudut kota dan membuka jendela, maka tampaklah siapa kiranya bayangan ini. Bukan lain Lui Tai! "Ha-ha, kau berhasil, Lui-twako?" Lui Tai tersenyum, menyeringai lebar, dihampiri seorang laki-laki yang bukan lain adalah Gong-taijin! "Ya, aku berhasil, taijin. Ini semua berkat pertolonganmu...!" Dan ketika dua laki-laki itu tertawa dan saling jabat tangan, akhirnya camat Gong berkata, "Kalau begitu cepat saja ke kota raja, Luitwako. Serahkan gambar Wang-siocia itu pada Mao-taijin karena siapa tahu dialah yang dicari-cari kaisar!" "Ya, dan kita akan bagi rata semua keberuntungan ini, taijin. Siapa tahu Cao Cun lah yang dicari kaisar. Untung ada gadis Tar-tar itu!" Gong-taijin tertawa. Dia teringat Salima, tertarik tapi bergidik.
Teringat betapa gadis Tar-tar itu mendatangi rumahnya mencari Pendekar Rambut Emas, yang konon katanya terlihat jejaknya di daerah itu. Dan karena Lui Tai ada di situ dan mereka dapat memberi keterangan bahwa Pendekar Rambut Emas yang berambut keemasan itu ada di rumah Wang-taijin karena telah menyelamatkan bupati itu dari serangan Dua Musang Sakti, akhirnya Salima berangkat dan Lui Tai sebagai petunjuk jalannya.