Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 09

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 09

Mereka tepat berada di dalam taman ketika Pendekar Rambut Emas muncul. Salima langsung keluar dan ditabrak Cao Cun, yang meremas-remas lukisan. Ketika suheng dan sumoi itu bertengkar, Lui Tai bersembunyi di dalam taman dan mengintip pertikaian itu. Akhirnya, pelukis ini gembira bukan main ketika Cao Cun membuang dua lukisannya, terpukul oleh sikap Salima.

Gadis itu pergi, sementara Salima dan suhengnya juga lenyap entah ke mana. Dengan gesit dan spontan, si pelukis menyambar dua lukisan itu dan kagum melihat gambar yang dibuat Pendekar Rambut Emas. Heran bahwa pemuda aneh itu juga mahir melukis, bahkan agaknya di atas kepandaiannya sendiri, mungkin setingkat dengan Mao-taijin.

Seminggu kemudian, peristiwa di atas telah terjadi, dan Lui Tai serta rekan-rekannya yang lain menyerahkan hasil lukisan mereka pada Mao-taijin. Mao-taijin menyeleksinya dan menyerahkannya pada kaisar. Mendadak, secara mengejutkan, Cao Cun inilah yang dicari kaisar. "Ha-ha, inilah juwitaku di dalam mimpi itu, taijin. Siapa dia dan di mana tinggalnya? Panggil cepat dia kemari. Aku tak sabar menanti. Gadis itulah yang kucari-cari!"

Mao-taijin terkejut. Dia terang mencari-cari Lui Tai, pembantu yang telah melukis wajah si juwita itu. Tak tahu bahwa Kim-mou-eng lah yang melukis wajah Cao Cun. Lui Tai yang terkejut dipanggil menteri Mao akhirnya tertawa dan terbahak seolah mendapat durian runtuh. "Ha-ha, ini keberuntunganku, taijin. Berapa yang akan kau berikan padaku untuk mendapatkan alamat gadis itu?"

Mao-taijin terbelalak. "Kau mau memeras?" "Tidak," Lui Tai tertawa. "Tapi sekedar uang terima kasih, taijin. Bukankah kau juga dapat mencari gantinya pada kaisar? Gadis ini alamatnya rahasia sekali, tak sembarang orang dapat menemui!" Mao-taijin mendongkol. Dia memberi Lui Tai sekantong uang emas, bukan lagi perak.

Ketika pelukis itu menunjukkan alamat Cao Cun, yang ternyata puteri bupati Wang, mendadak menteri ini tercengang. "Ah, dia puteri Wang-taijin?" "Ya," Lui Tai tersenyum lebar. "Dan kau dapat membawa gadis itu dengan ganti rugi yang cukup, taijin. Bupati Wang cukup kaya dengan harta bendanya yang banyak!"

Mao-taijin tertawa. Sekarang matanya bersinar, muncul akal busuknya untuk memeras bupati Wang itu. Maklum, Cao Cun terpilih sebagai wanita yang dicari kaisar dan tentu hidup bergelimang kemewahan di samping kaisar dan tentu tak segan mengeluarkan uang berapa saja untuk ditemukan dengan kaisar yang berkuasa itu, lewat dia. Karena dialah yang ditunjuk kaisar untuk mendatangkan wanita yang dicari ini.

Tak tahu betapa diam-diam Lui Tai tertawa di belakang punggung karena bupati Wang adalah orang jujur yang tentu tak mau main sogok, terbukti ketika dulu dia memeras bupati itu dan tak berhasil. Bahkan sang bupati marah-marah.

Ketika benar bupati itu dipanggil menghadap bersama puterinya di gedung Mao-taijin dan menteri ini meminta 500 ons emas agar Cao Cun dapat dibawa menghadap kaisar, mendadak bupati Wang marah-marah dan menegur menteri itu! "Hamba tak ingin main suap, taijin. Kalau sri baginda menghendaki puteri hamba biarlah itu terjadi secara wajar. Hamba tak mau melakukan apa yang paduka minta!"

Mao-taijin terbelalak, terkejut sekali. "Kau menghinaku, bupati Wang?" "Tidak," Wang-taijin berkata tegas, maklum akan kedudukannya yang lebih rendah daripada menteri itu. "Hamba tidak menghina paduka, menteri yang mulia. Tapi hamba tak suka melakukan apa yang paduka minta karena itu perbuatan tidak jujur!"

"Ah, dan kau tahu, siapa aku?" "Hamba tahu. Paduka adalah perantara terpercaya untuk membawa puteri hamba menghadap kaisar. Bahwa tanpa bantuan paduka tentu puteri hamba tak akan dapat menghadap sri baginda." "Bagus, dan kau sudah tahu untung ruginya?" "Maksud paduka?" "Puterimu bakal hidup bergelimang harta di dalam istana, Wang-taijin. Keberuntungan itu tak habis kau syukuri selama tujuh turunan. Maka kuminta 500 ons emas untuk balas jasaku yang telah membuatmu beruntung itu!"

"Tidak!" Wang-taijin membantah. "Keberuntungan adalah anugerah dari Tuhan, paduka menteri. Bukan dari manusia karena manusia hanyalah sekedar perantara saja!" "Tapi tanpa diriku kau tak akan berhasil, bupati bodoh!" Mao-taijin mulai marah. "Karena biarpun Tuhan memberimu rejeki tapi kalau perantaranya tak kau hargai maka rejekimu itu akan lenyap. Pikirkan itu!"

Wang-taijin juga marah. Dia bupati jujur yang kurang diplomatis, keras dan teguh pada pendirian bahwa manusia hidup harus baik. Tak boleh curang atau kotor karena kebersihan dan kejujuran adalah di atas segala-galanya. Maka begitu menteri Mao mendesaknya dan menekan agar dia mau memberi menteri itu "uang terima kasih" berujud 500 ons emas yang berarti penyuapan, akhirnya bupati ini memaki-maki menteri itu, mengeluarkan kata-kata keras yang membuat sang menteri merah mukanya.

Maklum, Wang-taijin bukan bawahan langsung menteri ini karena menteri Mao bukanlah gubernur atau menteri dalam negeri. Jadi Wang-taijin tak khawatir kalau menteri itu memecatnya. Berani karena merasa bersikap benar. Bahkan mengancam perbuatan menteri itu akan dilaporkan pada Han-taijin yang menjadi penasehat kaisar, atasan langsung bupati itu setelah gubernur Liang yang menjadi atasannya di tingkat propinsi.

Mao-taijin yang tentu saja mencak-mencak oleh keberanian bupati ini akhirnya mengusir pergi ayah dan anak itu dengan ancaman pula. "Baik, seumur hidup kau akan merasakan keberanianmu ini, bupati bodoh. Puterimu tak akan kuhadapkan kaisar dan kalian akan menderita untuk keberanian kalian ini!"

Bupati Wang tak takut. "Hamba merasa di jalan yang benar, paduka menteri. Hamba tak takut karena Tuhan pasti melindungi hamba!" Dan Cao Cun yang juga marah melihat kebusukan menteri itu menyambung pula. "Hamba tak mata duitan untuk tinggal di istana, taijin. Bagi hamba tak apa kalau paduka tak menghadapkan hamba pada kaisar!"

Mao-taijin semakin marah-marah. Dia mengusir ayah dan anak itu, gusar bukan kepalang. Merasa tertampar dan terpukul karena baru kali itu ada orang berani melawannya. Menolak mentah-mentah uang semir yang diminta. Padahal bupati Wang itu dapat hidup enak di istana, jauh lebih enak daripada di Chi-cou. Bahkan pangkatnya mungkin bisa naik dengan cepat kalau puterinya menjadi kecintaan kaisar. Barangkali sebentar saja bisa menjadi kepala menteri atau wakil kaisar!

Menteri Mao yang dendam pada bupati yang jujur dan berani ini tiba-tiba pada suatu hari merencanakan untuk membunuh saja bupati itu. "Pengawal, panggil kemari Sin-kee Lo-jin!" menteri ini memanggil pengawalnya, menyuruh agar Sin-kee Lo-jin yang menjadi pelindung pribadinya itu datang, seorang kakek tinggi kurus dengan mata yang bulat kecil, persis mata ayam.

Ketika kakek itu datang dan Mao-taijin berbisik-bisik, maka Sin-kee Lo-jin mengangguk dan menyeringai lebar. "Tak perlu khawatir. Hamba akan ke Chicou sekarang juga, Mao-taijin. Akan hamba racun bupati itu agar mampus disangka kena penyakit siluman."

Tapi, belum Si Tua Ayam Sakti ini beranjak dari tempatnya, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat masuk, begitu saja bagai iblis. Dan ketika dua orang itu kasak-kusuk tak mengetahui kedatangannya, maka bayangan yang sudah berdiri di belakang Sin-kee Lo-jin itu menepuk pundaknya. "Iblis tua, sebaiknya kau urungkan saja niat kalian itu. Kalau tidak aku akan melaporkannya pada kaisar!"

Sin-kee Lo-jin dan Mao-taijin terkejut. Mereka sekarang melihat siapa pembicara itu, seorang pemuda aneh berambut keemasan. Yang datang begitu saja tanpa mereka ketahui. Seperti iblis! Dan Sin-kee Lo-jin yang marah serta kaget tiba-tiba memutar tubuhnya "menjalu" lawan tak dikenal itu. "Pemuda kurang ajar, pergi kau...!"

Sang pemuda tak mengelak. Dia menerima saja tendangan mirip ayam jago itu, tersenyum mengejek. Dan ketika "jalu" yang dipasang Sin-kee Lo-jin tepat mengenai pinggangnya, mendadak Ayam Sakti itu menjerit dan roboh terguling-guling bagai menendang baja tak bergeming yang membuat dia kesakitan. "Bress-aduh...!"

Mao-taijin terkejut. Dia melihat justeru pembantunya itu yang berteriak kesakitan, terlempar dan memegangi tumit kakinya yang nyeri menusuk tulang. Entah kenapa tertolak balik ketika menjalu tadi. Tapi Sin-kee Lo-jin yang sudah melompat bangun dengan kaki terpincang-pincang mendengar Mao-taijin berseru padanya, "Lo-jin, bunuh dia. Dia telah mendengar rencana kita...!"

Dan mundur di balik mejanya yang terpasang alat rahasia, mendadak menteri ini menjebloskan diri dalam sebuah lubang di bawah lantai. "Bless!" Mao-taijin lenyap sekejap. Rupanya menteri ini pengecut sekali dan buru-buru menyelamatkan diri melihat lawan, mempercayakan perlindungannya pada Sin-kee Lo-jin.

Dan Sin-kee Lo-jin yang menggereng berteriak keras tiba-tiba menubruk dan menyambar pemuda itu. "Bocah keparat, aku akan menanduk kepalamu!" Pemuda aneh itu diam saja. Dia terkejut mengerutkan kening melihat menteri Mao lolos, tak menyangka di bawah meja terpasang alat rahasia.

Tapi begitu Sin-kee Lo-jin menubruk dan kepalanya benar-benar menanduk seperti jago sedang berlaga, tiba-tiba dia mengelak ke kiri dan mendengus. Dan ketika Sin-kee Lo-jin meluncur ke depan dengan seruan kaget, tiba-tiba tangannya bergerak menampar mengepret telinga Ayam Sakti itu. "Tua bangka, pergilah... plak!"

Sin-kee Lo-jin terpekik. Dia kembali terlempar dan mencelat roboh, telinga rasanya mengiang bagai mendengar seribu nyamuk beterbangan. Tapi Sin-kee Lo-jin yang kembali membentak dan melompat bangun tiba-tiba menyerang penuh kemarahan lawannya yang tak dikenal itu, mencabut senjatanya yang aneh berupa cakar ayam yang terbuat dari baja, lengkap dengan jalunya sekalian.

Dan begitu dia menyerbu dan membentak marah, maka bertubi-tubi pemuda berambut emas ini mendapat serangan yang gencar tiada putus. Tapi lawan yang aneh itu mulai berlompatan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment