Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 10

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 10

Sin-kee Lo-jin meraung-raung melihat serangannya selalu luput, mengenai angin kosong belaka karena lawan selalu terdorong sebelum disentuh cakar bajanya. Seolah kapas yang selalu tertiup sebelum dipegang. Mendengar lawan tertawa mengejek sementara dia membabi buta dengan serangannya yang menderu-deru, gagal belum sekali juga mendaratkan pukulannya ke tubuh lawan yang lincah itu.

Dan ketika dia membentak dan memaki lawannya, si pemuda menampar telinganya untuk kedua kali sambil tertawa. "Ayam tua, sebaiknya kau roboh saja... plak!" Sin-kee Lo-jin benar-benar roboh. Dia mendelik tapi juga mulai gentar, maklum bahwa dia menghadapi lawan yang benar-benar lihai.

Dan ketika kembali dia terbanting ketika lawan menyapu kakinya, mendadak terdengar seruan Mao-taijin yang entah bersembunyi di mana, "Lo-jin, panggil para pengawal untuk membantumu. Goblok, jangan membuang-buang waktu lagi...!" Sin-kee Lo-jin marah. Untuk pertama kali dia dimaki tuannya itu, geram dan gusar bukan main pada lawannya ini.

Tapi maklum lawan benar-benar lihai dan agaknya dia bukan tandingan pemuda tak dikenal ini, tiba-tiba dia memanggil semua pengawal yang ada di gedung Mao-taijin dengan suitan panjang, berteriak-teriak dan membuat gaduh tempat itu. Dan begitu para pengawal datang dan menyerbu dengan golok dan tombak, akhirnya pemuda ini dikeroyok oleh tigapuluh orang lebih termasuk Sin-kee Lo-jin itu!

"Bagus, bagus... serang dia. Bunuh dia!" Sin-kee Lo-jin berkaok-kaok, memberi perintah dan ikut menyerang dengan senjata tidak pernah berhenti dari pegangannya, berputar dan membabat atau menusuk dengan cakar bajanya yang runcing, mengerubut dan berteriak-teriak agar para pengawal terus maju, tak perlu takut.

Tapi ketika pemuda itu membentak dan berkelebat lenyap membalas marah, mendadak saja para pengawal itu saling menjerit dan roboh berpelantingan menerima tendangan atau tamparan pemuda itu. "Sin-kee Lo-jin, kau tak tahu diri. Awas kalau begitu...!" dan ketika pemuda ini menggerakkan kaki tangannya menangkis dan menyapu hujan senjata, mendadak golok dan tombak patah-patah bertemu sepasang kaki dan tangan pemuda ini, tak ada satupun yang kuat menahan gebrakan itu.

Padahal si pemuda masih bertangan kosong. Dan ketika pemuda itu berkelebat dan menangkis sambaran cakar baja yang menghantam kepalanya, tiba-tiba senjata di tangan Ayam Sakti inipun patah dan mencelat dari tangan pemiliknya. "Plak!" Sin-kee Lo-jin terbelalak. Dia seakan tak percaya melihat kelihaian pemuda itu, mendelong dengan muka kaget.

Tapi begitu pemuda ini meneruskan gerakannya mendorong dada si Ayam Tua, tiba-tiba Sin-kee Lo-jin menjerit dan roboh terjerembab dengan tulang rusuk patah. "Dess...!" si Ayam Sakti tak dapat berdiri lagi. Dia melihat tigapuluh pengawal Mao-taijin sudah tumpang tindih dengan tulang patah-patah. Tak ada yang tewas tapi semuanya terluka tak dapat bangun, sama seperti dia, merintih dan memegangi bagian yang patah, sebagian malah ada yang pingsan.

Tapi ketika pemuda itu menjengek dan Sin-kee Lo-jin gentar melihat pemuda itu siap menghampirinya, tiba-tiba seratus busu (pengawal istana kaisar) muncul dipimpin seorang panglima tinggi besar berjenggot lebat, hasil panggilan Mao-taijin yang kecut melihat anak buahnya roboh bergelimpangan. Dan begitu panglima ini muncul dengan pakaian perangnya yang bergemerincing nyaring, terdengarlah bentakannya yang menggeledek bagai petir membelah ruangan itu, "Manusia keparat, kau siapa berani mengganggu gedung Mao-taijin? Tak tahu mati, mengelus macan tidur, ya?"

Pemuda itu terkejut. Dia bukan lain Kimmou-eng adanya, pemuda yang berhasil melepaskan diri dari kejaran sumoinya, Salima. Belum begitu dikenal di Tionggoan karena dia belum begitu lama muncul, baru dua bulan kurang sedikit. Tapi melihat panglima tinggi besar itu membentaknya dengan suara menggelegar dan seratus busu telah mengepungnya rapat, mendadak Kim-mou-eng tersenyum lebar, mengenal panglima ini yang tentu Kang-jiu Buciangkun (Si Tangan Baja) adanya, seorang panglima yang banyak didengar di perjalanan sebagai panglima yang bengis dan garang.

Seorang dari tujuh panglima istana yang terkenal dengan julukan Jit-liong Ciangkun (Panglima Tujuh Naga), yakni panglima-panglima kaisar yang gagah dan kosen. Maka melihat panglima ini datang dan dia kagum mendengar suaranya yang menggetarkan bagai aum singa, tiba-tiba Kim-mou-eng maju dengan senyum mengejek, ingin melihat kepandaian orang. "Bu-ciangkun (panglima she Bu), kaukah yang berjuluk Si Tangan Baja itu? Benarkah tanganmu seperti baja dan hatimu setegar naga?" Panglima itu, yang memang Si Tangan Baja adanya, mendelik.

"Benar, kau siapa dan kenapa membuat onar di sini? Tak tahu memasuki sarang harimau, hah?" Kim-mou-eng tersenyum, melihat kemiripan panglima ini dengan twa-hengnya, Gurba, sama-sama keras dan suka membentak-bentak. Maka tertawa melirik para pengepungnya, Kim-mou-eng tiba-tiba menjawab, "Aku pengelana biasa, Bu-ciangkun. Melihat Mao-taijin hendak berbuat jahat membunuh orang baik-baik." "Bohong, kau dusta! Kau pengacau. Kaulah yang hendak membunuh Mao-taijin!" dan, menggereng bagai singa lapar, tiba-tiba panglima ini memberi aba-aba pada pasukannya. "Tangkap orang ini. Ringkus dia!"

Seratus busu itu menyerbu. Mereka sudah mengangguk dan meluruk bagai tawon, sebentar saja membentak dan menyerang Kim-mou-eng, berteriak dan menggerakkan senjata mereka untuk merobohkan pemuda ini. Tapi Kim-mou-eng yang tertawa dan berkelebat lenyap tiba-tiba menghilang dari tempat itu hinggap di atas sebuah belandar. Para pengeroyok tertegun. Mereka tak tahu di mana lawan mereka berada. Maklum, gerakan Kim-mou-eng demikian cepat dan begitu bergerak tahu-tahu lenyap bagai iblis.

Tapi Buciangkun yang rupanya lihai dan tahu di mana lawan bersembunyi tiba-tiba menarik tombak seorang busu, langsung melemparkannya ke atas belandar di mana pemuda itu berada. Dan begitu panglima ini membentak dan meluncurkan tombaknya, tahu-tahu senjata panjang itu telah menderu dan menyambar ke atas. "Dia di sana. Goblok!" Para pengawal mendongak. Mereka sekarang melihat di mana lawan mereka itu, melihat pula lemparan tombak yang dilontarkan Buciangkun, mengaung dan tahu-tahu menyambar pemuda di atas belandar itu dengan cepat.

Dan ketika semua mata terbelalak ke atas dan tombak tepat mengenai pemuda itu, mendadak Kim-mou-eng terjungkal dan roboh mengaduh. "Crep!" Semua mata girang. Mereka menyangka Kim-mou-eng terluka, bersorak dan menghambur dengan pekik memuji Bu-ciangkun. Tapi begitu mereka mendekat dan Kim-mou-eng melompat bangun, mendadak tombak yang mengenai tubuhnya itu, yang ternyata "menembus" ketiaknya, dikempit seolah ditembus sungguh-sungguh, mendadak sudah menyambar dan mengemplang mereka semua, disusul ketawa pemuda itu yang mengejutkan mereka.

"Ha-ha, jangan sebodoh itu mengira aku terluka, tikus-tikus busuk. Sekarang lihat dan jaga baik-baik diri kalian. Awas...!" dan begitu Kim-mou-eng berkelebat memutar senjata panjang ini, tahu-tahu para busu yang meluruk hendak menangkapnya itu sudah digebuk dan roboh berpelantingan menjerit-jerit. "Aduh... plak-dess!" Tombak sudah menyerampang mereka, sebentar saja membuat separuh dari jumlah pengeroyok yang maju tumpang-tindih tak karuan, berteriak-teriak kesakitan mengejutkan Buciangkun, yang juga tak mengira hasil tipuan pemuda itu.

Dan ketika Kim-mou-eng tertawa dan melompat keluar karena tempat itu sudah penuh oleh tubuh-tubuh yang bergelimpangan, maka Bu-ciangkun menggereng dan berkelebat mengejar, mengira Kim-mou-eng melarikan diri. "Siluman cilik, jangan lari...!" Kim-mou-eng berhenti. Dia memang tidak bermaksud melarikan diri, hanya mencari tempat lebih lega. Kini berdiri di tengah halaman luar gedung Mao-taijin itu, tertawa melihat panglima tinggi besar itu mengejarnya.

Dan ketika sisa pengawal juga berlari-lari ke depan mengurung tempat itu, akhirnya Kim-mou-eng bersiap-siap menghadapi panglima gagah ini. "Bu-ciangkun, pengawal-pengawalmu tak ada yang dapat menangkap aku. Sebaiknya kau maju sendiri dan mari kita main-main." "Hargh!" panglima itu mengaum. "Kau memang lihai, tikus kecil. Tapi jangan harap mempermainkan aku dengan mudah. Sebut dulu siapa namamu!" dan membentak melompat maju, panglima ini sudah menggerak-gerakkan kedua lengannya yang berkerotok bagai bambu berplethakan.

Kim-mou-eng tersenyum. "Aku tak punya nama. Aku pengembara biasa." "Bohong!" panglima itu marah. "Kau bukan orang sini, rambut emas. Kau orang asing yang agaknya berasal dari luar tembok besar!" "Benar," Kim-mou-eng tertawa kecil. "Tapi aku bukan asing secara keseluruhan, Bu-ciangkun. Jelek-jelek ibuku adalah juga wanita Han!" "Dan apa maksudmu membuat onar?" "Aku melihat Mao-taijin merencanakan membunuh orang baik-baik. Dia kepergok dan..." "Wutt!" panglima ini tiba-tiba membentak marah dan memotong ucapan lawan dengan serangannya yang dahsyat, menyambar muka Kim-mou-eng dengan pukulan lurus ke depan, menderu karena mengira Kim-mou-eng memfitnah.

Dan begitu panglima ini menyerang dan dia langsung mengerahkan Tangan Bajanya menghantam ke depan, tiba-tiba pukulan itu telah tiba di depan hidung Pendekar Rambut Emas ini. "Dukk...!" Kim-mou-eng terkejut, cepat mengelak dan menangkis mengerahkan sinkangnya (tenaga sakti). Dan begitu dua lengan bertemu dan Kim-mou-eng tergetar, maka si Tangan Baja Bu-ciangkun itu terdorong dan berseru kaget, "Hebat...!" panglima ini terkejut, berseru kagum dan terbelalak melihat lengannya terpental.

Melihat lawan tak apa-apa padahal biasanya Tangan Bajanya itu mampu memukul remuk kepala seekor banteng! Maka terkesiap melompat mundur, tiba-tiba panglima ini bertanya kembali, "Kau siapa?" Namun Kim-mou-eng tak menjawab. Dia memang enggan memperkenalkan nama, bosan pada bentuk penonjolan diri. Tapi tersenyum dan kagum memandang panglima ini, dia memuji juga, tak menggubris pertanyaan lawan, "Kau hebat, Buciangkun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment