Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 100

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 100

"Karena itu aku menyuruhmu meluncur lurus agar tidak menggetarkan pohon."

"Dan aku gagal. Ginkangku tak sehebat yang kau miliki. Sungguh, tua bangka ini harus banyak belajar!" Kakek itu menyesal, menyalahkan diri sendiri, dan kembali kagum pada Pendekar Rambut Emas.

Namun, Pendekar Rambut Emas tanpa menjawab langsung bertanya lagi, "Dan kau sanggup ke wuwungan itu, Lojin? Kita harus melompat sepuluh tombak lebih!"

"Ah, mana mungkin, Taihiap? Terus terang aku tak bisa, tentu jatuh di tengah jalan!"

"Baik, kalau begitu lompat ke punggungku. Kita berdua ke sana!"

Kim-mou-eng yang mematahkan dahan menyuruh kakek itu melompat ke punggungnya, membuat kakek tinggi besar itu terbelalak. "Apa, kau mau menggendongku, Taihiap?"

"Ya, bukankah kau tak sampai sendiri? Kau lompat ke punggungku, kita berdua ke sana!"

"Tapi... tapi..."

Kim-mou-eng tak sabar. "Lojin, waktu kita sempit. Aku hendak mengajakmu ke sana dengan bantuan sepotong kayu ini. Ayo, naiklah!"

Sin-piauw Ang-lojin masih ragu. Sebenarnya, dia malu melakukan itu. Seorang kakek tinggi besar minta digendong seorang pemuda! Namun, ketika Kim-mou-eng mengajaknya dengan tidak sabar dan banyak pengawal semakin ribut di tempat itu, akhirnya dengan perasaan berat dan malu, kakek ini melompat ke punggung Kim-mou-eng, persis kadal hinggap di punggung bunglon.

"Taihiap, maafkan aku. Aku sungguh tua bangka tak berguna...!"

"Sudahlah, tak perlu malu, Lojin. Keadaan memaksa kita untuk berbuat begini. Tapi hati-hati, aku akan melemparmu ke wuwungan bila potongan kayu ini kupergunakan sebagai penyambung!"

Sebelum kakek itu bertanya lagi, tiba-tiba Kim-mou-eng melesat, melempar potongan dahan ke mukanya. Begitu potongan kayu itu meluncur di udara, dengan gerakan luar biasa, pendekar ini menginjaknya, hinggap sejenak, dan berjungkir balik ke wuwungan. Di depan mata, jarak sudah setengah jalan, tiba-tiba ia melempar Sin-piauw Ang-lojin agar beban tidak terlalu berat menekannya.

Begitu kakek tinggi besar itu juga berjungkir balik dan sudah ditolong setengah jalan, dengan gerakan hampir bersamaan, keduanya selamat hinggap di puncak wuwungan. Kakek tinggi besar itu merasa berdesir, kagum luar biasa pada Kim-mou-eng.

"Taihiap, kepandaianmu hebat sekali...!"

"Sst, tak perlu memuji. Kita sudah di sini, Lojin. Mari ke tengah dan lanjutkan perjalanan kita!"

Sin-piauw Ang-lojin mengangguk. Dia ngeri melirik ke bawah, diam-diam membayangkan bagaimana seandainya Pendekar Rambut Emas itu gagal, jatuh, dan dia ikut terpelanting ke bawah. Tentu akan berdebam dan disambut musuh. Itu kalau mereka tidak luka-luka!

Sin-piauw Ang-lojin yang tak habis kagum memandang tuan penolongnya ini akhirnya tiba di tengah-tengah gedung, di mana Pendekar Rambut Emas memberi isyarat berhenti.

"Kau mendengar sesuatu, Lojin?"

"Tidak."

"Aku mendengar orang bicara. Tempelkan telingamu."

Sin-piauw Ang-lojin membungkuk. Dia menempelkan telinga di permukaan genteng, kini mendengar dan kagum akan ketajaman telinga pendekar itu. Ketika dia mengangguk dan berdiri, segera Kim-mou-eng bertanya, "Kau mengenal suara orang-orang itu?"

"Hm, seperti Bu-kongcu, Taihiap. Dan..."

"Benar, ada lima orang di bawah. Aku tak tahu yang mana suara putra mahkota. Kau mengenalnya?"

Kakek ini menggigil. Dia hanya mendengar suara empat orang, bukan lima. Ketika Kim-mou-eng bertanya apakah dia mengenal suara pangeran mahkota, akhirnya kakek ini menggeleng dan merasa kebat-kebit. "Aku tak tahu, Taihiap. Tapi kita dapat menangkap seorang pengawal atau pelayan."

"Ya, berarti aku harus turun dulu. Kau tinggallah di sini!"

Sementara kakek itu bengong, tiba-tiba Kim-mou-eng membuka genteng dan menerobos ke bawah. Kakek ini terkejut, temannya lenyap begitu saja. Demikian cepat dan lincah, seperti belut. Ketika dia menunggu dan berdebar menanti, Kim-mou-eng muncul lagi membawa seseorang. Begitu cepat seperti iblis!

"Pengawal ini kudapatkan di bawah. Dia mungkin tahu tentang pangeran mahkota!"

Kakek tinggi besar itu tertegun. Dia bengong oleh semua sepak terjang pendekar ini, kagum akan kepandaiannya yang luar biasa. Hilang dan datang seperti siluman, sungguh hampir tak dapat dipercaya. Melihat pengawal itu melotot ke arah mereka, akhirnya kakek ini membungkuk membuka totokannya, memencet jalan darah di tengkuk yang membuat pengawal itu tak dapat berteriak.

"Kau tahu di mana putra mahkota?"

"Tahu..." pengawal itu menggigil.

"Di mana?"

"Di... di bawah."

"Bawah mana? Maksudmu ruang tengah itu?"

Pengawal ini mengangguk. Dia tampak ketakutan memandang Kim-mou-eng, karena Kim-mou-eng pernah membuat geger di kota raja beberapa waktu yang lalu.

Sin-piauw Ang-lojin yang ragu pada pengawal ini tiba-tiba mendesis, "Kau bohong. Di bawah sana ada Bu-kongcu! Mana mungkin pangeran mahkota berdekatan dengan pemuda iblis itu? Kau mau menipu kami?"

"Tidak... tidak, maksudku pangeran mahkota ada di belakang ruangan tengah itu. Mungkin membaca buku karena tadi habis memasuki ruang perpustakaan!"

"Baiklah, kami akan membuktikannya!" Sin-piauw Ang-lojin yang menotok pengawal ini membungkam mulutnya, akhirnya bertanya pada temannya, "Bagaimana, kita turun ke bawah, Taihiap? Atau kita membagi tugas?"

Kim-mou-eng mengerutkan alis. "Kita harus bersama, Lojin. Kau sebaiknya selalu berdekatan denganku. Aku merasakan sesuatu yang ganjil."

"Kalau begitu kita turun bersama?"

"Ya."

Kim-mou-eng mengajak temannya menerobos ke bawah, menyelinap melalui genteng yang mereka buka. Sebentar kemudian, mereka sudah tiba di sebuah ruangan yang besar. Tak lagi terdengar percakapan, karena Bu-kongcu dan teman-temannya mungkin pergi, hal yang membuat pendekar ini mengerutkan kening.

Ketika ruangan itu sepi dan mereka maju ke ruangan yang lain, mendadak mereka terkejut melihat seseorang duduk di tengah ruangan membaca buku, agaknya putra mahkota, persis seperti yang dikatakan si pengawal.

"Pangeran...!" Sin-piauw Ang-lojin berseru girang, sudah melompat mendekat karena yakin itulah putra mahkota.

Namun, ketika lima bayangan berkelebat masuk dan tawa yang nyaring mengejutkan kakek ini, tiba-tiba orang itu—yang disangka putra mahkota—memutar kursinya dan tertawa berseru pada kakek tinggi besar ini, "Seng-piauw-pangcu, bagus sekali kau datang...!"

Sin-piauw Ang-lojin tertegun. Sekarang dia melihat jelas siapa orang ini; seorang laki-laki berusia tiga puluh limaan tahun, tampan dan bersih dengan wajah bersinar-sinar. Pandangan matanya tajam dan cerdik.

Ketika lima bayangan yang lain tertawa mengejek kakek itu, Sin-piauw Ang-lojin mundur berseru kaget, "Pangeran Muda...!"

"Ha-ha, kau mengenal aku, Pangcu? Bagus, mari duduk. Dan temanmu itu tentu Kim-mou-eng. Aih, apa kabar, Pendekar Rambut Emas? Kalian mencari aku?"

Pangeran Muda yang bangkit tertawa dikelilingi orang-orangnya, tiba-tiba bertepuk tangan menyuruh orang memberikan kursi. Tentu saja tidak disambut oleh kakek ini dan Kim-mou-eng, yang melihat Bu-kongcu muncul bersama seorang kakek bercawat yang tertawa memandang Kim-mou-eng, tangannya membawa suling dan tongkat ular.

Ketika dua orang itu tertegun dan Bu-kongcu tersenyum-senyum, Pangeran Muda memperkenalkan kakek bercawat itu. "Kim-mou-eng, ini Coa-ong Tok-kwi locianpwe. Datang dibawa Bu-kongcu karena ingin berkenalan denganmu. Kau belum mengenalnya, bukan?"

Ketika kakek itu tertawa dan Kim-mou-eng mengerutkan alis, pangeran itu berkata lagi, "Dan itu Hek-bong Siang-Io-mo. Kau mengenalnya?"

Hek-bong Siang-lo-mo, dua iblis cebol yang datang bersama Bu-kongcu, sudah tertawa menggoyang pantat. "Tentu, Pangeran. Kim-mou-eng tentu mengenal kami. Kami sudah pernah bertemu!"

"Dan aku ingin menguji kepandaianmu, Kim-mou-eng. Suling dan tongkat ularku ini penasaran mendengar kelihaianmu!" kakek bercawat menimpali, berseru serak dan sudah maju mendekat dengan mata bersinar-sinar, siap menerjang.

Namun, Pangeran Muda yang tertawa melambaikan lengan, keburu mencegah. "Coa-ong locianpwe, tahan dulu. Sabar. Kita tak boleh menyambut dua tamu kita kalau mereka datang dengan maksud baik!"

Ketika Coa-ong terkekeh melompat mundur, pangeran ini berkata dengan suaranya yang manis, "Kim-mou-eng, kau tentu mengantar Seng-piauw-pangcu ini, bukan? Kalian mencari aku?"

"Tidak," Kim-mou-eng berterus terang. "Kami tidak mencarimu, Pangeran. Melainkan..."

"Mencari adikku, putra mahkota?"

"Benar."

"Bagus, kalau begitu tentu atas kehendak Seng-piauw-pangcu ini." Pangeran ini beralih menghadapi kakek tinggi besar itu. "Pangcu, kau ingin bertemu dengan adikku itu? Dia tak ada di sini, adikku sedang beristirahat di gedungku. Tapi kalau benar kau ingin menemuinya, biarlah Bu-kongcu menemanimu."

Tanpa memberi kesempatan kakek ini membantah, Pangeran Muda sudah memanggil Bu-kongcu. "Kongcu, antarkan tamu kita ke putra mahkota. Kim-mou-eng biar kujamu dengan segala kegembiraan!"

Sin-piauw Ang-lojin terkejut. Melihat semuanya itu, dia jadi tertegun memandang pangeran muda ini, yang sepintas menyajikan maksud baik yang demikian menyejukkan. Manis dan ramah, seolah di antara mereka tak ada permusuhan apa pun, padahal Bu-kongcu tentunya telah melapor semua kejadian di Kota Pi-yang. Jadi, pangeran itu tahu.

Bu-kongcu yang sudah maju tertawa menyambut perintah Pangeran Muda, mendekati Sin-piauw Ang-lojin dengan muka yang tidak kalah ramah pula. "Pangcu, mari kuantar. Pangeran mahkota memang ada di gedung Pangeran Muda. Hari ini mereka bertukar tempat!"

Kakek ini terbelalak. Dia tentu saja menolak, marah, dan melotot memandang pemuda iblis itu, yang pernah menyiksanya dan hampir saja membuatnya malu dengan cara begitu hina; menyuruh seorang kakek bermain gila dengan pelacur lewat arak perangsang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment