Chapter 101
Akan tetapi, Bu-kongcu yang berpura-pura tidak tahu akan segala permusuhan mereka selama satu bulan terakhir kembali tertawa ramah mengajak kakek itu.
"Mari, kuantar ke sana, Pangcu. Bukankah kau mau menemui Putra Mahkota?"
"Tidak!" Sin-piauw Ang-lojin akhirnya membentak. "Aku tak mau kau antar, pemuda iblis. Aku tak percaya padamu dan dapat ke sana sendiri!"
"Ah, kau menolak perintah Pangeran Muda?"
Kakek itu mendelik. "Bu-kongcu, tak perlu memulas segala kelicikanmu dengan kedok kebaikan. Kau sendiri masih berhutang jiwa padaku, mana mungkin berendeng menghadap Putra Mahkota? Kalau dia benar ada di sana, biarlah aku pergi sendiri. Tak perlu kalian menipu!"
Sambil memandang temannya, kakek ini bertanya, "Bagaimana, Taihiap, kita tinggalkan orang-orang busuk ini?"
Kim-mou-eng menarik napas. Sebenarnya ia berdebar dikelilingi Coa-ong Tok-kwi dan Hek-bong Siang-lo-mo, bukan karena takut bagi dirinya sendiri, melainkan mencemaskan keselamatan Ketua Seng-piauw-pang itu. Diam-diam ia memperhatikan ketenangan yang berbahaya dari Pangeran Muda itu; ia dapat menangkap getaran kecerdikan yang amat tinggi dari pangeran tampan yang dikabarkan sedang mempersiapkan diri untuk menggulingkan Putra Mahkota demi ambisinya menjadi kaisar. Pangeran itu tampak ramah, namun menyembunyikan sesuatu yang mengerikan.
Mendengar pertanyaan temannya dan melihat Sin-piauw Ang-lojin yang hendak pergi, pendekar ini tersenyum pahit. "Lojin, apa yang kauinginkan rupanya tak disukai lawan-lawan kita. Bagaimana kalau kita tanya Pangeran Muda? Mungkin Pangeran mau mengalah kepada kita, atau kita dapat kembali setelah menemui Putra Mahkota."
"Ah, mana bisa begitu, Kim-mou-eng?" Pangeran Muda tertawa. "Kami belum menyuguhkan arak, tak mungkin kalian pergi sebelum menikmati jamuan. Sebaiknya temanmu itu diantar Bu-kongcu atau tinggal sekalian di sini saja bersamamu!"
Kim-mou-eng memahami maksudnya. Ia sudah menduga Pangeran ini akan menahan mereka dan tidak akan membiarkan Seng-piauw-pangcu menghadap Putra Mahkota sendirian. Pangeran sengaja menyuruh Bu-kongcu untuk mengawal dan mungkin membunuhnya secara diam-diam, karena murid Sai-mo-ong itu memiliki kepandaian yang tinggi, sementara Sin-piauw Ang-lojin kalah lihai.
Dengan tertawa getir, ia memandang temannya dan bertanya kembali, "Nah, bagaimana jawabanmu, Pangcu? Apakah kita sambut saja ajakan Pangeran dan menunda dulu keperluan kita menghadap Putra Mahkota?"
Sin-piauw Ang-lojin menggertakkan gigi. "Taihiap, apa yang mereka perlihatkan tidak sama dengan apa yang mereka lakukan. Aku tak mau tinggal di sini dan ingin secepatnya pergi!"
"Tapi kau memasuki rumah tanpa izin, Pangcu. Haruskah kami lepaskan begitu saja sepak terjang kalian ini? Kusambut kalian dengan baik saja sudah untung, seharusnya kau tahu diri!" Pangeran Muda mengejek sambil menatap ketua Seng-piauw-pang itu dengan pandangan dingin.
Bu-kongcu yang juga tertawa sambil mengebutkan kipasnya menyambung, "Benar, seharusnya kau tahu diri, Seng-piauw-pangcu. Pangeran telah menyambut kalian dengan baik. Kalau tak ingin membuat onar, tentunya kalian mematuhi tuan rumah dan tidak banyak cingcong lagi. Bagaimana?"
"Tidak!" kakek itu menggeram. "Aku tetap tak mau tinggal di sini dan ingin pergi!"
Sambil meloncat dan mengibaskan lengan, kakek itu berkelebat keluar. Tentu saja hal itu tidak dibiarkan oleh Pangeran Muda yang telah memberi isyarat pada Bu-kongcu. Begitu kakek itu keluar, Bu-kongcu menjengek dan berkelebat mengejarnya sambil menggerakkan kipas.
"Pangcu, tunggu dulu. Mari kuantar...!" Kipas bergerak ke depan, menotok punggung kakek itu dengan ketukan kuat.
Sin-piauw Ang-lojin, yang mendengar desiran angin serangan itu, segera berbalik dan menangkis, terpaksa menghentikan larinya. "Plak!" Kakek itu terhuyung, disambut tawa mengejek Bu-kongcu yang melipat kipasnya.
Ketika kakek itu tegak kembali dengan murka, Kim-mou-eng berkelebat di samping temannya. Ia dipandang dengan gentar oleh Bu-kongcu yang segera mengerutkan kening.
"Kau mau apa?"
Kim-mou-eng tersenyum, melindungi temannya. "Aku tak suka kau berbuat curang, Bu-kongcu. Kalau Pangeran tidak mengizinkan, biarlah kami mencoba menjalankan niat kami sendiri. Nah, kau pergilah. Aku yang akan menghadapi lawan-lawanku, Pangcu. Berangkatlah dan tenangkan hatimu!"
Pendekar Rambut Emas itu menepuk pundak temannya, memulihkan kembali sisa pukulan Bu-kongcu yang menggetarkan ketua Seng-piauw-pang tersebut. Namun, Hek-bong Siang-lo-mo, Coa-ong Tok-kwi, serta seorang lagi yang tidak dikenal Kim-mou-eng tiba-tiba berkelebat mengepung mereka.
"Heh-heh, mana bisa begitu mudah, Kim-mou-eng? Kalau Seng-piauw-pangcu itu mau mencoba keluar atas perlindunganmu, biarlah dia mencoba niatmu itu. Ingin kulihat, bisakah dia keluar dengan selamat jika Paduka Pangeran tak menghendaki!" Hek-bong Twa-lo-mo berseru sambil menggerakkan kedua tangannya yang tiba-tiba berubah hitam, siap melepaskan pukulan maut.
Coa-ong Tok-kwi yang juga menggerakkan tongkat dan suling terkekeh nyaring. "Kim-mou-eng, jangan sombong dengan kepandaian yang kauagulkan itu. Aku telah memanggil semua ularku di luar, mana bisa temanmu keluar tanpa seizin kami? Kalau kau tidak percaya, lihatlah...!" Kakek ini meniup sulingnya tinggi melengking, tiba-tiba disambut desis ratusan ular.
Saat dia menuding ke depan, Sin-piauw Ang-lojin berseru kaget melihat ratusan ular merayap masuk. "Heh-heh, bagaimana, Pangcu? Kau berani keluar?"
Sin-piauw Ang-lojin pucat. Ia jelas tidak dapat melewati ratusan ular yang kini memasuki ruangan dengan tubuh melenggang-lenggok, licin menjijikkan, dengan lidah merah bercabang keluar-masuk. Ketika Coa-ong Tok-kwi meniup sulingnya lagi, ular-ular itu berhenti beberapa tombak di depan Sin-piauw Ang-lojin dan Kim-mou-eng.
Namun, Kim-mou-eng tersenyum. "Kau berani keluar, Pangcu?"
"Tentu berani, tapi..."
"Nah, teruskan niatmu, Pangcu. Aku akan menolongmu!" Kim-mou-eng segera mengambil obor, menyulutnya, dan secepat kilat melemparnya ke barisan ular yang menghalangi pintu.
Ketika semua orang terkejut dan marah oleh perbuatannya, pendekar ini telah mendorong temannya pergi. "Pangcu, keluarlah...!"
Sin-piauw Ang-lojin sadar. Ia berseru keras saat melihat ular-ular menyibak dan otomatis memberi jalan karena ketakutan oleh obor tersebut. Begitu Kim-mou-eng mendorongnya, kakek itu berseru girang dan melompat keluar. "Taihiap, terima kasih!"
Namun, Coa-ong Tok-kwi membentak marah. Raja Ular itu berteriak dan melepas pukulan jarak jauh. Kim-mou-eng yang sudah bersiap segera menggerakkan lengan untuk menangkis dari samping. "Plak!" Pukulan Raja Ular itu melenceng, membuatnya mencak-mencak dan memaki lawannya.
Ketika Sin-piauw Ang-lojin lenyap di luar dan Hek-bong Siang-lo-mo juga membentak marah, dua iblis cebol itu menyerang Kim-mou-eng. Pendekar itu cepat menggerakkan tubuh menghadapi ketiga lawan sekaligus.
"Kim-mou-eng, kau jahanam keparat!" Plak-duk-dukk! Tiga pukulan itu berhasil ditangkis, membuat ketiganya terpental. Kim-mou-eng sendiri hanya tergetar, mengerahkan Tiat-lui-kangnya, namun ia segera diserang kembali oleh tiga iblis yang marah itu.
Ketika orang keempat ikut membantu, Bu-kongcu yang gentar menghadapi Kim-mou-eng tiba-tiba berkelebat keluar mengejar Sin-piauw Ang-lojin. "Paman, kalian robohkan si Rambut Emas itu. Biar aku mengejar Ketua Seng-piauw-pang...!"
Kim-mou-eng mengerutkan kening. Ia khawatir pemuda itu akan mengejar temannya, karena ia tahu Bu-kongcu tak akan mengampuni sebelum Sin-piauw Ang-lojin mendapatkan Putra Mahkota. Maka, melihat pemuda itu mengejar keluar, pendekar ini berseru sambil melepaskan pukulan menyedot, "Bu-kongcu, kau kembalilah...!"
Bu-kongcu terkejut. Saat itu ia sudah menginjak pintu keluar dan tidak mengira akan diserang. Mendengar angin pukulan menyambar tengkuknya, ia tidak berani menangkis dan memilih menghindar ke kiri. Namun, angin pukulan itu berkesiur lewat, tiba-tiba membalik, dan menerjangnya dari depan.
Pemuda itu terbelalak kaget saat angin pukulan yang seolah memiliki nyawa itu membungkus dan menarik tubuhnya dengan kuat. Sekejap kemudian, ia terjerat dan tercekik. Saat Bu-kongcu pucat ketakutan, tubuhnya terbanting berguling-guling dan masuk kembali ke dalam ruangan.
"Bress...!" Bu-kongcu berteriak tertahan. Ia ngeri oleh pukulan sinkang Pendekar Rambut Emas yang seolah bernyawa tersebut. Begitu hebat dan memiliki daya sedot tinggi, mampu menghisapnya jatuh bergulingan. Ketika ia melompat bangun dan pukulan itu lenyap, pemuda itu membentak marah dengan suara gemetar, "Kim-mou-eng, kau jangan main sihir...!"
Kim-mou-eng tersenyum sambil kembali dikeroyok empat lawannya. Coa-ong Tok-kwi yang gusar berteriak pada Bu-kongcu, "Kau teruskan larimu, Bocah! Tangkap ketua Seng-piauw-pang itu dan jangan berkaok-kaok di situ!"
Bu-kongcu melotot. Ia mendongkol oleh ucapan Raja Ular itu, namun tetap berniat meneruskan pengejarannya. Namun, ketika untuk kedua kalinya ia kembali disedot hingga jatuh berguling di muka pintu, pemuda itu akhirnya marah dan memaki, "Paman, kaupun jangan berkaok-kaok saja! Lindungi aku...!"
Coa-ong terbelalak. Ia terkejut oleh sinkang Pendekar Rambut Emas yang telah membuat keponakannya jatuh bangun sebanyak dua kali.