Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 102

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 102

Namun, ketika Hek-bong Siang-lo-mo membentak dan menerjang, dua iblis cebol itu berseru kepada Bu-kongcu, "Kau ulangilah, bocah. Kim-mou-eng kami tahan!"

Bu-kongcu melompat bangun. Ia gentar oleh kepandaian Pendekar Rambut Emas yang luar biasa itu. Namun, ketika Hek-bong Siang-lo-mo menyerang dan Coa-ong Tok-kwi menahan pukulan pendekar tersebut, pemuda itu akhirnya berhasil keluar dari pintu. Ia sempat ditahan sejenak oleh Kim-mou-eng agar Sin-piauw Ang-lojin dapat bernapas lega di luar sana, sekaligus mencari perlindungan kepada putra mahkota.

Begitu lawan mengeroyoknya lagi dan Bu-kongcu mengejar Sin-piauw Ang-lojin, Pendekar Rambut Emas itu mulai menangkis dan membalas serangan. Ia menyadari bahwa di antara keempat lawan tersebut, hanya Hek-bong Siang-lo-mo dan Coa-ong Tok-kwi yang memiliki kepandaian paling tinggi, sehingga perhatiannya dicurahkan kepada mereka.

Pertarungan sengit terjadi. Pendekar Rambut Emas terpaksa melompat ke sana-sini untuk mengerahkan kepandaiannya. Lawan-lawannya dibuat kagum oleh *Tiat-lui-kang* yang dimiliki pendekar ini; sebuah pukulan berhawa panas yang selalu mementalkan serangan mereka. Namun, karena hanya bersikap bertahan dan sesekali membalas tanpa nafsu membunuh, Kim-mou-eng mulai mencari jalan keluar.

Sebenarnya, jika Kim-mou-eng bersungguh-sungguh, ia mungkin bisa memenangkan pertempuran tersebut. Namun, karena kedatangannya hanya untuk mengawal Sin-piauw Ang-lojin tanpa maksud bertempur mati-matian, pikirannya terus tertuju pada kakek tinggi besar itu. Ia melirik sana-sini untuk mencari jalan keluar, sementara Pangeran Muda yang sebelumnya membuatnya berdebar kini tidak terlihat lagi.

Karena lawan terus mendesak, Coa-ong Tok-kwi yang marah besar mulai mengerahkan ular-ularnya. Ruangan pun dipenuhi ular yang bergerak menuju kaki Kim-mou-eng mengikuti irama suling. Sang Raja Ular itu bertindak sangat hebat; satu tangan meniup suling, sementara tangan lainnya menggerakkan tongkat ular, dibantu oleh Hek-bong Siang-lo-mo.

Melihat dirinya dikepung dari atas dan bawah, serta mengingat tujuannya melindungi ketua Seng-piauw-pang, Pendekar Rambut Emas memutuskan untuk melarikan diri lewat langit-langit ruangan tempat ia membuka genteng sebelumnya. Saat lawan menyerang, ia menangkis serangan Hek-bong Siang-lo-mo dengan telak hingga lawan terpental, kemudian ia mencelat ke atas dan menghilang.

Coa-ong Tok-kwi dan Hek-bong Siang-lo-mo mengejar dengan penuh amarah. Mereka bertiga melesat keluar mengikuti jejak Kim-mou-eng. Sang pendekar menuju ke arah timur karena di sana ia mendengar keributan; ternyata Sin-piauw Ang-lojin sedang menghadapi rintangan.

Sesampainya di sana, benar saja, ketua Seng-piauw-pang itu sedang dikeroyok oleh puluhan pengawal dengan tombak dan golok. Ia berteriak-teriak menyebut nama putra mahkota, berharap bisa menghadap. Namun, ketika Bu-kongcu muncul dan menyerang, Sin-piauw Ang-lojin terkena jarum rahasia. Saat kakek itu terhuyung, Bu-kongcu memerintahkan para pengawal mundur untuk menghadapi kakek itu sendirian.

Sin-piauw Ang-lojin mulai menggigil karena racun dari jarum tersebut. Meskipun ia terus menangkis dengan pisau panjang bergagang gading, tenaganya semakin menipis. Saat Bu-kongcu melancarkan serangan kipas yang mematikan, kakek itu roboh. Ia sempat bangun kembali dengan sisa tenaga, namun wajahnya mulai menghijau akibat racun yang menjalar cepat.

Di saat genting, Kim-mou-eng datang dan menangkis serangan Bu-kongcu hingga kipas pemuda itu hancur. Ia segera menolong Sin-piauw Ang-lojin, namun Hek-bong Siang-lo-mo dan Coa-ong Tok-kwi tiba dan kembali menyerang. Meski sedang membawa temannya, Kim-mou-eng mampu menangkis serangan mereka dengan satu lengan.

Setelah lawan-lawannya terpental, Sin-piauw Ang-lojin berbisik, "Taihiap, masuk saja ke dalam. Putra mahkota memang ada di sana. Cepat!"

Kim-mou-eng mengangguk. Ia mengumpulkan tenaga *Tiat-lui-kang* dan membentur serangan ketiga lawannya hingga mereka terjengkang. Sambil mengibaskan lengan untuk mendorong para pengawal yang menjaga pintu, ia melesat masuk ke dalam ruangan.

Di sana, ia disambut oleh putra mahkota dan Pangeran Muda. Sin-piauw Ang-lojin yang segera berlutut tampak sangat gembira, "Pangeran, hamba ingin bertemu Paduka!"

Putra mahkota mengernyit, "Apa yang hendak kau bicarakan, Pangcu? Bukankah kau Sin-piauw Ang-lojin, ketua Seng-piauw-pang?"

Ketika suasana mulai memanas karena kehadiran Hek-bong Siang-lo-mo dan Coa-ong Tok-kwi yang terus memprovokasi, Kim-mou-eng menimpali dengan tenang, "Seng-piauw-pangcu hendak bicara empat mata, Pangeran. Sebaiknya kakak Paduka dipersilakan mundur."

Putra mahkota tampak keberatan, namun Sin-piauw Ang-lojin menegaskan bahwa urusan ini menyangkut kakaknya. Sementara itu, Hek-bong Siang-lo-mo dan Coa-ong Tok-kwi kembali menerjang untuk menyerang, namun Kim-mou-eng dengan sigap menangkis mereka sambil berkata, "Lo-mo, kalian jangan kurang ajar. Biarkan kami bicara dulu!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment