Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 103

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 103

"Duk, duk!" Tiga iblis itu berseru tertahan. Untuk kesekian kalinya mereka terpental dan memaki-maki pendekar itu, sementara Kim-mou-eng hanya tergetar.

Sebelum mereka menyerang lagi dan putra mahkota membentak marah, tiba-tiba semuanya dicegah. "Hek-bong Siang-lo-mo, tahan. Mereka benar tamuku!" Hek-bong Siang-lo-mo dan Coa-ong Tok-kwi tak berani menyerang. Mereka mendapat isyarat pula dari Pangeran Muda yang tetap tenang, bahkan tersenyum pada Kim-mou-eng dan Sin-piauw Ang-lojin. Sedikit pun ia tak cemas jika dua orang itu akan melaporkan rencana pemberontakannya. Mungkin ia sudah bersiap-siap. Sikap yang bagi Kim-mou-eng justru berbahaya dan mendebarkan.

Ketika tidak ada yang menyerang dan Bukongcu muncul di tempat itu, Pangeran Muda tertawa memandang kakek tinggi besar tersebut. "Sin-piauw Ang-lojin, rupanya kau mau melaporkan sesuatu yang bersifat fitnah. Kenapa menyuruh aku pergi kalau beritamu benar? Adikku siap mendengarkan semuanya dengan tenang. Kau bicaralah, tak perlu khawatir aku tersinggung!"

"Aku memang hendak bicara, Pangeran," kakek ini mendelik. "Tapi sama sekali bukan fitnah seperti apa yang kau bilang!"

"Bagus, kalau begitu kenapa takut didengar semua orang? Bicaralah, kita lihat saja benarkah bukan fitnah atau justru kau yang harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu bila tidak benar!"

Sin-piauw Ang-lojin gusar. Namun, sebelum kakek itu mengeluarkan kata-kata keras, putra mahkota sudah mengulurkan lengannya. "Lojin, apa yang dikatakan kakakku memang benar. Kau tak perlu khawatir, kakakku tak akan tersinggung. Kau bicaralah, kami akan mendengar apa yang hendak kau katakan."

Sang kakek otomatis tertegun. Ia hendak membuka kebusukan Pangeran Muda, rencana pemberontakannya, dan segalanya yang bersangkut paut dengan itu. Termasuk hubungannya dengan menteri-menteri jahat seperti Mao-taijin. Jelas ia akan membeberkan semuanya di depan putra mahkota agar sang pangeran berhati-hati dan waspada. Tentu saja ia tidak membayangkan sebelumnya bahwa orang yang hendak dilaporkan, Pangeran Muda sendiri, siap mendengarkan di samping putra mahkota seperti seseorang yang tidak punya salah. Hal itu membuat kakek ini gugup, bingung, dan seketika grogi.

Ketika Sin-piauw Ang-lojin masih bungkam padahal putra mahkota menunggu, pangeran itu melangkah maju. "Pangcu, kau kini telah berhasil menemuiku. Kau hendak bicara sesuatu, kenapa diam setelah bertemu? Kau segan pada kakakku yang ada di sini?"

"Ha-ha, bukan segan, Adik Pangeran. Tapi mungkin takut kalau nanti kata-katanya itu memang fitnah!" Pangeran Muda tertawa mengejek, membuat Sin-piauw Ang-lojin marah sekali.

Sebelum kakek itu bicara, Kim-mou-eng menegur temannya. "Lojin, apa yang hendak kau katakan memang sebaiknya katakan saja. Orang yang kau tuduh ada di sini atas permintaannya sendiri. Kenapa enggan dan ragu mengatakannya pada putra mahkota? Kalau kau ingin bicara, bicaralah, tak perlu ditunda!"

"Baik," kakek ini menggeram setelah mendengar Pangeran Muda tertawa lagi. "Hamba hendak menceritakan kebusukan kakak Paduka, Pangeran. Bahwa..." Kakek ini mengepal tinju. "Bahwa kakak Paduka hendak memberontak, hendak membunuh Paduka!"

"Ha-ha," Pangeran Muda tiba-tiba tertawa bergelak, tidak memedulikan putra mahkota yang terkejut. "Kau membawa kentut busuk, Seng-piauw-pangcu. Sungguh kata-katamu ini boleh dibilang fitnah! Tapi baiklah, teruskan laporanmu. Apa lagi yang hendak kau katakan? Kau hendak mengatakan bahwa aku bersekongkol dengan menteri-menteri jahat dan hendak menggulingkan takhta istana pula? Bahwa aku merencanakan ini-itu untuk membunuh ayahku? Ayo, Sin-piauw Ang-lojin. Teruskan fitnahmu ini dan aku akan mendengarnya, tidak tersinggung!"

Sin-piauw Ang-lojin tertegun. Ia tidak menyangka bahwa apa yang hendak dilaporkan itu kini terang-terangan dikatakan Pangeran Muda sendiri dengan blak-blakan. Seolah apa yang hendak dikatakan sudah dibaca oleh pangeran itu. Pangeran yang cerdik dan sungguh berbahaya, berani mati mengakui perbuatan sendiri. Namun, dengan mata bersinar-sinar, kakek ini mengangguk, merasa mendapat kemenangan.

"Benar, aku memang hendak melaporkan seperti apa yang telah kau katakan itu, Pangeran. Bahwa kau merencanakan pemberontakan dan hendak membunuh Kaisar pula. Kau siap merebut kursi takhta lewat putra mahkota. Kau licik dan culas!"

"Sudah? Masih ada lagi?" Pangeran itu tertawa, sikapnya luar biasa tenang. "Kalau belum, silakan melapor lagi, Lojin. Aku tak tahu atas dasar apa kau menaruh sakit hati demikian luar biasa kepadaku!"

Kakek ini lagi-lagi tertegun. Ia melihat wajah putra mahkota pucat, memandang dia dan sang kakak berganti-ganti. Ketika ia tidak bicara lagi, putra mahkota menggigil dan membentaknya, "Seng-piauw-pangcu, sadarkah kau dengan semua ucapanmu ini? Sadarkah kau akan segala akibat dan tanggung jawab dari semua kata-katamu?"

"Tentu," kakek ini menjawab pasti. "Hamba sadar akan semua kata-kata hamba, Pangeran. Sumpah demi langit dan bumi, apa yang hamba katakan adalah benar!"

"Dan kau punya buktinya?" mendadak Pangeran Muda bertanya, tersenyum sinis. "Kau dapat membuktikan semua kata-katamu ini, Pangcu? Kau dapat memberikan bukti pada adikku, putra mahkota, bahwa apa yang kau katakan bukan fitnah?"

"Ini... ini..."

"Jangan ini-ini, Seng-piauw-pangcu. Kalau kau mengatakan aku hendak memberontak, sebaiknya kau tunjukkan pula bukti-buktinya pada adikku. Aku siap menghadapinya. Kalau tidak, terpaksa aku menuntut tanggung jawabmu dan meminta adikku agar membunuhmu!"

Sin-piauw Ang-lojin pucat. Kedatangannya ke situ adalah hendak memberi tahu putra mahkota akan segala rencana Pangeran Muda secara empat mata. Sungguh tak dinyana keadaan berubah begini runyam. Karena bukti satu-satunya hilang setelah A-ciong dibunuh, kakek ini jadi tertegun dan tidak dapat menjawab.

Ketika Pangeran Muda tertawa dan kakek itu menggigil, pangeran ini menghadapi adiknya. "Nah, kau lihat, Adik Pangeran. Apa yang kukatakan di dalam tadi betul. Ketua Seng-piauw-pang ini hendak memfitnahku. Dia datang bersama Kim-mou-eng, mungkin saja disuruh Pendekar Rambut Emas ini karena ada hubungannya dengan suku bangsanya di luar Tembok Besar, memecah belah kita dan hendak mengacau di sini. Mungkin dendam atas kehancuran suku bangsa Tartar. Bagaimana pendapatmu?"

Putra mahkota terbelalak. Sebenarnya, di dalam tadi ia sudah ditemui kakaknya dan mendengar ribut-ribut di luar. Karena Kim-mou-eng dianggap memiliki darah Tartar lebih menonjol, kakaknya meyakinkan bahwa kedatangan ketua Seng-piauw-pang itu atas hasutan Kim-mou-eng untuk membalas dendam setelah dulu Gurba datang menyerang istana. Dan karena Sin-piauw Ang-lojin sendiri tak dapat memberi bukti, putra mahkota termakan omongan kakaknya dan menganggap mereka datang untuk memfitnah.

Tiba-tiba pangeran ini membentak melotot gusar, memandang Kim-mou-eng pula. "Sin-piauw Ang-lojin, sungguh tak disangka sebagai orang Han kau hendak membela suku bangsa Tartar! Mana bukti seperti yang dituntut kakakku itu? Kalau kau tak dapat menunjukkannya, kuanggap kau memfitnah dan melancarkan permusuhan di antara kami!"

"Dan kalau aku hendak membunuh adikku sendiri, tidak perlu berlama-lama, Lojin. Sekarang pun aku dapat minta tolong pada Hek-bong Siang-lo-mo atau Coa-ong Tok-kwi itu. Tapi aku tak melakukannya karena aku memang tidak merencanakan niat seperti yang kau laporkan. Apalagi mengkhianati Sri Baginda. Bukankah beliau ayah kandungku sendiri? Kau sengaja mengadu domba, Sin-piauw Ang-lojin. Kau memfitnah dan rupanya dihasut Pendekar Rambut Emas ini. Kalian berpolitik, mungkin malah hendak membunuh kami!"

Sin-piauw Ang-lojin terbelalak. Kim-mou-eng sendiri terkejut dan berubah mukanya. Keadaan tiba-tiba dibalik oleh Pangeran Muda yang licin. Kedudukan mereka terancam. Karena bukti tak dapat diberikan, Sin-piauw Ang-lojin kalap dan menyerang Pangeran Muda. "Siauw-ong-ya, kau memang jahanam busuk! Bukti yang kau minta telah kau rebut lewat orang-orangmu dari tangan A-ciong!"

Semuanya terkejut. Sin-piauw Ang-lojin sudah menubruk Pangeran Muda, sengit hendak membunuh pangeran itu. Namun, Coa-ong Tok-kwi yang berdiri lebih dekat tiba-tiba membentak dan menghantam ketua Seng-piauw-pang tersebut. "Tua bangka busuk, pergilah...!"

Sin-piauw Ang-lojin terbelalak. Saat itu ia melepas pukulan tanpa memedulikan diri, menerjang saking marahnya melihat diri sendiri terjebak. Maka ketika ia menyerang dan Coa-ong Tok-kwi menghantamnya dari samping, tiba-tiba ketua Seng-piauw-pang ini mengeluh dan terbanting roboh sebelum pukulannya mengenai Pangeran Muda.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment