Chapter 104
"Dess!" Kakek itu mencelat bergulingan.
Kim-mou-eng terkejut dan cepat berkelebat menolong temannya. Ia tidak menyangka ketua Seng-piauw-pang itu berani menyerang Pangeran Muda hingga posisinya menjadi jauh.
Namun, Pangeran Muda yang memberi aba-aba, diikuti oleh bayangan Hek-bong Siang-lo-mo dan yang lain, tiba-tiba mengejar Pendekar Rambut Emas ini. Mendengar aba-aba pangeran itu, ia berseru, "Lo-mo, tangkap mereka! Bunuh keduanya!"
Sin-piauw Ang-lojin dan Kim-mou-eng terkejut. Kakek ketua Seng-piauw-pang itu menyeringai karena hantaman Coa-ong membuat dadanya sesak. Darah tiba-tiba menyembur dari mulutnya. Hal itu membuat Kim-mou-eng mengerutkan kening karena temannya terluka dalam; ia memang bukan tandingan Coa-ong Tok-kwi.
Sementara Kim-mou-eng menyesali kesembronoan temannya, Hek-bong Siang-lo-mo dan kawan-kawan menyerang. Pangeran Mahkota malah masuk dan marah-marah kepada mereka yang dianggap memfitnah.
"Kim-mou-eng, sekarang ajalmu sudah tiba!"
"Ya, dan kau juga, Seng-piauw-pangcu. Terimalah kematian kalian!"
Wut-wut! Empat pukulan menyambar kedua orang itu. Sin-piauw Ang-lojin yang hendak ditutup mulutnya mendapat isyarat dari Pangeran Muda bahwa ketua Seng-piauw-pang itu harus dibunuh. Rahasia ada di tangan kakek itu, sehingga tidak boleh dibiarkan hidup karena Sin-piauw Ang-lojin mungkin akan mencari gara-gara di lain kesempatan.
Kim-mou-eng membentak, meloncat tinggi, lalu menyambar temannya untuk menangkis semua pukulan itu.
"Plak-des-dess!" Empat orang itu terdorong. Kim-mou-eng berjungkir balik; ia tahu keadaan mereka berbahaya dan tidak mungkin menghubungi Pangeran Mahkota lagi. Mereka tidak dipercaya dan kini malah dianggap mengacau. Begitu ia membentak hingga lawan mundur, pendekar ini melesat melalui pintu keluar sambil membawa Sin-piauw Ang-lojin yang pingsan di atas pundaknya.
"Lo-mo, kalian iblis-iblis licik!"
Hek-bong Siang-lo-mo terbelalak. Mereka melihat lawan mereka berjungkir balik melarikan diri, berkelebat ke pintu keluar, dan menyelamatkan Sin-piauw Ang-lojin. Mereka yang tidak mau melepaskan buruannya pun mengejar ke luar, menyuruh pengawal menghadang agar Kim-mou-eng tidak bisa pergi.
"Tangkap mereka! Cegat larinya!"
Pengawal bermunculan. Mereka sebenarnya sudah disiapkan di luar, dipimpin seorang panglima bertubuh pendek bernama Shi Bung, anak buah Jenderal Bu. Begitu Kim-mou-eng melompat keluar, tombak dan golok segera menyerangnya.
"Plak-plak-krakk!"
Kim-mou-eng mengibaskan lengan, melakukan pukulan jarak jauh. Golok dan tombak patah, sementara pemiliknya terbanting, mengaduh, dan menjerit berpelantingan. Namun, ketika pendekar ini berlari ke utara, ia dihadang pengawal lain, sementara Hek-bong Siang-lo-mo dan teman-temannya terus mengejar.
"Kim-mou-eng, jangan lari! Tahan dulu pukulan kami!"
Kim-mou-eng terbelalak. Ratusan pengawal muncul, kejadiannya mirip ketika ia ke kota raja dulu. Hanya bedanya, tidak ada pentolan-pentolan sesat seperti Hek-bong Siang-lo-mo dan si Raja Ular yang terus menguntit dan menyerang dari belakang. Karena membawa Sin-piauw Ang-lojin yang pingsan dan terluka dalam, akhirnya pendekar ini terkepung dan tidak dapat melarikan diri.
"Ha-ha, kau tidak dapat keluar, Rambut Emas. Berhenti dan terimalah kematianmu di sini!"
Hek-bong Siang-lo-mo melompat, terbang menampar pendekar itu, sementara Coa-ong Tok-kwi menggerakkan tongkat ularnya. Ketika tiga orang itu bergerak hampir berbarengan dan para pengawal terdorong, Kim-mou-eng kembali menangkis dan mengerahkan Tiat-lui-kang-nya.
"Des-dess!"
Hek-bong Siang-lo-mo dan temannya berjungkir balik. Mereka terlontar ke atas, lalu menukik dan menyerang kembali dari atas ke bawah. Coa-ong bahkan mengemplangkan tongkatnya ke arah ubun-ubun. Namun, Pendekar Rambut Emas yang marah merendahkan kepala, lalu menyambut dan menerima serangan tiga orang lawannya.
"Krakk!"
Tongkat di tangan si Raja Ular patah, ujungnya hancur sementara jari Kim-mou-eng ganti menampar kakek ini. Ketika si Raja Ular berjungkir balik dan memaki, pukulan Hek-bong Siang-lo-mo diterima oleh pendekar itu.
"Plak-plak!"
Dua orang itu kembali terpental. Kim-mou-eng berseru keras melihat para pengawal kembali berteriak menggerakkan senjata atas perintah Bu-kongcu. Ketika Kim-mou-eng menangkis dan pengawal terlempar mundur, Hek-bong Siang-lo-mo dan Coa-ong Tok-kwi kembali menerjang dengan marah.
"Tok-kwi, kerahkan saja ular-ularmu!"
"Ya, dan suruh para pengawal mundur. Kepung melebar!"
Coa-ong Tok-kwi setuju. Ia menyuruh para pengawal mundur dan membentak Bu-kongcu agar maju membantu. Ketika murid Sai-mo-ong itu bergerak dan semua pengawal meloncat ke belakang, empat orang itu mengeroyok Pendekar Rambut Emas yang memanggul Sin-piauw Ang-lojin. Kim-mou-eng dibuat sibuk ketika Coa-ong mulai mengerahkan ular-ularnya sambil meniup suling, sementara pengawal melepas panah menghujani tubuh pendekar ini.
Ketika pertempuran menjadi seru dan Kim-mou-eng marah, tiba-tiba sebatang panah mendesing di belakangnya. "Cep!" Kim-mou-eng menangkapnya, melihat orang tak dikenal muncul di belakang pengawal, lalu berbalik dan secepat kilat menggunakan panah tangkapan itu untuk menangkis hujan serangan.
Namun, ketika panah kedua mendesing dan Hek-bong Siang-lo-mo serta si Raja Ular menyerang berbarengan, Sin-piauw Ang-lojin menjadi korban; panah menancap di tengkuknya.
"Augh!"
Kim-mou-eng terkejut. Ketua Seng-piauw-pang itu menggeliat, menjerit tanpa sadar. Hunjaman panah itu terlalu dalam, membuat pendekar ini melengking dan membentak marah. Saat dua bayangan kembali berkelebat dan Tok-gan Sin-ni serta Sai-mo-ong muncul, pendekar ini terkejut karena rambut dan kipas bulu singa menyambar dadanya.
"Ha-ha, selamat bertemu, Kim-mou-eng. Selamat berjumpa!"
"Ya, dan terimalah lecutan rambutku, Kim-mou-eng. Sungguh dunia terlalu sempit untuk kita... plak-plak!"
Rambut Tok-gan Sin-ni meledak mengiringi kipas bulu singa milik Sai-mo-ong, mengebut dada Pendekar Rambut Emas. Lima pentolan sesat muncul hampir berbarengan. Ketika lima serangan menyerbu tanpa ampun sementara panah dan ular juga menyerang dari segala penjuru, Pendekar Rambut Emas mengeluh saat ujung kipas mengebut mukanya hingga perih di mata, sementara rambut Tok-gan Sin-ni juga menyengat pundaknya. Namun, serangan itu mental karena ia telah mengerahkan sinkangnya. Ia terhuyung dan pucat memandang lima orang lawannya, tidak menyangka Sai-mo-ong dan Tok-gan Sin-ni datang memberi bantuan.
Ketika lawan kembali berkelebat dan ular serta hujan panah masih menyerang dari luar, pendekar ini menggetarkan kedua lengannya.
"Sai-mo-ong, keparat kalian!"
"Heh-heh, kau yang keparat, Kim-mou-eng. Kau mengganggu Pangeran Muda!"
Kim-mou-eng melengking. Ia mengerahkan sinkangnya ke kedua lengan hingga uap putih bergetar. Ketika lawan menyerang dan semua pukulan menghantam, pendekar ini membentak sambil menggerakkan kedua lengannya, didahului ledakan dan kilatan sinar yang mengejutkan Sai-mo-ong.
"Awas Pek-sian-ciang (Pukulan Dewa Putih)!"
Hek-bong Siang-lo-mo dan yang lainnya terkejut. Teriakan Sai-mo-ong terlambat bagi mereka; serangan tidak dapat ditarik lagi. Ketika lima benturan mengenai lengan pendekar ini, Tok-gan Sin-ni dan yang lain mencelat.
"Des-dess!"
Tok-gan Sin-ni dan kawan-kawannya menjerit. Pukulan Dewa Putih telah menangkis serangan mereka. Untungnya kekuatan itu terpecah karena harus menyambut lima serangan sekaligus. Namun, Tok-gan Sin-ni dan kawan-kawannya yang terlempar bergulingan dan kaget bukan main, mencoba melompat bangun tetapi roboh lagi karena masih tergetar oleh pukulan yang dahsyat itu. Dada terasa nyeri dan Ji-lo-mo melontarkan darah.
Kim-mou-eng sendiri yang juga terhuyung dan menahan sakit, segera meloncat melarikan diri selagi lima lawannya terduduk.
"Mo-ong, lain kali kita bertemu!"
Mo-ong terkejut. Ia bengong mengatur napas akibat guncangan Pek-sian-ciang. Ia melotot melihat lawan memutar tubuh. Namun, Shi Bung yang memberi aba-aba menyuruh pasukan melepas panah untuk menyambut pendekar yang melarikan diri itu. Mereka menghujani pendekar yang melompat tinggi ke tembok istana, yang menangkis dan memukul runtuh hujan panah tersebut.
Karena baru saja melepas tenaga dan gempuran lima orang lawan masih mengguncang bagian dalamnya, pendekar ini tidak dapat menyelamatkan temannya dari sebatang panah yang menyambar punggung Seng-piauw-pangcu yang dipanggul. Ketika Seng-piauw-pangcu mengeluh dan Bu-kongcu muncul melepas senjata rahasianya, pendekar ini geram membentak gusar.
"Orang she Bu, kau sungguh curang!"
Belasan jarum disampok runtuh; tiga batang malah terbang ke arah Bu-kongcu sendiri, membalik, dan menancap di tubuh pemuda itu. Ia disambut pekik Bu-kongcu yang roboh terjengkang. Setelah panah dan jarum runtuh di tanah, Kim-mou-eng telah melesat di luar tembok dan menghilang.
"Kejar!"
Mo-ong dan teman-temannya bangkit berdiri. Mereka sadar, terbelalak, dan marah mengejar Kim-mou-eng. Sementara para pengawal ribut, Pendekar Rambut Emas itu menyelinap ke sana-sini, dikejar Sai-mo-ong dan kawan-kawannya.