Chapter 105
Oleh karena lima iblis itu berpencar ke lima arah dan masing-masing mencari dengan penuh semangat, Kim-mou-eng akhirnya kebingungan mencari persembunyian. Meskipun dia masih berada di kompleks istana yang amat luas, semua lampu dipasang hingga tempat itu terang-benderang, tiada ubahnya siang hari. Karena dia juga belum begitu hafal medan dan para pengejar berteriak-teriak di semua penjuru, akhirnya pendekar ini tersesat di Istana Dingin.
Kim-mou-eng bingung. Sebenarnya, kalau dia tidak dibebani Sin-piauw Ang-lojin, tentu lebih mudah baginya untuk melarikan diri. Namun, karena kakek tinggi besar itu pingsan dan dia harus menyelamatkan temannya ini, Pendekar Rambut Emas menjadi gelisah. Beban yang diterimanya cukup berat, apalagi dia dikeroyok lima iblis seperti Sai-moong dan teman-temannya. Perhatiannya terpecah; di satu pihak dia harus menyelamatkan diri sendiri, sementara di pihak lain dia harus menyelamatkan ketua Seng-piauw-pang itu.
Persis saat dia tiba di istana ini dan celingukan ke sana ke mari, mendadak sebuah suara memanggilnya lembut, "Kim-twako!"
Kim-mou-eng terkejut. Dia melihat sesosok bayangan wanita muncul, terisak di tempat gelap, dan menggapainya perlahan. Sejenak sosok itu tak dapat dikenali karena tersembunyi di antara bayang-bayang pohon. Namun, ketika suara itu memanggilnya kembali dan wanita ini menampakkan diri, Kim-mou-eng tersentak hingga membelalakkan mata.
"Cao Cun!" Cao Cun, wanita yang gemetar itu, menangis. Dia memang Cao Cun, putri Bupati Wang yang kembali ke Istana Dingin setelah Kim-mou-eng meninggalkannya di Chi-cou. Tentu saja hal itu membuat Kim-mou-eng tertegun karena tidak menyangka Cao Cun ada di situ. Dulu, dia telah mengantar gadis itu kepada ayah ibunya, lalu pergi tanpa pamit karena mengira Cao Cun telah selamat dan berada dalam perlindungan orang tuanya. Sungguh tak terduga jika gadis itu kembali ke Istana Dingin.
Cao Cun menubruk pendekar ini dan menangis tersedu-sedu. "Kim-twako, ayo masuk. Aku telah mendengar keributan yang terjadi!"
Kim-mou-eng bengong. Dia tak menyangka dirinya akan memasuki kompleks Istana Dingin dalam usahanya menyelamatkan Seng-piauw-pangcu. Namun, Cao Cun yang menariknya dengan air mata bercucuran sudah berkata gemetar, "Ayo masuk, Twako. Aku telah menyiapkan sebuah tempat persembunyian untukmu!"
Kim-mou-eng sadar. Saat itu dia mendengar suara Hek-bong Siang-Io-mo dan teman-temannya. Dia melihat Cao Cun tersedu tapi berusaha menutup mulutnya, menangis tanpa suara dengan pundak berguncang-guncang. Ketika tanpa sadar dia mengikuti gadis ini masuk ke dalam, tiba-tiba suara Hek-bong Siang-lo-mo terdengar di belakang, "Dia ada di sini. Kim-mou-eng memasuki Istana Dingin!"
Kim-mou-eng terkesiap. Cao Cun telah mengajaknya ke kamar belakang, menyelinap, dan cepat mendorong pendekar itu ke sebuah kamar remang-remang. Ketika pendekar ini tertegun dan bersiap menghadapi bahaya, mendadak seorang gadis lain muncul di sebelah kiri.
"Cao Cun, cepat. Semuanya telah kupersiapkan!"
Kim-mou-eng tertegun untuk kedua kalinya. Dia terbelalak melihat gadis itu menarik mulut dan cemberut padanya, melengos, dan tidak mau memandang lagi. Gadis itu tidak lain adalah Wan Hoa, sahabat akrab Cao Cun yang dulu pernah ditolongnya.
Ketika pendekar ini bengong dan Cao Cun menariknya ke tengah ruangan, tiba-tiba putri Bupati Wang itu berbisik, "Letakkan di sini temanmu itu, Twako. Wan Hoa akan menjaganya dan kau masuklah!"
Bres! Kim-mou-eng terkejut karena kakinya amblas memasuki lubang sumur di bawah. Dia hampir berjungkir balik dan otomatis menyangga tutup lubang dengan gerakan refleks seorang ahli silat. Namun, setelah bertemu pandang dengan Cao Cun yang terisak dan memberi isyarat, tubuhnya meluncur ke bawah memasuki sebuah jebakan, sementara Sin-piauw Ang-lojin terlepas dari tangannya dan ditarik oleh Wan Hoa.
Ketika Kim-mou-eng menginjak lantai bawah dan sebuah lampu menyala otomatis, pendekar ini tertegun menyadari dirinya berada di sebuah ruang hangat di bawah tanah.
"Ah, apa yang mau kau lakukan, Cao Cun?" Kim-mou-eng terkesima, tidak mengerti namun percaya pada putri Bupati Wang itu. Dia berbisik seorang diri saat melihat sebuah pintu menyekat ruangan tersebut. Tentu saja dia membukanya dan cepat keluar. Namun, persis dia mendorong daun pintu itu, mendadak suara gesekan batu terdengar di sebelahnya, disusul munculnya Cao Cun dan Wan Hoa yang melorot dari sebuah ruang rahasia.
"Twako!"
"Cao Cun!"
Dua orang itu sama-sama bergerak. Cao Cun menubruk pendekar ini, tidak menahan lagi tangisnya yang berguncang di pundak pendekar itu. Demikian sedih dan pilu suaranya, membuat Pendekar Rambut Emas melelehkan air mata dan tanpa terasa memeluk gadis ini dengan penuh sayang dan rindu. Ketika Cao Cun mengguguk dan Pendekar Rambut Emas mengusap rambutnya, akhirnya Cao Cun gemetar melepaskan diri.
"Twako, apa yang telah kau lakukan kepadaku?" Pendekar Rambut Emas tak menjawab, hanya tertegun.
"Ayo, apa yang telah kau lakukan padaku, Twako. Kenapa kau meninggalkan aku dan membohongiku!" gadis itu tiba-tiba menjerit, setengah histeris dan mengguncang-guncang tubuh pendekar ini.
Ketika pendekar itu menunduk, Cao Cun mencengkeram lengan pendekar ini. "Twako, kau kejam. Kau menipu. Kau tak berperasaan!"
Kim-mou-eng menghela napas. Dia terpukul oleh semua teguran itu dan harus mengakui bahwa dia telah menipu Cao Cun dengan meninggalkannya di Chi-cou. Perbuatan yang ternyata sia-sia karena Cao Cun kembali lagi ke Istana Dingin, mungkin ditangkap Mao-taijin dan dipaksa oleh pembesar itu. Bayangan yang tiba-tiba membuat pendekar ini marah dan mengangkat kepalanya.
Namun, ketika Cao Cun memukul-mukul dadanya, akhirnya pendekar ini menangkap lengan gadis itu. "Cun-moi, maafkan aku. Tak kusangka kalau Mao-taijin kembali memaksamu ke neraka ini. Aku akan menghajar menteri durjana itu. Aku akan..."
"Tidak, tidak! Aku tak dipaksa siapapun kembali ke tempat ini, Twako. Aku datang karena kemauanku sendiri. Istana Dingin jauh lebih baik dibanding rumah orang tuaku!" Cao Cun menangis, kecewa sekali memandang pujaannya.
Ketika dua mata beradu dan Kim-mou-eng tergetar, tiba-tiba pendekar ini memejamkan mata. Dia tak kuat beradu dengan bola mata yang begitu tajam menusuk, begitu pedih.
"Cun-moi, maafkan aku. Aku mengakui kesalahanku, tapi... tapi mana temanku itu? Mana Sin-piauw Ang-lojin?" Kim-mou-eng teringat temannya dan mencoba mengalihkan perhatian untuk mengusir kenangan mereka berdua.
Cao Cun yang mengguguk menarik lengannya, tiba-tiba menutupi muka. "Temanmu dibawa Wan Hoa, Twako. Kau tanyalah dia dan jangan kepadaku."
Wan Hoa maju selangkah, sikapnya sengit. "Piauw-pang itu tewas dengan luka-luka parah. Sebaiknya kau urus saja sahabatku Cao Cun ini, orang yang masih hidup!"
Kim-mou-eng tertegun. "Dia tewas?"
"Ya, kau tak percaya?" Wan Hoa membalikkan tubuh memasuki lorong bawah tanah dan kembali membawa mayat Sin-piauw Ang-lojin yang telah menjadi dingin. "Nah, inilah, Kim-mou-eng. Kami tak pernah bohong seperti dirimu!"
Kim-mou-eng terpukul. Dia terkejut melihat ketua Seng-piauw-pang itu benar-benar tewas. Tiga batang panah menancap, sementara beberapa jarum Bu-kongcu juga menembus dagingnya, bengkak, dan membusuk. Namun, Kim-mou-eng bergerak cepat menotok punggung kakek tinggi besar ini.
"Wan Hoa, tolong sebentar. Aku hendak menghidupkan mayat!"
Wan Hoa terkejut. "Apa? Kau..."
"Ya, aku hendak mempergunakan ilmuku, Wan Hoa. Tolong sandarkan kakek ini dan pegang ibu jari kakinya!"
Kim-mou-eng bergerak cepat, menekan dan menotok jalan darah di punggung, membuat Wan Hoa terbelalak ngeri namun menuruti perintah itu. Baru kali ini dia mendengar seseorang hendak menghidupkan mayat. Namun, ketika Pendekar Rambut Emas memijat dan mengurut pergelangan nadi tangan, tiba-tiba kakek yang sudah tewas itu hidup, mengorok, dan membuka matanya!
"Ih!" Wan Hoa hampir melepaskan pegangan di ibu jari kaki, melonjak, dan hampir menjerit melihat Kim-mou-eng benar-benar mampu menghidupkan orang mati.
Kim-mou-eng yang gugup tak memperhatikan gadis itu; dia memencet pergelangan tangan kakek ini dan meniup ubun-ubunnya. "Lojin, adakah sesuatu yang harus kukerjakan? Adakah yang dapat kutolong untuk menutup penasaranmu?"
Aneh, kakek ini mengangguk meski masih mengorok. "Ya, aku... aku... sampaikan peringatan pada pangeran mahkota, Taihiap. Balaskan sakit hatiku pada Pangeran Muda dan orang-orangnya itu..."
"Tapi pangeran mahkota tak mempercayai kita, Lojin. Mana mungkin melakukan itu? Kita tak punya bukti!"
"Tidak," kakek ini tiba-tiba menggeliat. "Cari muridku bernama Sam-tiat, Taihiap. Dia mungkin dapat menolongmu dan..."
Sin-piauw Ang-lojin roboh, tak dapat meneruskan kata-katanya. Nadi di pergelangan tangannya tidak berdenyut lagi dan tubuh itu kembali dingin. Kim-mou-eng tak dapat memperpanjang lagi "umur" mayat itu.
Kim-mou-eng meletakkan mayat ini dan berkata pada Wan Hoa, "Lepaskan, aku sudah mendapat apa yang kuingini, Wan Hoa. Terima kasih untuk bantuanmu."
Wan Hoa gemetar. Dia pucat melihat mayat dapat hidup sejenak, bicara, dan mengorok seperti itu. Merasa tubuh ketua Seng-piauw-pang itu dingin kembali dan tidak bernapas, Wan Hoa melepaskan ibu jari mayat ini dan mundur menjauh.
"Kim-mou-eng, ilmu siluman apa yang kau pergunakan itu?"
Kim-mou-eng tersenyum pahit. "Bukan ilmu siluman, Wan Hoa. Tapi kau tak akan mengerti meskipun kujelaskan."
"Ya, dan aku juga tak mengerti akan sikapmu terhadap Cao Cun."