Chapter 106
"Kau sungguh laki-laki aneh yang sukar dimengerti!" Pendekar itu tersipu.
Sekarang Wan Hoa menyudutkannya sedemikian rupa, sementara Cao Cun juga sudah memutar tubuhnya menghadapinya. Ketika dua gadis itu memandang penuh tuntutan dan Pendekar Rambut Emas menarik napas, akhirnya pendekar ini bicara dengan suara lirih, "Cao Cun, dan kau Wan Hoa, sebelumnya kuulang kembali permintaan maafku kepada kalian. Aku tak bermaksud menyakiti kalian. Apa yang kulakukan kupikir demi kebaikan kalian juga. Kalau tindak tandukku salah, sungguh ini di luar dugaanku. Sekarang kita bicara jujur, kenapa kalian ada di sini dan kembali ke Istana Dingin? Betulkah bukan karena paksaan Mao-taijin dan orang-orangnya?"
Cao Cun tak menjawab, air matanya bercucuran. Wan Hoa yang marah memandang pendekar itu, lalu tiba-tiba maju dan menjawab dengan suara berapi-api, "Kim-mou-eng, seharusnya kau tahu sendiri jawabannya. Cao Cun mencintaimu, kau berjanji melindunginya dan tak akan meninggalkannya. Tapi kau dusta, kau menipu dirinya dan juga menipu aku. Kau tinggalkan kami, kau biarkan hati sahabatku terluka dan merana. Apakah kau kira semuanya ini membuat Cao Cun senang? Meskipun kau kembalikan dia ke Chi-cou dan bertemu kembali dengan ayah ibunya, tapi Cao Cun lebih suka dekat denganmu daripada keluarganya, Kim-mou-eng. Karena dia sakit hati kau tipu, maka Cao Cun memutuskan untuk tinggal seumur hidup di Istana Dingin, tak usah jumpa denganmu, dan mati di sini! Kan jelas?"
"Dan kau?" tanya Kim-mou-eng dengan wajah pucat.
"Aku menemani sahabatku, Kim-mou-eng. Aku tak mau membiarkan Cao Cun menderita di sini mengenangmu, si pembohong. Kalau dia ingin tinggal di sini sampai nenek-nenek, biarlah aku juga mendampinginya sampai menjadi nenek pula. Kami berdua tak mau keluar sampai mati. Kecuali kau mengambilnya sebagai istri sesuai janjimu dulu yang menyatakan cinta pada Cao Cun!"
"Ah...!" Kim-mou-eng menggigil, seketika memejamkan mata terkena hantaman kata-kata itu. Dia teringat kejadian saat menolong Cao Cun dan terpaksa mengatakan mencintai gadis itu agar Cao Cun mau diajak pergi. Segala akal dikerahkan karena ia harus memenuhi janji terhadap ayah gadis ini di Chi-cou, bahwa ia pasti berhasil membawa Cao Cun pulang. Padahal Cao Cun tak mau jika tidak dicintai, dan lebih memilih menderita di Istana Dingin jika Kim-mou-eng tak mau selalu mendampinginya. Karena keadaan mendesak, Kim-mou-eng berbohong menyatakan cintanya agar berhasil membawa gadis itu kembali. Namun, ia malah pergi tanpa pamit, membohongi Cao Cun, dan mengingkari janji.
Ketika Wan Hoa menyemprotnya habis-habisan, Kim-mou-eng tak dapat membantah. Ia menggigil dan menitikkan dua butir air mata dengan wajah pucat yang berganti kemerahan. "Wan Hoa, maafkan aku. Aku tak menyangka kalau semuanya berakhir begini."
"Hm, bukan kepadaku kau minta maaf, Kim-mou-eng. Kalau kau hendak minta maaf, mintalah pada Cao Cun. Aku tak ada hubungan dengan persoalan ini. Ini persoalanmu dengan Cao Cun!"
"Baik, aku minta maaf padamu, Cun-moi. Kau maafkanlah aku dan..."
"Nanti dulu," Wan Hoa memotong. "Orang yang minta maaf tak akan mengulang kesalahannya, Kim-mou-eng. Kalau kau tetap meninggalkan Cao Cun, berarti permintaan maafmu kosong belaka. Kau pikir dulu sebelum menyebutkan itu!"
Kim-mou-eng pucat. "Maksudmu..."
"Ya," Wan Hoa menukas cepat. "Kau tak boleh meninggalkan Cao Cun lagi kalau kau mengakui kesalahanmu. Tapi kalau kau meninggalkannya lagi, berarti sepak terjangmu kau anggap benar. Bohongmu itu tidak salah dan karena itu boleh diteruskan. Kalau begini yang kau kehendaki, maka tak perlu minta maaf dan pergi sajalah tinggalkan dia!"
Kim-mou-eng terhuyung. "Wan Hoa, kata-katamu pedas sekali. Kau..."
"Aku mengatakan sesuai apa yang kulihat, Kim-mou-eng. Pedas atau tidak, itu adalah penerimaanmu belaka. Aku membela sahabatku; biar kau bunuh aku sekalipun, aku tetap membela Cao Cun...!"
Wan Hoa tiba-tiba menangis. Gadis itu telah melepaskan semua kemarahannya, mengguguk, lalu memutar tubuh dan meninggalkan mereka. Pembelaannya sungguh menikam perasaan. Ketika Kim-mou-eng masih bengong dan Wan Hoa lenyap di lorong bawah tanah, Cao Cun pun terisak dan beranjak pergi.
"Cao Cun...!" Cao Cun tak menoleh. Gadis itu dilanda duka; antara girang dan pilu, antara rindu dan marah. Girang karena Kim-mou-eng datang, tapi malu karena kata-kata Wan Hoa yang seolah memaksa pendekar itu untuk mencintainya. Ia tersedu-sedu menyusul Wan Hoa.
Pendekar Rambut Emas tersadar, lalu menyambar pundak gadis itu. "Cao Cun, jangan pergi...!"
"Tidak," Cao Cun tersentak. "Tinggalkan kami, Twako. Kau pergilah dan selamatkan dirimu!"
"Ah, tidak. Aku ingin bicara, Cun-moi. Dengarkan dan lihatlah aku!" Kim-mou-eng memutar tubuh gadis itu dan menahannya. Saat Cao Cun roboh dalam pelukannya, Kim-mou-eng gemetar dan bicara dengan suara tersendat, "Cun-moi, aku menyesal akan apa yang telah kuperbuat. Aku tak mengira kalau hatimu demikian keras. Baiklah, aku mengaku salah. Tapi tentang itu... tentang cinta... hm, bagaimana aku harus bicara, Cun-moi? Aku memang sayang padamu. Aku suka padamu, tapi... terus terang aku tak tahu apakah aku mencintaimu atau tidak...!"
"Kalau begitu tinggalkan aku, Twako. Lepaskan aku dan biarkan aku di sini!"
"Tidak, tidak... aku juga tak menghendaki kau tinggal di neraka ini, Cun-moi. Aku, ah... aku bingung...!" Kim-mou-eng memejamkan mata melihat gadis itu berguncang dalam pelukannya.
Ketika Cao Cun menumpahkan semua perasaannya dan merenggangkan diri, ia memandang Kim-mou-eng dengan mata basah. "Kim-twako, kalau begitu bagaimana jika diputuskan sekarang saja?"
"Maksudmu?"
"Aku tak ingin memaksamu mencintai diriku, Twako. Kalau kau tidak mencintaiku, biarlah kau tinggalkan diriku di sini. Tapi kalau kau mencintaiku, bawalah aku pergi. Aku tak akan memaksamu."
Kim-mou-eng menggigil. "Itulah yang membuatku bingung, Cun-moi. Aku tak tahu apakah aku mencintaimu atau tidak."
"Kalau begitu tinggalkan aku, kita lihat perasaanmu itu."
"Tidak, aku juga tak dapat membiarkanmu di sini, Cun-moi. Kau harus bebas dan kembali bersama ayah ibumu."
"Kalau begitu kau mencintaiku, Twako. Kau memperhatikan aku dan tidak menghendaki aku menderita!"
"Aku tak tahu, aku..."
"Begini saja, Twako," Cao Cun terisak. "Kalau kau ingin membuktikan cinta atau tidak, sebaiknya lakukan sesuatu untuk mengujinya. Lakukan sesuatu kepadaku..."
"Apa yang harus kulakukan?"
"Apa saja, Twako. Apa saja yang kau suka!"
"Umpamanya?"
"Umpamanya mencium bibirku!"
Kim-mou-eng tersentak bagai disengat ular berbisa. Ia melihat Cao Cun menangis dengan muka merah padam, bibir digigit kuat-kuat karena menahan malu. Kim-mou-eng yang tergetar mendekap kepala gadis itu. "Cun-moi, apa... apa katamu? Kau menyuruhku mencium?"
Cao Cun tak menjawab, ia tersedu-sedu. Kim-mou-eng pun kalut; ia memang merasa suka dan sayang, bahkan mengagumi Cao Cun, namun bayangan Salima tiba-tiba muncul mengganggu benaknya. Ia mendadak mendorong mundur Cao Cun.
Cao Cun terpukul. Ia menganggap pendekar itu tak mencintainya karena tubuh yang begitu dekat tiba-tiba dilepas. Begitu Kim-mou-eng terbata-bata, gadis itu memutar tubuh dan menutupi muka. "Kim-twako, kau pergilah, tinggalkan aku...!"
Kim-mou-eng terbelalak. Cao Cun meninggalkannya dengan rambut panjang yang bergoyang, diiringi tangis yang memilukan. Padahal, bukan maksud pendekar itu untuk menolak, melainkan karena bayangan Sumoi-nya muncul di antara mereka.