Chapter 107
Melihat Cao Cun menangis dan hendak melompat pergi, tiba-tiba pendekar ini berkelebat menyambar serta menahan gadis itu.
"Cun-moi, tunggu. Aku belum selesai bicara!"
Cao Cun terputar. Untuk kedua kalinya ia tertahan; mustahil melepaskan diri dari cengkeraman Kim-mou-eng yang begitu kuat, namun lembut. Ketika ia mengguguk dan mencoba melepaskan diri, Kim-mou-eng berkata dengan suara gemetar, "Nanti dulu, dengarkan aku, Cun-moi. Aku hendak melanjutkan kata-kataku. Aku ingin membuktikannya. Kau sabarlah sebentar!"
Cao Cun mengguncang-guncang pundaknya. "Tidak, tidak... aku mengerti, Twako. Kau hendak bicara tentang sumoimu dan menghibur aku. Aku tak mau, aku mengerti apa yang akan kau katakan."
"Ah, nanti dulu, Cun-moi. Aku bukan bicara tentang sumoiku, melainkan tentang kita berdua. Aku ingin mengetahui apakah aku mencintaimu atau tidak!"
"Maksudmu?"
"Kau diamlah, Cun-moi. Berilah kesempatan pada hatiku untuk menjawabnya sendiri. Kau minta dicium, bukan? Nah, diamlah. Aku akan membuktikannya dan melihat perasaanku sendiri. Aku juga ingin menentukan apakah aku mencintaimu atau tidak!"
Cao Cun menggigil. "Kau... kau mau menciumku, Twako?"
"Aku tak tahu, Cun-moi. Tapi berilah aku kesempatan untuk melihat perasaanku sendiri. Aku juga ingin mengujinya!"
"Ooh...!" Cao Cun tiba-tiba lemas. Pucat dan merah berganti-ganti di pelukan pendekar itu hingga ia tidak dapat menahan kakinya dan roboh dalam dekapan sang Pendekar Rambut Emas.
Ketika Pendekar Rambut Emas juga menggigil dan memeluk gadis itu, Kim-mou-eng berbisik, "Cun-moi, tengadahkan mukamu..."
Cao Cun menengadahkan mukanya. Sebenarnya ia berat melakukan itu, namun entah mengapa ia menurut tanpa diperintah sementara tubuhnya semakin lemas, lunglai seolah kehabisan tenaga. Matanya terpejam; ketakutan dan berbagai perasaan mengaduk-aduk hatinya. Pendekar Rambut Emas pun gemetar, ia memejamkan mata dan menelan ludah berulang-ulang, memaksa diri untuk menuntut perasaannya sendiri. Sepenuh hati dan kekuatan ia ingin mengetahui apakah ia mencintai Cao Cun atau tidak.
Ketika keduanya sama-sama menggigil dan Kim-mou-eng diguncang tangis, pendekar ini mendadak membuka mata dan memandang wajah yang tengadah itu. Kim-mou-eng tergetar. Ia melihat wajah yang pucat dan merah berubah-ubah, membentuk warna aneh yang demikian mempesona, mengharukan, dan lembut. Saat wajah yang terpejam itu gemetar dan bibir yang digigitnya bergetar seolah menanti sesuatu, tiba-tiba sebuah perasaan nikmat menyelinap di hati Kim-mou-eng, menggetarkan denyut nadinya dan menimbulkan rasa haru yang luar biasa. Rasa haru itu cenderung menjadi rasa sayang, dan rasa sayang pun berubah menjadi rasa cinta.
Tanpa disadari, Kim-mou-eng telah mencium bibir yang menggigil itu dalam sebuah ciuman yang lembut dan mesra.
"Cun-moi, aku mencintaimu!"
"Oooh...!" Cao Cun menggeliat, tersedak, dan hampir berteriak girang oleh pengakuan itu. Ia begitu gembira hingga ia terguling, roboh, dan seketika merasakan ciuman hangat sang pendekar pujaannya. Ciuman mesra yang bertubi-tubi. Ketika gadis itu menangis dan menerima ciuman dengan penuh bahagia, mendadak Cao Cun yang diliputi kegembiraan besar setelah menanti ketegangan itu roboh pingsan di pelukan Pendekar Rambut Emas.
"Cun-moi!" Kim-mou-eng sadar, terkejut, dan cepat menangkap pinggang gadis itu yang terkulai lemas dalam pelukannya. Ketika ia melihat bahwa gadis itu hanya pingsan akibat ketegangan yang memuncak, pendekar ini menarik napas, meredakan guncangannya, lalu melepaskan ciuman itu dan merebahkan Cao Cun di lantai.
Wan Hoa muncul menghampiri sahabatnya, dan Kim-mou-eng dengan wajah merah padam memberi penjelasan, "Dia pingsan, Wan Hoa. Tak apa-apa, sebentar lagi tentu sadar."
"Ya, aku tahu," Wan Hoa lega dan mengangguk. Ia melihat semuanya dari dalam. "Dan aku girang kau memberikan cintamu, Kim-mou-eng. Semoga Cao Cun hidup bahagia di sampingmu!"
Kim-mou-eng tersipu. Ia mendapat lirikan penuh arti dari Wan Hoa—sebuah senyum yang mengembang disertai isak gembira. Ia sadar Wan Hoa melihat dirinya mencium Cao Cun dan menyatakan cinta. Kali ini bukan pura-pura, karena perasaan cinta memang menyelinap di hatinya, membuatnya tak sadar mencium putri Wang-taijin itu.
Setelah Kim-mou-eng melakukan totokan dan urutan, tak lama kemudian Cao Cun membuka matanya. "Kim-twako, di manakah aku ini? Di surga?"
Pendekar Rambut Emas kembali tersipu. "Kau di tempat semula, Cun-moi. Kau pingsan dan kini baru saja sadar."
"Ooh...!" Cao Cun teringat, bangkit duduk, dan tiba-tiba merangkul pendekar ini. Ia tidak tahu Wan Hoa ada di belakangnya karena sahabatnya itu berdiri mematung, diam tak bergerak, memandang semuanya dengan penuh haru dan air mata berlinang.
Ketika Kim-mou-eng menyambut dan memeluknya mesra, Cao Cun berbisik, "Aku ingin kau cium lagi, Koko. Aku ingin merasakan hangatnya cintamu!"
"Hush!" Kim-mou-eng jengah mendengar Wan Hoa terkikik. Cao Cun baru menyadari keberadaan sahabatnya di sana. Saat Wan Hoa tertawa dan memutar tubuh untuk meninggalkan mereka, Cao Cun yang tersipu jengah tiba-tiba mengejar.
"Wan Hoa, kau nakal! Kau tidak memberi tahu kehadiranmu!"
"Hi-hik, aku sudah lama di situ, Cao Cun. Kaulah yang dimabuk bahagia dan tidak tahu!" Wan Hoa tertawa, dikejar, dan akhirnya dicubit temannya.
Ketika gadis itu menjerit dan Cao Cun memukul-mukul lengannya, Wan Hoa berteriak pada Kim-mou-eng, "Kim-koko, aih... Kim-taihiap, tolong! Kekasihmu menggigit!"
Cao Cun dan Kim-mou-eng tersipu. Mereka mendengar Wan Hoa sengaja mengubah panggilan, menirukan Cao Cun tadi yang menyebut Pendekar Rambut Emas dengan "Koko" (kanda), sebutan yang begitu mesra dan lembut. Cao Cun yang gemas akhirnya mencubit temannya keras-keras.
"Aduh, ampun Cao Cun, tobat!" Wan Hoa berteriak, tertawa, namun berhasil melepaskan diri dari cubitan Cao Cun, melarikan diri, dan lenyap di lorong bawah tanah.
Ketika Cao Cun hendak mengejar namun Kim-mou-eng menangkapnya, akhirnya gadis itu menunduk dengan perasaan jengah. "Cun-moi, sekarang persoalan kita tuntas. Aku hendak bicara padamu."
Cao Cun mengangkat mukanya, menggigil bahagia. "Kau hendak membawaku pergi?"
Pendekar Rambut Emas mengerutkan kening. "Tidak, justru meninggalkanmu sementara di sini, Moi-moi. Aku harus pergi untuk menyelesaikan persoalan-persoalanku yang menumpuk!"
"Ah, kau mau meninggalkan aku?"
"Demi tugas yang belum kuselesaikan, Cun-moi. Aku masih harus mencari orang-orang yang memiliki persoalan denganku."
"Sumoimu itu?"
"Bukan dia saja, Moi-moi. Tapi juga murid Sengpiauw-pangcu ini dan suheng serta pamanku. Aku belum menyelesaikan pekerjaanku itu!"
Cao Cun tiba-tiba menangis. "Jadi kau mempermainkan aku lagi, Koko? Kau hendak membuatku merana lagi?"
"Dengarlah," Pendekar Rambut Emas murung. "Aku tidak meninggalkanmu, Cun-moi, melainkan menitipkan dirimu sementara sampai tugasku selesai. Aku akan membawamu kelak kalau pekerjaanku rampung."
"Tapi itu berarti meninggalkan aku lagi, Koko. Dan aku takut kau tak akan kembali!"
"Hm, kenapa begitu?"
"Tentu saja, bukankah kau akan mencari sumoimu yang keras itu, Koko? Kalian tentu bertengkar, bermusuhan, dan sumoimu itu mungkin saja membunuhmu. Atau mungkin membunuhku kalau tahu kita... kita..." Cao Cun menangis tanpa meneruskan kata-katanya. Ia takut Salima mengetahui cinta mereka dan mencelakainya.
Kim-mou-eng menarik napas panjang. "Cun-moi, apa yang kau khawatirkan sebenarnya sudah terlambat. Tanpa mengetahui hubungan kita pun, dia telah memusuhi diriku. Sumoi dan suhengku itu memusuhiku mati-matian; mereka hendak membunuhku. Aku akan mencari mereka untuk meminta keterangan!"
"Dan kau yakin dapat mengatasi mereka, Koko? Kau tak khawatir sumoi dan suhengmu itu mencelakaimu?"
"Aku tak khawatir selama aku di jalan kebenaran, Moi-moi. Tapi kalau mereka hendak membunuhku, tentu saja aku tak tinggal diam. Justru aku penasaran oleh sikap mereka ini!"
"Apa sebab mereka memusuhimu? Semata-mata karena kau meninggalkan suku bangsamu?"
"Aku kurang jelas, Moi-moi. Tapi mereka menyebutku sebagai pengkhianat. Aku penasaran oleh tuduhan ini!"
Cao Cun menggigil terbayang Salima, gadis Tar-tar yang tinggi semampai, sumoi kekasihnya yang memiliki kepandaian tinggi. Gadis yang cantik dan agung seperti seorang ratu, namun memiliki kesan sombong serta angkuh. Meski demikian, menyadari tak mungkin ia dapat menahan Kim-mou-eng, akhirnya Cao Cun melepaskan diri dengan bibir gemetar, sayu memandang kekasihnya itu.
"Baiklah, kau pergilah, Koko. Kunanti kembalimu dengan sabar. Aku tahu keadaan diriku, aku tahu kelemahanku yang tiada guna. Tapi ingat, kalau kau tak kembali dan menipuku, jangan kau ke sini lagi untuk selamanya!"
Kim-mou-eng tergetar. Tiba-tiba ia ditarik ke alam sadar akan kenyataan bahwa putri Wang-taijin ini hanyalah seorang gadis lemah biasa, jauh dibanding dengan sumoinya, Salima si singa betina yang gagah perkasa, keras, dan ganas.