Chapter 108
Walaupun pahit membayangkan semuanya ini, tiba-tiba pendekar itu menggenggam lengan Cao Cun, merasa dia telah terlanjur maju satu langkah.
"Cun-moi, apa yang kau pikir sebaiknya tidak perlu menggores perasaanmu sendiri. Aku mencintaimu, aku telah membuktikan isi hatiku sendiri dan aku telah menciummu. Aku tidak tahu bagaimana sikap sumoiku kelak, tapi aku berharap dapat menyelesaikan semuanya ini dengan baik. Kau mengerti perasaanku?"
"Aku tahu, tapi aku khawatir kau roboh di tangan sumoimu, Koko. Aku takut kau akan meninggalkan aku."
"Ah, tidak. Aku dapat mengatasi sumoiku itu, moimoi. Tapi..."
"Tidak, bukan itu yang kumaksud. Aku khawatir kau jatuh cinta pula pada sumoimu, Koko. Betapapun laki-laki lemah menghadapi wanita. Firasatku mengatakan itu!"
Kim-mou-eng terkejut. "Kau maksudkan aku laki-laki sinting?"
"Sudahlah," Cao Cun menangis. "Kau pergilah, Koko. Tapi ingat pesanku tadi, kalau kau melupakan aku dan roboh di tangan sumoimu itu, sebaiknya tidak perlu kau kembali ke sini dan biarkan aku sendiri!"
Kim-mou-eng tergetar. Cao Cun menubruknya, untuk terakhir kali menyusupkan kepalanya ke dada pria itu, begitu penuh ketakutan dan kegelisahan seolah anak ayam yang khawatir kehilangan induknya. Ketika wajah yang penuh air mata itu diangkat dan bibir yang gemetar itu setengah terbuka, tiba-tiba Cao Cun berbisik, "Koko, ciumlah aku kembali...!"
Kim-mou-eng tersentak. Dia melihat Cao Cun menengadahkan wajah dengan mata terpejam, meminta dicium sementara bibir itu juga menggigil. Bibir yang merah dan basah, bibir yang lembut. Kim-mou-eng, yang tentu saja tidak tahan diminta begini, tiba-tiba menunduk dan mencium bibir itu.
"Cun-moi...!" Cao Cun terisak.
Kim-mou-eng telah menciumnya, melumatnya, dan mendekapnya begitu erat. Tubuh mereka seolah dialiri listrik hingga masing-masing sama-sama bertegangan tinggi, melekat tak mau berpisah. Cao Cun tentu saja membalas ciuman kekasihnya itu, tak kalah hangat, saling lumat dan merasakan kebahagiaan luar biasa. Begitu nikmat dan membuat mereka terbuai. Raga seakan melayang di awang-awang. Ketika keduanya terengah dan Cao Cun melepaskan diri, akhirnya gadis ini mundur dengan kaki menggigil, semangat seakan terbang entah ke mana.
"Koko, terima kasih. Sekarang kau pergilah...!"
Kim-mou-eng gemetar. Untuk pertama kali dia merasa limbung oleh buaian asmara yang demikian memabukkan. Begitu berkesan dan membuat dia lupa diri, hampir saja dia menangkap dan kembali menyambar Cao Cun. Namun, melihat gadis itu menjauh dan menangis dengan air mata bercucuran, akhirnya pemuda ini teringat keadaannya dan mengangguk.
"Baiklah, sampai jumpa, Moi-moi. Kau jagalah dirimu baik-baik dan hati-hati...!"
Cao Cun menggigit bibir. Dia juga mengangguk, memberi tahu bahwa di ujung lorong pendekar itu dapat keluar, sambil memesan agar pendekar itu berhati-hati. Ketika Kim-mou-eng berkelebat dan Cao Cun mendelong, akhirnya Pendekar Rambut Emas telah meninggalkan putri Bupati Wang ini, meninggalkan kenangan yang luar biasa indah bagi Cao Cun.
Masing-masing menyadari keadaan saat itu. Cao Cun tidak mungkin dibawa karena pendekar ini harus menyelesaikan tugas-tugasnya terlebih dahulu. Begitu Kim-mou-eng lenyap dan Cao Cun menangis tersedu, tiba-tiba gadis ini memutar tubuhnya memasuki lorong bawah tanah.
Kim-mou-eng terus bergerak ke depan. Pendekar ini memang harus keluar dari tempat persembunyian itu; tidak mungkin bersembunyi terus. Dia membawa mayat Sinpiauw Ang-lojin, tak lupa menyambarnya karena dia memang harus merawat jenazah itu dan menguburnya di luar. Namun, persis saat dia meloncat keluar dari lorong bawah tanah, tiba-tiba lima orang sesat itu muncul.
"Ha-ha, kau keluar juga, Kim-mou-eng? Temanmu telah mampus?"
Kim-mou-eng terkejut. Dia telah melalui jalan berliku yang cukup panjang di lorong bawah tanah tadi sebelum keluar. Tentu saja dia terperanjat melihat lima lawannya masih menunggunya, tidak mau melepaskannya, dan kini hari telah berganti pagi. Jadi, semalam dia kucing-kucingan dan meninggalkan lawan-lawannya ini.
Namun, dia tidak takut. Dengan marah, dia meletakkan mayat temannya. Dia justru geram pada Sai-moong dan empat temannya ini, lalu tiba-tiba mencabut sebatang pit (alat melukis) yang jarang dipergunakan.
"Mo-ong, kau masih juga mengejarku dan tidak mau berhenti? Kalian mau mengeroyok untuk membunuh aku?"
"Ha-ha, tentu tidak, Kim-mou-eng. Kalau kau menyerahkan diri baik-baik dan ikut kami!"
"Ya, dan kau minta maaf pada Siauw-ong-ya, Kim-mou-eng. Setelah itu jalan-jalan bersamaku dan kita bersahabat!" Tok-gan Sin-ni terkekeh sambil melecutkan ujung rambutnya yang berbunyi nyaring. Diam-diam dia kagum dan penasaran pada Pendekar Rambut Emas ini. Sungguh lawan yang amat lihai.
Namun, Pendekar Rambut Emas yang marah memandangnya dan tiba-tiba membentak, "Sin-ni, kau wanita tidak tahu malu. Aku tidak akan minta maaf dan bersahabat denganmu. Kalian iblis-iblis yang licik!"
"Kalau begitu, terima kematianmu, Kim-mou-eng. Kami juga tahu kau bakal keras kepala... Wutt!"
Coa-ong Tok-kwi tiba-tiba menyambar, berkelebat menggerakkan tongkatnya yang tinggal separuh. Ujungnya hancur dipukul pendekar ini, disusul Hek-bong Siang-lo-mo yang juga membentak marah, bergerak melakukan pukulan sinkang yang menderu menghantam pendekar itu. Ketika Mo-ong juga menyerang dan Sin-ni ikut menggerakkan rambut menerjang, akhirnya Pendekar Rambut Emas menangkis dan berkelebat memutar pitnya.
"Trak-trakk...!"
Lima senjata bertemu pit di tangan Kim-mou-eng, terpental dan kini menyambar lagi lebih hebat. Pemiliknya marah karena pit di tangan Kim-mou-eng yang kecil itu mampu menolak senjata mereka, hampir saja berbalik dan menghantam muka sendiri, membuat lima iblis itu gusar dan tentu saja memperhebat serangan.
Ketika mereka berlima kembali menyerang dan Kim-mou-eng dikeroyok di tengah, akhirnya pendekar ini berkelebatan menyambut, menangkis, serta menggerakkan batang pitnya yang ampuh itu.
"Coa-ong, kalian memang iblis-iblis busuk!"
Coa-ong dan teman-temannya tidak menjawab. Mereka gencar menyerang pendekar itu, membentak, dan mengerahkan segenap kekuatan yang ada. Tongkat dan lengan menyambar-nyambar bergantian melepaskan pukulan yang membentur senjata di tangan Kim-mou-eng. Namun, ketika Kim-mou-eng menangkis dan semua pukulan terpental, akhirnya Raja Ular ini mencabut sulingnya dan menyuruh teman-temannya yang lain memperhebat serangan.
"Mo-ong, Lo-mo, serang saja dari belakang. Biar aku dan Sin-ni menyerangnya dari depan...!"
Sai-mo-ong mengangguk. Kakek iblis ini juga mulai mencabut kipas bulu singanya, mengebut dan menampar, berkelebat ke belakang menyerang pendekar itu seperti permintaan temannya. Tok-gan Sin-ni yang juga terkekeh melecutkan rambutnya di belakang Pendekar Rambut Emas, akhirnya berseru dengan suara penuh kagum, "Coa-ong, keluarkan saja senjata rahasia kalian. Sibukkan dia dengan jarum-jarum beracun!"
Coa-ong mengangguk. Dia marah dan penasaran sekali oleh kelihaian lawannya ini; tongkatnya berkali-kali terpental. Namun, setelah mereka memecah diri dan tiga lawan menyerang di belakang, ditambah Coa-ong mencabut sulingnya, akhirnya Pendekar Rambut Emas terdesak dan mulai mengeluh. Betapapun, dia tidak sanggup menghadapi lima pentolan iblis itu secara berbarengan, apalagi masing-masing memiliki keistimewaan sendiri-sendiri, meskipun Tiat-luikang berhasil menahan semua serangan dengan baik.
Ketika Mo-ong melepaskan pelor-pelor berbahaya itu di balik kebutan kipas, akhirnya Kim-mou-eng tidak dapat menghindarkan diri dari beberapa pukulan yang mulai mendarat di tubuhnya.
"Des-dess!"
Dua pukulan Coa-ong dan Hek-bong Siang-lo-mo mulai menimpa pendekar ini. Kim-mou-eng terhuyung, terdorong, dan menerima lagi lecutan rambut Tok-gan Sin-ni yang menjeletar nyaring. Terasa pedih di kulitnya namun tidak terluka, karena pendekar ini telah melindungi diri dengan kekuatan sinkangnya. Hal itu membuat lawan gemas dan semakin marah.
Ketika bertubi-tubi pukulan dan gebukan mulai menggoyahkan pendekar ini namun tetap saja pendekar itu tidak roboh, akhirnya Hek-bong Siang-lo-mo berteriak melepaskan pukulannya.
"Sin-ni, lepaskan jarum-jarum rahasiamu itu...!"
Tok-gan Sin-ni terkekeh. "Sabar dulu, Lo-mo. Biar Mo-ong dan Coa-ong saja yang melepaskan senjata-senjata rahasianya. Aku masih sayang pada kulitnya yang halus."
"Tapi kita harus bunuh pendekar ini, Sin-ni. Tidak perlu menunda atau kasihan padanya!"
Tok-gan Sin-ni tetap tertawa. Sebenarnya, dia merasa sayang kalau membunuh Kim-mou-eng. Dia tidak melepas jarum karena khawatir Pendekar Rambut Emas binasa jika terlalu banyak dihamburi senjata rahasia. Betapapun, dia kagum dan jatuh hati pada pendekar yang hebat, murid Bu-beng Sian-su ini.
Namun, ketika kawan-kawannya mulai berteriak dan Pendekar Rambut Emas tidak roboh juga meskipun terhuyung dan terpental sana-sini, akhirnya wanita ini menjadi tidak enak juga pada teman-temannya.
"Baiklah, kalian berkaok-kaok kayak jago kalah tarung saja, Lo-mo. Kalau diminta mengeluarkan jarum, baiklah. Kalian rupanya kurang becus..."
"Wut-plak!"
Rambut Tok-gan Sin-ni yang menampar leher Kim-mou-eng tiba-tiba membalik dan melibat pendekar ini, membelit lengan saat Pendekar Rambut Emas menangkis serangannya, lalu dibetot oleh wanita ini. Ketika Hek-bong Siang-lo-mo berseru keras dan Mo-ong mengebutkan kipasnya, mendadak tiga iblis tua ini menyerang berbarengan dengan pekik gembira.
"Sekarang kau mampus, Kim-mou-eng...!"
"Dan kau menghadap Giam-lo-ong (Raja Maut), Pendekar Rambut Emas...!"
Tiga pukulan bertubi yang hampir serentak menghujani pendekar ini membuat Pendekar Rambut Emas pucat. Dia menangkis dengan lengan satunya, sementara lengan yang lain masih digulung rambut. Tentu saja dia marah dan tidak mau mati konyol. Ketika Coa-ong juga meloncat dan terbahak sambil menggerakkan tongkatnya, tiba-tiba dalam waktu yang begitu singkat, lima serangan telah menghantam pendekar ini tak kenal ampun.
"Haitt...!" Pendekar Rambut Emas tiba-tiba melengking, membentak, dan menggetarkan seluruh tubuhnya.