Chapter 109
Rambut Tok-gan Sin-ni yang melilit lengannya tiba-tiba putus, membuat wanita itu berseru kaget dan terjengkang ke belakang. Secepat kilat, ia melepas jarum-jarum rahasianya yang berhamburan ke arah Kim-mou-eng.
Saat Kim-mou-eng menerima pukulan tongkat dan hujan serangan lainnya yang tidak terelakkan lagi, pendekar itu tiba-tiba membentak dahsyat dan mengeluarkan jurus Pek-sian-ciang.
"Krak-des-dess!" Benturan di depan mata itu terdengar sangat mengejutkan.
Kim-mou-eng tampak terpental. Tongkat di tangan Coa-ong hancur berkeping-keping, disusul sulingnya yang juga remuk menimpa kepala pendekar itu. Suling tersebut bertemu dengan hawa sinkang yang begitu kuat, sementara Pek-sian-ciang menyambar Hek-bong Siang-lo-mo dan Mo-ong. Ketiganya bertemu dalam satu benturan dahsyat yang membuat ketiga iblis tua itu terpental sambil mengaduh, lalu jatuh berdebuk di atas tanah tak ubahnya seperti dibanting.
Karena saat itu Pendekar Rambut Emas sudah mengeluarkan tenaga berlebih sementara lawan terlempar ke kiri dan ke kanan, pendekar ini tidak dapat melindungi diri ketika tujuh jarum milik Tok-gan Sin-ni menancap di tubuhnya, tepat saat ia mengendurkan sinkangnya.
"Cep-cep!" Kim-mou-eng mendesis.
Ia langsung terguling, menerima tujuh jarum beracun wanita sakti itu yang mengenai tubuhnya, disengat rasa panas dan pedih. Kepalanya tiba-tiba pening karena racun langsung bekerja, sementara ia sendiri telah kehabisan tenaga setelah menggunakan sinkang untuk menghadapi lima pukulan maut. Saat ia mengeluh dan melotot pada lawan yang demikian curang, pendekar ini tidak dapat mempertahankan diri dan roboh pingsan.
"Bluk!" Tok-gan Sin-ni mendesis.
Wanita sakti itu tertawa sambil menyeringai menahan sakit karena ia juga menerima akibat dari pukulan Pek-sian-ciang. Dadanya sesak, namun ia segera berguling menjauh dan melihat empat temannya sedang duduk menenangkan guncangan akibat terkena Pukulan Dewa Putih yang dahsyat itu.
Namun, ketika ia terhuyung hendak menghampiri pendekar itu, tiba-tiba sesosok bayangan setan berkelebat menyambar Kim-mou-eng. Kejadian itu begitu cepat hingga wanita itu tidak dapat mencegahnya; ia hanya tertegun di tempat dengan mata terbelalak. Ketika bayangan itu lenyap membawa Kim-mou-eng, ia tersadar dan berteriak, "Hei!" Namun, bayangan itu telah menghilang.
Tok-gan Sin-ni hanya mendengar suara mendengus mirip kuda jalang, pendek tapi berat. Pendekar itu hilang seperti hantu, membawa Kim-mou-eng begitu saja. Tok-gan Sin-ni yang marah membentak nyaring dan mencoba mengejar, namun bayangan itu lenyap seperti asap. Ia terkejut melihat ginkang yang begitu luar biasa tersebut dan tidak lagi melihat ke mana bayangan itu lari. Ia mengumpat dan mencari ke sana ke mari, namun tidak menemukannya.
Tak lama, empat temannya muncul dengan kaki terhuyung, masih belum pulih dari bekas pukulan Pek-sian-ciang.
"Mana Kim-mou-eng?" tanya Tok-gan Sin-ni.
"Diculik seseorang, Mo-ong. Aku mengejarnya tapi tidak berhasil."
"Siapa?"
"Aku tidak tahu. Hanya bayangannya ke utara dan kukejar sampai ke sini."
"Keparat, kau juga tidak tahu mukanya?"
"Mukanya tidak jelas, Mo-ong. Riap-riapan, tapi sekilas kulihat sinar kehijauan di mukanya itu."
"Ah, Cheng-bin Yu-lo (Si Tua Yu Bermuka Hijau)...!" Mo-ong tiba-tiba tertegun, berseru kaget dengan mata meliar, mendadak membanting kaki dan memaki Tok-gan Sin-ni.
Ketika Tok-gan Sin-ni marah dan balik melotot padanya, iblis tua ini berkelebat ke timur. "Sin-ni, dia adalah Cheng-bin Yu-lo. Dialah paman Kim-mou-eng itu. Ayo kejar!"
Tok-gan Sin-ni terbelalak. Ia baru tahu bahwa yang menculik Kim-mou-eng adalah Cheng-bin Yu-lo, rekan nomor tujuh dari golongannya sendiri. Iblis itu memiliki tindak-tanduk aneh karena jarang bertemu mereka, bahkan sering memusuhi mereka dengan sepak terjang yang sukar dimengerti. Kadang ia baik, kadang jahat. Kadang berteman, kadang melawan. Namun, setelah mendengar seruan Mo-ong, Tok-gan Sin-ni segera berkelebat disusul teman-temannya yang lain.
"Mo-ong, tadi dia ke utara, kenapa sekarang ke timur?"
"Bodoh, kau dikecohnya, Sin-ni. Cheng-bin Yu-lo tinggal di timur, bukannya di utara. Dia memutar!"
"Oh...!" Tok-gan Sin-ni yang mengerti akhirnya menyusul pula di belakang rekannya itu, sadar bahwa Sai-mo-ong agaknya tahu tempat persembunyian Yu-lo. Mereka pun bergegas menuju ke timur, tidak peduli sama sekali pada mayat Sin-piauw Ang-lojin yang tadi dibawa Kim-mou-eng.
* * *
Kemana Pendekar Rambut Emas dibawa? Benarkah Cheng-bin Yu-lo yang membawanya? Bayangan manusia berambut riap-riapan itu melesat secepat setan dan meninggalkan Tok-gan Sin-ni jauh di belakang. Karena Tok-gan Sin-ni sendiri masih tergetar oleh bekas pukulan Pek-sian-ciang, ia tidak berhasil mengejar lawan yang memiliki ginkang hebat tersebut.
Bayangan itu terus memanggul Kim-mou-eng di atas pundaknya, sama sekali tidak terganggu larinya oleh beban yang cukup berat. Ia berbelok menuju timur, persis seperti yang dikatakan Sai-mo-ong. Setelah berlari beberapa jam, ia sampai di sebuah hutan bambu dan tiba-tiba lenyap di sebuah rumpun bambu yang gelap.
Orang tidak akan tahu ke mana bayangan itu lenyap. Tubuhnya menyelinap masuk dan menghilang seperti ditelan bumi. Namun, jika orang mengikutinya dan mengetahui bahwa bayangan itu membuka semak-semak hingga pintu kuburan menganga, tentu bulu kuduk orang tersebut akan berdiri. Bayangan itu masuk ke celah, pintu kuburan menutup kembali, dan semak alang-alang merapat seperti semula.
Setelah menuruni anak tangga berbatu, ia memasuki sebuah tempat rahasia di bawah tanah, semacam istana kuno. Bayangan itu terus berjalan melewati tiga belokan, hingga tiba di sebuah tempat terang yang menyeramkan dengan dinding yang penuh tengkorak.
Ketika ia melempar tubuh Kim-mou-eng ke lantai dan berbalik dengan mata dingin, seorang pemuda muncul berkelebat dengan sepasang pedang di punggung.
"Paman, kau datang?"
Bayangan itu, yang ternyata seorang kakek dengan muka kehijauan, mendengus tanpa menjawab. Ia membalikkan tubuh Kim-mou-eng yang kini kulitnya menghitam akibat racun dari jarum Tok-gan Sin-ni. Pemuda itu kaget saat melihat Kim-mou-eng.
"Pendekar Rambut Emas...!"
"Ya, kau kenal?" tanya sang kakek dengan suara berat dan serak.
Pemuda itu berjongkok dan meraba denyut nadi Kim-mou-eng. Ia melihat tujuh jarum yang menancap di tubuh pendekar itu, lalu segera mencabutnya. Wajahnya memerah karena maklum Kim-mou-eng mendapat serangan curang. Setelah jarum dibuang, ia menotok pundak dan dada pendekar itu.
"Paman, apa yang terjadi? Kau telah memberinya obat?"
Kakek itu mendengus, "Buat apa kau tanya? Kalau tidak kuberi, bukankah dia sudah mampus sejak tadi?"
"Tapi kau tidak menahan aliran racun, Paman. Kau membiarkan saja racun itu bekerja!"
"Aku tidak berharap dia hidup, tapi aku juga tidak berharap dia mampus!"
"Kalau begitu kenapa dia dibawa ke sini? Sebaiknya Paman tidak perlu bekerja setengah-setengah bila tidak berniat menolong!"
Pemuda itu marah. Ia menghisap tujuh lubang di tubuh Kim-mou-eng, menyedot racunnya hingga berkali-kali mengeluarkan darah hitam yang busuk dan amis. Saat ia hendak mengambil sebutir mutiara untuk ditempelkan di bekas tusukan jarum, kakek berwajah dingin itu membentak, "Yu Bing, kau mau melangkahi pamanmu?"
Yu Bing terkejut. Mutiara penyedot racun yang hendak ia tempelkan tiba-tiba mencelat terbang ke tangan kakek itu.
"Paman, dia adalah Kim-mou-eng. Dia adalah keponakanmu yang selama ini mencarimu. Kenapa kau mencegah aku mengeluarkan sisa racun dengan Pek-houw-cu (Mutiara Harimau Putih)?"
"Hm, kau tidak boleh sembrono, Yu Bing. Aku tidak tahu apakah benar dia keponakanku atau bukan. Aku masih hendak menyelidikinya, aku tidak percaya begitu saja omonganmu!"
"Tapi dia suheng Salima, Paman. Dan Salima telah menceritakan segalanya kepadaku. Dia..."
"Stop! Tak perlu cerewet. Bocah ini boleh ditolong tapi sifatnya sementara saja. Mundurlah, biar aku yang menyelesaikannya!"
Sang kakek menampar Yu Bing hingga pemuda itu terpental, lalu ia bergerak menendang Kim-mou-eng yang masih pingsan.