Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 110

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 110

Tiga jalan darahnya ditotok dengan aneh menggunakan ujung kaki. Totokan luar biasa itu membuat Kim-mou-eng mengeluh, membuka mata, dan tiba-tiba sadar.

Jarum sudah dicabut, tetapi racun masih bersarang di tubuhnya. Wajahnya masih kehitaman dan tubuhnya terasa panas dingin tak keruan.

Ketika Kim-mou-eng membuka mata dan melihat pajangan tengkorak di seluruh dinding, pandangannya beradu dengan sepasang mata dingin milik kakek menyeramkan itu. Mata itu kehijauan seperti telaga yang dingin dan dalam, membuat Kim-mou-eng terkejut.

Namun, sebelum ia sempat bicara, pemilik mata menyeramkan itu sudah menyambar tengkuknya.

"Kau Kim-mou-eng?" Kim-mou-eng tersentak tanpa menjawab.

"Kau Kim-mou-eng?" Kim-mou-eng akhirnya mengangguk sambil tersenyum getir.

"Ya, siapakah Anda, Locianpwe? Saya memang Kim-mou-eng. Sudah matikah saya ini?" Kakek itu mendengus lalu melepaskan cengkeramannya.

"Kau belum mampus, tapi bisa sewaktu-waktu mampus!" Saat Kim-mou-eng mengerutkan kening, kakek itu berbicara lagi, "Pendekar Rambut Emas, katanya kau sedang mencari seseorang. Benarkah?" Kim-mou-eng tidak segera menjawab.

"Kau tuli?" kakek itu membentak. "Apakah kau tidak mendengar pertanyaanku?" Kim-mou-eng menghela napas, teringat pertempurannya dengan Hek-bong Siang-lo-mo dan kawan-kawannya.

"Locianpwe, sebelum menjawab pertanyaan itu, sebaiknya jelaskan dulu di mana saya berada. Apakah Anda yang menolong saya dari cengkeraman musuh-musuh saya? Ke mana Tok-gan Sin-ni dan yang lain-lain?"

"Mereka tidak perlu kau cari, Kim-mou-eng. Aku telah membawamu pergi dari tempat berbahaya itu."

"Ah, sudah kuduga. Terima kasih...!" Kim-mou-eng mencoba bangkit untuk memberi hormat, namun tiba-tiba ia mengeluh karena kepalanya berputar. Ia terguling dan roboh kembali karena racun dari jarum Tok-gan Sin-ni masih menguasai tubuhnya.

Si kakek mendengus, tidak memedulikannya, dan tiba-tiba menjambak rambut pemuda itu.

"Kau mencari seseorang?" Kim-mou-eng mendongkol. "Orang tua, beginikah sikapmu menolong orang? Kalau kau tidak suka padaku, sebaiknya lepaskan aku. Aku dapat menolong diriku sendiri!"

"Plak! Plak!" Kakek itu tiba-tiba menamparnya karena marah. "Kau tidak perlu sombong, anak muda. Kalau aku tidak menolongmu, tak mungkin kau dapat menolong dirimu sendiri! Ayo bangun, nanti kuhajar kau!" Kim-mou-eng terhuyung, marah, dan pusing.

Namun, Yu Bing yang sejak tadi diam mendadak melompat maju. "Paman, tidak perlu kau bersikap kasar padanya. Kim-mou-eng mencari dirimu!"

"Diam!" kakek itu membentak. "Aku tidak ingin kau ikut campur, Yu Bing. Kalau tidak, kubunuh kau nanti!"

Kim-mou-eng terkejut. Kini ia melihat pemuda gagah yang bukan lain adalah Siangkiam-houw Yu Bing, Harimau Berpedang Sepasang yang dulu bertemu Salima. Namun, sebelum ia bicara, kakek itu sudah mencengkeramnya kembali.

"Kim-mou-eng, kau mencari seseorang?" Kim-mou-eng menahan sakit setelah tiga kali mendapat pertanyaan yang sama. Sambil mengangguk dan menggigit bibir, ia menjawab, "Ya, dari mana kau tahu?"

"Hm," kakek itu masih bengis. "Siapa yang kau cari?"

"Banyak, suheng dan sumoiku, juga... augh!" Kim-mou-eng mendesis karena kakek itu tiba-tiba mencekik lehernya, menjepit jalan darah pi-pet-hiat yang menimbulkan rasa nyeri luar biasa.

Kakek bermuka hijau itu membentak lagi karena tidak sabar dengan jawaban yang bertele-tele, "Kim-mou-eng, nyawamu berada di tanganku. Sebaiknya tidak perlu kau main-main. Ceritakan siapa orang yang kau cari dan siapa ayah ibumu!"

Kim-mou-eng marah. Ia tidak menjawab karena diserang dua rasa sakit sekaligus, dari racun dan jepitan di jalan darahnya. Saat ia terbelalak dan tetap bungkam, pemuda di belakang kakek itu berbisik mengirimkan suaranya, "Kim-mou-eng, sebaiknya ceritakan saja kedatanganmu ke Tionggoan ini. Bukankah kau mencari pamanmu dan bersusah payah menemukannya? Dialah pamanmu itu, tapi kau harus dapat membuktikan bahwa dirimu adalah keponakannya. Tunjukkan siapa dirimu, siapa ayah ibumu!"

Kim-mou-eng tertegun dan terkejut mendengar bisikan itu. Sambil mengeluh menahan sakit, ia memandang kakek itu, "Siapakah Anda, orang tua? Kenapa bertanya urusan pribadiku?"

"Keparat, kau menjawab pertanyaan dengan pertanyaan? Kau minta kugampar lagi?" kakek itu marah. "Tak perlu banyak tanya, Kim-mou-eng. Sebutkan saja benarkah kau mencari seseorang dan siapa orang itu. Lalu ceritakan pula siapa dirimu!"

Kim-mou-eng tergetar, memandang tajam ke arah kakek itu. "Aku mencari pamanku...!" jawabnya lirih.

"Siapa?"

"Yu-Iopek."

"Yu siapa?"

"Yu Siu."

"Asal dari mana?" Kim-mou-eng tegang. "Ayo, dari mana?"

Kim-mou-eng membuang ketegangannya. "Dari Dusun Yu-chung!"

"Dan siapa ayahmu? Siapa ibumu?" Kim-mou-eng enggan menjawab. Ia merasa jari-jari yang mencengkeramnya itu gemetar. Ia melihat mata kehijauan itu tiba-tiba mencorong menakutkan, beringas, dan berkilat-kilat seperti api.

Ketika ia tetap diam, kakek itu berseru gusar, "Bocah, teruskan jawabanmu. Siapa ayah dan siapa ibumu!"

Kim-mou-eng berdebar. "Perlukah kau ketahui?"

"Tentu."

"Kalau begitu, ada hubungan apa?"

"Keparat!" kakek itu menggigil. "Kau tak perlu tanya, bocah. Sebutkan saja setiap jawabanmu dan tidak perlu banyak cakap!"

"Baik, ibuku adalah Yu Ma, sedangkan ayahku bernama..."

"Hongga!" kakek itu menukas cepat dengan amarah yang meluap. Sebelum Kim-mou-eng sadar, sebuah tendangan dan tamparan mengenai tubuhnya.

"Plak! Bluk!" Kim-mou-eng terlempar dan terguling-guling menghantam dinding. Ia kesakitan, namun sebelum ia bangkit, kakek itu mengejarnya dan menghajarnya dengan pukulan dan tendangan.

"Bocah, kau bukan anak Yu Ma. Kau anak Hongga dari ibu yang lain... des! dess!" Kim-mou-eng mencelat kembali, jatuh bangun dihajar kakek itu.

Saat Kim-mou-eng terkejut dan tak berdaya, kakek itu tiba-tiba tertawa bergelak—tawa aneh yang bercampur tangis. "Bocah, kau bukan keponakanku. Kau adalah musuh dari Hongga yang melarikan adikku... wutt!"

Sebuah pukulan menyambar dada Kim-mou-eng dengan kecepatan kilat. Pendekar itu terkesiap, melihat sorot buas dari sepasang mata mengerikan itu. Ia tampak seperti iblis.

Karena tak ingin mati konyol, Kim-mou-eng yang marah dengan sepak terjang kakek itu segera mencabut kalung emas bermata giok yang selama ini menggantung di dadanya—benda pemberian ibunya sebelum meninggal. Saat pukulan itu tiba, Kim-mou-eng menyabitkan kalungnya untuk menangkis.

"Plak!" Kim-mou-eng roboh. Ia kalah kuat; hawa pukulan masih menyambar dadanya meski sudah ditangkis. Sekilas ia melihat lawannya terkejut dan berseru tertahan. Hawa pukulan berkurang, namun tetap membuatnya terjengkang hingga pingsan.

Saat si kakek menerima kalung itu, Yu Bing berteriak membentak pamannya, "Paman, kau kejam!"

Kakek itu bergoyang. Ia tidak menghiraukan teguran Yu Bing dan terus mengamati kalung tersebut. Setelah menimang dan membolak-balik benda itu, tiba-tiba ia menggereng menghampiri Kim-mou-eng.

"Buka sepatunya. Lihat kakinya!" Yu Bing tertegun, melihat pamannya seperti orang yang tidak sehat; terhuyung limbung dengan gigi berkerot-kerot. Kebuasannya sedikit berkurang, namun sikapnya tetap menyeramkan.

"Yu Bing, buka sepatunya! Lihat kakinya!"

Yu Bing yang terbiasa dengan tindak-tanduk pamannya yang aneh segera bangkit berdiri dan membuka sepatu Kim-mou-eng. "Paman, kenapa tidak kau sendiri yang membukanya? Bukankah aku tak tahu apa yang ingin kau lakukan?"

"Cerewet! Aku tak mau menyentuh anak Hongga, Yu Bing. Kalau dia betul anak adik perempuanku, ingin kulihat sebuah tanda di telapak kakinya. Buka, cepat buka!"

Yu Bing segera membuka sepatu Kim-mou-eng, melepas kaus kakinya, dan mengendurkan seluruh pakaian pendekar itu. Kim-mou-eng masih pingsan. Saat kakek itu menyambar kaki Kim-mou-eng, ia tertegun dan berseru tertahan, "Kimsan...!"

Kakek itu terhuyung. Yu Bing melihat sebuah tanda kehitaman bekas luka bakar di telapak kaki kiri Kim-mou-eng. Pamannya mundur dua langkah, tubuhnya gemetar hebat seperti tersengat listrik. Setelah itu, kakek itu menubruk Kim-mou-eng sambil menangis tersedu-sedu.

"Kimsan, dia benar keponakanku...!"

Yu Bing melongo melihat pamannya mengguguk di dada Kim-mou-eng sambil mengguncang-guncang tubuh keponakannya. Begitu sadar, kakek itu berseru gembira dan menyambar tubuh Kim-mou-eng, lalu membawanya ke sebuah sumur dangkal.

"Kim-mou-eng, kau benar keponakanku. Kau Kimsan yang dulu kulukai kakimu... byur!"

Kakek itu melemparkan Kim-mou-eng langsung ke dalam air setelah menekan jalan darah kesadaran di belakang tengkuknya. Yu Bing terkejut, namun ia lega melihat Kim-mou-eng membuka mata karena kaget oleh rasa dingin saat terendam di sumur dangkal itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment