Chapter 111
Ketika Kim-mou-eng baru sadar dan kakek itu terbahak gembira, tiba-tiba kakek itu ikut mencebur, memeluk tubuhnya, dan menciumi seluruh mukanya.
"Kimsan, kau benar keponakanku. Kau anak dari adik perempuanku..."
"Byur!" Kim-mou-eng terkejut. Dia didekap dan diangkat naik turun, diguncang-guncang dengan gembira oleh kakek itu. Ketika dia terbelalak dan mengeluh karena kesakitan, kakek itu melompat keluar dan melempar tubuhnya ke sudut dinding.
"Ha-ha, ayo ganti pakaian, anak baik. Keringkan tubuhmu dan kita makan besar!"
"Bress!" Kim-mou-eng nanar, masih terheran-heran dan kesakitan akibat cengkeraman kakek itu yang menumbuk dinding, membuatnya menyeringai pedih sambil menggigit bibir. Namun, ketika kakek itu menari-nari dan ia mulai sadar akan semua kejadian itu, tiba-tiba kakek itu berkelebat keluar sambil tertawa bergelak.
"Yu Bing, siapkan ikan pe-hi. Kita panggang dan adakan pesta!"
Kim-mou-eng tertegun. Ia melihat kakek aneh itu lenyap, lalu beralih menatap Yu Bing yang tersenyum dan menitikkan air mata kepadanya. Yu Bing menghampirinya dan memberinya pakaian kering, pakaian pemuda itu sendiri. Ketika Kim-mou-eng bangkit duduk, pemuda itu menegurnya, "Kim-mou-eng, kiranya nama Tartarmu adalah Kimsan. Terimalah, dan ganti pakaianmu itu. Paman telah mengakui dirimu!"
Kim-mou-eng bengong. "Kau mengetahui nama kecilku?"
"Tidak, bukan aku yang menyebutnya, Kim-mou-eng. Tapi pamanmu itulah, Paman Yu!"
"Jadi dia Yu-lopek?"
"Benar, dialah Yu Siu yang kau cari-cari itu!"
"Ah...!" Kim-mou-eng yang sudah menerima pakaian itu tertegun sejenak. Ia melihat kakinya yang telanjang dan sepatunya di dekat Yu Bing. Belum sempat ia bertanya, Yu Bing sudah mengambilkan sepatunya. "Kim-mou-eng, tadi kami melepas sepatumu. Paman ingin mengetahui tanda di telapak kakimu. Ternyata benar, kaulah Kimsan yang dilahirkan dari ibumu, Yu Ma. Pakailah!"
Kim-mou-eng mendelong. Ia menerima sepatunya dan mengenakan kaos yang diserahkan Yu Bing, pemuda gagah yang cepat menarik hatinya itu. Namun, ketika ia membungkuk dan kepala terasa pening, ia roboh terguling karena racun yang belum sepenuhnya bersih.
Tiba-tiba kakek aneh itu muncul kembali, berkelebat membawa segelas air yang di dalamnya terendam Pek-houw-cu, mutiara yang bening. Persis saat Kim-mou-eng mengeluh, kakek itu memberinya air penawar racun tersebut.
"Kimsan, minumlah ini. Racun segala racun akan lenyap oleh air Pek-houw-cu."
Kim-mou-eng tertegun. Ia mendengar suara lembut dari kakek itu, lalu segera meneguk isinya. Ketika rasa pening lenyap dan wajahnya yang tadinya kehitaman pulih kembali, kakek itu memeluknya dengan penuh haru.
"Kimsan, maafkan aku. Aku tadi sangsi benarkah kau anak dari ibumu. Kau kenal pamanmu, bukan? Akulah Yu Siu, aku yang dulu membakar telapak kakimu ketika aku bertengkar dengan ayahmu!" Kakek itu tiba-tiba menangis. Rambutnya yang riap-riapan terasa apek di hidung Kim-mou-eng; agaknya tidak pernah dibersihkan dan penuh kutu rambut.
Kim-mou-eng tersedak, menyambut pelukan itu, lalu mundur dengan mata basah. "Paman, jadi benar kau Yu-lopek? Tapi bagaimana keadaanmu ini? Bukankah kau dulu orang biasa-biasa saja?"
"Aku memang telah berubah, Kimsan. Sepak terjang ayahmu yang membuat aku begini!"
"Hm, ceritakan itu. Aku tak mengerti."
"Baik, tapi ini kalung ibumu, bukan? Di mana ibumu sekarang?"
"Ibu telah meninggal..."
"Ohh...!" kakek itu tiba-tiba menutupi mukanya. "Siapa yang membunuhnya?" suaranya terdengar geram saat ia membuka kembali wajahnya. "Ayahmu itukah?"
"Bukan," Kim-mou-eng menggeleng sedih. "Ibu meninggal karena sakit."
"Dan ayahmu, di mana keparat itu?"
"Ayah juga sudah meninggal, Paman. Beberapa waktu sebelum Ibu."
Kakek itu tertegun. "Kau tak bohong?"
Kim-mou-eng tersenyum pahit. "Paman, perlukah aku membohongimu? Buat apa pula aku membohongimu? Kau tampaknya benci benar pada ayahku itu. Ada apakah?"
Kakek itu berkerot gigi. "Dia membawa ibumu, Kimsan. Aku benci itu karena dia membujuk ibumu!"
"Tapi Ayah amat mencintai Ibu. Beliau melindungi dan mempertahankan Ibu!"
"Ya, tapi ayahmu telah beristri, Kimsan. Aku tak setuju karena ibumu menjadi madu. Aku benci itu, aku melarang. Tapi ibumu nekat dan tega meninggalkan aku!"
Kim-mou-eng tergetar. "Paman bisa menceritakan kisah mereka?"
Aneh, kakek itu tiba-tiba menangis. Saat Kim-mou-eng mengerutkan kening, kakek itu menghantam tanah. "Kimsan, ayah dan ibumu adalah orang-orang yang keras kepala. Ibumu untuk pertama kalinya memberontak, aku merasa dimusuhi. Dan karena ibumu membela ayahmu, maka aku merasa disingkirkan dan tidak dihargai. Aku sakit hati, ini semua gara-gara perbuatan ayahmu!"
Kim-mou-eng menghela napas. Sebenarnya, ia telah mendengar cerita ibunya tentang hal itu—tentang percekcokan antara ibu dengan pamannya, juga antara paman dengan ayahnya. Pamannya tak menghendaki ibunya menjadi istri ayahnya, bukan semata karena ayahnya seorang suku Tartar, melainkan karena ayahnya sudah memiliki istri sebelumnya. Jadi, ibunya menjadi madu.
Namun, karena Kim-mou-eng waktu itu masih kecil, ia tak tahu bahwa hubungan yang kelewat dalam telah membuat ibunya hamil. Kedua pasangan itu saling mencintai tanpa menghiraukan sekelilingnya. Hongga bertanggung jawab dan tidak mau meninggalkan kekasihnya, Yu Ma, untuk kembali ke bangsa Tartar. Yu Siu tidak tahu bahwa adiknya sedang berbadan dua; ia mengira Hongga membujuk dan menculik adiknya. Yu Ma sendiri tidak berani berterus terang pada kakaknya karena malu hamil sebelum nikah. Ia diam-diam mengikuti suaminya meninggalkan Tionggoan, memasuki kehidupan baru di suku asing di luar tembok besar.
Hongga benar-benar bertanggung jawab dan menikahi istrinya di luar tembok. Beberapa bulan kemudian, lahirlah Kim-mou-eng (nama kecilnya, Kimsan). Ayahnya meninggal sebelum ia dewasa, disusul ibunya yang terserang penyakit.
Kakek itu kembali bercerita, "Ayahmu itu menculik ibumu, Kimsan. Aku mengejar dan akhirnya bertemu. Kau masih berusia setahun. Kami cekcok dan aku membujuk ibumu. Tapi ibumu keras kepala, tidak mau kembali dan setia pada ayahmu. Aku marah, ayahmu muncul, dan kami bertengkar. Aku memukul, tapi ayahmu membalas. Karena ayahmu memang pandai, aku roboh sementara ibumu menangis menjerit-jerit!"
Kim-mou-eng muram. "Dan Paman lalu kembali?"
"Tidak," kakek itu marah. "Ibumu menolong aku, Kimsan. Waktu itu aku tak sadarkan diri. Pukulan ayahmu telak, aku pingsan. Tapi karena aku penasaran oleh sikap ibumu, aku tinggal di sana berminggu-minggu!"
"Untuk membujuk Ibu?"
"Ya, aku memberi tahu ibumu tentang kedudukan suaminya itu. Bahwa suaminya sudah mempunyai istri sebelum ibumu. Bahwa ayahmu yang pandai merayu itu mencelakakan hidupnya karena istri pertamanya sering mengganggu. Dan ketika suatu hari istri tuanya itu datang, kami ribut mulut dan ibumu berkelahi. Aku menolong, istri ayahmu itu kupukul, datang saudaranya yang lain dan aku dikeroyok. Aku dan ibumu hampir tewas, tapi ketika ayahmu datang dan kami semua dirobohkan, akhirnya ayahmu itu mengusir istri tuanya...!"
"Hm, aku telah mendengar ini," Kim-mou-eng bersuara. "Ibu juga menceritakan kejadian itu, Paman. Tapi kenapa kau tak mau sudah?"
"Aku ingin menyelamatkan ibumu, Kimsan. Kehidupan suku bangsa Tartar keras dan kejam sekali. Ibumu orang yang lembut, mana tahan hidup di alam yang begitu ganas? Aku tak tega, tapi ibumu tetap keras kepala!"
"Mungkin karena Ibu telah melahirkan aku."
"Mungkin, tapi mungkin juga hasil peletan ayahmu, Kimsan. Orang Tartar suka mengguna-gunai wanita dengan ilmu hitam!"
Kim-mou-eng tersenyum pahit. Ia tak percaya ayahnya melakukan hal serendah itu. Baginya, ayahnya adalah pria jantan dan perwira. Namun, sang paman yang melotot melihat senyum itu berkata, "Kau tak percaya?"
Kim-mou-eng mengangkat bahu. "Aku percaya segala ceritamu, Paman. Tapi tentang mengguna-gunai itu aku sangsi. Ayah adalah seorang jantan, tak mungkin dia melakukan itu."
"Ah, tentu ini kata-kata ibumu. Dia memang membela ayahmu!"
Kim-mou-eng tertawa getir. "Paman, sebaiknya lanjutkan saja ceritamu. Bagaimana setelah Ayah mengusir istri tuanya? Kenapa pula kau membakar kakiku?"
Kakek itu berapi-api. "Aku membakar kakimu karena jengkel pada ibumu, Kimsan!"