Chapter 112
Dia benar-benar tak berhasil kubujuk dan membuat aku marah. Waktu ayahmu pergi, kami bertengkar. Untuk kesekian kalinya lagi kuminta dia meninggalkan ayahmu, tapi gagal. Aku naik pitam, ibumu kupukul pingsan, dan aku pergi!
"Hm, membawa sesuatu?" Kakek ini terkejut.
"Sesuatu apa?"
"Ibu memberitahuku bahwa kau mengambil sesuatu, Paman. Bahwa kau melarikan sebuah kitab yang selama ini disembunyikan Ibu!"
Kakek itu mencelat, tiba-tiba menggereng. "Kau tahu?" Kim-mou-eng mengernyitkan kening.
"Kau menyangkal atau mengakuinya, Paman?"
Aneh, kakek itu tiba-tiba tertawa bergelak. "Ha-ha, ibumu rupanya tak merelakan miliknya itu, Kimsan. Pantas kalau kau mencari aku di Tionggoan. Rupanya ibumu menyuruh kau meminta kitab itu. Benarkah?"
Kim-mou-eng bangkit berdiri. Sekarang dia melihat pamannya bersikap buas, mata yang kehijauan itu berputar. Namun, karena ini adalah tugas yang harus ia laksanakan sebelum ibunya meninggal, akhirnya pendekar ini mengangguk.
"Benar, Ibu menyuruh kau mengembalikan kitab itu, Paman. Katanya kau mencurinya ketika Ibu pingsan. Bahwa kau sebenarnya mengharap-harap Ibu karena menginginkan kitab itu. Benarkah?"
Kakek ini menyeringai, terkekeh dengan pandangan dingin. "Bocah, aku adalah pamanmu. Aku adalah pengganti ibumu. Apakah kau hendak memaksa untuk mengembalikan kitab? Bukankah apa yang dipunyai ibumu jatuh di tangan saudara sendiri?"
Kim-mou-eng mengerutkan kening. "Tapi kau mendapatkannya dengan cara tak pantas, Paman. Kau mencurinya. Aku tak ingin kitab itu jatuh ke tangan ayahmu, orang Tartar!"
Kim-mou-eng menghela napas. "Tapi kitab itu berbahaya, Paman. Ibu tak mau menyerahkannya padamu karena tak boleh dipelajari sendiri. Kau dapat tersesat."
"Heh, kau anak kecil bicara apa? Ibumu beralasan saja, dia pelit dan sengaja ingin memberikan kitab itu pada ayahmu!"
"Dan sekarang di mana kitab itu?"
Kakek ini meliar. "Kau mau memintanya kembali?"
"Sekadar memenuhi pesan Ibu, Paman."
"Atau..."
"Atau kau mampus!" Kakek itu tiba-tiba menerjang, membentak melepas pukulan maut. Kelima jarinya berkerotok dan tiba-tiba menyambar kepala Kim-mou-eng. Serangannya begitu dahsyat dan ganas sampai terdengar suara mencuit.
Kim-mou-eng yang terkejut oleh serangan itu tiba-tiba mengelak dan menangkis. "Dukk!" Dua pukulan itu beradu. Kim-mou-eng bergoyang, terdorong selangkah karena baru saja sembuh dari bekas racun Tok-gan Sin-ni. Namun, pamannya yang mencelat menumbuk dinding tiba-tiba berteriak karena punggungnya menghantam batu.
"Augh...!" Kim-mou-eng tergetar. Ia melihat pamannya memiliki *sinkang* yang kuat, terkejut karena lengannya tiba-tiba kesemutan; ada sedikit rasa panas dan gatal. Tanda *sinkang* pamannya juga mengandung racun! Namun, karena ia baru minum air Pek-houw-cu dan penawar racun itu membuyarkan racun pamannya, akhirnya Kim-mou-eng berdiri tegak melihat pamannya marah-marah.
"Kimsan, kau mendurhakai pamanmu. Kualat kau nanti!"
Kim-mou-eng tersenyum pahit. "Paman, yang salah adalah kau. Kenapa mengutuk aku? Aku hanya memenuhi pesan itu, kembalikan kitab itu dan kita sudahi pertikaian ini."
"Tidak, kitab itu telah menjadi milikku, bocah. Kau tak berhak memintanya dan jangan banyak cakap. Kau berani melawan paman sendiri, kubunuh kau... wut!"
Cheng-bin Yu-lo yang kembali memekik menerjang ke depan tiba-tiba melepas dua pukulan berbarengan ke arah keponakannya itu.
"Duk-dukk!" Kim-mou-eng kembali menangkis, merasa tenaganya pulih kembali meskipun belum sepenuhnya. Ia mengerutkan kening melihat sepak terjang pamannya. Ketika pamannya terpental dan marah-marah, kakek itu berbalik dan menyerang lagi.
"Kimsan, kau anak durhaka...!"
Kim-mou-eng mengelak, berlompatan, dan mulai menangkis serangan-serangan pamannya. Melihat pukulan-pukulan pamannya mulai membabi buta dan amat berbahaya, ia mencium pula bau amis yang membuat hidung ingin muntah. Ketika sepak terjang pamannya mulai menggila dan pukulan-pukulan itu benar-benar dimaksudkan untuk membunuh, akhirnya Kim-mou-eng mengerahkan Tiat-lui-kang menahan serangan-serangan tersebut.
"Paman, kau aneh. Kau kejam!"
Cheng-bin Yu-lo tak menghiraukan. Ia telah naik pitam oleh tangkisan lawannya. Ketika pukulan demi pukulan mulai menderu dan angin pukulan membuat dinding berderak, Yu Bing yang terkejut melihat pertempuran itu berteriak-teriak.
"Paman, hentikan seranganmu. Jangan menyerang Kim-mou-eng...!"
Kakek itu memaki-maki. Ia bahkan mengibas ke arah pemuda itu ketika Yu Bing mendekat. Saat Yu Bing terlempar, Kim-mou-eng mengerutkan keningnya, dan satu pukulan telak terlambat dikelit pendekar ini gara-gara memperhatikan Yu Bing.
"Plak!" Kim-mou-eng mendesis, terpelanting, tapi bangun kembali dengan cepat. Ia melihat pamannya mengejar dengan sepuluh cengkeraman jari-jari yang berkerotok, semuanya kehijauan sementara bau amis mengiringi pukulan itu.
Karena pamannya tak dapat dicegah dan serangan itu berbahaya sekali menuju batok kepalanya, terpaksa dengan sedikit mendemonstrasikan kepandaiannya, Kim-mou-eng mengerahkan Pek-sian-ciang dengan tenaga enam bagian. Ia ingin melihat sampai di mana daya tahan pamannya menghadapi ilmu pukulan ampuh ini.
Dua pukulan beradu dan sinar putih berkelebat dari lengan pendekar ini. Tiba-tiba Cheng-bin Yu-lo terjengkang roboh dan mencelat terguling-guling. "Bress...!" kakek itu mengeluh. Untuk pertama kalinya kakek ini kelihatan terkejut, matanya membelalak. Ia tertegun dan bangun berdiri dengan kaki menggigil, tubuhnya bergoyang seolah melihat hantu di siang bolong.
Begitu sinar putih lenyap dari lengan lawannya dan Kim-mou-eng berdiri tegak, tiba-tiba kakek ini berseru, "Pek-sian-ciang...!"
Kim-mou-eng mengangguk. "Ya, kau kenal pukulanku, Paman? Itu memang Pek-sian-ciang, terpaksa kugunakan karena kau..."
"Keparat!" Kakek itu menubruk, menghentikan omongan lawan, dan kembali menyambar dengan sepuluh cengkeraman jarinya. Rupanya ia penasaran sekaligus marah.
Kim-mou-eng, yang tentu saja terkejut, segera mengerahkan lagi Pek-sian-ciangnya, kali ini dengan tujuh bagian tenaga. Dengan enam bagian saja pamannya bisa bertahan, hal yang membuatnya kagum. Ketika sepuluh cengkeraman itu bertemu Pek-sian-ciang untuk kedua kalinya, tiba-tiba kakek ini menjerit dan terlempar roboh, memuntahkan darah.
"Augh... dess!" Cheng-bin Yu-lo terguling-guling. Kim-mou-eng tercekat melihat pamannya jatuh bangun. Ternyata dengan tujuh bagian tenaga, pamannya tak mampu menghadapi Pek-sian-ciang miliknya yang terlalu ampuh. Saat ia berseru dan melompat menghampiri pamannya, tiba-tiba Cheng-bin Yu-lo berteriak melarikan diri.
"Kim-mou-eng, kau bocah jahanam. Kau berani melawan orang tua...!"
Kim-mou-eng tertegun. Ia hendak mengejar, tapi Yu Bing berkelebat menahan lengannya. "Kimsan, tak perlu dikejar. Paman kumat lagi gilanya...!"
Kim-mou-eng terbelalak. "Kumat? Gila...?"
"Ya, Paman terserang saraf, Kim-mou-eng. Dia tersesat melatih kitab itu hingga keracunan!"
"Ah, bagaimana itu?"
"Mari kita masuk, kita duduk di situ," ujar Yu Bing. Ia menggigil dan tampak pucat memandang kepergian pamannya yang tampak melengking-lengking di kejauhan sana. Lengking kecewa disusul tawa setengah tangis itu memang membuat bulu roma berdiri.
Kim-mou-eng duduk dan masih tergetar oleh kejadian tadi, lalu menghela napas dengan murung. "Saudara Yu, rupanya apa yang dikhawatirkan Ibu terjadi. Sungguh tak kukira kalau aku bertemu pamanku dalam keadaan begini. Sungguh patut disesalkan."
"Ya, tapi yang lewat sudah lewat, Kim-mou-eng. Tak perlu disesalkan lagi karena pamanmu itu orang keras kepala."
"Dan kau juga menyebutnya paman. Apakah..."
"Tidak," Yu Bing menggeleng. "Aku tak ada ikatan darah dengan pamanmu itu, Kim-mou-eng. Kupanggil dia paman karena itu atas permintaannya sendiri."
"Jadi...?"
"Aku anak sebatangkara. Cheng-bin Yu-lo menemukanku dan mengambilku sebagai murid. Tapi karena dia ingat kau dan putus asa mendapatkanmu, maka dia menganggapku sebagai dirimu dan menyuruhku memanggilnya paman, bukan suhu!"
"Ooh...!" Kim-mou-eng tertegun. "Jadi pamanku itu juga selalu ingat keponakannya?"
"Ya, dan bertahun-tahun dia menderita, Kim-mou-eng. Karena itu, maafkan dia kalau menyerangmu dan menjadi buas seperti itu!"
Kim-mou-eng melongo. Sekarang ia mulai mengerti. Ia sempat heran bagaimana Yu Bing bisa memanggil pamannya dengan sebutan "paman", seolah-olah ada hubungan keluarga. Setelah Yu Bing menjelaskan hal itu, kerut di kening Kim-mou-eng semakin dalam.
Yu Bing bercerita bahwa lima belas tahun lalu, Cheng-bin Yu-lo menemukannya sebagai anak terlantar yang mengais sampah, lalu memungutnya dan memberinya ilmu kepandaian tinggi karena kakek itu teringat keponakannya, Kim-mou-eng, yang tak diketahui tempat tinggalnya. Kakek itu sama sekali tak menyangka bahwa Kimsan, anak adik perempuannya, telah berubah menjadi seorang pendekar yang kepandaiannya disegani kawan dan ditakuti lawan, sebab pendekar itu adalah murid Bu-beng Sian-su.
Saat Yu Bing menceritakan betapa pamannya tersesat oleh isi kitab yang dilatih sembarangan hingga Cheng-bin Yu-lo memiliki wajah kehijau-hijauan sebagai tanda keracunan, Yu Bing terisak.
"Paman tersesat, Kim-mou-eng. Dia mempelajari isi kitab tanpa pembimbing."
"Ya, aku tahu. Aku dapat merasakan itu."
"Dan dia keracunan, setiap saat bisa terancam jiwanya tanpa dapat tertolong lagi!"
"Tapi bukankah dia memiliki Pek-houw-cu?" Kim-mou-eng teringat.
"Pek-houw-cu memang membersihkan racun, Kim-mou-eng."