Chapter 113
"Tetapi, kalau racun kembali ditimbulkan oleh latihan *sinkang* yang salah, maka keadaannya sama saja dan tidak berubah!" Kim-mou-eng terkejut.
"Maksudmu..."
"Benar," Yu Bing memotong. "Paman terlanjur salah melatih *sinkang*, Kim-mou-eng. Hal ini tidak dapat diubah lagi. Ia terpaksa mempergunakan Pek-houw-cu setiap kali keracunan, tetapi untuk saat berikutnya, ia akan keracunan lagi jika melatih *sinkang*-nya!"
"Jadi, hidupnya mengandalkan Pek-houw-cu?"
"Benar."
"Dan sekali Pek-houw-cu hilang, tentu..." Yu Bing mengangguk, menutupi mukanya.
Ketika Kim-mou-eng tertegun dan pucat membayangkan hal itu, tiba-tiba Yu Bing berkata dengan gemetar sambil membuka matanya, "Kim-mou-eng, kau tahu perihal sumoimu?"
Kim-mou-eng berdesir. "Tentang apa?"
"Dia marah-marah kepadaku."
"Ah," Kim-mou-eng terkejut. "Kau bertemu dengannya?"
"Ya, secara kebetulan. Ketika dia menghabisi Cen Hok si perampok itu dan bertemu Coa-ong Tok-kwi."
"Kau dapat menceritakannya?"
"Tentu." Yu Bing kemudian menceritakan peristiwa itu, mulai dari awal pertemuannya dengan Salima hingga bercerita panjang lebar tentang gadis Tar-tar tersebut, gadis yang membuatnya tergila-gila. Gadis yang pernah ditolongnya ketika menghisap bau racun Ular Kecil Emas (*Kim-siauw-liong*). Ketika percakapan terhenti pada saat Salima marah-marah karena ia menceritakan bahwa Gurba mendapatkan Bi Nio, dan Salima menyerangnya, Yu Bing tampak berkaca-kaca.
"Aku menceritakan apa adanya, Kim-mou-eng. Tetapi dia tidak percaya padaku dan menuduh aku memfitnah. Sungguh aneh!"
"Kau bilang bagaimana?"
"Aku mengatakan bahwa suhengnya mendapat hadiah kaisar."
"Kau sebutkan namanya?"
"Maksudmu?"
"Kau katakan Gurba-suheng atau diriku?" Yu Bing tertegun, masih tidak mengerti.
Kim-mou-eng menjelaskan, "Ingat bahwa sumoiku mempunyai dua suheng, Saudara Yu. Aku sebagai suheng nomor dua dan Gurba sebagai suheng nomor satu. Kau paham?"
"Ah, aku mengerti!" Yu Bing tiba-tiba meloncat. "Aku tidak mengatakan nama, kecuali hanya menyebut 'suheng-nya' begitu saja. Sedangkan suheng yang mana, sama sekali tidak kusebutkan!"
"Dan dia marah-marah?"
"Itu ulah yang aneh, Kim-mou-eng. Padahal aku tidak bohong dan Hek-eng Taihiap kebetulan juga datang dan memperkuat omonganku!"
"Tapi siapa yang kau maksud?"
"Tentu saja suhengmu itu, si Singa Daratan Tandus, Gurba!"
"Dan sumoiku, hmm..." Kim-mou-eng tiba-tiba tersenyum pahit. "Sumoiku mungkin mengira yang lain, Saudara Yu. Jadi, sekarang aku mengerti apa yang menjadi sebab semuanya ini. Pantas!"
Kim-mou-eng yang wajahnya bersinar-sinar memandang temannya, lalu berkata, "Saudara Yu, aku telah mendapat apa yang tidak kusangka. Ceritamu cukup memberi kesimpulan bagiku. Baiklah, sumoiku salah paham. Maaf kalau dia menuduhmu yang bukan-bukan karena dia sedang naik darah. Sekarang aku mengerti, agaknya ada sesuatu yang sengaja diruwetkan oleh seseorang!"
"Siapa? Dan apa maksudmu?"
Kim-mou-eng tidak menjawab. "Kelak kau akan mengetahui sendiri, Saudara Yu. Tapi terima kasih atas semua ceritamu ini." Ia bangkit dan menepuk temannya, lalu bertanya, "Kau tidak keluar, Saudara Yu?"
"Tentu saja. Kau mau pergi?"
"Ya, aku harus menyelesaikan tugasku."
"Mencari pamanmu?"
"Tidak, aku masih mempunyai sesuatu yang lebih penting daripada itu. Paman sedang marah, percuma kukejar. Sebaiknya kau saja yang mencari dia dan kita berpisah di sini."
"Tapi kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Kim-mou-eng. Aku penasaran dengan sikapmu itu!"
"Itulah," Kim-mou-eng tersenyum pahit. "Ini urusan pribadi, Yu-twako. Kelak kau akan tahu sendiri kalau sudah mengetahui duduk persoalannya. Aku tidak dapat menceritakannya sekarang, maaf kalau kau merasa penasaran."
Yu Bing tertegun. "Dan kau mau pergi sekarang?"
"Ya, bukankah aku harus pergi? Aku telah sembuh, Yu-twako. Aku harus menyelesaikan tugasku itu sebelum mencari Sai-mo-ong dan teman-temannya!"
"Baiklah, kalau begitu kita dapat keluar bersama. Kita berpisah di luar." Yu Bing yang lesu memandang pendekar ini, lalu mengangguk dan mengajak temannya keluar. Mereka keluar dari istana bawah tanah itu untuk akhirnya tiba di hutan bambu, tempat persembunyian yang membuat Kim-mou-eng kagum. Ketika Yu Bing mengangguk dan mempersilakan ia duluan, pendekar ini tersenyum lalu berkelebat lenyap. Begitu Kim-mou-eng pergi meninggalkannya, Yu Bing segera menggerakkan kaki mencari pamannya.
***
Apa yang sekarang dikerjakan Kim-mou-eng? Hanya satu, mencari suheng dan sumoinya setelah kegagalannya di kota raja. Sesungguhnya, ia terkejut mendengar cerita Yu Bing tentang Salima, diam-diam ia tertegun dan dapat menangkap apa yang terjadi. Kenapa sumoinya itu mendekati suhengnya (Gurba) dan memusuhinya? Itu adalah sikap yang semula dianggap aneh dan hampir tidak masuk akal. Apalagi setelah suhengnya bermaksud membunuhnya; serangannya benar-benar tak kenal ampun. Begitu pula sumoinya, begitu marah dan benci kepadanya, seolah dia adalah musuh besar yang harus dibunuh. Padahal, beberapa waktu yang lalu sumoinya telah menyerahkan bibir untuk dicium, tanda cinta dan kasih sayang gadis itu untuknya. Sungguh berubah seratus delapan puluh derajat! Bak langit dan bumi!
Namun, Kim-mou-eng yang telah mendengar segalanya dari Yu Bing tiba-tiba dapat "menangkap" misteri di sini. Ia berdebar, terbayang wajah suhengnya yang begitu buas memandangnya, sorot mata yang penuh benci dan cemburu. Sorot mata seorang laki-laki yang takut kehilangan sesuatu. Karena Salima ada di situ, tentu "sesuatu itu" tidak lain adalah sumoinya. Pendekar ini mengerti apa yang sesungguhnya terjadi.
Ia menarik napas. Memang, beberapa waktu yang lalu suhengnya pernah menyatakan bahwa ia mencintai Salima. Kim-mou-eng saat itu tertawa, merasa geli dan sama sekali tidak ada rasa cemburu karena ia sendiri tidak tahu apakah ia mencintai sumoinya atau tidak. Salima dianggapnya hanya sebagai adik seperguruan. Ia terkejut ketika suatu hari mendengar sumoinya justru mencintai dirinya, bukan mencintai suhengnya. Tapi karena waktu itu ia menganggap semuanya hanya gurauan di antara mereka, ia tidak menanggapi serius kabar tersebut.
Namun, ketika hubungan mereka bertiga tampak semakin aneh dan satu sama lain seolah kejar-kejaran, Kim-mou-eng mulai mengerutkan kening. Betapa tidak, perilaku sumoi dan suhengnya terasa lucu. Kalau suhengnya mendekati Salima, tiba-tiba Salima menyingkir dan mendekati dirinya. Sebaliknya, kalau ia mendekati Salima, tiba-tiba suhengnya melotot dan tampak tidak senang. Aneh!
Sesungguhnya waktu itu belum ada bibit-bibit cinta di hatinya. Ia menganggap suheng dan sumoinya sebagai saudara sendiri. Tapi karena hubungan mereka terasa tegang dan ada sesuatu yang tidak beres, ia meninggalkan suku bangsanya dengan dalih mencari Yu-lopek, pamannya. Ternyata Salima mencarinya. Ia disusul, disuruh kembali, dan tentu saja ia menolak. Akhirnya, mereka malah melakukan perjalanan bersama dan menikmati kemesraan dalam perjalanan mereka; puncaknya adalah ciuman yang ia berikan pada sumoinya. Ciuman tanda cinta!
Ketika ia sadar telah melakukan sesuatu yang tidak dapat dilupakan sumoinya, tiba-tiba mereka bertengkar dan berpisah. Kim-mou-eng menghela napas. Ia tersenyum pahit, diam-diam menyesali diri mengapa ia melakukan itu. Mengapa harus mencium? Tapi karena Salima memang gadis yang menarik, bibirnya tampak demikian indah dan menggairahkan hatinya, tanpa sadar ia mencium dan melumatnya mesra.
Ah, salahkah dia? Bukankah yang salah adalah bibir itu? Kalau saja bibir itu tidak demikian manis dan indah, tentu ia tidak akan menciumnya. Tapi, benarkah ini? Tidakkah pembelaannya terlalu kekanak-kanakan? Sebab, kalau darah mudanya tidak ikut bergolak dan tertarik oleh semua keindahan itu, tentu ia tidak akan usil menyentuh bibir Salima. Jadi, yang salah adalah nafsunya, darah mudanya, berahinya yang bangkit waktu itu. Kalau ia mau jujur dan bicara terbuka, yang salah adalah dirinya sendiri!
Tapi, eh, nanti dulu. Bukankah itu sudah kodrat? Setiap lelaki tentu akan tertarik dan ingin melakukan seperti apa yang ia lakukan. Seorang lelaki muda tentu akan bergairah kalau ditemani seorang wanita muda pula. Apalagi kalau wanita itu juga mencintainya, siap menyambut dan memberi kemesraan yang begitu aduhai. Nikmatnya saja teringat sampai tujuh turunan!
Kim-mou-eng yang menyeringai oleh debat di dalam hatinya ini akhirnya menampar dan mengetok dahi sendiri. Manusia tidak boleh menang-menangan, begitu pikirnya. Kita tidak boleh membela diri sendiri kalau salah. Salima sudah dicium, itu fakta. Dan Salima menganggap ia mencintainya karena ciuman itu sebagai bukti. Titik. Masalah ciuman itu karena cinta atau hanya "sekadar cinta", itu bukan urusan bagi sumoinya. Yang jelas, sumoinya kecewa ketika ia menyatakan dirinya tidak tahu apakah ia mencintai sumoinya atau tidak. Padahal baru beberapa detik yang lalu ia telah mencium sumoinya. Bukankah itu cinta? Mengapa ia mengelak dan harus bicara berputar-putar tentang cinta?
Sumoinya marah, mereka bertengkar, berpisah, dan akhirnya ia melihat sumoinya sudah berkumpul dengan suhengnya. Ia mendengar suhengnya mengamuk di kota raja dan menyusul dirinya. Atau lebih tepat, begitu pikirnya, suhengnya menyusul Salima karena suhengnya tidak tahan berlama-lama ditinggal sumoinya. Jadi, itulah faktor mengapa suhengnya ada di Tionggoan, tidak di luar tembok besar sebagaimana biasanya. Melihat suhengnya memusuhi dirinya dan menyebut dirinya sebagai pengkhianat, tiba-tiba Kim-mou-eng merasa penasaran dan mengepal tinju.