Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 114

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 114

Suhengnya ini mengada-ada. Apa maksudnya dengan kata-kata pengkhianat itu? Dan kenapa pula sumoinya juga menuduhnya demikian? Ia melihat sorot kebuasan di mata suhengnya, seolah suhengnya ingin melenyapkannya dari muka bumi. Seakan ia adalah seteru yang harus dibinasakan.

Melihat suhengnya khawatir melirik sumoinya, yang waktu itu ikut menyerangnya dengan pukulan-pukulan maut, dan karena ada sesuatu yang tidak beres dalam masalah ini, akhirnya Kim-mou-eng memutuskan ia harus menemui suheng dan sumoinya itu. Ia ingin meminta penjelasan serta pertanggungjawaban atas serangan tersebut. Mengapa ia dituduh pengkhianat dan harus dibunuh, padahal ia tidak merasa bersalah dan ingin mendapatkan keadilan?

Karena urusan ini agaknya menyangkut segi tiga di antara cinta mereka, Kim-mou-eng dapat meraba apa yang sesungguhnya terjadi dan apa yang menjadi keinginan suhengnya itu. Urusan pribadi yang sudah dicampuradukkan dengan urusan lain. Karena harus diselesaikan dan Kim-mou-eng merasa penasaran, ia pun melanjutkan perjalanan dan pencariannya.

Seminggu kemudian, ia menemukan suhengnya. Waktu itu, secara tidak sengaja, ia ingin mandi dan tiba di sebuah bukit kecil. Suara gemericik air membuatnya gerah, apalagi tubuhnya kotor dan penuh debu. Sudah saatnya ia membersihkan diri. Namun, ketika ia melangkah menghampiri sumber air itu dan bersiap melepas baju, tiba-tiba ia mendengar teriakan seseorang.

"Aduh, ampun, Taihiap. Ampun...!"

Kim-mou-eng sudah berkelebat ke tempat itu. Teriakan tersebut terdengar di sebelah kiri, tidak begitu jauh. Kini berganti rintihan dan seseorang tampak menggelepar di sana. Kim-mou-eng terbelalak dan tertegun memandang ke depan. Seseorang bersuara berat mengancam laki-laki yang berpakaian pengawal itu.

"Kau berani menyusulku ke mari? Kau berani mencari-cariku sampai ke sini? Kubunuh kau, pengawal dungu. Kupatahkan lehermu nanti kalau tidak cepat pergi. Ayo pulang ke tempatmu!"

"Ampun... ampun... aku memang akan pulang, Taihiap. Tapi... tapi pesan Hujin (nyonya) harus kusampaikan dulu. Dia merindukan Taihiap, mohon Taihiap menjenguknya dan pulang sebentar...!"

"Kau berani bicara itu-itu lagi? Kuinjak kau nanti!"

"Tidak, ah... ampun...!" Laki-laki itu menggeliat. Sesosok bayangan tiba-tiba berkelebat dan menginjak punggungnya. Laki-laki bersuara berat itu, yang tidak lain adalah Gurba, membentak, "Pengawal, beri tahu pada Bi Nio bahwa aku tak ada waktu. Di sini ada sumoiku, berani kau mengganggu dan mengacau keadaan? Kalau kau tak cepat minggat, tentu kupatahkan punggungmu ini, keparat!"

Gurba menendang laki-laki itu hingga menjerit dan terlempar roboh. Pengawal itu merintih gemetar, "Baik-baik... aku akan menyampaikan kata-katamu, Taihiap. Tapi ada satu berita yang terpaksa kuberitahukan di sini. Hujin mengandung!"

"Apa?" Gurba terkejut. "Dia hamil?"

"Ya, dan aku disuruhnya memberi tahu, Taihiap. Kaisar telah tahu pula. Hujin minta agar Taihiap menjenguknya sebentar karena kaisar ingin merayakan pesta gembira untuk menyambut berita ini. Dia..."

"Dess!"

Pengawal itu menghentikan kata-katanya, menjerit, dan terbanting ketika Gurba menggeram, berkelebat menendangnya dengan amarah yang meluap. Seluruh mukanya merah padam dengan mata melotot berapi-api. Gurba mencengkeram batok kepala pengawal itu.

"Tikus busuk, itu bukan berita gembira bagiku. Itu kutuk. Jahanam kau...!"

Gurba mencelat mencengkeram pengawal itu, namun tiba-tiba Kim-mou-eng berkelebat dan membentak suhengnya, "Suheng, tahan...!"

"Dukk!"

Dua lengan yang bertemu di udara menggetarkan masing-masing pihak. Si pengawal mencelat dan terlempar bergulingan akibat adu benturan yang mengguncang jantung tersebut. Ia terkejut namun girang melihat Kim-mou-eng. Sementara Gurba terhuyung mundur, pengawal itu berseru, "Kim-mou-eng, tolong aku! Suhengmu hendak membunuh aku...!"

Kim-mou-eng mengangguk. Ia menyuruh si pengawal menjauh, memberi isyarat agar ia tenang, bahkan pergi saja dari tempat itu. Ketika dua laki-laki itu berhadapan, kakak serta adik seperguruan itu saling berkilat memancarkan pandangan. Kim-mou-eng menegur, "Suheng, kau terlalu. Kenapa kau hendak membunuh pengawal yang tidak berdosa itu?"

"Keparat!" Gurba menggeram. "Kau datang, Sute? Kau menyerahkan diri?"

"Tidak, aku justru mencarimu. Di antara kita ada persoalan."

Sementara suhengnya melotot marah, pendekar ini mengibaskan lengan. "Suheng, pengawal ini adalah suruhan istrimu. Dia datang sebagai utusan, kenapa kau bersikap kejam dan hendak membunuhnya? Di mana nurani dan kegagahanmu itu?"

"Kau tahu?" Suhengnya terbelalak. "Kau mendengar ocehan pengawal ini?"

"Ya, aku mendengarnya, Suheng. Dan aku juga tahu perihal selir kaisar itu. Kau telah menerima dan memperistri Bi Nio yang..."

"Dess!"

Kim-mou-eng menghentikan kata-katanya saat ditubruk oleh suhengnya. Pukulan Tiat-lui-kang langsung menyambar dan menghantamnya dengan cepat serta ganas. Kim-mou-eng terguling-guling dan berteriak kaget, sementara suhengnya mengejar dan berkelebat menyerangnya bertubi-tubi.

"Sute, kau manusia terkutuk. Kau suka mencampuri urusan orang lain... des-dess!"

Kim-mou-eng terlempar dan terguling oleh pukulan suhengnya. Ia melengking marah, melompat bangun, dan mengelak ketika suhengnya menyerang lagi. Tiat-lui-kang menyambar dan meledak di samping kepalanya, pohon di sebelah hancur dan tumbang menjadi tiga. Roboh berderak dan mengejutkan si pengawal yang berteriak serta bersembunyi melihat tampang Gurba yang mengerikan.

Gurba membentak dan maju kembali. Kim-mou-eng berkelebatan melayani suhengnya. "Suheng, kau keji. Kau licik!"

"Tidak, kau yang harus dibinasakan, Sute. Kau pengkhianat dan manusia sialan. Kubunuh kau, kucincang tubuhmu...!"

"Brakk!"

Sebatang pohon kembali roboh diterjang raksasa itu. Kim-mou-eng marah, membalas, dan mulai menyerang balik. Gurba menangkis dan menampar sutenya. Keduanya bertempur dengan seru. Mula-mula pergerakan mereka terlihat, namun kian lama kian cepat hingga sebentar kemudian lenyap. Si pengawal tidak dapat melihat lagi mana Kim-mou-eng dan mana Gurba.

Kedua-duanya bergerak sama cepat dan saling pukul. Tiat-lui-kang menyambar-nyambar dan kilatan sinar merah mendesing di sekitar tempat itu. Tak jarang serangan tersebut meledak dan nyaris mengenai pengawal itu, yang terjengkang roboh tengkurap oleh sambaran hawa panas yang membuatnya ngeri.

Ketika dua bayangan itu berkelebatan dan Gurba berkali-kali menggeram menyerang sutenya, dalam satu benturan keras keduanya terpental dari gulungan pertempuran.

"Des-dess!"

Gurba dan Kim-mou-eng sama-sama mengeluh tertahan. Mereka terlempar keluar dan terpelanting ke kiri-kanan. Namun Gurba melompat bangun dan kembali menyerang, menubruk sutenya dan melancarkan Tiat-lui-kang. Kim-mou-eng membentak, mengayunkan tubuh, dan mengerahkan Tiat-lui-kang untuk menyambut suhengnya.

"Plakk!"

Mereka kembali terjengkang. Gurba ternyata memiliki kekuatan yang tidak jauh berbeda dengan sutenya; masing-masing memiliki sinkang (tenaga sakti) yang hampir berimbang. Tak ada yang kalah, tak ada yang menang.

Gurba meraung dan membentak sutenya, Kim-mou-eng pun melengking menyambut dengan sama-sama penasaran. "Suheng, kau tak dapat merobohkan aku!"

"Tidak, aku pasti merobohkanmu, Sute. Dan sebagai bukti, lihatlah ini... klap!"

Gurba tiba-tiba mengeluarkan Pek-sian-ciang dan menghantam sutenya. Kim-mou-eng terkejut melihat sinar putih berkelebat ke arahnya. Ia kaget bukan main karena Pek-sian-ciang sesungguhnya tidak boleh dikeluarkan begitu saja kecuali untuk maksud membunuh. Karena waktu tidak ada lagi dan tidak sempat mengelak, Kim-mou-eng pun terpaksa mengeluarkan Pek-sian-ciangnya.

"Suheng, kau kejam!"

Benturan dua pukulan itu menggelegar. Bumi seakan diguncang gempa oleh dua kilatan Pek-sian-ciang yang sama-sama dahsyat. Masing-masing terlempar dan roboh terbanting, sama-sama terluka. Gurba memuntahkan darah sementara Kim-mou-eng jatuh terduduk dengan muka pucat.

Gurba mengeluh, namun bangkit terhuyung-huyung dengan tawa yang aneh sambil mendekap dada. Kim-mou-eng juga bangkit terhuyung dan terbelalak memandang suhengnya. Ia mendesis dengan muka merah padam, "Suheng, kau gila. Kau tidak waras!"

"Ha-ha, aku memang gila, Sute. Tapi yang membuat gila adalah kau!"

Gurba tertawa serak; mukanya mengerikan dan sikapnya sangat menyeramkan. Ia tidak peduli pada luka-lukanya dan terus menghampiri Kim-mou-eng, siap melancarkan pukulan lagi. Namun, sebelum mereka kembali bergebrak, tiba-tiba Salima muncul, berkesiur dengan bau harum tubuhnya sehabis mandi.

"Twa-heng, apa yang terjadi? Siapa musuh... aih!"

Salima tertegun. Ia menghentikan langkahnya dan memandang Kim-mou-eng, suhengnya nomor dua, yang bibirnya mengalirkan darah. Kim-mou-eng tersenyum pahit ke arahnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment