Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 115

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 115

Salima yang tertegun melihat hal tersebut tiba-tiba terisak dan tanpa sadar menghampiri suheng nomor duanya.

"Ji-suheng!" Salima hampir menubruk.

Gadis ini rupanya teringat kenangan lama, ia pun bergegas ingin memeluk suhengnya itu.

Namun, Gurba menggeram dan membentak marah, "Sumoi, tahan! Jangan sentuh si pengkhianat itu!"

Salima terkejut. Uluran tangannya terhenti seketika, mukanya pucat, lalu ia mundur selangkah. Ia teringat bahwa Kim-mou-eng bukanlah kekasihnya, melainkan seorang pengkhianat yang telah menikah dengan selir kaisar. Salima yang tertegun memandang dengan tajam, kemudian mendengus dan melempar pandangan berapi-api.

"Ji-suheng, kau datang menyerahkan diri?"

"Tidak," Kim-mou-eng tertawa getir. "Aku justru datang hendak menemui twa-suheng, Sumoi. Aku ingin meminta pertanggungjawabannya tentang..."

"Kentut busuk!" Gurba tiba-tiba menggeram. "Dia datang untuk mengacau keadaan, Sumoi. Lebih baik kita tangkap dan bunuh dia!"

*Wutt!* Gurba tiba-tiba menampar, lalu terhuyung dan berkelebat menyerang sutenya. Sungguh nekat. Namun, Kim-mou-eng mengelak dan melompat menghindar sambil berseru, "Suheng, tak perlu omong kosong ini. Kaulah yang mengacau keadaan. Kau tak memberiku kesempatan untuk membela diri dan berusaha menutupi keculasanmu!"

"Tak peduli! Kau yang mengganggu kami, Sute. Kau memalukan kami dan menjadi pengkhianat!" Gurba menerjang lagi, tampak bernafsu membungkam mulut sutenya agar tidak bicara macam-macam. Ia tampak gelisah dan khawatir dengan kedatangan sumoinya. Apalagi sang pengawal masih bersembunyi tak jauh dari sana; ia ingin segera melenyapkan sutenya yang sangat lihai tersebut.

Ketika Kim-mou-eng terhuyung ke sana kemari menangkis serangan, Gurba berteriak, "Sumoi, bantu aku! Tangkap pengkhianat ini!"

Salima mengangguk. Ia teringat "pengkhianatan" Kim-mou-eng. Darahnya mendidih dan ia merasa benci saat memandang pendekar itu. Ketika Gurba menyerang dengan membabi buta, Salima pun melengking dan turut menyerang Kim-mou-eng.

"Ji-suheng, kau memang patut dibunuh!" *Tarr!* Pukulan Tiat-lui-kang menyambar dan meledak ke arah Kim-mou-eng. Serangan itu tak dapat dielakkan karena Kim-mou-eng sedang sibuk menghindari serangan Gurba. Ia pun terhuyung dan mengeluh terkena serangan sumoinya.

Saat Kim-mou-eng terpental dan terguling-guling, Gurba terbahak gembira dan menyerbu dengan beringas. "Sute, kau akan terbunuh!"

Kim-mou-eng pucat. Ia tak punya waktu untuk menangkis, maka ia melanjutkan gulingan tubuhnya ke kiri untuk mengelak. Pukulan suhengnya meledak di sisi tubuhnya bagaikan petir. Gurba menyerang tiga kali berturut-turut, namun semuanya luput. Akan tetapi, ketika Kim-mou-eng melompat bangun, tamparan Tiat-lui-kang milik Salima mengenai telinganya.

Hal itu membuat Kim-mou-eng terjungkal. Gurba tertawa gembira, melompat, dan melancarkan satu pukulan dahsyat yang mengenai tengkuknya. Kali ini Gurba berhasil dan Kim-mou-eng mencelat.

Saat Kim-mou-eng mengeluh dan mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah, Gurba berseru, "Sumoi, habisi dia. Bunuh si pengkhianat ini!"

Kim-mou-eng memejamkan mata. Ia sudah tak sanggup lagi melawan karena tubuhnya penuh luka. Apalagi sumoinya ikut mengeroyok. Ia pasrah kepada maut melihat suhengnya begitu beringas dengan mata yang berapi-api penuh nafsu membunuh.

Ketika Salima melengking dan melancarkan pukulannya, Kim-mou-eng duduk bersila. "Suheng, kau rupanya benar-benar menghendaki jiwaku. Baiklah, aku memasrahkan diri kepada Tuhan, tapi kebenaran tak mungkin kau kalahkan dengan kejahatan!"

Gurba tertegun. Kilatan sinar aneh tiba-tiba memancar di wajah sutenya, sinar sekilas yang lenyap kembali bersama selesainya seruan itu. Ia tidak mengerti, namun ia melanjutkan pukulannya, menghantam dada Kim-mou-eng dengan segenap tenaga. Ia yakin sutenya akan tewas saat itu juga.

Tepat saat Salima dan Gurba melancarkan serangan bersamaan, sesuatu yang di luar dugaan terjadi. Sesosok bayangan seperti asap tiba-tiba muncul, mengangkat Kim-mou-eng, dan memindahkan pendekar itu ke belakang. "Asap" tersebut berada di depan Kim-mou-eng dan menerima dua pukulan itu.

Seseorang terdengar mengeluarkan seruan lirih. Ketika pukulan Salima dan suhengnya menghantam "asap" itu, kedua orang itu lenyap seolah amblas ke dalam lautan.

*Bress!* Salima dan suhengnya terjerumus. Mereka roboh di pangkuan sesosok kakek yang wajahnya tertutup semacam halimun (kabut). Entah kapan kakek itu menggantikan posisi Kim-mou-eng. Kim-mou-eng sendiri sudah berada di belakang kakek itu, sama-sama bersila.

Ketika mereka terkejut, kakek yang tak diketahui kapan datangnya itu menangkap lengan mereka dengan lembut, diiringi seruan halus yang menyejukkan hati, "Thian yang Maha Agung, apa yang kalian lakukan, anak-anak?"

Gurba dan sumoinya terkejut bukan main. Mereka membelalakkan mata lebar-lebar, seketika merenggut lengan mereka dan melepaskan diri. Saat mereka mengenali suara itu, wajah mereka memucat. Mereka menjatuhkan diri berlutut dan berseru, "Suhu!"

Kakek itu tertawa renyah dan mengangguk. Ia mengusap Gurba dan Salima tiga kali. Masing-masing merasakan sentuhan luar biasa yang sangat dingin, menembus kemarahan dan panasnya hati mereka. Salima tergetar saat beradu pandang dengan sorot mata kakek itu yang mencorong seperti mata naga; kuat dan berpengaruh, namun lembut menundukkan kekasaran. Salima cepat-cepat menundukkan kepala karena tak sanggup menahan sinar tersebut.

"Anak-anak, apa yang terjadi? Kenapa kalian hendak membunuh Kim-mou-eng?" tanya kakek itu dengan lembut.

Gurba menelan ludah, gemetar. Ia kelu dan tak dapat menjawab. Ia merasa gentar oleh perbawa kakek yang luar biasa itu. Baru kali ini mereka bertemu lagi setelah bertahun-tahun. Tubuh kakek itu seolah memancarkan getaran agung seorang dewa; bersih dan suci. Begitu besar pengaruhnya hingga rumput di sekitar mereka menunduk hormat, seolah kedatangan malaikat. Bahkan angin pun tak berhembus.

Ketika pertanyaan itu diulang, Salima maju mewakili suhengnya. "Maaf, Ji-suheng berkhianat, Suhu. Kami hendak membunuhnya karena ia menyakiti kami!"

"Hm, apa yang terjadi? Berkhianat tentang apa?"

Salima tertegun. "Dia meninggalkan suku bangsa Tartar dan bersahabat dengan bangsa Han!"

"Betulkah?" Kakek itu memandang Salima dengan tajam hingga gadis itu merasa isi hatinya sedang dibedah. Ia ngeri karena kebohongannya nampak; sesungguhnya ia marah bukan karena itu, melainkan karena suhengnya telah menikahi selir kaisar. Ia cemburu!

Salima tak dapat menjawab, ia menangis terisak-isak. "Suhu, ampunkan teecu. Teecu tahu dari Twa-suheng!"

"Hm," kakek itu memandang Gurba. "Betulkah begitu, Gur-ji? Kau yang memberi tahu bahwa Kim-mou-eng berkhianat?"

"Be... betul!" jawab Gurba tertodong. "Teecu mendengar Kim-sute bersahabat dengan orang-orang Han, Suhu. Salah satunya adalah mendekati putri Wang-taijin!"

"Dan kau menganggapnya berkhianat?" Gurba dan Salima terdiam. "Ayo jelaskan padaku, Gur-ji. Apa yang kalian maksud dengan berkhianat?"

Salima menggigil. "Kim-suheng berkhianat karena bersahabat dengan musuh, Suhu. Saat suku bangsa Tartar menderita, dia justru bersenang-senang dengan selir kaisar. Ia memperistri selir kaisar dan tidak bertanggung jawab lagi kepada suku bangsanya!"

"Hm, betulkah?"

Gurba tak menjawab, namun Salima kembali mengangguk dengan berapi-api. "Betul, Suhu! Suhu boleh tanyakan sendiri pada Ji-suheng. Teecu mengetahuinya dari Twa-suheng, dan..." Salima terisak. "Dia mengkhianati teecu pula, Suhu. Kim-mou-eng jahat dan penipu!"

Salima menangis tersedu-sedu di depan gurunya, kedua pundaknya berguncang hingga tangisnya terdengar menyayat hati.

Ketika gurunya menghela napas dan beralih memandang Kim-mou-eng, ia bertanya dengan lembut dan penuh kasih, "Kim-mou-eng, benarkah kata-kata sumoimu ini?"

Kim-mou-eng pucat. Ia menggeleng, terbelalak mendengar suhengnya bercerita yang bukan-bukan. Kini dugaannya semakin kuat bahwa suhengnya adalah dalang dari semua permusuhan ini karena cinta segitiga.

Kim-mou-eng menjatuhkan diri berlutut dengan tubuh menggigil. Ia terbatuk menahan kemarahan dan hampir melontarkan darah. "Ampun, Suhu. Teecu tidak melakukan seperti yang dikatakan Sumoi. Justru suhenglah yang melakukan semua itu!"

"Tidak!" Gurba melengking. "Kau berkhianat, Sute! Kau meninggalkan bangsa Tartar dan bergalang-gulung dengan putri Wang-taijin!"

Kim-mou-eng melotot marah, tapi sebelum ia menjawab, gurunya menekan pundaknya dan menyuruhnya diam. Saat itu, sebuah tenaga hangat memasuki dadanya lewat pundak, seketika melonggarkan napasnya dan menghilangkan rasa sakit di dada.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment