Chapter 116
Kim-mou-eng sembuh!
Ketika pendekar ini tertegun dan sadar bahwa guru mereka ada di antara mereka, kakek dewa yang tidak lain adalah Bubeng Sian-su menegur, "Gur-ji, kenapa kau mengalihkan perhatian dengan menyebut-nyebut nama Wang-taijin? Bukankah yang ditekankan sumoimu adalah selir kaisar? Nah, sekarang jawab dengan jujur. Kalian hendak membicarakan Wang-taijin ataukah kaisar?"
Gurba tertegun. "Wang-taijin, Suhu!"
"Tidak, selir kaisar, Suhu!" Salima memprotes. "Karena dengan selir kaisar itulah Ji-suheng menyakiti kami!"
"Kalau begitu mana yang diturut? Wang-taijin ataukah kaisar?"
"Selir kaisar!"
"Tidak, Wang-taijin!" Salima melotot. Dia melihat suheng-nya tiba-tiba mengalihkan pembicaraan, tidak lagi kepada selir kaisar yang selama ini membakar hatinya, melainkan kepada Wang-taijin yang mempunyai putri cantik, Cao Cun. Gadis itu sudah dia kenal, tetapi tidak mungkin dijadikan istri Ji-suheng-nya karena Ji-suheng-nya telah kawin dengan selir kaisar. Jadi, terhadap selir itulah dia sakit hati dan marah. Masalah Cao Cun tidak lagi diingat karena sudah di luar persoalan. Tidak seperti Bi Nio, selir kaisar yang telah merebut Ji-suheng-nya itu!
Namun, ketika Salima terbelalak dan marah pada suheng-nya, Bu-beng Sian-su mengangkat lengannya. "Anak-anak, kalian tampaknya bertentangan sendiri. Baiklah, kalau kalian belum ada kesepakatan, biarlah kutunggu kalian menyelesaikan siapa yang harus dibicarakan. Bertengkarlah!"
Salima tertegun. Gurba juga terkejut, masing-masing merah mukanya dan tampak terpukul, malu. Tapi karena Salima selama ini merasa terbakar hanya dengan masalah selir kaisar itu, ia menegur, "Suheng, kau jarang sekali membicarakan tentang Wang-taijin. Kenapa sekarang membicarakan itu dan tidak Bi Nio?"
Gurba mulai gugup. "Karena Sute laki-laki mata keranjang, Sumoi. Dia juga berhubungan dengan putri Wang-taijin itu seperti apa yang selama ini kudengar."
"Tapi Wang-taijin tak ada hubungannya dengan masalah pengkhianatan. Kau selama ini menekankan padaku cerita selir kaisar!"
"Itu... itu..." Gurba bingung. "Itu sama saja, Sumoi. Karena Wang-taijin juga pembantu kaisar dan sama-sama musuh bangsa Tartar!"
"Kalau begitu sebutkan hubungannya. Apakah Wang-taijin juga ikut berperang dan membunuh bangsa kita ataukah tidak?"
"Ini..." Gurba terbelalak. "Ini memang tak ada hubungannya, Sumoi. Tapi betapapun Kim-sute sering berhubungan dengan putri bupati Wang itu!"
"Tapi Cao Cun dianggap adiknya, aku tahu itu. Dan gadis itu tak sampai menjadi istri Ji-suheng seperti Bi Nio!"
Gurba terkejut. Belum ia menjawab, Salima menyudutkannya dengan pernyataan keras, "Kau tak seharusnya mengelak omonganmu sendiri, Suheng. Bahwa kau lebih sering membicarakan selir kaisar daripada putri Wang-taijin. Sekarang aku menginginkan ini, kita bicarakan dulu selir kaisar dan setelah itu Wang-taijin. Kalau kau tak mau, berarti kau mencurigakan, ada sesuatu yang kau sembunyikan. Apakah kau takut?"
Pertanyaan ini sebenarnya dilepas karena dorongan rasa jengkel. Salima tak tahu bahwa suheng-nya memang menyembunyikan sesuatu, yakni rahasia pribadi berupa fitnahnya terhadap Kim-mou-eng. Namun, karena Salima telah mengajukannya dan ia akan dicurigai kalau bersikeras menolak membicarakan Bi Nio, akhirnya Gurba terpojok dan tak dapat bicara, apalagi guru mereka ada di situ. Hal itu membuat raksasa ini gentar karena pengaruh Bu-beng Sian-su demikian besar. Segala dosa tampaknya akan tersingkirkan oleh wibawa kakek dewa itu.
Angin pun semakin lemah. Pohon-pohon hening mematung, seakan siap menjadi saksi dari apa yang akan terjadi: penelanjangan kebohongan!
Ketika Gurba tertegun dan diam tak menjawab, Salima bertanya lagi, "Bagaimana, kau bersikeras menolak membicarakan selir kaisar, Suheng?"
Gurba diam. Tiga kali berturut-turut ditanya tapi tetap tidak menjawab, mukanya merah padam. Karena keempat kalinya suheng-nya tidak menjawab namun juga tidak menolak untuk membicarakan Bi Nio, Salima menghadap gurunya, "Suhu, Twa-heng tidak menolak untuk membicarakan Bi Nio. Sekarang kita bicarakan saja perihal selir kaisar itu!"
"Baiklah," kakek dewa itu memandang Gurba. "Beginikah, Gur-ji?"
"Terserah kalian, Suhu," jawab Gurba lemah dan pucat. "Teecu hanya menurut kalau memang itu yang hendak dibicarakan."
"Ah, kenapa terserah? Pembicaraan ini memang hendak mengupas permasalahannya, Gur-ji. Jangan terserah kalau kau memang tidak suka!"
"Tapi itu yang dibicarakan sehari-hari dengan teecu, Suhu," Salima memotong dengan kening berkerut. "Kenapa harus tidak suka?"
"Baiklah," Gurba tersudut, mukanya gemetar. "Aku menurut kau, Sumoi. Tapi ketahuilah bahwa semuanya ini kulakukan karena kau!"
Salima tak mengerti. Namun, Bu-beng Sian-su yang tersenyum lembut sudah mengangkat lengannya. "Anak-anak, sekarang kita sepakat bahwa kita hendak membicarakan selir kaisar itu. Mari kita mulai sekarang juga. Pertama, benarkah Kim-mou-eng berkhianat dengan meninggalkan suku bangsanya dan mengawini Bi Nio? Benarkah perbuatan itu dilakukan Kim-mou-eng?"
"Twa-suheng yang mengatakannya, Suhu. Ji-suheng boleh ditanya kalau dia berani menyangkal!" Salima langsung bersuara nyaring dan tampak marah memandang Kim-mou-eng.
Suhunya tersenyum tertawa lembut sambil menganggukkan kepala, memandang Kim-mou-eng. "Benarkah begitu, Kim-mou-eng?"
"Tidak," Kim-mou-eng menggeleng. "Apa yang dikata Sumoi tidak benar, Suhu. Karena sesungguhnya..."
"Karena sesungguhnya kau pengecut!" Salima melengking, memotong suheng-nya itu. "Kau penipu, Suheng! Kau pembohong dan pendusta yang takut pada perbuatanmu sendiri!"
Sebelum Kim-mou-eng menjawab, Salima sudah menangis dan menuding-nuding penuh kebencian. "Suheng, sungguh tak kusangka kalau kegagahan yang selama ini kulihat padamu ternyata hanya kegagahan lahiriah belaka. Kau berjuluk pendekar, orang memuji-muji sebagai pendekar pula. Kenapa sekarang bersikap pengecut dan menyangkal perbuatan sendiri? Mana itu kegagahanmu yang melekat pada julukanmu? Mana itu kekesatriaanmu yang biasanya kau tonjolkan? Dan kau menipu aku pula, Suheng. Kau... kau..."
Salima mengguguk, tidak meneruskan kata-katanya. Hatinya sangat sakit dan nyeri; ia tak sanggup mengingatkan suheng-nya bahwa ia pernah dicium, ciuman tanda cinta yang ditolak suheng-nya dengan dalih keraguan.
Ketika Salima mengguguk dan Kim-mou-eng pucat, Bu-beng Sian-su menghela napas dan menepuk gadis itu. "Salima, tenanglah. Pembicaraan belum berlanjut. Kalau kau berondong dengan kata-kata sendiri begini, mana bisa keterangan pihak lain kau dengar? Aku juga telah mendengar apa yang terjadi, dan sesungguhnya aku juga menyesal."
Kakek ini melirik Gurba, seketika membuat Gurba tertegun. Raksasa itu sadar bahwa gurunya adalah orang sakti yang waspada sebelum melihat. Dosa mulai menghantui dirinya. Salima menghentikan tangisnya dan menutupi muka penuh kecewa. "Maaf, teecu juga menyesal, Suhu. Tapi teecu tak dapat melenyapkan sakit hati ini!"
"Tenanglah, kita dengar berikutnya," Bu-beng Sian-su memandang Kim-mou-eng. "Kim-mou-eng, segala tuduhan telah kau dengar. Sekarang jawab saja apa yang terjadi agar semua pihak mendengar. Tetapkah kau menyangkal tuduhan Sumoi-mu bahwa kau berkhianat dan mengawini Bi Nio?"
"Tentu saja," Kim-mou-eng menyangkal. "Teecu memang tidak melakukan semuanya itu, Suhu. Karena semuanya ini adalah gara-gara Gurba-suheng!"
"Dapat kau memberi penjelasan?"
"Sebaiknya Gurba-suheng saja yang memberi penjelasan. Dia lebih tahu," Kim-mou-eng memandang suheng-nya penuh sesal. "Suheng, sekarang kita bertiga sama-sama ada di sini. Suhu menyaksikan. Sebaiknya kau akui segala perbuatanmu yang tidak terpuji itu. Beranikah kau mengakui dosamu?"
Gurba menggigil, mukanya pucat, terbelalak, dan kemudian merah padam. Ia tidak menjawab, yang tentu saja membuat Salima heran. Suheng-nya tiba-tiba beringas, tampak seperti orang ketakutan tapi juga marah. Ketika suheng-nya mengeluarkan suara tak jelas seperti orang mendengkur, Kim-mou-eng menoleh keluar.
"Suheng, perlukah pengawal itu kupanggil?"
"Tidak!" Gurba tiba-tiba bangkit, membentak mengejutkan semua orang. "Aku tak perlu pengawal itu, Sute. Karena aku memang bersalah!"
Sambil menggigil memandang Salima, raksasa ini tiba-tiba menangis. "Sumoi, maafkan aku. Aku... aku tak dapat lagi tinggal di sini. Tapi ketahuilah bahwa aku cinta padamu!"
Bercucuran air mata, raksasa ini menjatuhkan diri berlutut di depan suhunya. "Suhu, ampunkan teecu. Teecu memang bersalah. Mohon segala dosa diampuni...!"
Begitu mencium kaki suhunya, Gurba berkelebat lenyap melarikan diri tanpa banyak bicara lagi. Mukanya penuh malu dan dendam. Air mata bercucuran bagai hujan deras, mengejutkan Salima yang bengong tak mengerti, hendak berteriak dan mengejar. Namun, ketika seorang pengawal muncul dan Kim-mou-eng berkelebat menyambar pengawal itu, Salima tertegun.
"Sumoi, suheng telah pergi. Tapi pengawal ini dapat menjadi penggantinya dan semua pertanyaanmu dapat dijawab!"
"Siapa dia?"
"Utusan Bi Nio!"
"Ada apa ke mari? Mau apa?"
"Kau tanyakan sendiri, Sumoi."