Chapter 117
"Dan mari kita dengar apa yang telah dilakukan suheng," kata Kim-mou-eng. Ketika ia menyuruh pengawal itu menghadapi Salima, tiba-tiba pengawal tersebut menggigil dan menjatuhkan diri berlutut.
"Ampun, ampun, lihiap. Aku datang memang sebagai utusan hujin..."
"Hujin siapa?"
"Bi Nio, bekas selir kaisar itu..."
"Ada apa kau datang ke mari?"
"Mencari twa-suhengmu tadi, lihiap. Memberitahukan bahwa Bi Nio, istri twa-suhengmu itu, telah hamil dan Gurba-taihiap diminta datang ke istana!"
"Apa? Istri twa-suheng?"
"Ya, Bi Nio istri twa-suhengmu, lihiap. Sri Baginda Kaisar telah menghadiahkannya pada twa-suhengmu itu, Gurba-taihiap!"
Ketika Salima tertegun dan terbelalak, tiba-tiba ia mendesis, "Pengawal, jangan kau main-main. Bi Nio adalah istri suhengku yang ini, bukan yang tadi. Kau maksudkan Kim-mou-eng, bukan?"
"Tidak, bukan Kim-mou-eng, lihiap. Tapi suhengmu yang tadi, yang melarikan diri, Gurba-taihiap itu!"
"Ah...!" Salima terhuyung dengan muka pucat, lalu membentak, "Pengawal, kau bohong. Kau pun rupanya penipu. Ayo, kita buktikan bersama!"
Salima menyambar pengawal itu, berpamitan pada suhunya, lalu berkelebat terbang seperti burung, langsung menuju utara ke kota raja, ke istana. Kim-mou-eng yang tertegun ditinggal sumoinya tiba-tiba hendak mengejar.
"Sumoi...!"
Namun, sebuah lengan halus menahannya. Kim-mou-eng terkejut karena gurunya sudah di sampingnya, mencegah ia mengejar Salima. Sorot mata yang lembut itu memancar penuh kasih. Ketika Kim-mou-eng tertegun dan sang guru menarik napas, tiba-tiba Bu-beng Sian-su bertanya, "Kim-mou-eng, hikmah apa yang kau dapat dari semuanya ini?"
Kim-mou-eng tak menjawab, ia tidak mengerti.
"Kau tak dapat menangkap sesuatu yang berharga?"
Ketika Kim-mou-eng menggeleng, gurunya mengajak ia duduk. "Kim-mou-eng, melihat tanpa mengamati adalah suatu kebodohan. Tapi mengamati tanpa berpikir adalah suatu ketidakmungkinan. Kau tak dapat menangkap sesuatu dari semua peristiwa ini?"
"Tidak," jawab Kim-mou-eng. Ia tidak tahu bahwa suhunya mulai mengajak ke alam filsafat. "Teecu tidak melihat apa-apa yang kau maksud, Suhu. Kalau ada sesuatu yang perlu diberitahukan, mohon Suhu memberi petunjuk!"
"Tentu, aku memang akan memberi petunjuk padamu, Kim-mou-eng. Tapi yang akan kuberikan adalah rangkanya saja. Kau harus dapat mengetahui isinya dan mencari sendiri."
"Apa maksud Suhu?"
"Pelajaran dari semua kejadian ini, salah satu inti sarinya," jawab sang kakek.
"Kim-mou-eng, apa pendapatmu tentang suhengmu itu?"
"Dia khilaf, terbawa nafsunya sendiri."
"Hanya itu saja?" Kim-mou-eng terbelalak. "Apakah Suhu melihat sesuatu yang lain?"
"Ya, aku melihat sesuatu yang lain, Kim-mou-eng. Bukan sekadar khilaf atau terbawa nafsunya saja. Kau tak melihat itu?"
"Tidak."
"Baiklah, aku akan menuntunmu," Bu-beng Sian-su bangkit berdiri. "Sesuatu yang dilihat seharusnya diamati. Dan kalau sesuatu yang diamati itu sudah bekerja sama dengan pikiran, maka jawaban dari itu akan didapat. Kau tampaknya tak melihat hal ini, atau lebih tepatnya, kau tak mengamati hal ini. Sekali lagi kutanya padamu, apa pendapatmu tentang suhengmu itu?"
"Dia khilaf, Suhu. Hanyut dan terbawa oleh nafsunya."
"Kenapa dia khilaf? Kenapa dia terbawa nafsunya?"
Kim-mou-eng tertegun, teringat masalah cinta. Ia merasa suhengnya tidak jahat, hanya terbawa oleh urusan perasaan. Jadi, suhengnya khilaf karena ingin merebut Salima dengan tipu daya, berbohong, dan memfitnah. Kim-mou-eng ragu menjawab dan hanya terdiam.
"Ayo, berikan jawabanmu. Katakan saja dan sebut alasannya!"
"Maaf, Teecu mengatakan suheng terbawa nafsunya karena suheng tak dapat mengendalikan diri. Bahwa suheng mencintai sumoi, tak ingin kehilangan sumoi, dan karena itu memfitnah Teecu!"
"Hanya itu?"
"Apakah Suhu melihat sesuatu yang lain?"
"Ah, aku tanya dirimu, jangan balik bertanya sebelum menjawab! Kau hanya mengajukan pernyataan itu saja?" tegur Bu-beng Sian-su.
"Ya, Teecu kira hanya itu, Suhu. Setidak-tidaknya saat ini. Kalau ada yang lain, harap Suhu menerangkannya kepada Teecu!"
"Bagus, aku memang akan menerangkannya kepadamu, tapi tidak sekarang, tidak secara lengkap. Karena untuk lengkap haruslah kau peroleh sendiri!" Bu-beng Sian-su tersenyum dan menuding. "Kim-mou-eng, apa itu?"
"Batu."
"Bagaimana kalau kupukulkan ke kepalamu?"
"Apa maksud Suhu?"
"Ayo, tak perlu bertanya, jawab saja bagaimana rasanya kalau batu itu kupukulkan ke kepalamu?"
"Tentu saja sakit," jawab Kim-mou-eng terbelalak.
"Ya, aku tahu. Sekarang, apa itu?"
"Duri."
"Bagaimana kalau kau makan?"
"Ah," Kim-mou-eng terbelalak. "Apakah Suhu bertanya sungguh-sungguh?"
"Jangan memutus! Aku bertanya sungguh-sungguh. Jangan kau kira aku gila! Bagaimana kalau kau makan duri itu?"
"Tentu saja tak enak, Suhu. Salah-salah bisa mati!"
"Bagus, dua pertanyaan ini kucukupkan dulu. Sekarang kembali pada suhengmu, apa pendapatmu tentang suhengmu itu?"
"Teecu tetap pada pendapat tadi, Suhu. Bahwa suheng khilaf dan hanyut terbawa nafsunya!"
"Tidak ada lagi?"
"Tidak."
"Kalau begitu sayang, pengamatanmu kurang jauh!" Bu-beng Sian-su menghampiri batu karang lalu menggurat sesuatu. "Muridku, kemarilah. Lihat apa yang kutulis, hafalkan ini dan renungkan."
Kim-mou-eng mendekat dan membaca empat baris kalimat:
*Lalu lalang di depan mata*
*Sering berubah berganti rupa*
*Siapa dapat "menangkap" harganya*
*Dialah manusia berguna ganda.*
"Kau mengerti?"
"Tidak."
"Kalau begitu cari jawabannya. Pergilah dan temui setiap kejadian yang kau alami. Kalau belum ketemu juga, kelak kita ke sini lagi mengupas jawabannya!"
Setelah tertawa lembut, kakek itu berkelebat dan menghilang, membuat Kim-mou-eng terkejut. "Suhu...!" Namun, Bu-beng Sian-su telah lenyap. Kim-mou-eng mengejar dan mencoba mencari, namun ia hanya melihat titik kecil di kejauhan. Lamat-lamat suara gurunya berbisik, "Muridku, apa yang kau jumpai seharusnya kau amati. Camkan itu, agar kau tidak dirugikan orang dan merugikan orang lain!"
Kim-mou-eng terdiam, menarik napas dengan jantung berdebar. Ia baru menyadari bahwa gurunya adalah seorang manusia dewa yang luar biasa, dengan ilmu tinggi serta petuah unik yang sering membuat orang terperangah. Karena baru pertama kali mendapatkan syair tersebut, ia tidak tahu bahwa ada sesuatu yang penting yang tersembunyi di balik kalimat sederhana itu. Biarlah waktu yang menjawab makna syair tersebut di akhir cerita.
Kim-mou-eng tidak termenung lagi. Sebait syair itu telah ia ingat di luar kepala. Namun, ia kembali menarik napas memikirkan suheng dan sumoinya. Persoalan dirinya telah selesai, fitnah suhengnya terbongkar. Namun, benarkah permusuhan itu berakhir? Dan pertanyaan gurunya tentang batu dan duri tadi kembali mengiang, meninggalkan rasa penasaran yang mendalam bagi pendekar itu.