Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 118

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 118

Untuk sumoinya mungkin begitu.

Tapi suhengnya, mungkinkah begitu?

Melihat sorot matanya yang beringas dan penuh dendam saja, dia tahu bahwa suhengnya membencinya.

Burung yang elok terlepas dari tangan.

Suhengnya tentu sakit hati.

Tapi bukankah itu suhengnya sendiri yang melakukan?

Dan dia diterkam dari belakang.

Suhengnya pergi dan sumoinya juga meratap.

Ke mana dia sekarang?

Lebih baik ke kota raja!

Kim-mou-eng mengerutkan alis.

Sebenarnya, dia enggan ke kota raja.

Tempat itu berkali-kali memberinya celaka.

Tapi melihat sumoinya ke sana dan khawatir Salima membunuh Bi Nio, tiba-tiba perasaan tak enak menyelinap di hati pendekar ini.

Ada sesuatu yang membuat dia berdebar, sorot mata suhengnya itu.

Kebenciannya, sakit hatinya.

Dan penasaran dengan semuanya ini, mendadak Kim-mou-eng menggerakkan kaki ke kota raja dan lenyap meninggalkan tempat itu.

"Sumoi, kau tak boleh membunuh orang!" Kim-mou-eng cemas, membayangkan sumoinya mungkin marah-marah di sana dan menemui sesuatu.

Dan karena dia menyayangi sumoinya itu dan semua yang telah lewat tak membuat pendekar ini sakit hati, maka sebentar kemudian Kim-mou-eng terbang menuju ke kota raja.

Dan sesuatu memang terjadi di sana, nyaris membunuh Salima.

Apakah itu?

Mari kita lihat!

Gurba meluncur seperti iblis.

Raksasa tinggi besar ini menggeram-geram, tinju terkepal sebesar buah kelapa.

Nafsu membunuhnya tampak di bola mata, berapi dan ganas.

Buas sekali.

Dan ketika dia pergi ke kota raja, meninggalkan suhu dan sumoinya di bukit batu karang itu, Gurba telah tiba di istana.

Apa yang dia pikirkan?

Tidak lain adalah menemui Bi Nio.

Raksasa ini menganggap Bi Nio pembawa celaka, pembawa sial.

Sungguh geram dan marah dia mengapa Bi Nio harus menyuruh pengawal mencari dirinya.

Berakhir dengan terbukanya kedoknya hingga dia mendapat malu.

Dia tidak mengingat bahwa dia memang salah, sudah seharusnya menerima kesalahannya itu karena setiap yang salah memang akan menanggung dosa.

Dan Gurba yang hari itu juga meluncur ke kota raja mencari Bi Nio sudah memasuki istana melompati tembok yang tinggi.

Tidak ada kesukaran bagi raksasa ini.

Gurba memiliki kepandaian tinggi, siapa yang dapat menghalanginya?

Kalaupun ada pengawal yang memergoki dirinya, tidak mungkin dia dicegah.

Bisa-bisa si pengawal akan dipukulnya sampai mati.

Dan Gurba yang langsung ke kaputren mencari Bi Nio akhirnya mendapatkan kamar bekas selir kaisar itu, mendobrak pintunya dan langsung masuk, mengejutkan Bi Nio yang sedang berbaring di kamarnya dan tentu saja berseru tertahan.

Tapi melihat siapa yang datang dan Gurba tegak di tengah kamar, tiba-tiba Bi Nio berteriak girang dan melompat turun dari pembaringannya.

"Hanggoda...!" Tapi Gurba membentaknya.

Raksasa ini langsung menendang Bi Nio, membuat Bi Nio terpelanting dan menjerit kesakitan.

Berkilat dan penuh nafsu membunuh.

Dan ketika Bi Nio terbelalak dan menangis perlahan, tiba-tiba Gurba menyambar tengkuknya, diangkat seperti orang mengangkat seekor kelinci liar.

"Bi Nio, kau mengutus pengawal?" Bi Nio menggigil, ketakutan.

"Heh, kau yang mengutus pengawal menyuruh mencari diriku?" "Be... betul...!" Bi Nio akhirnya mengangguk, ngeri hatinya.

"Ada apa, suamiku? Apakah pengawal itu salah padamu?" "Keparat, bukan saja salah, Bi Nio. Tapi dosa yang tidak dapat kuampuni. Kau wanita tidak tahu diri. Kau laknat terkutuk yang harus kubunuh!" Dan Gurba yang melempar Bi Nio ke dinding tiba-tiba membuat Bi Nio memekik dan hampir pingsan.

"Bress!" Bi Nio tersedu-sedu.

Wanita ini tiba-tiba menangis, pucat mukanya.

Dan ketika Gurba menghampiri dan menamparnya berulang kali, akhirnya Bi Nio menjerit dan meratap-ratap.

"Aduh, ampun suamiku... ampun...!" "Tidak ada ampun. Kau akan kubunuh, Bi Nio. Kau akan kuhajar dan kusiksa sampai mati... plak-dess!" Dan Bi Nio yang mendapat tamparan dan tendangan Gurba tiba-tiba terpelanting dan bergulingan menjerit-jerit, dihajar dan dipukul bertubi-tubi hingga mulut wanita ini pecah.

Gurba naik darah dan tidak memberi ampun.

Dan ketika wanita itu mengeluh dan roboh dengan kulit lebam biru, akhirnya pengawal kaputren muncul mendengar ribut-ribut ini.

Tapi mereka tertegun, melihat raksasa Tartar itu mendelik pada mereka.

Tidak menyangka kalau Gurba yang datang, berurusan dengan istrinya sendiri.

Dan karena kaisar memberi kebebasan penuh pada raksasa ini untuk menemui istrinya, akhirnya para pengawal mundur dan tidak berani menolong.

Apalagi ketika Gurba mengibas lengannya, tiga orang terlempar menumbuk yang lain.

Roboh terjengkang dan terguling-guling, mengaduh dan seketika membuat keadaan gaduh.

Masing-masing melarikan diri, tidak ada yang berani menghadapi raksasa itu.

Dan ketika Gurba membalik dan menghadapi Bi Nio, maka wanita malang ini menggigil dengan pakaian robek-robek.

"Hanggoda, suamiku... apa yang menyebabkan dirimu begini? Mengapa kau menghukum dan menyiksa aku? Dosa apakah yang telah kulakukan?" "Jahanam, dosamu banyak, Bi Nio. Kau tidak perlu bertanya karena kau sudah tahu!" "Tidak, tidak... aku tidak tahu, hanggoda. Tolong beri tahu agar aku tidak mati penasaran...!" "Hm, aku memang akan membunuhmu. Kau tidak perlu mati penasaran. Kau mengutus pengawal untuk mencari diriku, bukan?" "Benar." "Dan ketahuilah, perbuatanmu itu merusak hubunganku dengan sumoiku. Kau merenggut orang yang kucintai dari sisiku. Kau membuat aku malu dan kehilangan muka. Kubunuh kau, keparat...!" Dan Gurba yang menampar Bi Nio berulang kali dan menendangnya kembali tiba-tiba membuat Bi Nio terpelanting dan roboh di sana, menjerit dan tersungkur dengan kulit dahi pecah, mengucurkan darah.

Dan ketika Bi Nio tersedu-sedu dan ngeri oleh sepak terjang raksasa ini, akhirnya Gurba mengangkat tubuhnya dengan bola mata berapi-api.

"Wanita hina, kematian apa yang kau inginkan dariku? Kau minta batok kepalamu pecah atau kuhancurkan tulang-tulangmu?" Bi Nio menggigil.

"Ampun..." wanita ini hampir pingsan, serasa terbang semangatnya.

"Ampunkan aku, hanggoda. Aku menyuruh pengawal karena aku telah mengandung...!" "Bohong! Kita hanya sekali, mana mungkin itu?" "Sumpah, aku berani sumpah, hanggoda. Aku mengandung sejak pertemuan kita pertama kali itu!" "Siluman!" Dan Bi Nio yang kembali dibanting dan sobek telinganya akhirnya mengguguk dan meratap di bawah kaki raksasa ini.

"Hanggoda, sumpah demi langit dan bumi aku menyatakan kebenaranku. Aku hamil, benihmu telah tertanam dan tidak ada orang lain yang menggauliku. Aku..." "Des-dess!" Gurba menendang, menghentikan kata-kata Bi Nio hingga wanita itu terpekik, terlempar tiga tombak dan menjerit mendekap perutnya.

Gurba membentak marah.

Dan ketika Gurba menyambar dan mencengkeram wanita ini, akhirnya Bi Nio merasa di ujung maut.

"Bi Nio, aku tidak mau percaya segala omonganmu. Kau penipu, kau pendusta. Dulu pun ketika pertama kali kita bertemu kau pun menjebak aku. Kau wanita siluman, kau tidak dapat dipercaya. Sekarang kubunuh kau!" Dan Gurba yang menggeram menghantam wanita ini tiba-tiba melepas pukulan maut yang tidak dapat dielak.

Sekali menimpa kepala Bi Nio tentu wanita itu tewas, hancur batok kepalanya.

Tapi persis Gurba menurunkan tangannya, tiba-tiba sebatang pedang menyambar raksasa ini.

"Suheng, tahan... plak!" Dan pedang yang menghantam, menyelamatkan Bi Nio tiba-tiba disusul bayangan Salima yang berkelebat masuk, berdiri di depan suhengnya dengan mata berapi-api, mengejutkan raksasa itu.

Bi Nio sendiri roboh pingsan karena tekanan yang dia alami.

Dan ketika Gurba melepas istrinya dan mundur terbelalak memandang sumoinya, maka Salima sudah melepas pengawal yang dia bawa memasuki ruangan itu.

"Suheng, apa yang kau lakukan? Kau mau membunuh istrimu sendiri?" Gurba menggigil, pucat dan merah berganti-ganti.

"Kau mendengar semua percakapanku?" "Ya, aku mendengarnya, suheng. Dan sungguh tidak kusangka kalau hatimu demikian keji! Kau laki-laki pengecut. Kau laki-laki busuk yang hina dan pembohong!" Gurba terbelalak.

"Sumoi, apa yang kulakukan adalah semata demi dirimu. Bi Nio bukan istriku, ia wanita lain yang bukan apa-apa bagiku!" "Tapi kau telah menggaulinya, suheng. Dan aku telah mendengar dari pengawal ini apa yang sesungguhnya terjadi. Kau laki-laki pengecut!" "Bagus, apa saja yang dia katakan?" Gurba tampak beringas.

"Dia mengatakan apa yang sebenarnya harus dikatakan, suheng. Dan sungguh tidak kusangka bahwa kau telah memutarbalikkan fakta. Kau memfitnah Kim-suheng!" "Ha-ha!" Gurba tambah beringas.

"Aku melakukan itu semata karena aku mencintaimu, sumoi. Dan sebagai bukti, kau lihat bagaimana besarnya cintaku. Aku tidak ingin kehilangan dirimu, dan apa pun siap kulakukan asal kau bersamaku. Kau dapat memaafkannya, bukan?" "Tidak, aku justru malu pada Kim-suheng, twa-heng. Perbuatanmu memalukan dan sungguh pengecut!" Dan ketika Gurba terbelalak dan marah memandangnya, Salima sudah menolong Bi Nio.

"Suheng, betapapun kau bukan laki-laki gagah. Aku malu melihat dirimu. Sebaiknya kau minta maaf dulu pada istrimu ini!" Dan Salima yang menyadarkan Bi Nio dan melotot memandang suhengnya, akhirnya menyadarkan wanita itu, mengangkat dan membangunkan Bi Nio.

"Bi Nio, tidak perlu kau takut. Aku ada di sini." Bi Nio menggigil.

"Kau... kau Tiat-ciang Sian-li Salima?" "Benar." "Kau yang menyelamatkan aku? Aku belum mati?" "Kau masih hidup, Bi Nio. Dan ini suhengku yang hendak kupaksa meminta maaf padamu!" Dan, menghadapi suhengnya, tidak peduli pada sorot mata suhengnya yang beringas, Salima berkata, "Suheng, kau harus minta maaf pada istrimu. Setelah itu kita pergi minta maaf pada Kim-suheng!" Gurba tiba-tiba tertawa bergelak.

"Sumoi, kau gila. Tidak mungkin aku minta maaf pada wanita ini karena dia biang celaka bagiku. Tidak, aku harus membunuh wanita itu atau... hm, kau menerima cintaku, sumoi. Kau ikut aku dan kita menikah!" Salima mendelik.

"Kau masih tidak malu mengucapkan cintamu yang kotor itu, suheng? Kau hendak main paksa?" "Aku tidak main paksa, sumoi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment