Chapter 119
"Tapi kalau kau menghendaki aku minta maaf pada wanita itu, maka kau harus menerima cintaku. Dengan begini, aku tak menderita. Bahkan, apa pun yang kau minta untuk wanita ini, aku sudi menurutimu!"
"Maksudmu?"
"Kau maafkan aku, sumoi. Setelah itu, aku akan minta maaf pada wanita ini. Jangankan minta maaf, kau suruh aku mencium kakinya pun aku mau, sumoi. Asal kau menerima cintaku dan kita berdua seperti semula!"
"Tidak!" Salima marah. "Kau membuat aku malu, suheng. Dan aku tak akan menerima cintamu yang penuh muslihat itu. Kau curang, kau licik. Kau..."
"Ha-ha, kalau begitu aku akan menangkapmu, sumoi. Aku akan memaksamu dan merobohkanmu!"
Gurba memutus ucapan sumoinya. Ia berkelebat maju, menyambar, dan mencengkeram Salima, yang tentu saja segera mengelak dan menangkis. Ketika Gurba menggeram dan maju kembali, raksasa itu mulai melancarkan serangan bertubi-tubi. Salima marah, memaki suhengnya, lalu membalas. Pertempuran seru pun pecah di dalam kamar. Masing-masing saling pukul hingga meja dan kursi jungkir balik. Bi Nio yang ketakutan segera terhuyung keluar. Tak lama, kamar itu porak-poranda dan hancur berantakan.
"Sumoi, kau tak dapat mengalahkan aku!"
"Tidak, kau yang tak dapat merobohkan aku, suheng. Atau kau tinggal memegang mayatku nanti!"
Salima yang sengit melawan suhengnya terus menangkis dan berputar. Kemarahan membuat gadis ini bersemangat tinggi. Namun, ketika suhengnya mulai melancarkan pukulan-pukulan berat, Salima terdesak. Kamar itu sudah tidak leluasa lagi digunakan sebagai ajang pertempuran. Salima butuh tempat yang lebih lega untuk mengelak dan berlompatan. Akhirnya, gadis ini melompat keluar melalui jendela.
"Ha-ha, kau hendak melarikan diri, sumoi?"
"Tidak, aku pantang mundur, suheng. Kau boleh lihat perlawananku!"
Salima mengerahkan *Tiat-lui-kang* dan terus meladeni tekanan suhengnya. Sejenak ia mampu membalas karena mereka bertempur di tempat lapang. Namun, ketika Gurba menambah kekuatannya, *Tiat-lui-kang* milik Salima berkali-kali tertolak. Gadis itu mulai gelisah.
"Suheng, kau tak tahu malu! Kau pengecut!"
"Ha-ha, terserah makianmu, sumoi. Pokoknya kau roboh dan menerima cintaku!"
"Tidak, aku akan bertempur sampai mati!"
Salima terdesak terus. *Tiat-lui-kang*-nya tidak ditakuti oleh suhengnya; setiap kali ia menyerang, pukulannya justru membalik dan membuat lengannya sakit. Gurba memang setingkat lebih tinggi. Raksasa itu tertawa mengejek, "Ha-ha, bagaimana, sumoi? Kau minta roboh karena kelelahan?"
Salima pucat. Ia mulai gemetar, keringat membasahi tubuhnya, dan tenaganya melemah. Ketika suhengnya mendesak, sebuah pukulan menyambar ke arah tengkuk.
"Plak!"
Salima menangkis, sempat terbanting, lalu melompat bangun meski dengan kaki terhuyung. Ia masih keras kepala untuk melawan. Namun, ketika pukulan suhengnya kembali mengenai pundak, "Dess!", Salima terbanting jatuh. Gurba dengan cepat menotok sumoinya itu hingga tak berkutik.
Ketika raksasa itu hendak memanggul sumoinya, tiba-tiba lima bayangan berkelebat mengepung.
"Gurba, bagus sekali. Selamat datang!"
Saimo-ong dan kawan-kawannya tiba-tiba berada di situ. Raksasa itu terbelalak dan menggeram. Namun, sebelum ia sempat menyerang, seorang laki-laki muda muncul, menyeruak di antara lima kawanan iblis itu, dan menjura di depan Gurba dengan kata-kata halus.
"Hanggoda, selamat datang. Kami sudah lama mengharap kedatanganmu di kaputren ini. Perkenalkan, aku Siauw-ong-ya, Pangeran Muda!"
Gurba terkejut. Belum sempat menjawab, pangeran itu telah memegang lengannya dengan sikap bersahabat. "Hanggoda, kami adalah teman. Jamuan kehormatan telah kusiapkan untukmu. Kau berani menerimanya, bukan?"
Gurba tersinggung. "Siapa kau? Kenapa tidak berani?"
"Ha-ha, aku Siauw-ong-ya, Hanggoda. Aku putra dari selir ayahanda Sri Baginda Kaisar. Aku telah lama menanti kedatanganmu, mari ke gedungku dan kita bercakap-cakap di sana."
Gurba mundur, melepaskan tangannya dari pegangan pangeran itu. Ia diam-diam kagum dan heran karena pangeran ini tidak takut sedikit pun kepadanya. Padahal, Gurba bisa saja memukulnya hingga tewas. Pangeran itu kemudian menoleh ke arah sumoi Gurba.
"Aih, ini sumoimu, bukan? Hanggoda, mari terima undanganku. Aku telah mendengar kisahmu, sebaiknya sumoimu ini dilepaskan dan kita bersahabat!"
"Tidak!" Gurba menggeleng. "Aku tak kenal kau, Pangeran. Dan aku tak sudi bersahabat dengan iblis-iblis macam mereka itu!"
Gurba menuding Saimo-ong dan kawan-kawannya. Anehnya, kelima iblis itu hanya tertawa dan tidak marah. Sang pangeran tersenyum, memberi tanda kepada mereka, "Baiklah, kalau begitu kau bersahabat dengan aku, Hanggoda. Mereka kusuruh pergi biar puas hatimu!"
Saimo-ong dan kawan-kawannya benar-benar pergi. Gurba tertegun; pengaruh pangeran ini luar biasa karena bisa memerintah lima pentolan kawakan begitu saja. Akhirnya, mereka berhadapan satu lawan satu.
"Bagaimana, kau berani menerima undanganku, Hanggoda?"
"Aku tak menggigit," sang pangeran tertawa. "Kau boleh bunuh aku kalau menipu. Aku percaya kau tak mungkin menolak, kecuali takut!"
Wajah Gurba memerah. Ia merasa dipojokkan dengan kata "takut". Akhirnya, ia mengangguk. Siauw-ong-ya tertawa dan menggandengnya menuju ke sebuah gedung. Sesampainya di sana, Pangeran Muda mempersilakan Gurba duduk.
"Pangeran, tak biasa aku bercakap-cakap dengan cara berbelit seperti ini. Kalau ada kepentingan, bicaralah. Kalau tidak, biar aku pergi!"
"Ah, minuman belum disentuh, Hanggoda. Mari nikmati dulu, kita bicara sambil ngobrol!" Pangeran Muda mengisi cawan raksasa itu, lalu bertepuk tangan mengusir pelayan.
Gurba memandang tajam. Ia masih curiga, merasa kelima iblis tadi mungkin sedang mengawasi dari balik layar. Ketika pangeran mengajak minum, Gurba menolak.
"Pangeran, kau belum berterus terang. Sebaiknya katakan dulu isi hatimu dan kita bicara sekarang!"
"Ah, kau tak percaya, Hanggoda? Baiklah, aku memenuhi permintaanmu. Tapi maaf, kita minum dulu arak kita!"
Pangeran itu menenggak araknya sendiri karena Gurba tetap menolak. Pangeran Muda sempat terbelalak dan merah mukanya, namun ia tertawa dan mengusap mulutnya.
"Hanggoda, maafkan. Terus terang saja, maksud persahabatanku ini tiada lain hendak meminta bantuanmu. Aku mengalami tekanan, seseorang mengancam kedudukanku!"
Pangeran itu melanjutkan dengan muka muram, "Aku dibenci oleh saudaraku, Hanggoda. Aku ingin membebaskan diri dari kebencian ini. Persoalannya merembet ke atas dan mungkin sampai ke telinga ayahku, Sri Baginda Kaisar!"
"Apa yang terjadi? Siapa yang membencimu?"
"Adikku, Pangeran Mahkota."
Gurba terbelalak. Sebenarnya, ia awam dalam urusan istana, namun ia tertawa mengejek, "Pangeran, masalah begini sebenarnya tak perlu kau minta bantuanku. Itu urusan pribadi, bukankah orang luar tak perlu mencampuri?"
"Benar kalau bersifat pribadi, Hanggoda."