Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 12

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 12

Ketika dia menangkis dan tombak itu membalik, mental ke atas, tapi kini mencakar kepalanya, tiba-tiba Cu Hak, panglima tertua, juga melepas tombaknya dan mundur menjauhi lawan mereka, menggerak-gerakkan tangan "mengemudikan" tombak menyambar pundak Kim-mou-eng.

Kim-mou-eng yang tentu saja terkejut oleh serangan dari udara ini tiba-tiba berseru keras menangkis dua tombak terbang itu. "Plak-plak!" Aneh sekali. Tombak di tangan Cuciangkun bersaudara itu tidak kembali ke masing-masing tuannya, mental dan kini menusuk lagi seolah tombak bernyawa, menyambar dari kiri kanan menuju leher Kim-mou-eng.

Seolah siap menyayat pemuda itu lewat leher yang lunak. Dan ketika Kim-mou-eng tertegun dan heran oleh kepandaian dua panglima itu memainkan tombak mereka, tiba-tiba sepasang tombak itu telah mengenai batang lehernya, dari kiri kanan. Cu-ciangkun bersaudara terkejut. Mereka melihat lawan mereka itu tertawa, rupanya telah memasang kekebalan dengan sinkangnya yang luar biasa itu.

Sebuah demonstrasi yang mengagumkan! Tapi Cu Hak dan adiknya yang marah oleh kegagalan ini tiba-tiba membentak dan menggerak-gerakkan telapak tangan mereka, membuat tombak terbang itu berseliweran cepat dan kini mematuk-matuk tubuh lawan yang terang tak mungkin menangkis hujan tusukan itu dengan selamat.

Sekali dua terkena juga. Tapi Kim-mou-eng yang telah memasang kekebalannya dan kini ingin mengakhiri pertandingan itu tiba-tiba berseru, "Cu-ciangkun, cukup sudah kulihat kepandaian kalian. Sekarang berhentilah!" Cu-ciangkun terbelalak. Mereka sendiri masih menggerak-gerakkan tombak terbang mereka, kaget dan marah bahwa tombak mereka tak dapat melukai lawan.

Dan ketika mereka mendengus akan kata-kata pemuda aneh itu, tiba-tiba tanpa mereka sangka, Kim-mou-eng menangkap tombak mereka itu, tidak lagi menangkis. "Cep-cepp!" Dua panglima itu terkejut. Mereka melihat Kim-mou-eng telah menjepit sepasang tombak itu dengan dua jari telunjuk dan tengah, masing-masing dijepit sedemikian rupa hingga tak dapat melepaskan diri, bergetar dan mencicit di jari pemuda itu karena Cu-ciangkun menarik-narik dari jauh.

Mirip sihir atau ilmu siluman! Tapi begitu Kim-mou-eng tertawa dan melepas sepasang tombak ini dan membalik gagangnya dilontarkan ke dada panglima bersaudara itu, tiba-tiba Cu-ciangkun dan adiknya kaget ketika tombak menyambar dada mereka, cepat sekali. "Duk-dukk!" Dua panglima itu terjengkang. Mereka menerima gagang tombak yang menyambar tak dapat dikelit, seketika itu juga menjerit dan mengaduh, terbanting roboh.

Dan ketika mereka mengeluh dan tertegun karena bukan mata tombak yang menimpuk dada mereka melainkan gagangnya saja yang dibalik, tanda lawan tak bermaksud mencelakai mereka, maka pemuda yang luar biasa itu melompat pergi, tertawa. "Cu-ciangkun, lain kali kita bertemu lagi. Selamat tinggal...!" Cu-ciangkun mendelong. Mereka sekarang sadar bahwa pemuda itu bukannya orang jahat, terbukti tak membunuh mereka meskipun mampu.

Tapi Mao-taijin yang rupanya memberi aba-aba mendadak memanggil bala bantuan lain, pasukan lebih besar dari istana. Tak kurang dari lima ratus orang, menyebarkan berita bahwa seorang pemberontak muncul di gedungnya. Dan begitu Kim-mou-eng melompat pergi, tahu-tahu pasukan besar muncul di luar gedung dipimpin empat panglima yang bukan lain anggota lengkap dari Jit-liong Ciangkun, Panglima Tujuh Naga!

"Pemberontak hina, kembalilah kau...!" Kim-mou-eng terkejut. Dia mendengar suara mencicit dari sebuah golok terbang, kaget melihat seseorang menyerangnya dari belakang. Tapi karena dia telah mengerahkan sinkang dan golok juga sudah tak keburu dikelit maka serangan cepat itu telah mengenai sasarannya. "Plak!" golok runtuh ke tanah.

Kim-mou-eng telah mendemonstrasikan kekebalannya, tapi pemilik golok yang rupanya menyusul golok terbangnya dengan berkelebat ke depan dan membentak mengayun pukulan tiba-tiba membuat Kim-mou-eng terbelalak karena pukulan itu mengeluarkan kesiur angin dingin. Maka, terpaksa berhenti dan memutar tubuhnya menangkis serangan ini secepat kilat. Pendekar Rambut Emas membungkuk dan mendorong menahan serangan itu.

"Dess...!" dan penyerang di belakang ini berteriak kaget. Dia terpental dan tertolak oleh tangkisan ini, jatuh terbanting dan terguling-guling tapi sudah melompat bangun. Dan ketika Pendekar Rambut Emas memandang siapa penyerangnya itu maka tampaklah seorang panglima muda yang pendek kekar memandangnya dengan melotot.

Dan sementara dia tertegun mengerutkan alis maka tiga bayangan lain berkelebat mengurung disusul Cu-ciangkun bersaudara dan panglima Bu. "Ha-ha, kau sekarang tak dapat lolos, pemberontak cilik!" Bu-ciangkun berseru, "Kami Jit-liong Ciangkun telah berkumpul semua!" Kim-mou-eng menjublak. Dia melihat pasukan besar di luar kepungan mengurungnya rapat, sementara tujuh panglima yang kini mengepungnya dengan mata terbelalak juga memandang tak berkedip.

Panglima Tujuh Naga, panglima istana yang tangguh dan lihai-lihai. Dan sementara dia menjublak dengan kerut semakin dalam tiba-tiba panglima bermuka merah yang ada di sebelah kanannya berseru, rupanya mengenal dia, "Kim-mou-eng (Pendekar Rambut Emas)...!" Kim-mou-eng terkejut. Dia tak mengenal siapa panglima bermuka merah itu, Ang Bin Ciangkun.

Panglima yang sering bertugas di utara dan karena itu sudah mendengar namanya. Dan enam panglima lain yang juga tersentak oleh seruan Ang Bin Ciangkun ini tiba-tiba mundur selangkah dengan seruan kaget. "Apa, dia Kim-mou-eng...?" Ang Bin Ciangkun mengangguk, tak ragu lagi, membuat teman-temannya semakin terkejut dan mundur lagi setindak.

Baru kali ini melihat dan mengenal nama pendekar muda itu, yang sering kali diceritakan Ang Bin Ciangkun karena panglima itulah yang lebih mengenal keadaan di luar tembok besar, di utara. Dan Kim-mou-eng sendiri yang terbelalak mendengar Ang Bin Ciangkun mengenal dirinya tiba-tiba mempergunakan kesempatan mundurnya tujuh orang panglima itu menerobos kepungan.

"Jit-liong Ciangkun, kalian memang lihai. Minggir...!" Tujuh panglima itu terkejut. Mereka melihat Kim-mou-eng menggerakkan lengan ke kiri kanan, menyibak mereka, mendorong dengan serangkum angin yang kuat menyambar. Dan belum mereka membalas atau menghadang ke depan mendadak pendekar muda itu telah lolos melarikan diri.

Berkelebat dan kini membentak lima ratus pasukan yang mengepung di luar itu, yang kontan buyar berantakan dipukul pukulan sinkang pemuda ini. Dan begitu Kim-mou-eng tertawa dan melihat para pengawal menyibak oleh angin pukulannya tiba-tiba pemuda ini telah berjungkir balik melalui banyak kepala lolos keluar!

"Hei...!" "Ahh...!" Semua orang berseru kaget. Mereka terperanjat dan bengong oleh gerak pemuda sakti ini, melenggong sejenak tapi tiba-tiba mendengar teriakan Mao-taijin yang menyadarkan mereka, berteriak-teriak agar pemuda itu ditangkap.

Dan begitu semuanya sadar dan Jit-liong Ciangkun juga hilang kagetnya tiba-tiba Bu-ciangkun yang paling penasaran itu sudah mengejar dengan seruan marahnya, "Kim-mou-eng, jangan lari kau. Berhenti...!" dan begitu enam temannya juga ikut mengejar dan membentak pendekar itu akhirnya bayangan Jit-liong Ciangkun berkelebatan memburu pemuda ini, disusul lima ratus pasukan yang berteriak-teriak di belakang, membuat ribut.

Sebentar saja suasana jadi gaduh dan ramai seolah kota raja benar-benar diserbu kaum pemberontak! Dan Kim-mou-eng yang mendongkol oleh sikap lawan-lawannya itu tiba-tiba melejit ke timur menuju jajaran bangunan tinggi yang tampak menjulang untuk menyembunyikan diri, bukan takut melainkan ogah menghadapi musuh-musuhnya itu, yang sebenarnya bukanlah musuh karena mereka terhasut omongan Maotaijin, menteri yang licik itu.

Tak tahu bahwa yang dituju adalah kompleks istana alias tempat tinggal kaisar. Maklum, dia belum begitu lama berkeliaran di kota raja dan tidak mengenal jalan-jalan di tempat kaisar Yuan Ti ini, yang tentu saja membuat Jit-liong Ciangkun kaget dan cemas karena mengira Kim-mou-eng hendak membuat ribut di tempat tinggal kaisar.

Menambah onarnya. Jadi malah salah paham! Dan begitu Kim-mou-eng tiba di tempat ini dan baru sadar bahwa dia memasuki tempat tinggal kaisar karena terompet kerang ditiup dan banyak bayangan berlompatan di atas genteng mengejarnya barulah Kim-mou-eng terkejut ketika menyadari bahwa dia malah masuk ke tempat yang lebih berbahaya.

Dan ketika dimana-mana banyak bayangan muncul dan bangunan itu satu-satunya tempat tinggal dengan puncak gedung yang paling tinggi dan dia tak dapat mundur lagi karena musuh sudah mengepungnya maka saat itulah Panglima Tujuh Naga berhasil mengejarnya dan langsung menyerang, melihat dia tersudut.

"Kim-mou-eng, rupanya kau benar-benar tak bermaksud baik. Kau berani memasuki tempat tinggal kaisar. Mampuslah...!" Bu-ciangkun membentak paling depan, langsung mengerahkan Kang-jiu-kangnya (Tenaga Tangan Baja) untuk menyerang pemuda itu, dahsyat dan menderu dengan penuh kemarahan.

Dan ketika dua panglima Cu juga maju membentak dan menusukkan tombak mereka yang berputar menyambar dada maka berturut-turut empat panglima lain yang tergabung dalam Panglima Tujuh Naga itu mengeroyok dan bertubi-tubi menyerang Pendekar Rambut Emas ini, masing-masing mengeluarkan senjata mereka dan marah karena mengira pendekar itu hendak mengacau istana.

Tak tahu bahwa sebenarnya pemuda ini hanyalah tersesat, tak sengaja datang ke tempat itu karena mengira itu adalah tempat persembunyian yang aman. Maka begitu lawan jadi salah paham dan Kim-mou-eng mendapat serangan tujuh panglima gagah ini tiba-tiba pemuda sakti itu sibuk dan gugup menangkis sana-sini.

"Hei, hentikan dulu. Jangan serang aku...!" Namun Jit-liong Ciangkun terlanjur curiga. Mereka tak menghentikan serangan, bahkan mempergencar karena tak percaya pada maksud baik pemuda ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment