Chapter 120
"Tetapi kalau persoalannya menyangkut negara, tentu saja aku tidak dapat tinggal diam!"
"Hm, apa itu? Bagaimana bisa menyangkut negara?"
"Aku tidak berani mengatakannya kalau kau belum berjanji membantuku, Hanggoda. Tapi begitu kau berjanji, tentu aku akan menjelaskannya!" Gurba terbelalak.
"Apa imbalanmu?" Raksasa ini sebenarnya iseng, setengah tertarik setengah tidak. Ia masih acuh dan mencoba mengukur kata-kata pangeran itu. Namun, Pangeran Muda yang bergegas bangkit berdiri tiba-tiba membungkuk di depannya.
"Aku janjikan kedudukan yang tinggi, Hanggoda. Wakil kaisar atau penasihat raja!"
Gurba terkejut. "Kau main-main?"
"Tidak, aku serius, Hanggoda. Dan kau boleh bunuh aku kalau menipu!"
Gurba tersentak. Pangeran ini bersungguh-sungguh dan sikapnya tidak main-main. Gurba melengak, tidak menyangka pangeran itu demikian serius. Namun, saat mendengar desisan dari berkelebatnya bayangan Sai-mo-ong dan teman-temannya, tiba-tiba Gurba tertawa mengejek.
"Pangeran, aku tak mau dikibuli. Kau rupanya serius, tapi bukankah ada lima pembantumu yang lihai-lihai itu?"
"Sai-mo-ong dan teman-temannya?"
"Ya."
"Ah, mereka tak dapat diandalkan, Hanggoda. Kepandaian mereka kalah tinggi dengan kepandaianmu. Aku tak ingin gagal!"
"Tapi aku juga tak ingin bergabung dengan mereka. Sai-mo-ong dan teman-temannya itu musuhku!"
"Kalau begitu, maukah kau membantuku jika tak bersahabat dengan mereka?"
Gurba terdiam. "Bagaimana, begitukah, Hanggoda?"
Gurba mendengus lalu bangkit berdiri. "Tidak, aku tak mau membantu apa pun padamu, Pangeran. Maaf kalau aku harus pergi!"
Pangeran Muda terkejut. Ia melihat raksasa itu hendak pergi, sudah memutar tubuh dan tidak memedulikannya. Hal itu tentu membuat pangeran kecewa dan marah karena bujukannya gagal. Namun, sambil tersenyum lebar, tiba-tiba pangeran ini menghadapi Gurba kembali.
"Hanggoda, kau rupanya lupa sesuatu. Bukankah kau memberi janji pada ayahanda kaisar?"
"Janji apa?"
"Hm, bukankah kau mau menangkap biang keladi permusuhan, Hanggoda? Maksudku, bukankah kau berurusan dengan Siauw-bin-kwi yang membuat suku bangsamu hancur?"
Gurba tiba-tiba mendelik. "Benar, dan aku melihat iblis itu di antara pembantu-pembantumu!"
"Tak salah, dan aku dapat membantumu menangkap iblis itu bila kau membantuku, Hanggoda. Karena tak mungkin Siauw-bin-kwi dibiarkan teman-temannya jika kau hendak menyerangnya, kecuali jika aku yang mengaturnya!"
Gurba tertegun. "Apa maksudmu, Pangeran?"
"Jelas, Hanggoda. Aku dapat menolongmu kalau kau mau menolongku pula. Iblis itu berada di tengah-tengah temannya. Tak mungkin ia bisa dipisahkan kalau bukan aku yang memerintahnya. Dan kalau kau bersikeras hendak membunuh kakek itu, maka kau harus berhadapan dengan Sai-mo-ong dan teman-temannya yang berjumlah lima orang. Kau tak mungkin menang!"
Gurba terkejut. Omongan yang disampaikan pangeran ini memang benar. Ia tak mungkin dapat menghadapi lima lawan sekaligus, meskipun ia tidak takut. Hal itu sudah dibuktikan dahulu dan memang terlalu berat jika harus melayani Sai-mo-ong dan teman-temannya berlima. Jadi, ia harus bertindak sendiri dan menarik perhatian si Setan Ketawa itu agar terpisah dari teman-temannya. Itu adalah hal yang sulit jika tidak dibantu pangeran ini, karena Siauw-bin-kwi dan teman-temannya rupanya menjadi pembantu sang pangeran.
Gurba yang tertegun, mengerutkan keningnya, dan akhirnya terbelalak tanpa menjawab. Ia bimbang.
"Bagaimana, kau mau aku menolongmu, Hanggoda?"
Gurba bingung. Kalau saja ia tidak bermusuhan dengan sute dan sumoinya, tentu ia dapat menghadapi Siauw-bin-kwi dan teman-temannya. Mereka bertiga mungkin dapat mengatasinya. Tapi karena ia telah memusuhi sutenya dan kini tinggal sendiri, akhirnya Gurba berada di persimpangan jalan; menerima atau menolak.
Sebelum ia menjawab, tiba-tiba pangeran itu tersenyum memandang sumoi Gurba yang masih dibawa. "Hanggoda, sebaiknya kau pikir dulu usulku tadi malam ini. Bagaimana kalau kau beristirahat sejenak? Sumoi-mu lelah, bawa saja dia ke kamarmu dan bersenang-senanglah!"
Gurba berdebar. Ia memang ingin berduaan dengan sumoinya ini untuk memaksanya menerima cinta. Ia tidak mau melepaskan Salima. Malam itu, nafsu iblisnya muncul dan siap menundukkan sumoinya dengan kekerasan. Pikiran jernihnya lenyap digantikan pikiran setan; ia sangat berhasrat menggauli sang sumoi. Maka, begitu pangeran menawarkan istirahat dan menyuruhnya berpikir, Gurba akhirnya mengangguk setuju.
Pangeran Muda tertawa, lalu memanggil seorang pelayan agar mengantar raksasa itu ke kamar yang telah disediakan. Kamar itu indah dan bagus. Ketika Gurba pergi membawa sumoinya ke kamar belakang, tiba-tiba pangeran itu menyisipkan sesuatu ke tangan raksasa tersebut.
"Hanggoda, ini adalah obat penunduk cinta. Kau campurkanlah ke dalam minuman kalau sumoi-mu membangkang."
Gurba menerimanya. Ia merasa ini kebetulan, lalu mengucap terima kasih dengan senyum menyeringai memandang pangeran itu. Ketika ia mengikuti pelayan dan tiba di kamar yang dimaksud, raksasa ini melempar sumoinya ke pembaringan, menutup pintu kamar, lalu membebaskan totokan sumoi-nya yang membuat perempuan itu tidak dapat bicara.
"Nah, kau telah tunduk di bawah kekuasaanku, Sumoi. Masihkah kau menolak dan tidak menerima cintaku?"
Salima mendelik dengan sorot mata berapi-api. "Suheng, sungguh tak kusangka sedemikian rendah watakmu. Sekarang kutahu, di samping hina dan curang, kau juga seorang laki-laki pengecut; bagai langit dan bumi dengan Kim-suheng!"
"Hm, tak perlu menyebut-nyebut nama itu, Sumoi. Sekarang aku menuntut jawabanmu saja, maukah kau menerima cintaku atau tidak?"
"Tidak!" Salima melengking. "Aku tak sudi menerimanya. Tak sudi menerimanya biar seribu kalipun kau minta!"
"Kalau begitu, aku akan memaksamu, Sumoi. Aku akan menundukkanmu dengan jalan kekerasan!"
Ketika sumoi-nya terbelalak dan pucat memandang raksasa ini, tiba-tiba Gurba sudah menubruk dan mencengkeramnya, memeluk, serta berusaha mencium sumoi-nya. Sikapnya buas dan penuh nafsu, disambut jerit serta kemarahan sang sumoi. Saat Gurba gagal karena Salima terus meronta, tiba-tiba raksasa itu menotok sumoi-nya kembali. Salima mengeluh dan tidak berdaya lagi, ngeri memandang sang Suheng yang tampak demikian mengerikan. Matanya merah, napasnya mendengus-dengus, dan ia siap menerkam lagi.
Namun, ketika raksasa itu hendak mengulang perbuatannya dan merasa aman di tempat sendiri, tiba-tiba pintu ditendang roboh dan seseorang muncul di sana.
"Gurba, jangan rebut kekasihku...!"
Seorang pemuda muncul menerjang Gurba. Ia membentak dan menyerang raksasa itu, tentu saja mengejutkan Gurba dan membuatnya marah. Ia membalik dan menangkis. Ketika pemuda itu terjengkang lalu melompat berdiri, tampaklah siapa dia.
"Bu-kongcu...!"
Ternyata benar. Pemuda ini adalah Bu Ham, murid Sai-mo-ong yang tergila-gila pada Salima. Ia berteriak keras, menubruk, dan menyerang Gurba kembali dengan kipasnya. Ia sudah mencabut senjatanya itu, yang kontan membuat berahi Gurba padam, terganggu, dan gusar oleh kedatangan pemuda ini.
Karena Bu Ham bukan tandingan Gurba dan Gurba marah oleh gangguan ini, sekali kibas, kipas di tangan pemuda itu hancur dan Bu Ham terguling-guling. Ia kaget, tapi nekat mencabut senjatanya yang lain, yaitu ular di tangan kiri. Ketika Gurba membentak dan berkelebat menyambarnya, tiba-tiba pemuda ini mengelak sembari menyambarkan ularnya, berteriak pada Salima agar tenang karena ia akan menyelamatkannya.
Namun, karena ia bukan tandingan raksasa ini, Gurba mengerang dan akhirnya Bu Ham jatuh bangun dengan wajah pucat karena mendapat kibasan lawan. Ia berkali-kali tertolak dan terlempar tak karuan. Ular di tangannya tidak ditakuti raksasa itu; bahkan akhirnya cengkeraman raksasa itu menghancurkan ular tersebut dan membuat Bu Ham berteriak karena nyaris tertangkap.
Ketika pemuda itu diserang kembali, ia mundur-mundur hingga tersandung dan roboh terjengkang. Satu pukulan Gurba tidak dapat dielak lagi. Namun, ketika Bu Ham terancam dan ia mengeluh, mendadak Leng Hwat muncul menglebatkan pedangnya untuk menolong pemuda itu.
"Gurba, jangan bunuh kekasihku...!"
Gurba terkejut. Sebenarnya ia juga tidak akan membunuh lawannya, kecuali membuat pingsan, roboh, atau memberi hajaran berat, setidak-tidaknya mematahkan tulang pemuda itu. Namun, ketika Leng Hwat muncul dan murid Tok-gan Sin-ni itu menyerang matanya dengan pedang, tentu saja ia menarik pukulan untuk menangkis serangan tersebut.
"Plak!"
Leng Hwat roboh terguling-guling. Ia berhasil menyelamatkan Bu-kongcu. Bu Ham sendiri sudah melompat bangun dan terbelalak memandang temannya itu dengan bersyukur, meski ngeri melihat telapak tangan Gurba yang nyaris mengenai dirinya.
Ketika Leng Hwat juga melompat bangun dan mengeluarkan kipas hitam untuk diberikan kepada Bu Ham, tiba-tiba murid Tok-gan Sin-ni itu berteriak, "Bu Ham, kita keluar saja! Tak perlu melawan raksasa ini...!"
"Tidak," Bu Ham menggeleng sambil menangkap senjata baru itu. "Aku hendak menolong Salima, Leng Hwat. Justru kau bantu aku agar dapat membebaskan dirinya."
"Tapi dia tak ada urusan denganku. Sebaiknya pergi saja dan jangan mencari penyakit!"
"Tidak, justru kau yang harus bantu aku untuk menyelamatkan gadis ini. Dia pujaanku!"
Bu Ham kembali menyerang Gurba dengan kipas pemberian Leng Hwat, yang akhirnya membuat murid Tok-gan Sin-ni itu marah-marah dan jengkel karena Bu Ham terlalu tergila-gila pada Salima. Namun, karena Bu Ham telah menyerang lawan dan Gurba bukan tandingan pemuda itu, akhirnya Leng Hwat membentak dan membantu temannya.
"Baiklah, kau memang mata keranjang, Bu Ham. Kutendang kau nanti kalau kita berhasil... sing-sing!"
Pedang Leng Hwat menyambar-nyambar raksasa itu dengan penuh keganasan, berkelebat bersama kipas yang terus menotok dan mengetuk. Semuanya tertuju ke arah Gurba yang melotot oleh gangguan dua orang ini, sembari terus menangkis dengan geraman marah.