Chapter 122
Tok-gan Sin-ni melengking marah karena Salima tidak menyerang suhengnya lagi. Gurba sudah menghadapi mereka sementara gadis itu meladeni Hek-bong Siang-lo-mo. Karena mereka harus menangkap dua orang ini dan lawan telah bersatu kembali, mendadak Tok-gan Sin-ni melecutkan rambutnya, memainkan Sin-mauw-kang.
"Gurba, kau laki-laki tak tahu hormat pada pangeran. Mampuslah!"
Gurba menangkis. Rambut Tok-gan Sin-ni terpental, membalik, dan membuat wanita itu memekik. Ia berkelebat lagi untuk menyerang kembali. Ketika dua temannya yang lain ikut membantu dan menyerang Gurba, akhirnya Sai-mo-ong menggeram sambil mencabut kipas bulu singanya.
"Benar, kita bunuh saja raksasa ini, Sin-ni. Tak perlu diampuni, dia membuat kita iri. Wutt!" Kipas itu menyambar ke arah muka Gurba, namun berhasil dielak dan disusul pukulan Siauw-bin-kwi yang terkekeh sambil menghantam kepala raksasa itu.
Ketika Gurba melompat dan menangkis, empat orang itu terus bertempur sementara Salima dan Hek-bong Siang-lo-mo juga terlibat dalam pertandingan seru. Demikianlah, dua kelompok ini akhirnya pecah. Gurba menghadapi tiga lawannya seperti sebelumnya, menangkis dan balas menyerang. Tiat-lui-kang miliknya mulai meledak-ledak, sementara pukulan dan serangan lawan juga menyambar-nyambar dirinya—rambut, kipas bulu singa, serta pukulan Siauw-bin-kwi.
Hawa sinkang menderu dan saling beradu, berkali-kali mereka terhuyung dan terpental. Namun, karena Gurba memiliki kekebalan mengagumkan berkat sinkangnya yang luar biasa, kipas maupun rambut lawan tidak ada yang mampu melukainya. Pukulan Siauw-bin-kwi sering tertolak oleh tangkisan Gurba, dan tak jarang beradu dengan Tiat-lui-kang yang dikeluarkan raksasa itu. Hal ini disambut keluhan dan mata terbelalak oleh si Iblis Muka Ketawa tersebut; ia tak jadi tertawa karena pukulan Gurba memang kuat. Tangkisan sinkang itu membuat lengannya tergetar dan sering kali ia terpental. Tentu ia sudah dibalas oleh lawan jika Sin-ni maupun Mo-ong tidak maju membantu.
Ketika pertempuran berjalan seru dan masing-masing pihak penasaran, akhirnya Tok-gan Sin-ni berseru pada temannya, "Mo-ong, keluarkan Hek-hoat-mu (Silat Iblis Singa Hitam)! Gabung dengan kipasmu itu!"
Mo-ong mengangguk. Ia memang belum mengeluarkan Hek-hoat, silat singa yang buas. Maka begitu rekannya berseru, ia membentak. Tiba-tiba iblis ini menggeram, menghentakkan kakinya ke sana-sini, meloncat-loncat, dan lengannya mencakar, sementara kipas di tangan kanan terus menderu dan mengebut. Sepak terjangnya menjadi hebat dan ganas. Ketika Tok-gan Sin-ni terkekeh dan memainkan rambutnya dengan lebih hebat, mendadak mereka menekan raksasa itu hingga Gurba terdesak.
"Heh-heh, bagus. Dan kau tambah juga pukulan sinkangmu, Bin-kwi. Dorong dan terus pukul raksasa ini!" Siauw-bin-kwi pun mengangguk.
Ia menambah kekuatannya, menggabung dengan serangan dua temannya yang diperhebat. Tentu saja hal itu membuat Gurba kewalahan, marah, dan terdesak. Beberapa saat kemudian, saat ia ditekan dan rambut serta kipas berkelebatan di mukanya, mendadak satu cengkeraman Mo-ong mengenai pundaknya.
"Cret!" Gurba terkejut. Cakar Mo-ong menancap bagai cakar singa, kukunya amblas menekan daging. Hampir saja tembus kalau dia lengah melindungi diri.
Ketika dia terbelalak dan lawan terkekeh, mendadak Sin-ni dan Bin-kwi melepas dua pukulan maut. Rambut wanita itu melecut matanya, sementara pukulan Bin-kwi menghantam ulu hatinya. Gurba berteriak mengempos semangatnya, tiba-tiba ia melempar kepala, menarik seluruh hawa saktinya ke pusat untuk menghindari lecutan rambut yang mengarah ke matanya—daerah lemah yang tak mungkin dilindungi sinkang.
Saat ia membentak berseru keras, mendadak raksasa ini mengangkat kedua lengannya, menolak ke atas, diiringi kilatan putih yang meledak di tengah udara.
"Awas, Pek-sian-ciang!" Sai-mo-ong dan teman-temannya terbelalak. Mereka telah mengenal pukulan itu: Pek-sian-ciang (Pukulan Tangan Dewa). Pukulan yang membuat mereka jeri dan dahsyat karena dulu mereka pernah terluka dan hampir tewas olehnya. Tentu saja mereka membanting tubuh dan bergulingan, menarik serangan sendiri karena tak berani beradu.
Namun, karena hawa pukulan terlanjur menderu dan Gurba juga mengeluarkan ilmunya yang ampuh itu, Pek-sian-ciang membentur tiga pukulan sinkang yang dilepas tiga iblis tadi.
"Des-des-dess!" Mo-ong dan teman-temannya mengeluh. Mereka terbanting bergulingan, terlempar, dan mencelat setombak. Untung saja mereka menarik pukulan dan cepat berkelit, kalau tidak, tentu mereka berhadapan langsung dan mungkin terluka. Kini mereka melompat bangun, hanya bergoyang saja dengan wajah pucat.
Ketika Gurba tertawa dan menerjang, mendadak di sebelah kiri Salima menjerit.
"Aih... bret!" Gurba terkejut. Ia melihat sumoinya terpelanting, bajunya terobek oleh sabit yang dikeluarkan Hek-bong Siang-lo-mo. Melihat dua iblis itu terkekeh-kekeh mengejar Salima, raksasa itu pun marah. Sumoinya menangkis, tapi pundaknya kembali terobek. Rupanya sumoinya terdesak sementara dia sedang mendesak Mo-ong dan kawan-kawannya.
Ketika sumoinya mengeluh dan harus melempar tubuh ke sana-kemari untuk menyelamatkan diri, Twa-lo-mo terbahak gembira mendesak gadis itu. "Ha-ha, sebentar lagi kau roboh, Tiat-ciang Sian-li. Dan aku ganti menggumuli dirimu seperti suhengmu... wut-wutt!" Sabit menyambar-nyambar, diiringi tawa iblis cebol itu yang membuat telinga memerah.
Gurba marah dan melotot. Tapi ketika dia hendak membantu sumoinya, tiga lawannya kembali menerjang. "Gurba, kau adalah lawan kami. Ayo, jangan lengah!"
Gurba menggeram. Sai-mo-ong dan teman-temannya menyerangnya lagi. Ia mengerahkan Pek-sian-ciangnya dan menangkis, tapi begitu lawan mengelak dan sumoinya terhuyung jatuh bangun, Gurba hendak melompat membantu. Namun, Sai-mo-ong dan dua temannya datang mengganggu; mereka selalu menyerang tapi selalu melompat menghindar kalau melihat Pek-sian-ciang. Jelas mereka takut, tapi juga tidak mau raksasa itu membantu Salima. Jadi, situasinya seperti kucing-kucingan dan Salima kian terdesak saja. Bajunya robek-robek dan kian terkuak lebar. Agaknya dua iblis cebol itu sengaja mempermainkan sumoinya agar setengah telanjang. Kata-kata kotor mulai berhamburan.
Ingin membantu tapi selalu dihalangi lawannya, padahal tiga lawannya juga selalu menghindar bila dia mengeluarkan Pek-sian-ciang. Ketika raksasa itu bingung dan gusar, mendadak Salima menjerit tertahan saat sabit membacok lehernya. Ia berhasil mengelak, tapi sabit kedua di tangan Ji-lo-mo menyambar. Kedudukannya terancam dan Ji-lo-mo terkekeh, menunggu robohnya gadis itu.
Tapi persis saat Salima mengeluh dan Twa-lo-mo menubruk gadis itu, mendadak Kim-mou-eng muncul menampar sepasang iblis cebol ini.
"Hek-bong Siang-lo-mo, kalian iblis-iblis curang. Pergilah!"
Hek-bong Siang-lo-mo terkejut. Mereka sudah bersiap merobohkan gadis ini dan mempermainkannya sesuka hati. Tapi begitu sesosok bayangan menyambar dan menampar mereka, dua iblis ini berseru kaget karena sabit mereka terpental.
"Aih...!" "Hei...!" Dua iblis cebol itu membanting tubuh bergulingan. Mereka kaget bukan main oleh kehadiran Kim-mou-eng, tak menyangka kedatangannya. Melihat pemuda berambut emas itu telah meledakkan Tiat-lui-kang menampar mereka, sabit pun terlepas jatuh di tanah. Mereka bergulingan untuk menyambar dan merampas kembali senjata mereka.
Ketika mereka melompat bangun dan Salima yang terhuyung ditangkap Kim-mou-eng, Pendekar Rambut Emas itu menepuk sumoinya, menyuruh mundur untuk menghadapi mereka berdua. "Hek-bong Siang-lo-mo, kalian memang manusia licik. Terimalah pukulanku!" Kim-mou-eng berkelebat menyerang, membuat Hek-bong Siang-lo-mo berteriak-teriak.
Salima mundur karena lelah, kini menghadapi tenaga baru yang masih hebat. Ketika Kim-mou-eng berani menangkis dan sabit di tangan dua iblis cebol itu tak melukai pendekar ini—seperti halnya Gurba yang juga tahan bacokan senjata tajam—akhirnya dua iblis cebol ini gentar, mundur-mundur, bingung, dan kewalahan menghadapi Kim-mou-eng. Wajah mereka pucat. Betapapun harus mengakui bahwa kepandaian Kim-mou-eng memang tinggi, mereka masih kalah biarpun berdua mengeroyok. Ketika kembali mereka menangkis dan sabit terlepas dari tangan, akhirnya dua iblis ini berteriak dan melarikan diri.
"Kim-mou-eng, kau bocah keparat. Jahanam kau!"
Kim-mou-eng tidak mengejar. Ia tahu watak orang-orang sesat; menghina lawan kalau menang dan melarikan diri kalau kalah. Namun, melihat suhengnya masih bertempur melawan Sai-mo-ong serta dua orang temannya, ia segera berkelebat ke sana untuk membantu menyerang tiga iblis itu.
"Bin-kwi, angin terlalu kuat!" Sai-mo-ong mendahului meninggalkan lawan. Kata-katanya menunjukkan bahwa musuh terlalu berat bagi mereka. Tentu saja itu dimengerti yang lain dan diikuti oleh Sin-ni dan Siauw-bin-kwi. Mereka membalikkan tubuh setelah bergulingan menangkis pukulan. Begitu mereka lenyap melarikan diri, Gurba dan Kim-mou-eng otomatis kehilangan lawan.
Gurba membentak, mengejar, dan memberi pukulan dari belakang. Serangan itu ditangkis, namun ketiga orang itu terpental terguling-guling. Mereka roboh, tapi segera melompat bangun dan melarikan diri. Ketika Gurba hendak mengejar lagi, mendadak Salima yang sudah memulihkan tenaganya melayang di atas kepala suhengnya.
"Suheng, mereka telah pergi. Biarkan saja. Sekarang kita lanjutkan perhitungan kita..."