Chapter 123
"Wut!" Salima langsung menyerang suheng-nya dengan satu tamparan ke arah kepala. Suheng-nya terkejut dan sempat mengelak, namun Salima kembali menyerang dengan membentak dan mengurung lawannya dengan pukulan-pukulan sinkang.
"Tidak, yang gila adalah kau, suheng! Kau hampir membuatku malu. Aku tak dapat memaafkanmu, mampuslah!" Salima meneruskan serangannya dengan pukulan dan tamparan, lalu berkelebat menyerang. Sesaat kemudian, ledakan Tiat-lui-kang menyambar bertubi-tubi bagai petir. Gurba terpaksa meladeni sumoi-nya. Ketika ia ikut membentak marah, keduanya bertempur sengit di bawah pengawasan Kim-mou-eng yang membelalakkan mata.
Kim-mou-eng tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia mengira itu hanyalah pelampiasan amarah Salima yang merasa ditipu oleh suheng-nya. Ia tidak menduga bahwa suheng-nya hampir memaksakan kehendak untuk memperkosa Salima. Jika ia tahu, tentu ia akan merasa kaget, heran, dan marah. Kim-mou-eng menonton dengan perasaan bingung namun geli, mengira pertempuran akan berhenti sendiri setelah Salima melepaskan rasa dongkolnya.
Namun, Kim-mou-eng terkejut karena pertempuran tak kunjung usai, bahkan semakin hebat. Salima mulai terdesak, menangis, dan terus ditekan oleh suheng-nya yang memang lebih kuat. Ketika Gurba melancarkan pukulan-pukulan keras tanpa menahan diri, Salima beberapa kali terbanting dan bergulingan. Meski terhuyung-huyung dan kesakitan, gadis itu nekat menyerang kembali, namun selalu terbanting saat suheng-nya menangkis. Pertandingan itu kini bukan sekadar pelampiasan jengkel, melainkan telah diselimuti kemarahan, dendam, dan sakit hati.
Kim-mou-eng tidak dapat lagi tinggal diam. Dengan cemas, ia maju dan membentak untuk melerai, "Suheng, Sumoi, cukup! Tak perlu main-main lagi!"
Salima tidak menghiraukan. Ia berteriak marah, menangkis, dan terus menyerang. Namun, karena suheng-nya jauh lebih lihai, pertempuran menjadi tidak seimbang. Salima roboh terjungkal ketika satu pukulan Gurba mengenai leher kanannya. Gadis itu terkapar, pandangannya berputar, dan ia menangis sambil menggigit bibir. Kim-mou-eng segera menolongnya, tetapi begitu Salima berdiri, ia kembali menerjang suheng-nya.
"Kim-suheng, Twa-heng hendak memperkosaku! Biar aku membunuh dia atau dia yang membunuhku!" seru Salima.
Kim-mou-eng tersentak. Ia menatap Gurba dengan wajah memerah karena marah. "Apa benar suheng hendak memperkosamu, Sumoi?"
"Ya, dia hampir menggagahiku. Twa-heng tak tahu malu dan hina!" jawab Salima sambil terus menyerang dalam isak tangis.
Gurba melotot dan menggeram. Ia kembali menangkis dan membuat Salima terpental. Saat Salima terguling-guling, Gurba yang tampak malu sekaligus marah mengejar dan melayangkan pukulan lurus ke kepala. "Sumoi, kau tak dapat diberi hati. Mampuslah!"
Kim-mou-eng tidak bisa diam melihat suheng-nya menurunkan pukulan maut. Ia berkelebat maju, menangkis, dan menyelamatkan Salima. "Suheng, kau keji! Tahan!"
Duk! Dua lengan beradu hingga keduanya tergetar dan terdorong mundur. Raksasa itu meraung marah. Kim-mou-eng kini berdiri melindungi Salima. Pertempuran sengit terjadi kembali; Kim-mou-eng melindungi sumoi-nya, sementara Gurba ingin membunuh keduanya. Salima yang masih sempoyongan ikut membantu, membuat Gurba kewalahan menghadapi serangan dari kiri dan kanan.
"Sute, kau suka mencampuri urusan orang lain!" seru Gurba.
"Tidak, Sumoi bukan orang lain bagiku, Suheng. Justru kau yang sudah kelewatan. Kau harus minta maaf, atau aku akan merobohkanmu!" balas Kim-mou-eng.
Pertarungan semakin berat bagi Gurba. Ia mulai menerima pukulan dan tamparan. Meskipun serangan Salima mulai melemah karena kehabisan tenaga, pukulan Kim-mou-eng sangat menyengat dan menembus kekebalannya. Ketika pertempuran berjalan beberapa jurus lagi, Gurba berlaku nekat, namun Kim-mou-eng dan Salima menangkis bersamaan.
"Des! Dess!"
Salima dan Gurba terlempar. Gurba terpelanting karena tak sanggup menerima tamparan Kim-mou-eng, sementara Salima jatuh terguling dengan dada nyeri dan lengan bengkak. Gurba yang juga terluka segera melompat bangun, melotot, lalu melarikan diri sambil mengancam, "Sute, lain kali kita bertemu lagi!"
Kim-mou-eng tidak mengejar. Ia segera menghampiri Salima, mengeluarkan obat, dan mengurut lengan gadis itu hingga bengkaknya mengempis. Salima menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Tiba-tiba, ia tersedu dan menubruk suheng-nya itu.
"Suheng, maafkan aku. Aku telah berdosa padamu!"
"Sudahlah. Aku tahu Twa-suheng menghasutmu. Sekarang kau tahu mana yang salah dan benar, bukan?"
"Ya, dan aku malu padamu, Suheng. Aku harus membuat perhitungan dengan Gurba-suheng yang telah mempermainkanku!" Salima merenggangkan pelukan, memandang Kim-mou-eng dengan pipi kemerahan. "Suheng, maukah kau memaafkanku?"
"Tentu, kenapa tidak?"
"Dan kau... maukah membantuku menghadapi Gurba-suheng?"
Kim-mou-eng tersenyum pahit. "Aku menyesalkan kejadian ini. Seharusnya kita tidak saling bermusuhan. Dulu kau dan suheng memusuhi aku, haruskah sekarang kau dan aku memusuhi suheng?"
"Tapi dia jahat, Suheng. Dia tak tahu malu dan curang!"
"Karena dia mencintaimu," Kim-mou-eng tersenyum. "Cinta dapat membuat seseorang melakukan segalanya."
"Dan kau tidak marah? Tidak cemburu?"
Kim-mou-eng tertawa. "Aku marah karena perbuatan suheng tidak terpuji. Dia harus dihukum."
Salima mundur selangkah. "Suheng, apakah selama ini kau tak ingat padaku?"
Kim-mou-eng menghela napas. "Siapa bilang aku tidak ingat? Justru aku murung melihat sikapmu sejak kau dan suheng memusuhi aku. Namun, sekarang semuanya sudah jelas."
"Bukan itu maksudku. Aku ingin melanjutkan pertanyaan yang dulu, tentang hubungan kita!"
Kim-mou-eng wajahnya memerah. "Sebaiknya persoalan itu biarkan dulu, Sumoi. Hatiku sedang pepat, masih ada persoalan lain."
Ia teringat Cao Cun dan merasa tidak enak jika harus menjawab sekarang. Ia tahu Salima amat mencintainya, dan pandangan lembut yang kini bergetar seperti anak kelinci ketakutan itu membuat hatinya terharu. Kim-mou-eng menggenggam jari tangan Salima.
"Sumoi, apa yang hendak kau lakukan sekarang?"
"Aku hendak mencari Gurba-suheng, Ji-suheng (kakak nomor dua). Aku ingin membalas sakit hatiku!"
"Tak ingin keluar Tembok Besar?"
"Untuk apa?"
"Bangsa kita tercerai-berai. Aku ingin kau ke sana dan mengumpulkan mereka."
"Lalu kau sendiri?"
"Aku masih ada urusan di sini," jawab Kim-mou-eng gugup.
"Aku ikut!"
"Heh!"
"Aku ikut, Suheng!"