Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 124

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 124

"Aku tak ingin keluar tembok besar seperti katamu."

"Itu sebenarnya urusan Gurba-suheng!"

"Ah, tapi itu penting. Itu urusan bangsa kita."

"Tidak, kalau menyangkut kepentingan, sebenarnya kita semua berkepentingan, Suheng, bukan aku atau Gurba-suheng sendiri. Dan aku adalah saudara termuda, justru seharusnya kau yang pergi ke sana menyatukan bangsa kita?"

"Hm...!" Kim-mou-eng bingung, melihat mata sumoinya bersinar-sinar, penuh selidik. Dan ketika ia kehabisan akal tidak dapat membujuk sumoinya ini, tiba-tiba sumoinya bertanya, "Suheng, ada apa sebenarnya dengan urusanmu itu? Bukankah urusanmu hanya mencari pamanmu? Kau tampaknya enggan kuikuti. Kau rupanya menyembunyikan sesuatu agar aku berpisah denganmu!"

Celaka! Kim-mou-eng terbelalak. Ia hampir terpukul telak; omongan itu hampir mengenai jantungnya dengan tepat. Ia memang ingin menghindari sumoinya ini karena ingin menemui Cao Cun. Tentu saja wajahnya merah padam ditodong seperti itu. Namun, karena Kim-mou-eng seorang pendekar yang pandai menguasai perasaan dan menindas guncangan hatinya, ia tiba-tiba tertawa untuk menghilangkan kecurigaan sumoinya. Perubahan wajahnya sudah pulih seperti biasa.

"Ah, kau ini ada-ada saja, Sumoi. Siapa yang menyembunyikan sesuatu? Aku hanya khawatir saja padamu. Masalah itu memang benar, aku akan mencari pamanku, tapi sudah ketemu. Aku takut kau bersikap keras menghadapi pamanku jika ikut denganku. Sudah jelas? Tak ada rahasia!"

Salima girang. "Kau sudah menemukan Yulopek?"

"Ya."

"Di mana? Kenapa tidak bersamamu?"

"Coba tebak dulu siapa pamanku itu, Sumoi. Dan di mana kira-kira dia?"

"Mana aku tahu? Kau yang mencari, tentu kau pula yang mendapatkan. Ayo, katakan, Suheng. Mana pamanmu itu dan siapa dia?"

"Dia Cheng-bin Yu-lo," Kim-mou-eng meredupkan pandangannya. "Dan dia adalah paman dari Saudara Yu Bing yang gagah perkasa itu, pemuda yang kau kenal."

"Apa?" Salima kaget. "Maksudmu Siang-kiam-houw Yu Bing itu?"

"Ya, dia orangnya, Sumoi. Dan paman kudapat dari pemuda ini."

"Ah!" Salima maju selangkah, menyambar lengan suhengnya, lalu bertanya, "Suheng, bagaimana asal mulanya? Bagaimana kau bertemu orang she Yu itu?"

"Panjang ceritanya, Sumoi. Tapi bermula dari kota raja." Kim-mou-eng tertegun sejenak, teringat Cao Cun dan harus berhati-hati agar tidak menyebut nama gadis itu. Pertemuannya dengan Cao Cun harus dihapus, tidak boleh diberitahukan. Ketika sumoinya terus mendesak, Kim-mou-eng duduk dan menceritakan apa yang telah terjadi. Bahwa ia terbawa ke kota raja atas permintaan Sin-piauw Ang-Iojin, ketua Seng-piauw-pang yang dikhianati adik-adik seperguruannya. Ia datang mencari pangeran mahkota, tetapi bertemu Pangeran Muda, dicegat, dan akhirnya dikeroyok Sai-mo-ong serta kawan-kawannya. Ketika ia terluka dan Sin-piauw Ang-Iojin tewas dalam pertempuran itu, sumoinya terbelalak terkejut mendengar semuanya.

"Ah, Seng-piauw-pangcu itu terbunuh di sana, Suheng? Dan kau, apa perlumu mencari pangeran mahkota?"

"Ada sesuatu yang penting, Sumoi. Sin-piauw Ang-Iojin minta bantuanku untuk menyampaikan pada pangeran mahkota bahwa ada persekongkolan rahasia yang hendak menjatuhkan kaisar, termasuk membunuh pangeran mahkota itu sendiri."

"Siapa?"

"Pangeran Muda."

"Putra dari selir itu?"

"Eh, kau tahu?"

"Tentu saja," kilat mata Salima. "Dia pangeran yang menemani Gurba-suheng di kaputren, Suheng. Dan pangeran itulah yang justru mendorong Gurba-suheng untuk berbuat kurang ajar padaku. Dia pangeran tampan, tapi hatinya busuk!"

Kim-mou-eng tertegun melihat sumoinya, lalu ganti mendengar cerita Salima tentang kejadian di istana, saat Gurba menganiaya Bi Nio di kaputren, dan kedatangan Pangeran Muda. Ketika Salima mengakhiri ceritanya dengan tinju terkepal bahwa sang pangeran memberikan obat penunduk cinta pada twa-hengnya, Kim-mou-eng menahan napas terkejut. Sumoinya nyaris menjadi korban, seperti telur di ujung tanduk!

"Gurba-suheng diganggu Bu-kongcu, Suheng. Itulah sebabnya dia pergi dan dicegat Saimo-ong dan kawan-kawannya di sini."

"Tapi kau selamat, nyaris saja menjadi korban!"

"Berkat Bu-kongcu, kalau tidak..." Wajah Salima memerah, matanya berapi-api. "Gurba-suheng tentu telah memaksaku, Suheng. Aku ngeri dan takut melihat kebuasannya!"

Salima terisak dan mengusap hidungnya, lalu tangannya dipegang oleh Kim-mou-eng. "Sudahlah, semua telah lewat, Sumoi. Aku prihatin dan menyesal sekali melihat tindak-tanduk Gurba-suheng. Sekarang telah berlalu, sebaiknya kau tenangkan hati dan tidak perlu pikirkan itu lagi."

"Mana mungkin?" Salima marah. "Aku tak dapat menghilangkan sakit hati ini, Suheng. Gurba-suheng harus kucari dan kubalas!"

"Tapi kau bukan lawannya, kepandaiannya masih lebih tinggi dan kau kalah dua tingkat."

"Ada kau di sini, masa kau tak mau menolongku?" Salima memandang suhengnya dengan kening berkerut karena kata-kata Kim-mou-eng seolah tidak mau tahu keadaannya. Ia tentu saja tidak puas.

Kim-mou-eng bangkit berdiri, menghela napas, lalu tersenyum pahit. "Sumoi, sebenarnya di antara kita kakak dan adik seperguruan tidak boleh bermusuhan. Aku tentu saja tidak membiarkan sepak terjang Gurba-suheng. Hanya, kalau dia mau minta maaf dan tidak mengulang perbuatannya, kita tidak perlu memusuhinya, bukan? Aku sependapat denganmu, Sumoi, bahwa Gurba-suheng harus dicari dan dituntut perbuatannya. Tapi bukan untuk dibunuh atau dibalas atas dasar sakit hati!"

"Jadi kau mau mengampuninya?"

"Kalau dia mau minta maaf, Sumoi. Kalau dia berjanji untuk bersikap baik padamu."

"Ah, kau lemah!" Salima membanting kaki. "Kau tampaknya tidak dapat mengerti betapa sakit hatiku, Suheng. Kau enak saja omong begitu. Kau memang tidak mengalaminya sendiri!"

"Bukan begitu," Kim-mou-eng tersenyum lembut. "Aku juga telah mengalami hal serupa, Sumoi. Ingat saja perbuatan dan fitnah Suheng kepadaku. Tapi aku tidak dendam, aku dapat memaafkannya kalau dia minta maaf, mengaku kesalahannya, dan tidak mengulang kejahatannya itu."

Salima terbelalak. Ia memang tahu watak yang serba lembut dari suheng nomor dua ini; suka mengalah dan ringan hati. Mulia. Tidak ganas dan keras seperti dirinya. Watak seperti itulah yang mungkin membuatnya jatuh hati pada ji-suhengnya ini. Suhengnya penuh kasih dan lembut, juga berkali-kali terbukti berwatak gagah di samping rendah hati. Sekarang tampak benar bedanya dengan suheng nomor satu, Gurba. Salima yang jengkel tapi gemas akhirnya cemberut dan melepaskan tangannya.

"Baiklah, kau rupanya acuh padaku, Suheng. Kalau begitu sesukamu, dan biarkan aku pergi!" Salima tiba-tiba memutar tubuhnya, meloncat, dan pergi meninggalkan suhengnya dengan perasaan mendongkol, isaknya tidak dapat disembunyikan.

Kim-mou-eng yang terkejut melihat sumoinya ngambek segera melompat mengejar, menyambar sumoinya dari belakang. "Eh, tunggu dulu, Sumoi. Jangan mencari Gurba-suheng sendirian!"

Salima tertangkap, langsung diputar, dan berhadapan dengan suhengnya. Salima yang girang tapi pura-pura marah—karena ini berarti suhengnya tidak melepas perhatian padanya—tiba-tiba membentak dan merenggut lengannya. "Suheng, lepaskan aku. Biar aku mampus, tak perlu dibantu!"

"Ah-ah..." Kim-mou-eng gugup. "Jangan begitu, Sumoi. Semua bisa diatasi dan aku tentu saja membantumu. Kenapa marah?"

Ketika sang sumoi cemberut tapi matanya tidak melotot, Kim-mou-eng kembali menangkap lengan sumoinya. "Sumoi, aku tidak berkata bahwa aku akan membiarkanmu. Sekarang kita berdua, Gurba-suheng akan mengganggumu kalau aku tidak ada di dekatmu. Kenapa hendak pergi? Kau ikut aku saja, Sumoi, tidak boleh berkeliaran di daerah ini kecuali kalau kau hendak mengumpulkan bangsa kita!"

"Siapa mau? Kau enak-enak saja berkelana, aku tidak sudi bekerja sendirian sementara kalian mengembara di Tionggoan!"

"Kalau begitu kau ikut aku, kecuali... hm, kecuali kau tidak suka. Ada urusan sendiri umpamanya!"

Aneh, Salima tiba-tiba tertawa. Ketika Kim-mou-eng terbelalak dan heran memandang sumoinya, Salima mendadak menggelandot manja di pundaknya. "Suheng, siapa tidak suka melakukan perjalanan bersama? Justru kalau kau mengusirku pergi, aku akan mengikutimu. Sekarang kau mengajak, bukankah tidak boleh kutampik? Ayo, kita berangkat, Suheng. Aku taat dan akan tunduk padamu asal kau penuh perhatian padaku!"

Begitu menyendal suhengnya dengan tawa gembira, gadis Tar-tar ini membawa Kim-mou-eng meninggalkan tempat itu. Mereka terbang dengan mata berseri-seri; Kim-mou-eng digandeng, dan Salima tampak bersikap begitu mesra bagai pasangan pengantin baru. Ia tidak tahu hubungan suhengnya dengan Cao Cun, serta janji dan pernyataan cinta suhengnya itu pada putri Wang-taijin. Begitu Salima bersikap manja dan tertawa-tawa membawa suhengnya, dua orang muda itu pun lenyap meninggalkan tempat tersebut. Sementara Kim-mou-eng, tanpa diketahui sumoinya, diam-diam mengeluh!

***

Gurba terpukul. Untuk kedua kalinya, ia kehilangan sumoinya. Kedatangan Kim-mou-eng benar-benar di luar dugaan; tentu saja ia tidak dapat menguasai sumoinya jika sutenya ada di sana, betapapun kepandaian mereka berimbang. Gurba yang murung melarikan diri dengan perasaan marah, tiba-tiba saja menjadi dendam pada sutenya. Kim-mou-eng benar-benar penghalang. Selama ini ia tidak berhasil membujuk sumoinya, pikir Gurba geram. Ia teringat perjalanan bersama di kala mereka berdua, waktu Salima terbujuk dan terhasut fitnahnya untuk membenci dan marah pada Kim-mou-eng. Tapi Salima tidak mau disentuh dan tidak memberi harapan padanya, membuat ia kecewa dan sakit hati. Aneh sumoinya itu. Dipeluk sedikit pun tidak mau, apalagi dicium. Ah! Gurba mengepal tinju.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment