Chapter 125
Sebenarnya, dalam perjalanan bersama itu, banyak kesempatan baginya untuk mendekati sumoinya. Namun, sumoinya selalu menggeser posisi bila ia duduk mendekat, atau menepiskan tangannya bila ia mencoba memegang. Padahal, ia pernah melihat sumoinya itu membiarkan jarinya digenggam oleh sutenya.
Ah, keparat! Gurba merah mukanya. Apakah kelebihan sutenya itu? Sutenya memang tampan, meski berkulit hitam. Bukankah kepandaian mereka sama? Salima pun kulitnya tidak putih. Tapi sumoinya itu memang manis, gerak-geriknya memikat, dan lenggangnya cukup aduhai. Sering ia menelan ludah kalau melihat sumoinya berjalan. Seperti dewi Kayima, dewi kepercayaan suku Tartar yang digambarkan berkulit hitam manis, tinggi semampai, dan merupakan istri dewa Urdha, dewa yang menguasai angin.
Gurba yang penasaran dan semakin tergila-gila tiba-tiba menggeram teringat Bi Nio. Sekarang masa depannya hancur karena sumoinya sudah melihat Bi Nio sebagai istrinya. Tak ada harapan lagi baginya untuk memiliki gadis itu. Satu-satunya jalan hanyalah kekerasan; ia harus memaksa, menundukkan, dan menggauli sumoinya agar mereka menjadi suami-istri, suka atau tidak suka. Ia tak dapat menahan nafsu lagi setiap mengingat kegagalannya memperoleh kesempatan emas saat mereka masih berdua.
Kini, setelah burung yang elok itu terbang tinggi, raksasa itu menggigit jari dengan melotot penuh kebencian. Ke mana ia sekarang? Berkeliaran di Tionggoan tak ada faedahnya. Sute dan sumoinya memusuhinya, sedangkan di sana Sai-mo-ong dan teman-temannya juga berjaga. Paling baik jika ia kembali ke suku bangsanya dan bertualang, berperang melawan siapa saja untuk melampiaskan amarahnya.
Namun, sebelum Gurba melaksanakan maksudnya, tiba-tiba Pangeran Muda muncul.
"Aha, selamat kembali, Hanggoda. Kau dikecewakan sute dan sumoimu, bukan? Mudah, aku dapat membantu. Kita memang harus bersatu!" Pangeran Muda keluar dari tikungan, menghampiri raksasa itu, lalu memegang lengannya dan tertawa lebar.
"Hanggoda, kau masih juga tak mau bekerja sama?"
Raksasa itu tertegun. "Kau dengan siapa?" Gurba mendengar suara berkerisik di belakang pangeran, langkah kaki yang lembut dan halus. Ketika sang pangeran tertawa dan menggapai ke belakang, seorang wanita cantik muncul tersenyum manis. Gurba tertegun memandang wanita itu.
"Hanggoda, perkenalkan, dia istriku, Wan Cu!"
Wan Cu, wanita cantik itu, sudah memberi hormat. Ia memberikan kerling yang luar biasa manisnya pada Gurba, membungkuk, dan bau harum yang memabukkan muncul dari tubuhnya. Ketika Gurba terpaku dan tergetar memandang kecantikan itu, tiba-tiba suara merdu yang luar biasa empuk menegur raksasa ini, "Hanggoda, perkenalkan. Aku Wan Cu, istri Siauw-ong-ya."
"Ah!" Gurba sadar, mengejapkan mata dengan wajah kagum dan sedikit merah ketika mendengar Siauw-ong-ya tertawa.
Pangeran Muda tersenyum lebar merapatkan istrinya. "Hanggoda, istriku datang untuk meminta dengan sangat agar kau memenuhi permintaanku. Dia telah mendengar segalanya dan melihat kegagalanmu."
"Maksudmu?"
Sang pangeran tersenyum, melirik istrinya. "Kau jelaskan, Wan Cu. Biar Hanggoda yang gagah ini mendengar maksudmu."
Wan Cu melangkah maju, bau harum kembali bertiup. "Hanggoda, maafkan aku. Siauw-ong-ya merasa gagal meminta pertolonganmu. Aku datang untuk mengulang permohonan suamiku agar kau membantu kami. Kita bekerja sama, kau di luar, kami di dalam. Bagaimana kalau kau datang ke istana?"
Gurba terbelalak, tak segera menjawab.
"Bagaimana, Hanggoda?"
Gurba menahan napas, tergetar oleh suara yang lembut, kecantikan wanita itu, serta tubuhnya yang menggairahkan. Sama tinggi dengan sumoinya, tinggi semampai, dan montok. Seorang wanita yang masak! Ketika Gurba terpesona oleh gerak bibir yang berbicara itu, tiba-tiba Wan Cu terkekeh menutupi mulutnya, dan Gurba kaget.
"Eh, maaf. Apa... apa yang kau bicarakan, Hujin?"
Wan Cu tak dapat menahan geli, melirik suaminya yang mengangguk dan tersenyum lebar. Melihat Gurba yang masih terpesona, Wan Cu menghentikan tawanya yang merdu dan mengulang pertanyaannya dengan nada yang sama. "Kami minta kau membantu kami, Hanggoda. Aku berharap kau mau mengunjungi istana suamiku untuk membicarakan rencana kami lebih lanjut."
Gurba mundur. "Tapi Sai-mo-ong dan teman-temannya, juga Bu-kongcu itu..."
"Mereka dapat kami atasi, Hanggoda. Tak perlu khawatir tentang mereka!" Wan Cu memotong cepat, seolah mengetahui jalan pikiran raksasa ini. "Dan Bu-kongcu juga tak akan mengganggumu!"
"Tentu saja," Gurba marah. "Sumoiku telah pergi, Hujin. Dan aku jadi tak suka tinggal di istana!"
"Tapi sekarang lain, kau dapat kamar istimewa!"
"Apa maksudmu?"
Wan Cu tersenyum, manis dan merangsang. Ia menjelaskan tanpa tedeng aling-aling dan mengejutkan Gurba. "Artinya kau dapat sebuah kamar yang istimewa, Hanggoda. Kujamin tak seorang pun berani memasuki kamar itu karena kamar yang kuberikan adalah kamarku sendiri!"
Gurba kaget. "Apa?"
"Ya, kamarku, Hanggoda. Kau boleh pakai kamar itu dan suamiku mengizinkan!"
Gurba hampir mencelat. Ia seolah tak percaya mendengar kata-kata itu, melihat Wan Cu tersenyum dan memandangnya dengan mata yang bersinar-sinar. Wajah yang cantik itu tampak bersemu merah. Gurba tergetar, hampir mengeluh. Tapi ketika Siauw-ong-ya tertawa dan melangkah maju, raksasa ini mendengar kata-kata meyakinkan.
"Benar, apa yang dikata istriku memang tidak salah, Hanggoda. Aku menyesal dan ingin mengganti kesalahanku dulu. Kau boleh pakai kamar istriku, tak ada yang berani masuk kecuali istriku sendiri!"
"Tapi... tapi..."
"Tak perlu sungkan. Aku relakan semuanya, Hanggoda. Demi persahabatan kita!"
Gurba tertegun. Ia tentu saja tak dapat bicara. Pangeran dan Wan Cu sama-sama memandangnya, Wan Cu malah tersenyum aneh. Bibir yang indah itu seolah bergerak penuh janji. Gurba berdebar, ia kehilangan akal dan kesadarannya begitu saja. Tiba-tiba ia lumpuh menghadapi Wan Cu; kelaki-lakiannya mendapat isyarat yang menggoda sukma.
Gurba dipenuhi janjinya. Raksasa ini benar-benar mendapatkan kamar Wan Cu, kamar yang besar dan harum. Karena kamar itu adalah kamar wanita dan Wan Cu sehari-harinya tinggal di situ, maka bedak dan wewangian terhampar di sana, membuat Gurba menggigil dan berkali-kali menelan ludah.
Malam itu, ketika ia berada di kamar ini dan gemetar tak karuan, tiba-tiba Wan Cu mengetuk pintunya dan masuk ke dalam. Gurba terbelalak. Wan Cu mengenakan pakaian tipis, demikian tipis hingga semua yang ada di dalamnya tampak. Pakaian tidur yang tembus pandang. Jakun Gurba seakan meloncat melihat semua itu.
Ketika Wan Cu menutup pintu kamar dan tersenyum kepadanya, wanita itu membungkukkan tubuh, memperlihatkan belahan dadanya.
"Maaf, aku ingin bercakap-cakap, Hanggoda. Kau belum tidur, bukan?"
"Ah, tidak... eh, belum! Aku... aku belum tidur!" Gurba tiba-tiba gugup, seakan orang tolol, dan terbelalak memandang Wan Cu yang menghampirinya dengan lenggang memikat. Senyumnya demikian memabukkan dan aduhai. Ketika dengan lembut wanita itu duduk di kursi, Gurba berdiri dengan muka merah tak karuan.
"Hujin, kau... eh, tak diantar suamimu?"
"Hihihi, suamiku letih, Hanggoda. Dia menyuruhku ke sini untuk membicarakan sesuatu. Ia tak akan kemari, kita berdua boleh bicara sebebasnya."
"Tapi..."
"Ah, kenapa demikian canggung, Hanggoda? Siauw-ong-ya membebaskan kau berbuat segalanya, dan Ayahanda Kaisar pun tak melarangmu di istana ini."
Wan Cu mempersilakan Gurba duduk, lalu menarik napas dan tersenyum kagum memandang raksasa ini. "Hanggoda, malam ini suamiku ingin aku bercakap-cakap tentang rencana yang belum dijelaskan. Kami berdua kagum padamu, memang hanya kaulah yang dapat melicinkan jalan yang mungkin berbatu. Kita siap berbicara?"
Gurba menelan ludah, tak dapat menekan detak jantungnya. Tapi karena orang bertanya, ia pun mengangguk. "Tentu, apa, Hujin?"
"Pertama," Wan Cu tertawa kecil, "kau sebut saja namaku begitu saja, Hanggoda. Malam ini kita hanya berdua. Tak ada orang lain. Kau boleh panggil aku Wan Cu dan buang sebutan Hujin itu."
"Ah... mana bisa?"
"Kenapa tidak? Kita orang-orang sendiri, Hanggoda, dan aku menginginkan percakapan yang lebih akrab. Santai tapi akrab." Wan Cu yang tersenyum memandang raksasa ini tiba-tiba memegang lengannya, membuat Gurba berdesir.
"Hanggoda, kau menginginkan pembicaraan yang akrab, bukan? Kau tak menolak permintaanku?"
"Tentu, tapi... tapi..."
"Tak ada tetapi, Hanggoda! Kau buang kecanggunganmu itu dan kita bercakap-cakap seperti biasa."
Gurba tergetar. Ia melihat Wan Cu menekan lengannya sedikit keras, merasakan jari-jari yang lunak dan lembut itu mengalirkan hawa hangat, meresap, dan menembus ke relung hatinya. Tentu saja membuat ia panas dingin dan menggigil. Tapi ketika Wan Cu tertawa dan ia malu pada diri sendiri, tiba-tiba Gurba menyeringai dan berkedip-kedip, sementara Wan Cu memandangnya dengan senyum manis.