Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 126

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 126

"Bagaimana, kau setuju, Hanggoda?"

Gurba mengangguk. "Kenapa tak bersuara?"

"Eh," Gurba terkejut. "Haruskah bersuara, Hujin? Bukankah aku setuju?"

"Nah, ini," Wan Cu terkekeh. "Kau masih menyebutku Hujin, Hanggoda. Ini berarti melanggar permintaanku!"

Ketika Gurba bersemu merah dan gugup oleh kata-katanya, tiba-tiba Wan Cu berdiri memperlihatkan bentuk tubuhnya. Gurba semakin tersirap.

"Hanggoda, tak maukah kau menyebutku Wan Cu? Jelekkah namaku itu?"

Gurba panas dingin. "Tidak... aku... eh, aku lupa... Cu Moi. Aku belum terbiasa memanggilmu!"

Wan Cu yang terkekeh disebut Cu Moi (Adinda Cu) tiba-tiba duduk membusungkan dadanya. "Nah, begitu. Terima kasih, Hanggoda. Sekarang kita akrab!"

Wan Cu, yang tidak malu lagi, menyambar lengan Gurba dan tiba-tiba mendekatkan tubuhnya, menarik raksasa itu, sengaja menampakkan belahan dadanya yang semakin membukit penuh.

"Hanggoda, kau siap membantu kami sepenuh hati, bukan?"

Gurba memejamkan mata, napasnya terasa sesak. "Tentu."

"Kenapa begini?" Wan Cu cemberut. "Aku tak mau bicara dengan orang yang memejamkan matanya, Hanggoda. Atau, hmm... atau mungkin aku jelek!"

Gurba terkejut. Wan Cu telah menarik lengannya. Bibir yang indah itu dikatup, seakan orang marah. Gurba buru-buru membuka mata dan tertawa gugup. Ia ganti menyambar lengan itu dan berkata setengah menggigil dan agak parau, "Cu Moi, siapa bilang kamu jelek? Justru aku menutup mata karena takut. Aku takut melihat kecantikanmu!"

Ketika Wan Cu membuka mata dan setengah tersenyum, tiba-tiba Gurba telah mengangkat lengan yang lembut itu dan mencium jarinya. "Cu Moi, kau cantik. Setiap orang pun pasti akan memuji kecantikanmu ini!"

"Benarkah?"

"Tentu. Bukankah suamimu juga sering memujimu?"

"Ah," Wan Cu tiba-tiba cemberut kembali. "Jangan sebut-sebut nama orang lain di sini, Hanggoda. Hubungan kita terpasang jarak lagi."

Gurba terbelalak. "Maaf. Tapi..."

"Tapi apa?" Wan Cu memotong. "Sudah kubilang kita hanya berdua, Hanggoda. Tak perlu orang lain disebut-sebut di sini, biarpun dia itu suamiku!"

Gurba melenggong dan Wan Cu tersenyum manis, tiba-tiba berubah genit dan mengerling tajam. "Hanggoda, tak tahukah kau sikap kami? Tak mengertikah perasaanmu tentang semuanya ini?"

"Aku tahu," Gurba menggigil. "Tapi aku ragu, Cu Moi. Aku tak percaya dan..."

"Baik, cukup kalau begitu. Aku datang memang untuk menghiburmu."

Wan Cu yang memang tak sabar tiba-tiba bangkit dan duduk di pangkuan Gurba. Begitu saja hingga Gurba tersentak, kaget bukan main. Ketika Wan Cu memutar tubuhnya, Gurba "tersengat". Tiba-tiba Wan Cu telah memeluk leher raksasa ini sementara buah dadanya yang membukit penuh nyaris mengenai hidung!

"Hanggoda, kau benar-benar siap membantu kami, bukan?"

Gurba merah padam, tak dapat menjawab karena masih terkejut. "Eh... kau tak mau membantuku, Hanggoda? Kau menarik janji?"

"Tidak," Gurba akhirnya gemetar, suaranya hilang timbul. "Aku tak menarik janjiku, Cu Moi. Dan aku siap membantu asal imbalan yang kuterima cukup sepadan!"

"Tentu sepadan!" Wan Cu tersenyum aneh. "Dan imbalan pertama adalah tubuhku, Hanggoda. Suamiku memperkenankan kau memilikinya asal kau membantu kami, dengan sumpah!"

Ketika Gurba terbelalak dan gemetar tak karuan, tiba-tiba Wan Cu menunduk dan mencium raksasa tinggi besar itu, melumatnya dan menghisap penuh nafsu. Gurba dibuat meremang karena lumatan wanita ini jauh di atas rata-rata. Ia kontan terjungkal dan roboh. Namun, ketika raksasa ini menyerang dan menyambar Wan Cu, tiba-tiba wanita itu mendorong lengannya bersikap menahan.

"Stop, nanti dulu. Kau harus berjanji, Hanggoda. Kau harus bersumpah!"

"Aku bersumpah!" Gurba tak tahan lagi, langsung berseru. "Aku akan membantu kalian, Cu Moi. Dan tak akan mundur kalau belum berhasil!"

"Bagus, kalau begitu sabar sebentar. Kita harus berbicara sedikit."

Wan Cu yang tersenyum melepaskan diri, tiba-tiba berdiri di depan Gurba dan menurunkan sedikit baju atasnya hingga Gurba melotot. Buah dada itu tersembul lebih jelas, putih dan montok! Ketika Gurba mengereng dan siap menubruk, buru-buru wanita itu berkata, "Hanggoda, tunggu dulu. Janji dan sumpahmu telah kudengar. Tapi kau tak boleh tinggal di sini, kau harus keluar Tembok Besar!"

"Apa?" Gurba terkejut bukan main. "Kau mengusirku, Cu Moi?"

"Tidak! Itu tugasmu sebagai bantuan terhadap kami, Hanggoda. Sebab kalau kau terus di sini, maka usaha kita tak berjalan."

Wan Cu secepatnya memberi tahu apa yang dimaksud. Tiba-tiba Gurba tertegun karena Siauw Ongya menghendaki dia menyusun barisan, bukan di daerah Tiong-goan, melainkan di luar Tembok Besar. Ia menyuruh raksasa itu menyiapkan pasukan besar untuk kelak dipakai memukul kota raja, serta menyuruh raksasa itu mengacau dengan suku-suku liar. Suku yang bertebaran di padang rumput itu harus ia kumpulkan.

"Bagus, kalau begitu aku setuju, Cu Moi. Dan aku akan pergi kalau kepuasan telah kudapat di sini!"

"Dan kau boleh sewaktu-waktu menjengukku, Hanggoda. Aku siap memberikan tubuhku kapan saja kau minta!"

"Kau berjanji?"

"Aku bersumpah!"

Gurba yang tertawa gelak tiba-tiba menyambar wanita ini. Wan Cu tersenyum dan telah melepas sisa pakaiannya. Tentu saja ia ditubruk dan Gurba menjadi buas oleh pemberian wanita ini. Mendengar Siauw Ongya sengaja mengurbankan istrinya tersayang karena mengharapkan benar bantuan raksasa itu, Gurbalah yang terkuat di antara semua orang, bahkan di antara kelompok Jit-mo Kang-ouw sekalipun.

Ketika Wan Cu terkekeh dan balas menyambut tubrukan raksasa itu, tiba-tiba keduanya telah terguling-guling dan tertawa-tawa di atas lantai yang beralaskan permadani, hingga membuat keduanya semakin hangat. Siauw Ongya kiranya memberikan kekasih sendiri untuk "servis". Gurba dipegang janjinya agar tunduk di bawah mereka. Karena raksasa ini sedang kesepian dan kekecewaan demi kekecewaan menghantam dirinya, maka tak ayal lagi "hadiah" yang menarik ini merobohkan raksasa itu.

Gurba dibuat mabuk. Wan Cu menghanyutkan raksasa ini dalam mega mimpi yang indah. Begitu indah dan memabukkan hingga Gurba terlena, ternina-bobok, dan berjanji macam-macam lagi ketika Wan Cu memintanya. Salah satunya adalah menjilat kaki Wan Cu sebagai tanda setia kalau kelak Wan Cu meragukan kesetiaan raksasa ini!

Ketika Wan Cu berhasil menguasai raksasa tinggi besar itu dan Gurba mabuk kepayang, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Gurba mengiyakan segala-galanya yang diminta Wan Cu. Luar biasa! Tapi itu tidak aneh, Gurba sedang dirundung malang; raksasa ini sedang mengalami kekecewaan besar terhadap sumoinya dan frustrasi. Sejarah lagi-lagi membuktikan kekuatan wanita. Laki-laki sehebat Gurba pun roboh dan tunduk di bawah pengaruh kecantikan. Begitu hebatnya, sehingga Gurba seakan kehilangan akal sehat dan kontrol dirinya oleh pengaruh kecantikan serta kehangatan tubuh Wan Cu.

Semalam itu Gurba dibuat tergila-gila oleh Wan Cu hingga semua janji dan sumpah raksasa ini telah dipegang Wan Cu. Itu berlanjut berhari-hari; Wan Cu memberi kepuasan penuh pada raksasa itu. Gurba berenang sepuas-puasnya dalam madu berahi, semakin terikat dan jatuh hati pada wanita itu.

Dua minggu penuh raksasa itu menikmati surga dunia dan Wan Cu menyervisnya luar dalam. Mendadak dia terengah-engah mendekap wanita ini, menyatakan dia ingin memiliki Wan Cu, memperistrinya, dan merebutnya dari Pangeran Muda. Hal yang mengejutkan Wan Cu karena di luar perhitungannya. Tapi ketika mereka bersitegang dan Wan Cu tentu saja menolak, tiba-tiba Pangeran Muda muncul.

"Maaf, tak perlu bertengkar, Wan Cu. Apa yang diminta Hanggoda memang tidak berlebihan. Aku sedia menyerahkan dirimu pada Gurba."

"Apa? Kau tak mencintaiku lagi, Kanda?" Wan Cu terkejut.

"Tidak, aku masih mencintaimu. Tapi kalau Gurba hendak memperistrimu, tentu saja aku harus mengalah," Pangeran itu mengedip memberi isyarat, memainkan sandiwaranya. "Cu Moi, apa yang diminta Gurba memang selayaknya. Tapi kalau dia ingin memilikimu, maka janji untuk menduduki jabatan wakil kaisar harus dicabut. Bagaimana menurut yang bersangkutan sendiri?"

Gurba terbelalak. Sebenarnya dia terkejut melihat Pangeran Muda muncul, berdebar karena pangeran itu mendengar pembicaraannya. Dia siap menghantam pangeran itu kalau marah dan akan membawa Wan Cu dengan paksa. Betapapun kekecewaannya terhadap sumoinya telah terobati dan dia tergila-gila pada Wan Cu yang cantik dan pandai menyervis ini—permainan cinta yang syur dan memabukkan yang seumur hidup baru kali itu dia alami—tetapi melihat pangeran itu tertawa dan justru mengabulkan keinginannya asal dia mengganti dengan jabatan wakil kaisar yang pernah dijanjikan, tiba-tiba Gurba menyeringai menganggukkan kepalanya.

"Boleh, aku siap mengorbankan kedudukan itu, Pangeran. Asal Wan Cu ikut aku dan kau berikan padaku."

"Kau tak menyesal?"

"Tidak, aku dapat memperoleh kedudukan yang sama di suku bangsaku. Aku akan menjadi pemimpin di sana dan Wan Cu kuangkat sebagai permaisuri."

"Ha, ha... bagus kalau begitu, Hanggoda. Di antara kita sekarang tak ada masalah. Teruskan bersenang-senang kalian!"

Pangeran Muda menutup pintu kamar, keluar, dan kembali diam-diam melempar sebuah isyarat pada kekasihnya. Gurba tak tahu betapa diam-diam muka Pangeran Muda merah padam. Giginya berkerot! Dan ketika hari itu kembali Wan Cu melayani raksasa ini dan Gurba lebih bebas karena Wan Cu dianggap sudah menjadi miliknya, maka hari itu Gurba bersenang-senang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment