Chapter 127
Gurba harus menepati janji. Dia sudah cukup lama tinggal di istana, dua minggu. Tidak boleh lebih lama lagi karena dia harus mulai bergerak. Dia harus mulai bekerja mengumpulkan suku-suku liar di luar tembok besar. Ketika hari itu tiba, untuk terakhir kalinya dia memuaskan hasratnya pada Wan Cu. Setelah Wan Cu kelelahan, Gurba berangkat meninggalkan Gedung Pangeran Muda.
Raksasa itu berseri-seri. Tidak diingatnya sekarang perihal sumoinya itu. Bayangan di kelopak matanya hanyalah Wan Cu. Wan Cu dan Wan Cu melulu. Dewi yang membuat dia jatuh bangun itu. Wanita yang membuat dia tergila-gila, mabuk, dan entah apalagi yang membuat raksasa itu seakan melayang di surga. Kakinya bergerak ringan sementara mulutnya tersenyum-senyum.
Ketika dia meninggalkan tempat itu dan Wan Cu menemui kekasihnya, Wan Cu terbelalak menuntut jawaban.
"Kanda, apa artinya semua ini? Kenapa kau berjanji menyerahkan diriku pada raksasa itu?"
Pangeran Muda bangkit dengan berkerot gigi. "Jangan salah paham, apa yang kujanjikan hanyalah sebuah siasat, Wan Cu. Masa kau begitu percaya dan mengira aku bersungguh-sungguh?"
"Jadi maksudmu?"
"Aku sekadar menyenangkan hatinya. Tapi tentu saja janji itu tidak akan kutepati!"
"Dan aku juga tidak sudi menjadi istrinya. Raksasa itu kasar dan hitam!"
"Ya, dan aku pun tidak rela menyerahkan dirimu, Wan Cu. Siapa yang tidak panas melihat kekasih bermain cinta? Kalau bukan karena cita-cita, tentu sudah kubunuh raksasa itu! Aku tidak kuat menahan cemburu!"
"Kalau begitu, kenapa kau serahkan aku?"
"Hmm," Pangeran Muda menyambar kekasihnya. "Adakah jalan lain yang dapat kutempuh, Wan Cu? Adakah cara lain untuk menundukkan raksasa itu?"
Wan Cu terisak. "Tapi aku muak, Kanda. Aku bosan dan mulai takut!"
"Tapi ini demi perjuangan kita. Kita sama-sama berkorban demi cita-cita."
"Ya, aku tahu, tapi ah..." Wan Cu menangis, sebenarnya berat melakukan itu, lalu dia memeluk kekasihnya.
Ketika Pangeran Muda mengusap rambutnya dan membimbingnya ke tempat tidur, pangeran ini berkata dengan suara menggigil, "Wan Cu, apa yang tidak disenangi terpaksa harus kita lakukan di saat-saat begini. Kita tidak memiliki jalan lain. Raksasa itu amat kita butuhkan. Bukankah Sai Mo Ong dan teman-temannya tidak mungkin menundukkan suku-suku liar di pedalaman sana? Bukankah hanya raksasa itu satu-satunya orang yang dapat mengumpulkan mereka dan menyerang kemari? Tabahkan hatimu, kekasihku. Bukan kau seorang yang menderita, tapi aku pun juga. Tapi perjuangan di atas segalanya, kita harus berkorban apa saja!"
Wan Cu tidak menjawab, menyembunyikan mukanya di dada sang pangeran dan terisak-isak.
***
"Demi cintaku padamu, masihkah kau sangsikan dan membuat hatiku sakit?"
"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, Cu-moi. Kalau aku demikian tolol, biarlah kau pukul aku... plak, plak!"
Pangeran Muda tiba-tiba menggerakkan tangan kekasihnya, menampar dua pipinya sendiri di kiri dan kanan. Ketika Wan Cu terkejut dan menarik lengannya, pangeran ini menyeringai dengan mata berkejap-kejap.
"Puas? Kau boleh pukul aku lagi, Cu-moi. Boleh tambah kalau kurang!"
"Tidak!" Wan Cu mengeluh. "Kenapa demikian sinting, Kanda? Aku tidak ingin menyakitimu. Cinta kita untuk membahagiakan, bukan menyakitkan!"
Pangeran Muda tertawa dan meraih kekasihnya, sementara Wan Cu mengusap pipi pangeran ini. "Kanda, siapa suruh kau lakukan itu?"
"Setan."
"Setan?"
"Ya, setan. Kau heran?" Pangeran itu geli. "Aku rasanya kesetanan melihat kau melayani raksasa itu, Cu-moi. Kalau tidak melihat jangka perjuangan kita, tentu Sai Mo Ong dan teman-temannya sudah kusuruh membunuh Gurba! Ah, sudahlah. Percakapan kita selesai. Kita tunggu saja hasilnya dan lihat bagaimana sepak terjang raksasa itu."
Wan Cu menarik napas. Terbayang di benaknya Gurba, raksasa lihai bertubuh tinggi besar itu. Dia bergidik dan ngeri hatinya kalau teringat keganasan Gurba bermain cinta. Raksasa itu seperti orang kelaparan; kalau bukan ia yang melayani, mungkin wanita lain sudah mati lemas. Gurba terlalu kuat, ia harus mengakui itu. Tapi karena cintanya hanya untuk Siauw Ong-ya seorang dan apa yang ia lakukan adalah atas anjuran kekasihnya itu, maka wanita ini menghela napas dengan pandangan redup.
Aneh mereka ini. Saling mencinta tapi mengorbankan seorang di antara mereka. Siauw Ong-ya menyuruh dia melayani Gurba, padahal dulu masing-masing pihak sama-sama berjanji bahwa mereka hanya untuk satu sama lain. Sekarang kekasihnya menyuruh dia melayani Gurba demi perjuangan, demi cita-cita yang telah mereka putuskan bersama. Dan karena perjuangan memang membutuhkan pengorbanan, maka jadilah dia "tumbal" yang paling berat.
Beginikah jalan menuju cita-cita? Wan Cu terisak. Sebenarnya, membersit kekhawatiran di hatinya. Dia takut apa yang dia lakukan itu kelak mengganggu hubungan mereka. Tapi Siauw Ong-ya meyakinkan hatinya, menyatakan cintanya, dan justru menghargai besar pengorbanannya ini. Dia berkali-kali menyatakan isi batinnya dan mengatakan tidak mungkin meninggalkan Wan Cu. Dan karena kekasihnya ini benar-benar menunjukkan cintanya dan sampai saat itu tidak ada tanda-tanda mencurigakan yang dapat membuat dia cemas, akhirnya Wan Cu menekan kekhawatirannya sendiri dan tidak bertanya ini-itu.
Pangeran Muda memeluknya. "Ada apa, Cu-moi? Kenapa mendesah?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya menekan kekhawatiranku, Kanda. Aku sedikit cemas."
"Tentang apa?"
"Tentang... tentang kegagalan Gurba," Wan Cu berbohong.
"Ah, tidak mungkin!" Pangeran Muda salah tangkap. "Raksasa itu tidak mungkin gagal menyatukan suku-suku liar di sana, Cu-moi. Dia sudah dikenal dan ditakuti bangsa nomad!"
"Mudah-mudahan..." Ketika Wan Cu direbahkan dan kembali kekasihnya menciumnya, tiba-tiba pangeran ini berbisik, "Cu-moi, kita menghadap ibunda selir?"
Wan Cu menggeleng. "Tidak, aku lelah, Kanda. Kau sendiri sajalah yang ke sana..."
"Kau tidak ikut?"
"Aku ingin beristirahat, aku lelah."
"Baiklah, kalau begitu nanti kita bertemu lagi." Sang pangeran mencium kening kekasihnya dengan lembut, lalu akhirnya meninggalkan Wan Cu, menutup pintu kamar, dan menuju ke sebuah kamar lain di kompleks istana sebelah utara, agak jauh dari tempat itu.
Ketika seorang wanita cantik setengah tua menyambut pangeran ini, pertanyaan pertamanya adalah kata-kata singkat yang dingin tapi lembut, "Kau berhasil, anak Pangeran?"
Pangeran Muda menjatuhkan diri berlutut. "Berhasil, tapi..." pangeran ini tidak meneruskan kata-katanya, memandang dua dayang di samping wanita setengah umur itu, ibunya, ibunda selir.
Ketika wanita itu maklum dan mengangguk mengangkat lengannya, dua orang dayang ini diusir. "Kalian pergilah, aku tidak butuh bantuan kalian."
Dua orang dayang itu pergi. Pangeran Muda maju mendekat. Ketika ibunya bertanya lagi dan dia mengangguk, pangeran ini menjawab lirih, "Aku berhasil, tapi belum semuanya, Ibu. Raksasa itu telah ditundukkan Wan Cu dan sekarang memulai tugasnya."
"Bagus, dan di mana sekarang kekasihmu itu?"
"Beristirahat, dia lelah."
"Kau sendiri?"
"Ya."
"Kalau begitu teruskan rencana itu, Pangeran. Bujuk dan pakai siapa saja yang dapat dipergunakan untuk berhasilnya cita-cita!"
"Tapi..." pangeran ini ragu, "ada sedikit perubahan, Ibu. Raksasa itu jatuh cinta pada Wan Cu!"
"Apa maksudmu?"
"Dia menginginkan Wan Cu sebagai istrinya. Dia rela mengorbankan kedudukan itu asal Wan Cu diperistri!"
Ibunda selir tertegun. "Apa jawabmu?"
"Tentu saja aku menolak, Ibu. Tapi di luar aku menyanggupi. Raksasa itu kurang ajar sekali, sudah diberi hati masih merogoh jantung!"
"Hm, kau salah," sang ibu tiba-tiba menegur. "Apa yang diminta seharusnya kau berikan saja, anak Pangeran. Tidak perlu gusar karena raksasa itu terlampau berbahaya."
"Maksud Ibu hendak memberikan Wan Cu sebagai istrinya?"
"Kenapa tidak? Masih banyak wanita cantik lainnya di sini, Pangeran. Kau dapat memperolehnya kapan kau suka!"
"Tidak, aku tidak dapat. Aku mencintai Wan Cu, Ibu. Aku tidak akan melepaskan kekasihku itu sebagai milik orang lain!"
"Tapi dia tidak setia. Dia telah main gila dengan orang lain!"
Pangeran Muda terkejut. "Ibu melihat sendiri? Apa maksud Ibu?"
"Hm, tolol sekali. Kau telah melihat kekasihmu itu melayani Gurba, Pangeran. Apakah ini bukan kesetiaan yang perlu diragukan? Kau tidak perlu bertanya pada ibumu, kau telah lihat dan buktikan sendiri perbuatan kekasihmu itu."
"Tapi itu atas suruhan kita. Ibu yang memberi saran dan menyuruhku berbuat begitu!"
"Benar, tapi wanita baik-baik tidak akan mau diperintah begitu, Pangeran. Apa yang dilakukan Wan Cu menunjukkan wataknya yang tidak dapat dipercaya!"
Pangeran ini tertegun. "Tapi..."
"Tapi apa? Kau mau mengganduli wanita macam begitu?" sang ibu mengejek. "Lihat saja pertama kalinya, anakku. Lihat dan buktikan saja ketika dia mau mengkhianati suaminya, Kungghodu. Bukankah wanita macam begini sesungguhnya tidak berharga mendapat cintamu? Dia wanita murahan, anak Pangeran. Tidak perlu berat melepasnya kalau raksasa itu menginginkannya sebagai istri. Malah kebetulan, kau dapat bebas dan tidak ada risiko untuk kelak dikhianati kekasihmu itu bila terpikat orang lain!"
Pangeran Muda pucat. "Ibu, ini... ini jalan pikiran yang tidak keruan!"
"Hm, tidak keruan bagaimana? Kau dapat membuktikannya?"
Pangeran ini menelan ludah, terbelalak memandang ibunya. "Tentu saja, bukankah ini semua adalah atas hasil bujukanku? Bukankah aku yang menyuruh dia berbuat begini atau begitu? Dan apa yang dilakukan Wan Cu justru menunjukkan cintanya, Ibu. Dia tidak mungkin mengkhianati aku dan berbalik membantu orang lain!"
"Kau bodoh! Justru bujukanmu itu merupakan uji coba, Pangeran. Kalau Wan Cu wanita teguh iman, tentu dia menolak. Dan kau boleh tergila-gila pada wanita macam begini. Tapi apa nyatanya? Dia terbujuk, anakku. Dia roboh dan menerima bujukanmu karena imannya lemah. Itu menunjukkan wanita model apa kekasihmu itu!"
Pangeran Muda tertegun. "Tapi..." dia bingung.
"Tapi apa lagi?" sang ibu menukas.