Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 128

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 128

"Kau boleh merenungkan kata-kata Ibu, anakku. Bagiku, tak perlu memberatkan wanita macam begitu. Perjuangan kita adalah perjuangan besar; tak seharusnya urusan pribadi yang sepele begini kau pikirkan dengan jantung digerogoti cinta. Kau dapat mencari penggantinya!" Pangeran Muda menggigil.

"Kau tak dapat menerimanya?" Pangeran ini serasa tercekik.

Namun, ketika sang ibu bertanya kembali dan dia mengangguk, akhirnya pangeran ini berkata dengan suara serak, "Ibu, apa yang kau katakan agak berlawanan dengan isi hatiku. Aku belum dapat menerimanya begitu saja. Sebaiknya aku berpikir."

"Berpikir apalagi? Bukankah semuanya nyata dan gamblang?"

"Tapi perbuatan Wan Cu adalah atas suruhan kita, Ibu. Masa kita menuduhnya demikian keji?"

"Hm, kau bodoh. Kau tak dapat berpikir mana benar mana tidak, Pangeran. Kalau begitu, kau akan selalu bimbang dan tak dapat mengambil putusan!"

"Jadi maksud Ibu..."

"Seperti yang kukatakan tadi. Berikan kelak kekasihmu itu pada raksasa Tartar itu. Itu suatu kebetulan. Kau dapat melepaskan diri dari wanita yang tak punya iman!"

Ketika pangeran ini terbelalak dan terhuyung memandang ibunya, wanita itu sudah bangkit berdiri dan berkata, "Pangeran, hidup hanya sekali. Tak ada manusia di dunia ini yang dapat hidup dua kali. Kita sedang memperjuangkan cita-cita yang lebih besar. Kedudukan putra mahkota harus kau rebut dan kelak kau menjadi kaisar. Kesempatan emas ini hanya sekali juga bagi kita. Raksasa itu tenaga yang dapat diandalkan. Kalau kita gagal gara-gara persoalan perempuan, sungguh penyesalan akan menghantui hidupmu selama hidup! Kekasihmu itu tak perlu diberatkan, kau dapat mencari lain dan banyak penggantinya. Tidakkah kau lihat ancaman kegagalan kalau raksasa itu kau khianati? Ingat, Ibu lebih banyak mengenyam pahit getir kehidupan, anakku. Apa yang Ibu katakan adalah berdasar pengalaman yang telah Ibu alami. Hidup sekali haruslah sukses, singkirkan kesengsaraan dan penderitaan sejauh mungkin! Kau mengerti?"

Pangeran ini tak menjawab.

"Kalau begitu renungkanlah. Ibu tak mau kau gagal." Ibunda selir menepuk pundak putranya dengan mata bersinar lalu menyuruh pangeran itu beristirahat, disambut anggukan lemah oleh Pangeran Muda yang tak dapat berkata-kata lagi.

Ketika pangeran itu pergi, ibunda selir menepuk tangannya dan dua orang dayang yang tadi diusir muncul kembali di pintu. "Awasi Pangeran Muda, lihat ke mana dia pergi."

Dua dayang itu mengangguk dan mengintil di belakang dengan jarak cukup jauh. Namun, ketika sang pangeran kembali ke kamarnya sendiri dan mereka melapor kepada ibunda selir, wanita ini mengangguk dan tersenyum puas. Ia menyuruh dayang itu keluar lagi dan duduk di kursinya.

Begitu pintu ditutup, wanita ini melamun jauh ke belakang. Tiba-tiba semua gambaran masa lalu muncul di benaknya dan terbayanglah peristiwa empat puluh tahun yang lalu di sebuah gubuk reyot. Tiga orang miskin tinggal di tempat ini: Sien Nio dan ayah serta ibu angkatnya. Mereka bertiga menjadi buruh tani milik tuan tanah Pin-Toya (Tuan Pin) dan hidup dalam keadaan melarat serta banyak utang.

Jun-lopek, ayah angkat Sien Nio, dan istrinya mulai sering sakit-sakitan. Mereka belum berumur lima puluh tahunan, baru empat puluh enam, namun sudah tampak seperti kakek-nenek yang sangat tua. Tubuh mereka kurus, mata cekung, dan tulang pipi menonjol; jelas keadaan orang kurang makan dengan kondisi yang menyedihkan. Sien Nio, yang ikut suami-istri ini sebagai anak angkat karena Jun-lopek tak mempunyai turunan, sudah tinggal bersama orang tua angkatnya selama lima belas tahun.

Tragedi itu menimpa mereka hari itu. Jun-lopek seminggu tak dapat bekerja. Panen di sawah ditinggalkan; kakek ini batuk-batuk dan semalam muntah darah. Istrinya otomatis menjaga suami dan tidak dapat bekerja pula di tempat Pin-loya. Sien Nio, gadis enam belas tahun yang bertubuh sehat, diminta menjaga ayahnya dan membantu ibu angkatnya. Tapi ketika batuk Jun-lopek kian menghebat dan sang istri menangis, tiba-tiba Jun-lopek roboh terguling dan muntah darah.

"Huakk!" Sien Nio jijik. Ibu angkatnya sudah mengerang melihat keadaan sang suami, membangunkan, dan menyuruh Sien Nio mengambil air panas yang semalam telah disiapkan. Berkali-kali ia meringankan penderitaan suaminya dengan menggosokkan air panas itu di dada Jun-lopek dan menaruh botol air panas di sana.

Tapi ketika Jun-lopek batuk-batuk dan tetap kesakitan, sang istri menjadi bingung dan menangis tak keruan. "Suamiku, kau perlu obat. Kita harus mencari obat!"

"Ya," Jun-lopek mengangguk lemah. "Tapi di mana kita mencarinya, Istriku? Aku merasa dadaku panas, nyeri sekali... ugh!"

Jun-lopek batuk-batuk kembali dan memuntahkan darah. Sien Nio mendapat giliran membersihkan darah di lantai tanah itu. Dia hampir muntah dan melakukan pekerjaannya sambil memejamkan mata, ikut menangis. Ketika Jun-lopek terengah-engah dan dibaringkan kembali, istri kakek ini mengguguk. "Suamiku, kita harus ke tabib Chang. Kita harus meminta obat pada tabib itu!"

"Ya, tapi kita harus membelinya, Istriku, bukan memintanya. Padahal kita tak punya uang."

"Bagaimana kalau kita utang lagi pada Pin-loya?"

"Kau gila? Utang kita sudah bertumpuk, aku tak berani!"

"Tapi kau harus disembuhkan, Suamiku. Kau tak boleh menderita dan harus minum obat!" Sang istri menangis lagi, wajahnya pucat dan matanya merah karena semalaman terus menangis. Cobaan itu terlampau berat. Seminggu ini suaminya tak diobati kecuali minum akar-akaran tradisional; dia butuh obat yang lebih manjur tapi tak punya uang. Utang mereka pada Pin-Toya sudah seribu tail, bersama bunga. Sukar melunasi utang yang menggunung itu.

Tiba-tiba, ketika wanita ini teringat gelang di pundi-pundi hitam, dia nyaris terpekik dan melompat. "Suamiku, kita masih punya gelang. Gelang itu kita jual!"

Jun-lopek terkejut. Istrinya telah membuka sebuah pundi-pundi hitam dengan tangan gemetar, merasa seolah dewa penolong menyelamatkan mereka. Dengan tangan menggigil dan muka gembira, istrinya berkata, "Suamiku, kita tak perlu utang pada Pin-loya. Kita dapat menukarkan ini pada Tabib Chang!"

"Ah!" sang suami terkejut. "Itu gelang pernikahan kita, Istriku. Masa hendak dijual dan ditukar obat?"

"Aku tak peduli. Inipun pemberianmu dulu. Kini hendak kubawa ke Tabib Chang dan biar kutukar dengan kesembuhanmu. Aku lebih berat dirimu daripada gelang ini!"

"Tidak!" sang suami terbelalak, menggeleng keras. "Gelang itu gelang keramat, Istriku. Tak boleh dijual karena merupakan benda pusaka!"

"Tapi kau sakit, kau perlu obat!"

"Ya, tapi jangan menjual gelang itu, Istriku. Masih ada jalan lain selain menjual gelang!"

"Apa itu?" Jun-lopek bingung. Dia pun tak dapat menjawab ketika istrinya bertanya jalan apa yang disebut sebagai jalan lain itu. Ketika dia batuk-batuk dan tak dapat menjawab, tiba-tiba istrinya merubruk, menangis tersedu-sedu. "Suamiku, jalan lain tak ada, kecuali utang. Bagaimana kalau aku meminjam uang lagi pada Pin-loya?"

Kakek ini gemetar. "Tak mungkin diberi, Istriku. Utang kita sudah terlalu tinggi. Minggu lalu pun belum kita bayar!"

"Tapi!" sang istri terbelalak, mengangkat mukanya. "Gelang ini dapat dijadikan jaminan, Suamiku. Kutunjukkan benda ini agar Pin-loya mau memberi!"

"Kau hendak menggadaikannya?"

"Kalau tak boleh dijual!"

"Ah..." Jun-lopek yang batuk-batuk tak dapat menjawab, tiba-tiba mengeluh dan mendekap dadanya, kembali muntah darah. Keadaan benar-benar gawat. Kakek ini pucat pasi, habis tenaganya oleh batuk yang menggebu. Ketika sang istri menangis dan menolong suaminya, Sien Nio yang saat itu berdiri di tengah pintu memandang terbelalak.

"Sien Nio, bantu ayahmu. Angkat tubuhnya!"

Sien Nio menggigil. Dia saat itu melotot memandang gelang; baru kali itu mengetahui ibu angkatnya memiliki perhiasan berharga ini. Tak kurang dari seribu tail. Tapi ketika ibunya berseru dan memanggil namanya, segera gadis ini tertatih-tatih menghampiri sang ayah, berjingkat, dan kembali jijik memandang darah yang kotor. Ketika Jun-lopek terengah dan istrinya menangis, wanita ini menyuruh Sien Nio menjaga suaminya.

"Suamiku, aku harus ke Pin-loya. Biar kuminta uang untuk ke Tabib Chang!"

Jun-lopek mengangguk gemetar. Dia tak dapat menjawab, itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi ketika sang istri hendak berangkat dan Sien Nio bangkit berdiri, tiba-tiba gadis ini berseru, "Ibu, tunggu!"

Sien Nio mengejar ibunya dan membuat ibunya berhenti. Tiba-tiba dia mengajukan usul, "Ibu, bagaimana kalau aku saja yang pergi ke tempat Pin-Toya? Biar kumintakan uang itu, kau dapat menjaga ayah sementara aku ke sana!"

Istri Jun-lopek tertegun. Sebenarnya, dia setuju mendengar ini. Betapapun dia lebih baik di rumah karena tempat tinggal Pin-loya cukup jauh di pinggiran. Ketika Sien Nio bertanya lagi dan dia tak curiga sedikit pun, akhirnya wanita tua ini menyerahkan miliknya dan mengangguk pada anak angkatnya itu.

"Baiklah, kau bawa, Nio-nio. Tapi hati-hati, ini satu-satunya barang berharga kami yang tidak ada duanya."

Sien Nio menyambut girang. Dia cepat menerima gelang itu, menimangnya, dan menggenggamnya di tangan. Begitu sang ibu menyuruh dia berangkat, gadis itu menggerakkan kakinya ke rumah Pin-loya. Namun, Sien Nio tidak menyerahkan barang berharga itu, menghadap Pin-loya, dan meminta begitu saja utang tanpa jaminan. Pin-loya marah-marah dan tentu saja tidak memberikan uangnya. Sien Nio bingung. Ketika gadis itu menangis dan gagal diusir keluar, tiba-tiba Hok centeng (tukang pukul) muncul. "Ada apa?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment