Chapter 129
"Kenapa gadis ini, Loya?" Pin Loya marah-marah.
"Dia datang minta pinjaman, padahal utang yang dulu belum lunas! Mana mungkin itu? Lempar dia. Tendang dan suruh dia keluar!" Hok-kauwsu terbelalak, "Dia anak perempuan Jun-lopek, bukan?"
"Benar."
"Berapa dia mau pinjam?" Pin-loya melotot.
"Hok-kauwsu, apa maumu?" Hok-kauwsu menyeringai, tersenyum lebar. "Tidak apa-apa, Loya. Tapi...." Tukang pukul ini menghampiri Sien Nio, mengawasi wajahnya. Ketika dia mengangguk-angguk dan menghadap majikannya, tukang pukul ini kembali bertanya, "Loya, berapa dia minta?"
"Dua ratus tail, sungguh gila!"
"Untuk apa?"
"Katanya untuk membeli obat."
"Siapa yang sakit?" Pin-loya menggebrak meja. "Hok-kauwsu, ada apa kau tanya-tanya? Usir saja bocah ini, bilang tak ada uang. Habis perkara!"
Tukang pukul itu mengangguk. Dia tertawa, menyeret Sien Nio keluar, dan menyeringai aneh. Sien Nio menangis dan ketakutan. Namun, ketika tukang pukul itu membawa Sien Nio ke belakang rumah dan berhenti di situ, tiba-tiba Hok-kauwsu bertanya halus, "Sien Nio, untuk apa uang sebegitu banyak? Benarkah untuk mencari obat? Siapa yang sakit?"
Sien Nio gemetar. "Ayah, Hok-kauwsu. Ayah batuk-batuk dan seminggu ini tak dapat bekerja. Dia muntah darah!"
"Kau perlu uang?"
"Tentu saja."
"Berapa, dua ratus tail?" Sien Nio mengangguk. Sebenarnya ibu angkatnya tidak memberi tahu jumlahnya, hanya menyuruh dia mengira-ngira saja dengan jaminan gelang itu, asal cukup membeli obat. Hok-kauwsu yang menyeringai memandang gadis ini, tiba-tiba menangkap pundaknya. "Kau punya jaminan apa?"
Sien Nio terkejut. "Tidak... tidak ada!" Dia mengira Hok-kauwsu mengetahui gelangnya, lalu cepat meronta dan melepaskan diri.
Hok-kauwsu tertawa, menangkap kembali bahu gadis itu, lalu mendengus. "Sien Nio, meminjam tanpa tanggungan adalah tidak mungkin. Ayah-ibumu tak punya jaminan, mana bisa mencari utang? Apalagi dua ratus tail, jumlah itu tidak sedikit! Kalau kau mau menjaminkan dirimu, biarlah kubantu kau mencari uang. Setuju?"
Sien Nio terbelalak. "Apa maksudmu, Hok-kauwsu?"
"Heh-heh, maksudnya jelas, Sien Nio. Kalau kau mau melayani aku dan bersikap manis padaku, aku dapat memberimu dua ratus tail itu. Setuju?"
Sien Nio mengangguk. Dia mengira kata "melayani" itu bermaksud melayani Hok-kauwsu dalam arti menyiapkan makan-minumnya, mencuci pakaiannya, atau apa saja yang berhubungan dengan pekerjaan sehari-hari. Tentu saja dia girang dan menganggap enteng. Gelang berarti dapat dia miliki dan dua ratus tail dapat diperolehnya dengan mudah. Begitu gampang!
Sien Nio yang mengangguk berseri dengan mata berkejap tiba-tiba bertanya, "Boleh, tapi berapa lama aku melayanimu, Hok-kauwsu? Asal tidak tahunan, aku tentu mau!"
"Ha-ha, tak perlu tahunan, anak manis. Dua bulan pun cukup! Kau tahu?" Hok-kauwsu tertawa tergelak, matanya berkilat dan memandang gadis remaja ini dengan cara yang aneh, bersinar-sinar dan membuat sang remaja tertegun.
Namun, ketika Hok-kauwsu menyatakan hanya dua bulan dan waktu itu bagi Sien Nio dapat ditoleransi, Sien Nio mengangguk dan tersenyum gembira. "Baiklah, aku mau. Tapi mana sekarang uangmu itu?"
Hok-kauwsu hampir berjingkrak. Dia terbahak mengejutkan gadis remaja ini, melompat dan menghilang sejenak entah ke mana, menyuruh Sien Nio menunggu. Ketika sekejap kemudian centeng itu muncul kembali dan membawa pundi-pundi di tangan kanannya, tukang pukul ini tertawa sambil menghentakkan kakinya, "Sien Nio, ini uang itu. Kau boleh hitung isinya!"
Sien Nio terbelalak. Dia sudah menerima pundi-pundi itu, menghitung uangnya; benar dua ratus tail, tak lebih tak kurang. Tentu saja dia girang dan mengucap terima kasih, ingin berlalu dan segera pergi dari tempat itu. Tapi ketika Hok-kauwsu tertawa aneh dan menyambar lengannya, mendadak centeng ini menyeringai sambil membentak perlahan, "Sien Nio, tunggu dulu. Kau belum berjanji kapan kau mulai melayani aku!"
"Ah...." Sien Nio terkejut. "Kapan saja aku siap melayanimu, Kauwsu. Kau mau kapan?"
"Weh, kau menantang? Kalau begitu nanti malam!" Tukang pukul itu tertawa tergelak, air liurnya menetes dua kali membuat Sien Nio mengerutkan kening. Ketika Sien Nio dilepas, Hok-kauwsu menyambar pipinya dan mendaratkan ciuman dua kali. "Nio-nio, kau boleh melayaniku nanti malam. Kutunggu di tengah sawah!"
Sien Nio terkejut. "Di tengah sawah?" Dia tak mengerti, agak takut juga melihat centeng itu. "Apa yang harus kukerjakan di sana, Kauwsu? Bukankah pekerjaan ada di rumahmu?"
"Ha-ha, di tengah sawah pun banyak pekerjaannya, Sien Nio. Pokoknya ke sana saja kau malam nanti. Kebetulan malam ini aku bertugas jaga di gubuk itu. Kau tahu, bukan?"
"Ya." Sien Nio agak waswas, teringat gubuk di tengah sawah milik Pin-loya itu. Gubuk yang biasa dipakai penjaga tuan tanah untuk menjaga sawahnya dari pencurian, padi dan gandum banyak tersebar di situ. Tapi teringat dia takut sendirian berjalan di malam hari, tiba-tiba Sien Nio menggigil. "Hok-kauwsu, kenapa malam hari? Aku takut....!"
"Ah, tak perlu takut," centeng itu membujuk. "Aku akan menunggumu di tepi sawah, Nio-nio. Setelah itu kita berangkat bersama ke tengah. Begitu?"
Sien Nio mengangguk. Kalau begini terang, dia tidak takut karena ditemani Hok-kauwsu. Ketika tukang pukul itu kembali tertawa dan menyuruhnya pergi, akhirnya Sien Nio membawa uang itu tanpa sedikit pun berprasangka buruk. Inilah celakanya; gadis remaja itu terlalu hijau. Menganggap demikian mudah mencari uang, tinggal berjanji dan dapatlah uang itu. Dua ratus tail di tangan sementara gelang juga tidak sampai hilang. Dia dapat memiliki benda itu dan tugasnya berjalan demikian mulus.
Sien Nio menyerahkan seratus tail pada ibu angkatnya, sementara seratus tail lagi dia sembunyikan. Tanpa berprasangka buruk pula, Tabib Chang mengobati suaminya. Namun celaka, Tabib Chang berkerut kening. Dewa penolong itu menyatakan terlambat, tak mungkin menolong Jun-lopek yang dianggap sudah parah. Istri Jun-lopek hampir pingsan, pucat mendengar keterangan tabib ini, seolah ultimatum seorang hakim.
Namun, Chang Sinshe memberi hiburan dengan sebungkus obat. "Jangan terlampau cemas. Suamimu memang parah, Ibu tua. Tapi kuharap sebungkus obat ini dapat memperpanjang umurnya barang seminggu. Kau rebuslah, jadikan tujuh bagian, dan minum setiap bagian pada setiap hari. Berdoalah agar Tuhan menyelamatkan suamimu."
Istri Jun-lopek meratap tak keruan. Tabib Chang adalah satu-satunya tabib yang paling diandalkan, obatnya manjur dan banyak yang tertolong. Tapi kalau sekarang artinya itu hanya dapat menghibur dengan kata-kata, dan nyawa suaminya hanya dapat diperpanjang tujuh hari lagi, tak ayal wanita tua ini terhuyung dan pucat menerima obat.
Saat itu, tiba-tiba dia pun batuk pula, tanpa sengaja melontarkan darah dan mengenai pakaian si tabib. Chang Sinshe terkejut dan membelalakkan mata. Ketika wanita itu terguling dan roboh sambil menangis, tabib ini menolong dengan kening semakin berkerut. "Kaupun terkena. Kau juga sakit!"
Istri Jun-lopek menangis sesenggukan di samping suaminya, dua-duanya sama terkena penyakit yang serupa, barangkali TBC. Ketika Tuan Chang menolong dan membangunkan wanita tua itu, Chang Sinshe mengambil obat lagi khusus untuk wanita tua ini. "Kau ada uang? Ini dua puluh lima tail. Kalau ingin hidup panjang, harap berikan padaku dua puluh lima tail lagi. Aturannya pun sama, kau belum terlambat karena baru pada stadium pertama!"
Wanita tua ini tersedu. Dia mengeluarkan lagi dua puluh lima tail; untung seratus tail itu dibawanya semua. Tapi ketika dia pulang dan malam itu kedinginan membawa sang suami, tiba-tiba Sien Nio yang dipanggil berkali-kali tak tampak. "Nio-nio, tolong ibumu. Di mana kau?"
Tak ada jawaban. Sien Nio tak menyahut dan tak ada di rumah, tentu saja heran ibu angkatnya. Wanita tua itu batuk-batuk dan kembali memuntahkan darah. Penyakit sudah menular padanya. Ketika sang suami juga batuk-batuk dan mengeluh menahan sakit, akhirnya wanita ini menangis tak berdaya di antara marah dan khawatir. Dia terpaksa melupakan anak angkatnya, mengurus suami dan diri sendiri. Cepat merebus obat dan berkali-kali terhuyung harus menopang tubuh. Dada sesak dan muka pucat. Ketika malam itu terpaksa dia harus bekerja sendirian dan suami-istri sama batuk-batuk, penderitaan Jun-lopek dan istrinya benar-benar menyedihkan.
Ke mana Sien Nio? Tentu saja menemui Hok-kauwsu! Malam itu gadis ini menunggu ibunya. Tapi karena rumah Tabib Chang cukup jauh dan kepergian ibu dan ayah angkatnya itu terlalu lama, akhirnya Sien Nio meninggalkan rumah, teringat janjinya pada Hok-kauwsu. Dia takut terlalu malam. Begitu matahari terbenam, segera dia berangkat. Mengira pekerjaan di tempat Hok-kauwsu nanti tak akan lama dan sebentar selesai. Berarti dia dapat segera pulang dan menemui ayah-ibunya lagi.
Ketika dia berada di sana dan suasana yang gelap membuat dia takut, akhirnya Sien Nio menggigil di tepi sawah, menunggu sesuai janji Hok-kauwsu tadi. Ketika dia merasa tak sabar dan ingin menangis karena Hok-kauwsu tak muncul juga, mendadak sepasang lengan menyergap bahunya.
"Heh, sudah lama kau di sini?"
Sien Nio terpekik. Dia hampir menjerit, meronta melepaskan diri. Tapi ketika dilihatnya itulah Hok-kauwsu dan tukang pukul ini menyeringai, akhirnya Sien Nio menegur dengan muka pucat, "Kauwsu, kau mengagetkan orang. Sungguh aku terkejut!"
"Heh-heh, terkejut tapi tidak takut, bukan? Sudahlah, aku di sini, Nio-nio. Mari ke gubuk sesuai janji kita." Hok-kauwsu tertawa, menyambar dan sudah menyeret gadis ini ke tengah. Sien Nio mendengar napasnya yang mendengus aneh.