Chapter 13
Dan begitu mereka membentak dan kembali maju menyerang, Pendekar Rambut Emas ini kewalahan melompat sana-sini, mengerahkan sinkangnya, dan harus berkali-kali mengelak mundur kalau ada tombak atau senjata lain menyambar bagian tubuhnya yang lemah, seperti mata dan bawah pusar yang tentu saja tak dapat dilindungi kekebalannya, masih juga bertangan kosong.
Dan ketika lawan memperberat tekanan dan Jit-liong Ciangkun gusar serta penasaran oleh kelihaian lawannya ini, tiba-tiba untuk pertama kali Bu-ciangkun berhasil merobek baju di pundak lawannya itu.
"Brett!" Kim-mou-eng terkejut.
Dia kembali disambar senjata lain, robek di bagian lain hingga sebentar saja bajunya koyak-koyak, tentu saja tak dapat dilindungi kekebalannya pula.
Dan ketika tombak dan golok kembali menyambar dan Ang Bin Ciangkun yang memegang busur tiba-tiba melepas panahnya menyerang punggung, mendadak pemuda ini melengking mengeluarkan satu gerakan aneh.
Dia tidak mengelak, menerima semua serangan itu dan menangkis dengan jari-jari terbuka, menampar sekaligus mementalkan semua senjata lawan.
Dan ketika panah runtuh mengenai punggungnya yang terlindung sinkang, mendadak Kim-mou-eng meliuk dan...
menangkap kaki Bu-ciangkun yang saat itu terhuyung di sebelah kirinya.
"Hei...!" Namun terlambat.
Panglima tinggi besar ini telah tertangkap, langsung diangkat dan diputar-putar menghadapi lawan yang menyerang pemuda itu.
Dan begitu Kim-mou-eng membentak mengayun panglima ini menangkis semua senjata yang menyambar dirinya, kontan enam panglima yang menjadi teman Bu-ciangkun itu mundur dan menghentikan serangan.
"Minggir...!" Enam panglima itu terbelalak.
Mereka terpaksa minggir ketika Kim-mou-eng memutar tubuh Bu-ciangkun, menyibak dan otomatis memberi jalan keluar.
Dan ketika Kim-mou-eng tertawa dan meloncat keluar dari kepungan enam panglima itu sementara Bu-ciangkun masih dicengkeramnya sebagai sandera, maka turunlah dia dari puncak gedung yang tinggi itu.
"Bu-ciangkun, kau harus menunjukkan padaku jalan keluar. Cepat, aku tak ingin memaksamu kalau kau keras kepala!"
Bu-ciangkun memaki-maki.
Dia marah dan membelalakkan matanya sampai melotot, tak berdaya karena saat itu juga Kim-mou-eng telah menotoknya, menenteng dan membalik tubuhnya seperti anak kecil, diputar-putar.
Tapi karena dia kesakitan karena cengkeraman di kakinya diperkeras dan Kim-mou-eng menggencet membuat tulangnya seakan retak, akhirnya panglima ini menurut juga.
Dia berteriak menyuruh belok sana-sini, membentak agar para pengawal mundur semua, membiarkan lawan berlari bebas sementara enam rekan lainnya tiba-tiba juga melayang turun, mengejar dan mengikuti di belakang khawatir Kim-mou-eng membunuh panglima she Bu itu.
Dan ketika kepungan benar-benar menyibak dan Kim-mou-eng mengikuti petunjuk-petunjuk panglima itu untuk keluar dari kompleks istana, akhirnya mereka tiba di bangunan paling ujung, berhenti dan siap melepas panglima ini sambil tertawa lebar.
Tadi begitu kaki menginjak tanah kosong, mendadak Kim-mou-eng terjeblos memasuki sebuah sumur, bersama panglima itu, tidak tahu bahwa Bu-ciangkun memang sengaja membawanya ke situ karena lubang sumur tertutup oleh sebuah perangkap.
Dan begitu Kim-mou-eng berteriak kaget dan meluncur turun maka tawanannya itu pun ikut terjeblos memasuki lubang yang dalam, juga gelap!
"Aih...!" Tapi Kim-mou-eng memang sedang sial.
Dia tak tahu bahwa panglima tinggi besar itu menipunya, meskipun harus ikut terjeblos ke bawah.
Dan begitu keduanya sama-sama terbanting di dasar sumur yang gelap dan Bu-ciangkun berteriak kesakitan, maka di saat itulah sebuah kerangkeng bergemuruh menakup mereka berdua, dari atas ke bawah.
"Brukk...!" Kim-mou-eng terkejut.
Dia melihat Bu-ciangkun mengeluh, roboh dan seketika itu juga pingsan di dalam kerangkeng, bersama dia.
Dan sementara dia terbelalak dan masih tidak menduga bahwa Bu-ciangkun telah menipunya, maka di saat itulah terlihat cahaya kekuningan disusul desis seperti ular.
Lalu ketika Kim-mou-eng terbelalak dalam suasana yang mulai remang-remang ini, muncullah enam orang dari Jit-liong Ciangkun itu menyemburkan asap belerang.
"Kim-mou-eng, kau harus kami tangkap!" Kim-mou-eng tersentak.
Dia sekarang melihat desis yang seperti ular itu ternyata adalah tiupan asap belerang yang muncul dari pipa-pipa di sekeliling kerangkeng, sekejap kemudian memenuhi tempat itu hingga dia batuk-batuk.
Dan ketika dia terkejut dan mendobrak jeruji kerangkeng, tiba-tiba pemuda ini mengeluh ketika tenaganya lenyap, hilang begitu saja!
"Ah, belerang bius...!" Kim-mou-eng sadar, namun terlambat.
Dia sekarang tahu bahwa asap belerang itu bukan sekadar belerang saja, tapi bercampur juga dengan asap bius.
Dan begitu dia mengeluh dan lamat-lamat mendengar enam orang dari Panglima Tujuh Naga itu tertawa, mendadak Kim-mou-eng tak sadarkan diri lagi dan pingsan di sebelah Bu-ciangkun!
Begitulah.
Pendekar ini akhirnya tertangkap, Bu-ciangkun secara cerdik telah menuntunnya ke tempat jebakan, sumur bawah tanah yang sesungguhnya merupakan perangkap bagi orang-orang sakti yang mengacau di istana, berhubungan dengan penjara bawah tanah yang merupakan lorong rahasia di kompleks istana.
Hal yang tentu saja tak diketahui orang luar karena tempat itu memang tidak mencurigakan.
Dan begitu Kim-mou-eng pingsan sementara Bu-ciangkun sendiri telah ditolong teman-temannya keluar dari kerangkeng sumur gelap, akhirnya Pendekar Rambut Emas ditangkap dan dijebloskan dalam penjara bawah tanah.
Menggegerkan kota raja dan seketika itu juga dikenal orang secara luas.
Melejit namanya karena perbuatannya yang menggemparkan itu.
Sanggup menandingi Jit-liong Ciangkun.
Dan begitu orang mengenal namanya, maka saat itu juga Kim-mou-eng menjadi buah bibir!
Malam itu, tiga hari setelah tertangkapnya Kim-mou-eng, sebuah bayangan berkelebat sembunyi-sembunyi memasuki istana.
Bayangan ini berindap-indap, gerakannya lincah dan bukan main cepat seperti gerakan walet menyambar saja.
Dan ketika dinding istana telah ia masuki dan beberapa penjaga telah dilewati dengan mudah, akhirnya bayangan ini tiba di sebuah taman yang luas dan langsung melayang ke atas pohon yang tinggi, melihat dua pengawal baru muncul secara tiba-tiba.
"Sun-twako, bagaimana pendapatmu dengan Kim-mou-eng itu?" seorang pengawal memulai pembicaraan, lewat di bawah pohon besar itu ketika bertanya pada temannya, masing-masing membawa tombak dan tampak tak curiga bahwa di atas mereka sebuah bayangan sedang bersembunyi.
Dan ketika temannya tertawa dan berjalan dengan langkah tegap, terdengarlah jawabannya yang sinis mengejek, "Kim-mou-eng memang lihai, A-jiong.
Tapi kalau dia ditawan dalam penjara bawah tanah berlapis-lapis, mana bisa dia melarikan diri?
Bu-ciangkun memperkuat penjagaan di sana.
Katanya menanti perintah kaisar untuk menjatuhkan hukuman mati!" "Hm, dan kabarnya dia keturunan Tatar, twako.
Tak bahayakah menghukum mati pendekar itu?" "Bahaya apa?
Kim-mou-eng telah mengacau di tempat kita.
Mao-taijin katanya hendak dibunuh pendekar itu tanpa sebab!" "Ya." orang pertama mengangguk heran.
"Sintingkah Pendekar Rambut Emas itu?
Kenapa tanpa sebab dia memusuhi Mao-taijin?" "Entahlah, aku tak tahu, A-jiong.
Tapi Pendekar Rambut Emas itu memang benar-benar berbahaya.
Konon katanya dengan tangan dan kaki saja dia dapat menghadapi Jit-liong Ciangkun yang rata-rata bersenjata!" Dua pengawal itu bercakap-cakap menjauh.
Mereka telah berada sepuluh tombak dari pohon di mana bayangan itu bersembunyi.
Tapi begitu dua kerikil menyambar mereka dari belakang, mendadak dua pengawal ini mengaduh dan roboh terpelanting.
Dan sementara mereka kaget tak tahu apa yang menjadi sebabnya, tiba-tiba bayangan di atas pohon itu telah meluncur turun bagai seekor burung menotok mereka.
"Tuk-tuk!" dua pengawal ini roboh tak berkutik.
Mereka tertegun melihat seorang gadis tinggi semampai muncul begitu saja di depan mereka, seperti iblis.
Dan ketika mereka tak mampu bicara saking kaget dan herannya, tahu-tahu tubuh mereka ditendang dan terpental ke atas pohon, tersangkut di puncak yang tinggi!
"Bress!" keduanya hampir menjerit.
Mereka ngeri melihat ke bawah karena tubuh mereka hanya ditopang sebuah ranting yang kecil.
Sekali patah tentu mereka terbanting remuk di bawah sana.
Tinggi sekali!
Dan ketika mereka terbelalak tak mampu bersuara karena urat gagu mereka telah ditotok gadis tak dikenal itu, mendadak orang yang merobohkan mereka ini melayang ringan dan hinggap di ranting yang menahan tubuh mereka, memantul-mantul.
Satu ranting untuk tiga orang!
Dan sementara mereka mengeluh dengan muka pucat dan ngeri sekali membayangkan ranting itu patah dan jatuh ke bawah, maka gadis ini, gadis hitam manis yang memakai topi burung rajawali membentak mereka, dingin bagai es di pegunungan salju, "Tikus-tikus busuk, di mana penjara bawah tanah yang menyimpan Kim-mou-eng?" Dua orang itu ah-ah uh-uh.
Mereka tak mampu bicara, tertotok urat gagu mereka.
Dan ketika gadis itu sadar dan membebaskan totokan mereka hingga dua pengawal itu dapat bicara, maka pengawal pertama yang disebut A-jiong menjawab dengan pucat dan menggigil, "Aku... aku tak tahu... aku pengawal yang baru diangkat!" "Hm, dan kau?" gadis itu memandang orang satunya, yang dipanggil Sun-twako.
Dan pengawal yang terbelalak dengan muka ketakutan ini tiba-tiba berbohong.
"Aku... aku juga tak tahu. Aku juga pengawal baru di sini!" Gadis itu, yang tidak lain adalah Salima, tiba-tiba mendelik.
Dia dapat melihat bahwa pengawal kedua ini berbohong.
Maka mendengus menggencet jalur darah phi-tu-hiat yang membuat orang nyeri seperti disengat ular berbisa, tiba-tiba gadis ini membentak, "Kau jangan berbohong.
Kau akan kusiksa jika berbohong!" "Aduh...!" pengawal itu menjerit, kaget karena benar-benar dia disengat rasa nyeri yang sangat.
Dan ketika Salima memperkeras gencetannya dan pengawal itu menjerit-jerit tak juga mau mengaku, mendadak dia malah berteriak, memanggil teman-temannya, "Tolong, ada penjahat...!" Salima terkejut.