Chapter 130
Ketika mereka tiba di sana, Sien Nio terbelalak. Gadis ini melihat sebuah dipan dengan sebuah meja kursi kecil. Dipan itu agaknya baru dibawa ke situ karena biasanya dipan itu tidak ada.
"Kauwsu, kau membawa dipan ini?" "Ya, untuk kita, Nio-nio. Kau suka, bukan?" Hok-kauwsu kembali tertawa, membesarkan pelita hingga tempat itu lebih terang.
Sien Nio melihat pula beberapa gelas dan mangkok. Dan ketika dia tertegun dan memandang kiri-kanan, tiba-tiba Hok-kauwsu melepas bajunya.
"Nio-nio, aku ingin pijat. Kau lakukanlah tugasmu pertama itu sekarang." "Pijat?" "Ya, aku lelah, Nio-nio. Capai habis bekerja berat. Aku ingin kau memijatku setiap hari di sini. Ayolah."
Sien Nio membelalakkan mata. Tukang pukul itu telah melepas bajunya, kini celananya pula. Tinggal celana dalam yang kedodoran. Gadis ini tiba-tiba menjadi ngeri, melihat tubuh telanjang seorang pria yang begitu kokoh.
Tapi belum dia menolak atau apa, mendadak Hok-kauwsu tertawa menarik tubuhnya. "Ayo, kerjakan. Pijat seluruh tubuhku!" Sien Nio menggigil.
Sebenarnya, seumur hidup belum pernah dia memijat pria, paling-paling ayah angkatnya itu atau ibu angkatnya, kalau mereka kecapaian. Tapi sekarang diperintah begini dan dia ngeri melihat Hok-kauwsu tinggal mengenakan celana dalam saja dan mata laki-laki itu merah mendadak, entah karena apa Sien Nio menjadi takut dan menggeleng.
"Tidak, aku... aku tak bisa, kauwsu. Aku tak biasa memijat!" "Heh, kau menolak?" kauwsu itu terbelalak, matanya yang merah tiba-tiba melotot.
Dan ketika Sien Nio terisak dan mundur menganggukkan kepalanya, mendadak tukang pukul ini melompat bangun membentak Sien Nio. "Bocah, kau telah mendapat duaratus tail dari aku. Dan kau juga sudah berjanji. Kenapa menolak? Kau mau menipu aku?" "Tidak... tidak... aku... aku memang tak bisa memijat, kauwsu. Lebih baik pekerjaan lain saja yang biasa kulakukan.....!"
"Itu nanti. Kalau tak bisa memijat kau harus belajar. Ayo!" dan Hok-kauwsu yang kasar menyambar gadis ini, tiba-tiba menarik Sien Nio hingga roboh ke dipan itu. Lalu mengancam dengan muka merah, tukang pukul ini menghardik. "Nio-nio, uang duaratus tail tidak sedikit. Kau jangan main-main kepadaku. Kalau tidak mau menepati janjimu sendiri, kubunuh kau di sini! Masih kau menolak?"
Sien Nio menangis. Sekarang dia gemetar, betapapun firasat kewanitaannya memberi tahu sesuatu yang mengerikan. Dan karena dia juga sudah berjanji dan pekerjaan memijat itu pun kiranya tak terlalu sukar, akhirnya gadis ini mengangguk dan menahan cucuran air matanya.
Dan Hok-kauwsupun berkata, "Kalau kau tidak mau, kembalikan saja uangku itu, berikut bunga!" Gadis inipun tercekik. Terang ia tak dapat mengembalikan uang itu, sebagian sudah diberikan pada ibu angkatnya dan sebagian lagi dia simpan.
Rakus harta mulai merasuki dirinya. Dan ketika Hok-kauwsu membalikkan tubuh dan tengkurap di atas dipan itu, akhirnya dengan takut-takut dan jari menggigil, gadis ini mulai memijat.
"Hok kauwsu, jangan minta kembali hutang itu. Aku sedia memenuhi permintaanmu." "Nah, itu baik. Kau jangan membuat aku marah. Ayo, Pijat seluruh tubuhku dari atas sampai bawah!" Sien Nio sudah mulai bekerja. Ia memijat tubuh Hok-kauwsu itu, perlahan-lahan dari atas ke bawah.
Tapi karena dia takut-takut dan pijatannya pun tak bertenaga, maka tukang pukul ini membentak menyuruh dia sedikit keras. "Tambah tenagamu itu, jangan terlalu lemah!" Sien Niopun menggigil. Dia mengangguk, menambah tenaganya, menekan rahang digigit, betapapun tubuh Hok-hauwsu terlalu keras sekali baginya.
Tapi ketika pijatan di belakang selesai dan Hok-kauwsu membalikkan punggungnya, maka laki-laki ini menyuruh agar bagian depan juga dipijat. "Sekarang dada dan paha, tekan yang kuat tapi lunak!" Sien Nio terbeliak. Ia melihat dada Hok-kauwsu yang bidang tapi berbulu, ngeri hatinya.
Tapi karena orang sudah memerintah dan dia harus memijat, maka gadis inipun tak dapat bicara, dia memijati dan memejamkan mata, memijati dada Hok-kauwsu itu, berkali-kali. Seluruh dada sudah dia pijati.
Tapi dasar keparat, Hok-kauwsu menyuruh dia menurunkan pijat bawah dan ke bawah lagi, mendadak tukang pukul itu tertawa bergelak, menyambar tangan Sien Nio, menangkap dan membantingnya ke bawah, menumpang di tubuh tukang pukul itu.
"Ha ha, sekarang pijatmu selesai, Nio-nio. Tugas baru adalah melayaniku...." Sien Nio dibuka bajunya, otomatis terkuak, dan Sien Nio menjerit. Bagian atasnya telanjang.
Tapi belum dia meronta atau apa, mendadak mulut Hok-kauwsu telah mencium mulutnya penuh nafsu, mendengar laki-laki itu mendengus-dengus. "Nio-nio, layani aku. Buka pakaianmu.....!" Sien Nio terkejut bukan main.
Dia sudah dipeluk dan dibanting laki-laki ini, tubuhnya menempel dan melekat di tubuh Hok-kauwsu. Tentu saja meronta dan menjerit-jerit, kaki dan tangan kesana-kemari, sebisanya menendang tak karuan, seperti kuda liar yang tertangkap jerat.
Tapi ketika mulutnya tertutup mulut Hok-kauwsu dan laki-laki itu mendengus menciumi seluruh mukanya, akhirnya Sien Nio menangis dan hampir pingsan. "Oh, tidak... jangan... tidak...." Namun Hok-kauwsu telah mencopoti semua pakaiannya.
Tukang pukul ini mendengus-dengus mengancamnya dan menyebut-nyebut lagi uang duaratus tael itu, bahkan akan membunuh gadis itu kalau Sien Nio berteriak. Tentu saja membuat Sien Nio bungkam dan tidak berkutik lagi.
Dan ketika laki-laki itu menggumulinya dan Sien Nio merintih, maka untuk pertama kalinya dalam kehidupan remajanya, gadis ini menyerahkan miliknya yang paling pribadi.
Sekarang dia tahu apa artinya "melayani" itu, bukan seperti yang disangka, melainkan seperti yang begini. Melayani Hok Kauwsu, luar dalam, menjadi pemuas nafsu laki-laki itu, sementara tubuhnya digerayangi sana-sini, menjadi permainan Hok Kauwsu dengan tangan-tangannya yang kasar dan kurang ajar.
Dan ketika semuanya itu selesai dan laki-laki itu tersenyum puas, ia disuruh pergi begitu saja. "Pulanglah, tugasmu selesai, anak manis. Besok kau datang kemari lagi atau kau kembalikan uangku itu!" "Aku takut." Sien Nio menangis. "Aku tak berani jalan sendirian, Kauwsu. Tolong kau antar aku sampai ke rumah."
"Apa?" Kau main perintah? Kupukul kau nanti, Ayo pulang sendirian!" Hok-kauwsu membentak. "Aku ingin istirahat." "Tapi aku takut, kauwsu, lagi pula bagaimana jawabku nanti pada ayah ibuku?" "Persetan mereka itu, kau cari akal sendiri" tukang pukul ini mendorong Sien Nio, menyuruh gadis itu keluar dan marah-marah.
Dan karena Sien Nio tak berdaya dan lebih takut pada laki-laki ini, akhirnya dengan air mata bercucuran dan mata merah, dia pulang sendirian, menerobos kegelapan malam dan terhuyung-huyung menuju ke rumahnya sendiri.
Sekarang rasa takutnya berganti. Ada penyesalan, kenapa dia menuruti kemauan centeng itu, juga kenapa menipu ibu angkatnya sendiri. Tapi karena semuanya terlanjur dan nasi telah menjadi bubur, maka Sien Niopun tak dapat berbuat apa-apa dan pulang ke rumah.
Dan di sini, kena damprat lagi. Ayah ibunya marah-marah, terutama ibunya. Memaki-maki dirinya yang dikata gadis tak tahu diri, keluyuran dan malam-malam pulang begitu saja. Sien Nio beralasan dipanggil Hok-kauwsu, tentu saja tak menceritakan apa yang dia alami di tengah gubuk itu.
Hilang kehormatan gara-gara duaratus tael. Dan ketika malam itu ia tak dapat tidur karena tubuhnya sakit-sakit dan selangkangannya terasa perih, maka keesokkan harinya, seperti yang sudah dipasakan, ia melayani lagi Hok-kauwsu itu.
Ibunya keheran-heranan dan tidak mengerti, kenapa empat hari ini anak perempuannya berturut-turut pulang malam, selalu dipanggil Hok-kauwsu, begitu katanya. Tentu saja mengerutkan kening, tapi tak sempat menyelidiki, suaminya tetap parah.
Diapun semakin batuk-batuk dan terpaksa membiarkan anak perempuannya pergi pulang dengan cara yang aneh. Tapi ketika tengah malam, akhirnya isteri Jun-lopek ini membelalakan mata. "Sien Nio, kau pergi kemana saja? Benarkah dipanggil Hok-kauwsu?"
Sien Nio menggigil. "Benar, kau boleh bertanya kalau tidak percaya, ibu. Aku memang benar dipanggil tukang pukul Pin-loya itu." "Ada urusan apa?" "Urusan... urusan hutang." Sien Nio menjawab tak ragu, betapapun ketenangan dan kepintarannya berbohong mulai tumbuh, membuat sang ibu mengerutkan kening, tentu saja terkejut dan berobah mukanya mendengar jawaban itu.
Persoalan hutang yang tidak enak. Tapi merasa sudah memberikan gelang dan itu dianggap sebagai jaminan yang cukup, wanita itu pun memandang anaknya. "Hutang apa lagi? Bukankah gelang itu telah kau berikan pada Pin-loya?" "Benar, tapi bunga dari pokok pinjaman itu dianggap tak cukup, ibu. Sekarang setiap malam aku harus dipanggil Hok-kauwsu untuk membersihkan ruangan Pin-loya."
"Kau bekerja di sana?" "Sebagai pembayaran bunga, agar bunganya tidak bertambah lagi dan pokok pinjaman susut!" "Ooh....!" sang ibu terbelalak, mengeluh dan tiba-tiba menubruk anak perempuannya itu, menangis, mengira Sien Nio berusaha meringankan beban hutang dengan bekerja malam-malam pada keluarga Pin-loya.
Dan ketika malam itu isteri Jun-lopek ini merangkul anaknya dan minta maaf karena memarahi Sien Nio, maka sejak hari itu juga Sien Nio mendapat kebebasan untuk keluar malam. Dan Sien Nio tersenyum lega, berhasil mengelabuhi ibu angkatnya, sementara sang ibu malah semakin sayang padanya, menganggap Sien Nio benar-benar berbakti dan berbudi.
Jun-lopek sendiri terengah-engah memuji anaknya. Tapi karena kakek ini sakit parah dan apa yang diramal Chang-sinshe memang benar, maka pada hari ke tujuh, kakek she Jun itu tak kuat bertahan lagi. Kakek ini menghemuskan napasnya yang terakhir, tepat tengah malam, di saat Sien Nio baru pulang.