Chapter 131
Dan sang istri yang menangis menggerung-gerung oleh kematian suaminya itu akhirnya roboh pingsan dan membuat Sien Nio sibuk.
Gadis ini ikut menangis, betapa pun bingung dirinya oleh kematian Jun-lopek.
Tapi ketika keesokan harinya kakek itu dimakamkan dan beberapa teman datang membantu, maka Sien Nio maupun ibunya mendapat hiburan kata-kata.
Apa yang terjadi memang harus terjadi, tak dapat ditarik lagi. Dan istri Jun-lopek yang menangis dengan air mata bercucuran dan tidak dapat berkata-kata akhirnya menubruk anak perempuan angkat satu-satunya ini.
"Sien Nio, ayahmu tak ada lagi. Kau harus menjaga dan membantu aku."
"Tentu, bukankah selama ini aku selalu membantumu, Ibu? Aku akan menjagamu, aku akan merawatmu, dan melindungimu sebisaku."
Ibu angkatnya agak terhibur. Betapa pun dia tidak sendiri, masih ada anak angkatnya ini, Sien Nio yang berbudi. Sien Nio yang setiap malam "membantu" Pin-loya untuk penebus utang.
Tapi ketika hari demi hari lewat dan tiga minggu kepergian Sien Nio itu berlanjut juga, tiba-tiba, masih dalam keadaan tidak sehat, wanita tua itu mendengar cemoohan seseorang mengenai anaknya.
"Cih, Sien Nio? Dia pelacur remaja, anak angkat Jun-lopek itu menjadi gundik Hok-kauwsu setiap malam!"
Istri Jun-lopek ini terkejut. Omongan itu dia dengar di tengah pekerjaan, di saat dia menguat-nguatkan diri untuk bekerja di ladang Pin-loya. Beberapa tawa mengejek serasa ditujukan padanya, tentu saja membuat wanita tua itu menggigil dan marah.
Dan ketika omongan yang lain saling sahut-menyahut dan dia menegur orang-orang itu, tiba-tiba Cin San, sahabat suaminya yang baik, mendekati dirinya. "Siung Khoen, kau hati-hatilah menjaga anak perempuanmu itu. Dia keluyuran malam-malam bersama Hok-Centeng. Apa yang kau dengar di sini sebaiknya kau selidiki tanpa marah kepada kami."
"Tapi Sien Nio anak baik-baik, Cin San." Nenek itu menggigil, marah. "Dia pergi setiap malam untuk bekerja di rumah Pin-loya. Kalian memfitnah!"
"Itulah kepandaian anak perempuanmu. Dia mengibul, sebaiknya kau tanya pada Pin-loya sendiri kalau ingin membuktikan."
"Tidak, kalian jahat. Kalian menyakiti hatiku!" Dan nenek itu yang menangis mengusap pipinya akhirnya marah-marah pada semua orang, termasuk Cin San, karena selama ini Sien Nio bersikap baik. Bahkan, demikian baik dan berbudinya anaknya itu hingga setiap malam rela bekerja ekstra, melembur di rumah Pin-loya seperti yang dikatakan anak angkatnya itu.
Tapi ketika nenek itu pulang dan berjumpa dengan dua tukang pukul Pin-loya bernama Ban Cwan dan Goh Beng, tiba-tiba dua tukang pukul itu mencegat dengan muka tertawa-tawa. "Uwak Jun, mana Sien Nio?"
"Kalian mau apa?"
"Kami mencarinya, kami iri pada keberuntungan Hok-kauwsu!"
"Apa maksud kalian?"
"Ha-ha, tak perlu pilon, nenek tua. Anakmu itu katanya pandai memijit dan menghibur lelaki. Kami ingin menemuinya, kami ingin mentraktirnya malam nanti!"
"Jahanam!" Nenek itu terhuyung. "Kalian jangan menghina orang miskin, Goh Beng. Jelek-jelek kami bukan manusia rendahan. Aku baru saja ditinggal mati suamiku, sebaiknya kalian tak perlu kurang ajar dan menyakiti wanita tua!"
"Eh, kau marah? Ha-ha, kalau begitu pesankan saja pada anakmu agar malam nanti menemui kami di gubuk tengah sawah, tua bangka. Suruh dia menghibur, dan tiga ratus tail kami sanggup bayar!"
Nenek itu hampir menerjang. Dia sudah maju, tangan siap diangkat untuk menyerang dua tukang pukul itu, lupa akan keadaannya sendiri. Tapi ketika Ban Cwan terbahak dan menangkap lengannya, tiba-tiba tukang pukul itu memelintir dan telah mendorong nenek itu roboh. "Tua bangka, jangan main-main. Kubunuh kau nanti...!"
Brukk!
Nenek itu menggelepar. Istri mendiang Jun-lopek ini menangis, melihat dua orang itu tertawa-tawa meninggalkan dirinya dan beberapa kata kotor ditujukan pada anak perempuannya, tentu saja marah tapi tak dapat berbuat apa-apa.
Dan ketika sore itu Sien Nio pulang dan dia menghadang, segera wanita itu membentak. "Sien Nio, apa sebenarnya yang kau lakukan setiap malam? Benarkah kau menjadi gundik Hok-kauwsu?"
"Ah," Sien Nio terkejut. "Apa omonganmu ini, Ibu? Kenapa bicara demikian keras dan tidak enak didengar telinga?"
"Aku tak kuat lagi, Sien Nio. Di tengah sawah orang-orang menyebutmu sebagai pelacur. Kau katanya melayani Hok-kauwsu setiap malam, bukannya ke rumah Pin-loya!"
Sien Nio bagai disambar geledek. Kata-kata ibunya bagaikan sengatan ular berbisa, begitu kaget dia hingga berjengit. Sien Nio mendadak pucat. Tapi karena Sien Nio sekarang sudah mulai pandai berbohong dan pintar bersandiwara, mendadak gadis ini menangis dan menubruk ibunya, ibu angkatnya itu. "Ibu, kau menuduhku sedemikian keji? Kau mempercayai omongan orang-orang jahat itu? Aku tak melakukan seperti apa yang kau katakan itu, Ibu. Aku berani sumpah!"
Sang ibu tertegun. Sikap yang ditunjukkan putrinya ini demikian meyakinkan, tapi melihat baju baru yang dikenakan anaknya, tiba-tiba wanita itu terbelalak. Sebenarnya, dalam minggu-minggu terakhir ini dia mulai terheran-heran melihat baju anaknya. Banyak yang baru. Selalu gres! Dan bersih. Kalau ditanya, Sien Nio menjawab dari Pin-loya, pemberian tuan tanah itu, padahal sepengetahuannya Pin-loya adalah tuan tanah yang pelit, bahkan serakah.
Maka, kini melihat anaknya kembali mengenakan pakaian baru dan lagi-lagi dia tertegun, tiba-tiba wanita itu mendorong gadis itu. "Sien Nio, kau dapat dari mana baju baru itu?"
"Dari Pin-loya."
"Selalu begitu?"
"Apa maksud Ibu?"
"Pin-loya orangnya pelit, Sien Nio. Masa begitu royal memberimu baju baru? Ini yang keempat, aku sungguh curiga!"
"Ah, Ibu terlalu berprasangka. Pin-loya orangnya baik, Ibu. Tuan tanah itu kasihan karena aku bekerja lembur. Ini semua karena belas kasihnya kepadaku."
"Kau tak bohong?"
Sien Nio tertegun. "Ibu tak percaya?" Gadis itu mulai berdebar, melihat sinar kecurigaan dan sorot yang tajam dari mata ibunya itu, seolah menjenguk isi hatinya, mencoba menguak keluar apa yang dia sembunyikan. Tentu saja, mulai bersiap-siap dan ada rencana nekat. Baju-baju itu sebetulnya dia beli dari uang seratus tail dulu, yang dia sisakan, uang yang ia simpan.
Tapi ketika ibunya terisak dan melihat Sien Nio balas memandangnya dengan tenang (begitu meyakinkan), akhirnya wanita itu memeluk anaknya, mengusap air mata, menekan perasaannya sendiri. "Baiklah, aku percaya padamu, Sien Nio. Tapi tolong jaga nama Ibumu dengan tidak keluar malam lagi. Mulai hari ini kau tak boleh keluyuran!"
Sien Nio terkejut. "Ibu tak memperbolehkan aku bekerja lembur?"
"Ya, agar omongan di luar itu tak menyakiti hatiku, Sien Nio. Dan lagi, aku dihina Goh Beng dan Ban Cwan tadi!"
"Apa yang dilakukan?"
"Aku dipukul, mereka mengatakan kau pandai menghibur lelaki dan minta agar kau melayani mereka pula di tengah sawah!"
Sien Nio kembali kaget. Untuk kedua kalinya dia seakan disambar petir, ia tahu rahasia hubungannya bocor. Tentu perbuatan tukang pukul Hok itu, siapa lagi?
Dan hampir menangis serta marah pada Hok-kauwsu ini, akhirnya Sien Nio mengangguk dan menuruti omongan ibunya, tidak keluar malam lagi. Tidak melayani Hok-kauwsu.
Tapi ketika dua hari dia tidak muncul dan Hok-kauwsu mencarinya, tiba-tiba Sien Nio kembali tersudut, berhadapan dengan tukang pukul itu. "Kau tidak menepati janjimu? Kau mau menipu?"
Sien Nio menangis, menggigit bibir. "Kau yang menjadi gara-gara, Kauwsu. Ibu marah-marah dan melarangku keluar!"
"Tapi utang janjimu belum lunas, ini belum dua bulan!"
"Ya, tapi kau membocorkan hubunganku, Kauwsu. Ibu mendengar dan orang-orang mengejek aku!" Dan Sien Nio yang sengit memandang tukang pukul itu tiba-tiba menjadi marah, "Kauwsu, kau memalukan aku. Ban-centeng dan Goh-centeng melapor pada Ibu apa yang selama ini kulakukan. Kau laki-laki tengik!"
"Heh, kau memaki aku? Kalau begitu, kembalikan uangku!" Hok-kauwsu terbelalak, heran dan marah melihat keberanian Sien Nio. Gadis itu seolah nekat.
Dan ketika Hok-kauwsu membentak dan Sien Nio menggeleng, tiba-tiba gadis ini berseru ketika dia menangkap, "Hok-kauwsu, aku tak akan melayanimu lagi. Kau laki-laki keparat, kau membocorkan rahasia ini hingga semua orang tahu!"
"Tapi aku akan memaksamu. Kau akan kukerasi dan tidak dapat mengelak!"
"Boleh, tapi kau tak akan dapat menikmati tubuhku, Kauwsu. Kau akan mendapatkan mayat yang dingin sebelum kau menyentuhnya!"
"Kau mau bunuh diri?"
"Kalau kau memaksa!"
"Ah!" Dan Hok-kauwsu yang mundur membelalakkan mata, tiba-tiba tertegun dan terkejut memandang gadis remaja itu. Melihat Sien Nio tiba-tiba menjadi berani dan galak, begitu mencengangkan laki-laki itu.
Dan ketika Sien Nio melepaskan diri dan menangis memandangnya, gadis itu balik mengancam. "Kauwsu, kau tak akan kulayani lagi kalau bersikap kasar. Aku boleh kau bunuh atau kau apakan saja kalau kau menyakiti aku. Kau telah merendam mukaku ke dalam lumpur, aku tak mau melayanimu seumur hidup!"
"Ah-ah!" Kauwsu itu tiba-tiba gugup, matanya lembut meredup. "Jangan begitu, Nio-nio. Bukankah hubungan kita tetap berjalan baik? Kalau aku salah, baiklah, maafkan aku. Soal utang boleh dianggap lunas. Tapi malam ini..." Tukang pukul itu tiba-tiba menyeringai, mengeluarkan sepundi-pundi uang dan menggemerincingkan isinya, betapa pun mulai mengenal watak gadis itu yang gila uang.
Dan ketika Sien Nio tertegun dan bersinar memandang pundi-pundi itu, laki-laki itu sudah tertawa. "Nio-nio, manisku. Dalam pundi-pundi ini tersimpan dua ratus tail perak. Kau mau, bukan? Tolong hibur aku, dewiku. Setiap saat kau boleh minta sekian lagi asal kau melayani."
Tukang pukul itu merayu, maju mendekat! Dan menggenggamkan pundi-pundi uangnya itu pada Sien Nio. Jebakannya berhasil, Sien Nio mulai terbelalak. Kemarahannya hilang terganti oleh nafsu tamak melihat uang itu. Sekali melayani Hok-kauwsu, dua ratus tail pun akan terjatuh ke tangannya. Betapa mudahnya.