Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 132

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 132

Dan ketika Hok Kauwsu menyeringai dan mencium pipinya, tiba-tiba Sien Nio tersenyum mengelak mundur. Ia mulai melihat bahwa laki-laki gampang memberikan apa saja jika dapat menikmati tubuhnya. Satu kelemahan pria!

"Kauwsu, tunggu dulu. Benarkah kau akan memberikan uangmu itu?"

"Tentu, asal kau menghiburku, Nio-nio. Kau mau, bukan?"

"Dan kau akan memberikan sejumlah itu pula setiap kali aku melayanimu?" Sien Nio tidak menjawab, malah balik bertanya dan mulai menghitung-hitung berapa yang akan ia terima jika sebulan melayani tukang pukul ini. Dua ratus tail dikali tiga puluh hari, berarti enam ribu tail!

Ketika Hok Kauwsu tertawa aneh dan mengangguk buru-buru sembari menjawab penuh nafsu, Sien Nio mulai berada di atas angin.

"Tentu saja, asal kau melayaniku baik-baik, Nio-nio. Asal tubuh yang hangat dan cinta yang panas yang kau berikan padaku!"

"Baiklah, malam nanti kita bertemu. Berikan uang itu!" Sien Nio tertawa, menyodorkan lengan meminta uang tersebut. Hilang sudah larangan ibunya agar tidak keluar malam, terhapus oleh bayangan uang yang demikian mudah ia peroleh. Baginya, hidup tak perlu menderita dan ia dapat bersenang-senang.

Ketika Hok Kauwsu menyeringai dan menyerahkan uang itu, Sien Nio memutar tubuhnya. Tiba-tiba tukang pukul ini berseru, "Eh, nanti dulu. Berikan panjarnya, Nio-nio. Cium aku dua kali!" Sien Nio tersenyum lalu berhenti. Kauwsu itu melompat, mencium pipinya dua kali, dan Hok Kauwsu pun terbahak sambil meremas dada gadis itu.

Sien Nio juga tertawa sambil memangku pundi-pundi uang itu. Tiba-tiba ia berlari kecil meninggalkan Hok Kauwsu. "Sudahlah, nanti malam kulayani kau, Hok Kauwsu. Sabar dan tekan nafsumu sekarang!"

Tukang pukul itu tertawa bergelak. Sekarang ia dapat menundukkan si juwita; Sien Nio tunduk oleh uang. Dan ketika malam itu ia menanti dengan tidak sabar dan Sien Nio benar-benar menepati janji, maka tukang pukul ini melonjak bagai orang mendapat lotre. Mereka berdua bersenang-senang; Sien Nio mendapat imbalan, sementara Hok Kauwsu mendapat kepuasan. Masing-masing memberi dan menerima.

Hari demi hari berlalu, Sien Nio selalu menerima pundi-pundi baru. Gadis remaja yang menjual kehormatannya ini semakin meliar, tidak peduli lagi pada ibunya maupun sekelilingnya. Ia tidak heran dan tidak memikirkan pula dari mana kauwsu itu mendapatkan uangnya, yang sebenarnya hasil curian dari lemari Pin Loya!

Hubungan itu terus berlanjut. Hok Kauwsu semakin tergila-gila pada gadis ini karena Sien Nio mulai pandai melayani. Namun dua minggu kemudian, gadis ini kepergok!

Wanita itu mengerutkan kening melihat tindak-tanduk anak angkatnya. Sien Nio melanggar larangan untuk keluar malam dengan alasan dipaksa Pin Loya untuk melanjutkan pekerjaan dulu, alias lembur. Begitu alasannya. Namun ketika desas-desus tentang anaknya merasuk kian tajam, ditambah Ben-centeng serta Goh-centeng juga sering mengganggunya dengan omongan kotor, akhirnya wanita ini menjadi marah dan naik pitam.

Sien Nio ditegur, namun menjawab acuh. Ditegur lagi, tetap acuh. Ketika berulang-ulang teguran itu tidak mempan dan sang anak kian berani menjawab pertanyaannya dengan lantang, akhirnya wanita tua ini menjadi kalap.

"Sien Nio, kau harus dengar kata-kata Ibu. Orang-orang mengataimu sebagai pelacur! Masa kau bermuka tembok tidak mau mengacuhkan tuduhan ini?"

"Ah, itu orang-orang yang tidak senang hati, Ibu. Biarkan saja mereka bicara seperti anjing menggonggong."

"Tapi gonggongan mereka kian keras. Ibu tidak tahan dan tidak mau kau dihina!"

"Untuk apa Ibu pedulikan? Mereka iri kepada kita, Ibu. Terutama kepadaku karena melihat pakaianku selalu baru. Orang-orang itu asal bicara, tidak usah Ibu hiraukan dan biarkan mereka menggonggong semakin lantang. Apa peduliku!"

"Kau tidak mau dengar nasihat Ibu?"

"Nasihat apa?"

"Kau tidak boleh keluar malam. Kau harus tetap tinggal di rumah bersama Ibu!"

"Ah, tidak mungkin. Nanti Pin Loya marah-marah."

"Nanti Ibu yang akan menghadap Pin Loya. Ibu yang akan memberi tahu padanya!"

"Baiklah, Ibu coba saja."

Ketika Sien Nio tersenyum sinis dan menyuruh ibunya ke rumah Pin Loya, ternyata usaha ini sia-sia. Wanita itu tidak berhasil menghadap Pin Loya; ia selalu mendapat jawaban bahwa Pin Loya sedang sibuk, sedang pergi, atau alasan lain yang intinya tidak mengizinkan wanita itu menemuinya. Ia pulang dengan tangan hampa. Tentu saja begitu, karena yang menghadang wanita ini adalah Hok Kauwsu, laki-laki yang telah dibisiki Sien Nio agar mencegat ibunya guna menggagalkan usahanya.

Karena ibunya belum berhasil menemui Pin Loya dan itu berarti Sien Nio terus mendapat kesempatan, maka hubungan Hok Kauwsu dan gadis remaja itu pun tetap berjalan seperti semula. Sampai akhirnya, karena merasa gagal berulang-ulang sementara omongan orang kian tajam di kiri-kanan, tadi pagi wanita ini menggebrak meja.

"Sien Nio, kali ini kau harus mengikuti nasihat Ibu. Malam nanti kau tidak boleh keluar!"

"Hm...!" Sien Nio tertawa aneh. "Apakah Ibu ingin seperti dulu? Apakah Ibu ingin melarat dan tidak bisa makan?"

"Apa maksudmu?"

"Ingat, kepergianku malam-malam memberi hasil, Ibu. Sekarang kita bisa makan enak dan hidup lebih baik dengan kepergianku itu. Aku tidak mau mengikuti nasihatmu. Aku tidak mau melarat dan meninggalkan kesenanganku ini!"

Sang ibu terbelalak. Sien Nio mengambil nasi, mengerat sepotong ayam, dan membuka makanan kaleng. Hidangan yang memang termasuk mewah dan menunjukkan gengsi yang lebih baik. Benar kata anaknya ini, karena semenjak Sien Nio keluar malam, kehidupan mereka lebih tercukupi. Apa yang diinginkan gampang terkabul. Katanya semua itu dari Pin Loya, atas jasa baik Hok Kauwsu.

Ketika Sien Nio menikmati hidangannya dengan lahap, tiba-tiba wanita tua ini tertegun. Ia melihat bahwa omongan anaknya benar. Kepergian Sien Nio membawa hasil. Bahkan baju anaknya lebih bagus daripada dulu. Sien Nio mulai bersolek pula, mengenakan gincu serta pemerah pipi. Anaknya ini tampak cantik meskipun agak pucat. Maklum, setiap malam tentu keluar dan membawa hasil. Terbukti dari apa yang dia alami; makan minum yang lebih baik dan keuangan yang lebih mapan. Kata anaknya, lagi-lagi itu dari Pin Loya hasil kerja lembur.

Namun teringat omongan orang yang menusuk perasaannya, tiba-tiba wanita ini bangkit berdiri dan memandang marah. Ia melihat apa yang diperlihatkan anaknya hanyalah kesenangan sementara saja. Harga diri jauh di atas segala-galanya dan harus dipertahankan di atas kenikmatan benda-benda duniawi, termasuk makanan kaleng itu!

Ketika Sien Nio melahap hidangannya dan tampak tidak peduli, tiba-tiba wanita tua ini telah berada di depan anaknya. "Nio-nio, kau harus menjaga kehormatan ibumu. Apa yang kukatakan tidak boleh kau lakukan. Kau harus tunduk kepada ibumu!"

"Ibu hendak memaksaku?"

"Demi menghilangkan omongan orang, Nio-nio. Demi kehormatan dan harga diri rumah ini meskipun kita miskin!"

"Kalau begitu Ibu tinggal saja di rumah ini, biarkan aku yang pergi. Aku dapat mencari rumah yang lebih baik dan tinggal sendirian di sana!" Sien Nio tiba-tiba bangkit, marah pada ibunya, dan untuk pertama kali melawan dengan begitu berani.

Ketika sang ibu terbelalak kaget oleh jawabannya, tiba-tiba gadis ini melangkah pergi mengambil buntalannya, lalu keluar menghilang dari rumah itu dengan penuh percaya diri. Sang ibu menjerit sadar dan mengejar dengan seruan tak keruan, "Nio-nio...!"

Namun Sien Nio tidak peduli. Ia melanjutkan langkahnya dan pura-pura tidak mendengar. Baru ketika sang ibu menubruk dan jatuh terguling di depannya, akhirnya gadis ini berhenti.

"Oh, tidak... jangan, Nio-nio... jangan kau pergi. Ayahmu telah tiada, Ibu hanya mengandalkan kau...!" Sang ibu menangis terguling di depan sang anak. Akhirnya Sien Nio menahan langkah, mengerutkan kening, lalu membantu ibunya bangun.

Ketika sang ibu tersedu-sedu memeluk kakinya, istri Jun Lopek ini meratap, "Nio-nio, kau jangan pergi. Ibu sudah tua, tidak ada siapa-siapa yang akan merawatku setelah suamiku meninggal. Jangan kau pergi, Nak... jangan tinggalkan ibumu ini!"

Sien Nio mengeraskan dagu. "Boleh, tapi Ibu tidak perlu macam-macam. Kebutuhan rumah aku yang mencukupi, aku yang berkuasa. Kalau Ibu tidak mau tahu ini dan mengajakku melarat, maka terpaksa Ibu kutinggalkan!"

"Tidak, jangan Nak, Ibu menurut!" Sang ibu gemetar. Ia memang harus mengakui bahwa anaknya ini mulai berkuasa karena Sien Nio yang memegang kebutuhan hidup sehari-hari. Karena takut kehilangan anak angkatnya yang dianggap sebagai pengganti suaminya, maka untuk pertama kali janda Jun Lopek ini menyerah dan mengalah. Ia tidak lagi melarang anaknya keluar malam, meskipun diam-diam hatinya digerogoti perasaan itu. Ia heran dan terbelalak karena anaknya sekarang sudah berubah; begitu berani dan tega hati, nyaris meninggalkannya tanpa mengingat budi. Perubahan yang amat menyolok!

Namun karena ia menyayangi anaknya dan Sien Nio telah bertahun-tahun hidup di sampingnya, maka wanita ini menahan keperihan hatinya dan membiarkan Sien Nio berbuat sekehendak hati, termasuk keluar malam itu. Namun ketika malam tiba dan Sien Nio benar-benar keluar, tiba-tiba tanpa diduga wanita ini pergi membuntutinya.

Dan itulah pangkal celakanya! Istri Jun Lopek ini penasaran. Ia mengalah tapi tetap tidak dapat menghilangkan rasa penasarannya itu. Betapa pun sebagai wanita tua ia tersinggung oleh sepak terjang anaknya, apalagi setelah Sien Nio berhasil menundukkannya dan membuat dia menyerah—satu hal yang baru kali itu terjadi selama hidupnya. Sien Nio terasa begitu angkuh dan sombong.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment